Part 25

1669 Words
Fitri, Roy, dan semua pegawai lainnya sudah berkumpul di ruangan Ibu bos. Untunglah sebelum waktu tujuh menit itu habis, semua pegawai sudah berkupul. Jika tidak? Dengan sangat terpaksa Roy harus siap merelakan gaji bulanannya dipotong oleh sang Ibu bos, karena sedari dulu yang Roy dan para pegawai yang lain tahu, sang Ibu bos tidak pernah main-main dengan ancamannya. Potong gaji ya potong gaji! Pecat ya pecat! Janji kasih bonus, ya benaran dikasih bonus. “Oke, karena sekarang udah jam delapan lewat lima menit, saya nggak mau buang-buang waktu lagi. Langsung ke intinya aja ya. Hari ini pukul sepuluh pagi, temen-temen saya mau ngadain acara arisan di warung makan ini. Orangnya sekitar lima belas orang kurang lebih. Tapi yang bikin jadi masalah, mereka request menu makanan yang aneh-aneh, yang bahkan di menu makanan warung makan kita yang udah lumayan lengkap aja nggak ada. Kita nggak punya banyak waktu lagi sekarang, karena kurang dari dua jam semuanya harus udah ready. Makanan, minuman, dan camilan ringan.” Penjalasan Ibu bos yang sangat panjang itu membuat Wati, Siska, Jenny, juga Haris, membuka mulutnya lebar-lebar tanpa sadar. Untunglah tidak ada lalat atau kecoa terbang yang lewat. Kalau ada? Ya bisa-bisa masuk ke mulut dan tertelan lah, apalagi? Sangat menjijikan sekali, bukan? “Kok mendadak banget sih, Bu? Terus menu makanan yang sudah kita buat digimanain, Bu?” tanya Jenny memecah keheningan yang baru saja tercipta karena aksi keterkejutan mereka. “Ya nggak gimana-gimana, Jen. Acara arisan palingan jam dua belas siang atau jam satu siang udah selesai. Setelah mereka benar-benar bubar, barulah kita siap-siap untuk kembali buka. Biar kalian nggak terlalu nganggur dan takutnya menu makanan kita nggak habis gara-gara tutup sementara ini, kita open order secara online aja ya? kalian siap kan untuk itu?” semua pegawai yang hadir di ruangan itu menganggukkan kepalanya kompak, mereka semua sama-sama setuju dan tidak ada niatin untuk membantah ucapan sang Ibu bos itu. “Menu makanan yang mereka pesan memangnya apa, Bu?” tanya Wati seraya menatap wajah Ibu bos dengan tatapan penasarannya. “Untuk makanan padatnya mereka pesan gudeg nangka, tumis genjer, dan olahan tutut. Untuk camilannya mereka pesan kue pukis, getuk singkong, dan puding s**u. Untuk minuman mereka nggak ada pesanan khusus, palingan menu jus biasa,” ucap Ibu bos seraya menghela nafasnya kasar, membuat mayoritas dari mereka semua yang mendengar semua pesanan aneh itu menganga tanpa sadar. Menu macam apa itu? Kecuali Fitri yang menganggukkan kepalanya singkat tanda mengerti. Sepertinya bukan hal aneh bagi Fitri nama-nama masakan itu. “Gudeg nangka, tumis genjer, dan olahan tutut? Menu apa itu, Bu? Saya nggak bisa bikinnya. Saya angkat tangan deh sekarang.” Ucap Siska seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas. “ tapi kalau soal camilannya, kue pukis, getuk singkong, dan puding s**u, saya in syaa Allah bisa, Bu,” Jenny yang berada di sebelah kanan Siska pun ikut menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mendengar nama-namanya saja membuat kepalanya merasa pusing mendadak saat ini. “Saya juga kalo soal makanan padat yang seperti Ibu bos ucapkan tadi saya nyerah, Bu.” “Saya juga nggak bisa, Bu,” kini Wati yang juga ikut-ikutan menyerah. “Wah, kalau begitu bagaimana kalau kita pesan ke rumah makan atau restoran lain saja, Bu? Rumah makan atau restoran Sunda mungkin ada menu-menu seperti itu, kan kita jadi tenang, Bu, nggak perlu repot-repot dan pusing lagi. Semuanya beres dalam sekejap mata.” Roy mengedarkan matanya menatap teman-temannya yang lain. “teman-teman, gimana solusi dan ide gue tadi? Mantap betul, bukan? Semuanya jadi beres pokoknya! Gila ya, otak gue encer banget. Berikan tepuk tangan yang sangat kencang dan membahana dong buat gue!” Semua orang menatap jengah ke arah Roy, apalagi Ibu bos yang kini sedang menatap Roy dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara jengah dan gemas, kemudian dalam hitungan detik terdengar suara Roy yang sedang mengaduh kesakitan karena mendapatkan lemparan oleh sang Ibu bos berupa pulpen berwarna merah tepat di wajahnya yang sedang berseri-seri karena sedang berbangga diri itu. “Duh, sakit banget ini. Bu, kok saya dilemparin pulpen sih, Bu? Apa salah saya? Wah, ini mah udah termasuk penganiayaan. Ibu tau nggak? Saya bisa aja lho aduin ini ke polisi dengan tuduhan penganiayaan. Sakit tau, Bu, aduuuhh,” kata Roy, seraya mengusap-usapkan tangan kanannya ke keningnya yang kini berwarna merah karena lemparan pulpen itu. “Lebay amat, lo! Udah mingkem aja! Nggak tau apa kita lagi pusing begini, malah lo bikin tambah pusing,” omel Haris yang merasa risih mendengar ocehan lebay Roy. “Iya, ih. Alay lu! Udah sana, daripada bikin rusuh mendingan ke laut aja lo!” tambah Jenny, seraya menatap Roy kesal. “Stop, stop. Itu bukan solusi yang baik, Roy. Kalau niat awalnya mau pesan di rumah makan lain ya mereka nggak akan ngotot buat makan di warung makan kita lah, mending di sana aja sekalian.” Ibu bos mengelus dagunya pelan seraya pandangannya menerawang ke depan. “sepertinya mereke sedang menguji kehebatan warung makan saya. Sebenernya bisa aja sih kita pesan makanan di tempat lain tanpa sepengetahuan mereka, tapi ya kalau ketahuan bisa malu saya. Bisa turun juga citra saya di hadapan mereka.” “Siska nyerah, Jenny nyerah, Wati nyerah, Roy juga nyerah. Kamu, Haris? Nyerah juga?” tanya Ibu bos seraya menatap tajam Haris yang kini terlihat sedang menggaruk tengkuknya, yang aslinya sama sekali tak merasa gatal. “Iya, Bu. Saya juga nyerah.” Ibu bos hanya mendengus saja mendengar jawaban Haris. Sudah ia tebak jawaban yang akan keluar dari laki-laki itu akan berakhir dengan kalimat ‘saya juga nyerah’. Kini pandangan Ibu bos beralih memandang Fitri dengan pandangan sarat akan pengharapan. “Fitri! Kamu satu-satunya harapan saya saat ini. Kamu bisa kan?” Semua pasang mata kini memusatkan pandangannya ke arah Fitri. Menunggu jawaban yang akan Fitri ucapkan dengan perasaan was-was, dag dig dug, campur aduk. Fitri memilin ujung baju seragamnya, kemudian memberanikan dirinya untuk membalas tatapan Ibu bos. “Kebetulan makanan-makanan itu adalah makanan yang cukup sering saya dan keluarga sama makan di kampung, Bu. Saya in syaa Allah bisa membuatnya, Bu.” Mendengar jawaban Fitri, semua pasang mata itu kini menatap Fitri dengan pandangan berbinar-binar, kecuali Siska yang menatap Fitri dengan tatapan sebalnya. “ Dasar tukang carmuk! Tukang cari muka! Kalo bisa kenapa baru bilang sekarang coba? Kenapa nggak dari tadi aja? Buang-buang waktu. Oh, i know, pasti dia pengin jadi pusat perhatian makannya dari tadi diem aja. Pengin ditatap penuh harap sama Ibu bos. Dasar gadis kampung! Tukang caper lu! Tukang cari perhatian di mana-mana,” ucap Siska dalam hati. “Oke, sekarang kita sudah punya jalan keluarnya.” Ibu bos melirik jam tangan yang melingkar cantik di tangannya. “sekarang udah jam delapan lewat dua puluh menit. Kita bener-bener nggak punya banyak waktu. Saya akan bagi-bagi tugas sekarang. Roy dan Haris, kalian berdua pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang tidak tersedia, kemudian sisanya tetap di sini untuk menyiapkan camilan. Sepertinya untuk membuat camilan bahan-bahan sudah tersedia.” “Baik, Bu,” jawab mereka kompak. “Oke, silakan bubar.” Semuanya meninggalkan ruangan Ibu bos dengan perasaan lega. Akhirnya ada solusi yang terbaik juga untuk mereka. Jujur saja, melihat tingkah dan kelakuan Ibu bos yang sedari tadi sangat labil itu membuat mereka merasa tak nyaman. Mereka menjadi takut, cemas, dan gugup secara bersamaan. Kurang dari tiga puluh menit, camilan yang dibuat secara bersama-sama oleh Fitri, Wati, Siska dan Jenny pun telah selesai. Begitu pula dengan Roy dan Haris yang ditugaskan untuk membeli bahan makanan yang belum tersedia seperti buah nangka yang masih sangat mentah, daun genjer, tutut, dan bahan-bahan lainya yang sempat Fitri catat sebelum keduanya berangkat ke pasar. Mereka berdua kini sudah sampai dengan peluh keringat yang membanjiri kening mereka. Tak ingin membuang-buang waktu, kini Fitri mulai mengolah semua bahan-bahannya, dibantu oleh ketiga gadis lain yang Fitri tugaskan untuk mengurus bagian yang mudahnya. Seperti memotong buah dan daging nangka sesuai dengan ukuran yang Fitri arahkan sebelumnya, mencuci dan memotong daun genjer, membersihkan tutut, merebus daging dan buah nangka yang sudah dipotong-potong, dan merebus tutut yang sudah dibersihkan. Sedangkah Fitri, ia yang mengambil alih bagian tersulitnya. Meracik bumbu, dan mengolah semuanya hingga matang sempurna. Fitri membalikkan tubuhnya, dilihatnya Wati dan Jenny masih sibuk dengan tugasnya, berbeda dengan Siska yang kini sedang duduk bersandar di pojokan sembari melihat ke arah Fitri heran. Sepertinya Siska telah selesai mengerjakan tugasnya. Terus ditatap dengan intens oleh Fitri, membuat Siska jengah. “Kenapa lo liatin gue segitunya? Ngefens karena kerja gue lebih cepet daripada yang lain?” Fitri menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Bu—bukan itu,” jawabnya sedikit terbata-bata. Siska menaikkan sebelah alisnya. “Terus apa kalau bukan itu?” “Sa—saya boleh minta tolong? Tolong jagain masakannya sebentar ya, tinggal diaduk-aduk sesekali doang kok, semua bumbu udah saya masukkin soalnya. Saya kebelet pipis dari tadi, udah nggak bisa ditahan lagi.” “Ya ampun, heran gue sama lo! Tinggal ngomong aja susah banget. Ya udah sana! Jangan lama-lama!” Fitri pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan dengan sedikit berlari menuju kamar mandi dekat dapur. Seraya sesekali mengaduk-aduk masakan yang Fitri buat, Siska mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Di ruangan itu hanya ada dirinya, Jenny, dan Wati yang terlihat sangat fokus dengan tugasnya masing-masing. Sebuah ide jahil muncul di benak Siska. “Mumpung si Fitri lagi ke kamar mandi, dan dua orang itu sedang sibuk dengan tugasnya, gue kerjain si Fitri ah,” ucap Siska dalam hati, kemudian menggerakkan tangannya secara perlahan untuk mengambil wadah kecil berisi garam. Sebelum mulai menuangkan beberapa sendok garam itu ke masakan yang Fitri buat, Siska mengedarkan pandangannya sekali lagi, takut jika ada seseorang yang melihat aksi jahilnya itu. Jahil atau jahat sih yang paling cocok disematkan untuk perbuatan Siska itu? “Aman,” gumamnya pelan seraya tersenyum lebar. Satu,, dua,, satu sendok garam sudah akan melayang di udara, dan telah siap untuk segera dituangkan ke masakan yang Fitri buat, dan ti— “Siska? Lo mau ngapain itu?” Sial! Siska mengumpat pelan karena usahanya terpaksa gagal. Siapakah suara seseorang itu? Fitri? Jenny? Wati? Atau justru Ibu bos?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD