Part 7

1722 Words
Batas pendaftaran casting telah ditutup tiga hari yang lalu. Fitri pun sudah mendaftarkan dirinya sejak ia telah melengkapi semua persyaratannya, tepatnya satu hari setelah ia meminta izin kepada Ibu dan Bapaknya untuk mengikuti casting. Hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Fitri membantu Ibu dan Bapaknya untuk berjualan di Pasar. Tak seperti hari Minggu yang biasanya pasar selalu ramai, hari ini banyak pedagang pasar yang bebas bersantai, bersenda gurau, bahkan berselancar di dunia maya dengan gadget yang tak pernah lepas dari tangan sang pemiliknya. Ya, hari ini pasar terlihat sangat sepi, tak banyak pengunjung yang berkeliaran ke sana ke mari mencari kebutuhan yang mereka butuhkan. Begitu pun dengan kios Fitri dan kedua orang tuanya, hanya sedikit pembeli yang datang untuk membeli bahan makanan seperti sayur mayur, tempe, tahu, dan yang lainnya. Lelah berdiri menyapa para pengunjung yang sesekali lewat di depan kiosnya untuk mampir, membeli bahan makanan yang Fitri dan kedua orangtuanya jual. Fitri memilih untuk mendudukkan dirinya sebentar di kursi kayu yang sudah tak berwarna lagi karena termakan usia, tak jauh dari tempat kiosnya berada. Ia aktifkan gadget yang selalu ia taruh di saku celananya, dan bunyi notifikasi beruntun pun mulai terdengar nyaring ketika ia mulai menyalakan paket data selularnya. Notifikasi pesan w******p, notifikasi direct message i********:, serta notifikasi pemberitahuan f*******:, mulai terlihat memenuhi layar ponselnya, hingga satu buah notifikasi email yang muncul paling akhir, membuat Fitri yang duduk bersandar, mulai menegakkan tubuhnya tanpa sadar. Tubuh Fitri mendadak menegang mengetahui ada email yang masuk ke akunnya, apalagi setelah ia tekan icon aplikasinya, chat awal yang bertuliskan bintang management mengirimimu pesan membuat Fitri yang sudah tegang, semakin merasa tegang dan gugup. Rasa penasaran yang mendominasi, membuat Fitri berusaha berdamai dengan ketegangan dan kegugupan yang melanda dirinya tanpa izin. Ia sangat penasaran dan tak sabar untuk membaca isi pesan tersebut, mengetahui maksud dan tujuan sang pengirim pesan, bintang management, mengirimnya sebuah pesan email. Ia tekan pesan tersebut dengan tangan bergetar. Rasa penasaran, tegang, dan gugup yang ia rasakan kini tergantikan oleh rasa haru, senang, dan tak menyangka setelah ia selesai membaca isi pesan tersebut dari awal hingga akhir. Tertulis disana, Bintang management Selamat kepada saudara/i Fitri Safitri, berkas anda lolos seleksi tahap awal, dan akan dilanjut untuk mengikuti seleksi tahap akhir dengan melakukan casting langsung di kantor kami. Sesuai dengan informasi yang tertulis di atas, diharapkan kedatangannya di kantor kami yang bertempat di Jln Markisa no 123 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada hari Senin, tanggal 25 Juli 2020 pukul 08.00 WIB untuk melaksanakan casting. Bagi yang berhalangan hadir dan tidak dapat mengikuti proses casting, akan kami anggap gugur dan akan kami diskualifikasi. Sekian informasi yang kami berikan, selamat siang dan selamat beraktifitas. Kaki yang awalnya kuat menapaki lantai, kini terlihat lemah dan lunglai akibat keterkejutan yang ia rasakan baru-baru ini. Perasaan haru, senang, dan tak menyangka silih berganti hadir menyapa Fitri. Tak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi, Fitri pun bergegas berdiri, melangkahkan kakinya meninggalkan kursi kayu itu, menuju sang Ibu dan sang Bapak yang kini berdiri ke arahnya, sambil mengenyitkan kening heran. "Ada apa dengan Fitri? Sampai-sampai wajah yang awalnya lecek dan datar karena bosan tadi, kini berganti dengan senyum sumringah yang terus bertengger cantik di wajahnya?" ucap sang Ibu yang heran melihat kelakuan aneh Fitri. Fitri yang kini sudah sampai di hadapan kedua orang tuanya, mendekatkan tubuhnya ke arah sang Ibu, kemudian memeluknya erat. "Ibu.. Fitri bungah pisang ayeuna," ucap Fitri ditengah-tengah kegiatannya memeluk sang Ibu. (Fitri senang sekali sekarang) Sang Ibu yang telah tersadar dari keterkejutannya melihat Fitri yang tiba-tiba datang memeluknya, menarik tubuh Fitri menjauh, kemudian menatapnya dengan tatapan penuh kelembutan. "Kamu kenapa, Nak?" Fitri tersenyum manis membalas tatapan penuh kelembutan sang Ibu, kemudian berkata, "Fitri senang sekali, Bu, sekarang." "Kamu senang kenapa, Nak? Sampai-sampai kamu bertingkah manis seperti ini," ucap sang Ibu dengan tetap menatap Fitri dengan penuh kelembutan. "Menang lotre kamu ya? Dapet apa sekarang? Sudah Bapak bilang jangan main lotre lagi masih aja ya dilakuin. Lotre itu kan kayak judi. Dan judi? Seperti yang kamu tahu Fitri, dilarang oleh agama. Kenapa kamu masih saja susah dibil---" sela sang Bapak. "Bapak, dengerin Fitri dulu, ya? Biarkan Fitri berbicara terlebih dahulu, menceritakan apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Baru nanti setelah Fitri berbicara dan bercerita, kita beri dia tanggapan. Oke?" Ucap Ibunya Fitri memotong ucapan Bapak yang seperti rel kereta api itu, saking panjangnya. Melihat sang Bapak yang menganggukkan kepalanya kemudian terdiam, Fitri pun kembali menerbitkan senyuman manisnya, kemudian mulai melanjutkan ceritanya. "Fitri seneng banget, Bu, Pak. Akhirnya jalan Fitri untuk bisa meraih dan menggapai cita-cita Fitri selama ini mulai terbuka lebar. Cita-cita yang awalnya menurut Fitri adalah sebuah mimpi yang manis dan tak mungkin bisa Fitri wujudkan mulai tampak seperti nyata. Cita-cita yang menurut Fitri mustahil akan terjadi, kini bisa saja menjadi mungkin untuk Fitri dapatkan. “Bu, Pak, Fitri lolos tahap seleksi berkas. Fitri akan mengikuti casting di Jakarta untuk bersaing kembali dalam seleksi akhir. Satu tangga menuju impian Fitri berhasil Fitri pijak, Bu, Pak. Fitri seneng banget sekarang. Bapak dan Ibu doakan Fitri, ya? Semoga Fitri bisa lolos casting, dan cita-cita Fitri untuk bisa menjadi artis. Tampil di layar kaca dan dikenal oleh banyak orang, bisa segera terwujud." Mendengar cerita yang mengalir dengan begitu lancarnya dari bibir Fitri, tanpa sadar sang Ibu menitikan air mata haru. "Selamat ya, Nak. Sejak dulu Ibu sudah yakin kamu akan berhasil mewujudkan cita-cita kamu itu. Walau banyak orang selalu mengejek kamu, menghina kamu, menganggap rendah dirimu, dan menganggap remeh cita-cita kamu. Ibu tetap selalu mendoakan kamu, Nak. Ibu selalu berdoa agar semua impian yang anak-anak ibu impikan. Kamu, Dion, dan Ayu, bisa kalian raih dan dapatkan dengan mudah." "Alhamdulillah, kamu bisa lolos seleksi berkas. Ibu bangga sama kamu, Nak. Tapi baru satu tangga yang berhasil kamu pijaki. Nanti akan ada puluhan bahkan ratusan tangga yang harus kamu pijaki untuk bisa meraih semua cita-cita kamu itu. Ibu harap kamu harus tetap kuat dan semangat ya, karena kita tidak pernah tau, seberapa sulit rintangan yang harus kamu lalui agar kamu bisa berhasil menaiki tangga kedua, ketiga, dan tangga-tangga selanjutnya. Ibu doakan semoga bukan hanya seleksi berkas saja yang lolos, tapi kamu juga bisa lolos tahapan akhirnya. Ibu doakan, semoga peran yang kamu mainkan saat casting nanti bagus, dan dapat menarik perhatian para juri. Semoga kamu sukses ya, Nak," ucap sang Ibu seraya mengusap lembut puncak kepala Fitri, disertai dengan senyuman hangatnya yang tak pernah pudar sedari tadi. "Bapak juga bangga sama kamu, Nak. Kamu selalu kuat dan bertahan walau tak sedikit orang-orang di sekitar kamu selalu berusaha untuk mematahkan semua cita-cita kamu. Kamu selalu optimis dan tidak pernah pantang menyerah. Bapak doakan semoga kamu lolos seleksi, ya? Semoga kamu menjadi orang yang sukses, dan cita-cita kamu untuk menjadi seorang artis terkenal itu bisa segera terwujud, Aamiin." "Cuma satu pesan Bapak. Sesibuk apa pun kamu nanti, sebahagia apa pun kamu nanti, ketika kamu sudah lolos seleksi dan bisa tampil di layar kaca. Dan sebaliknya, sesedih apa pun kamu nanti, misal keinginan kamu itu tidak terwujud, jangan sekali-kali kamu lupakan shalat ya, Nak? Kewajiban yang harus selalu kamu tunaikan lima kali setiap harinya. “Kamu tahu? Salah satu kunci sukses seorang muslim adalah dengan melaksanakan shalat dan sabar. Memohon dan mengharapkan keridhoan-nya, agar apa pun yang kamu inginkan bisa terwujud. Seperti yang kamu tahu juga, bahwa segala sesuatu itu tidak bisa kita dapatkan secara instant. Tapi butuh waktu dan proses yang terkadang tidak mudah. Oleh karena itu hendaklah kita selalu bersabar. Karena apa? Karena Allah" Sang Ayah dengan sengaja menggantungkan ucapannya. Meminta Fitri lewat tatapan matanya untuk melanjutkan ucapannya tadi. "Karena Allah bersama orang-orang yang sabar," lanjut Fitri dengan seulas senyuman yang bertengger cantik di bibir ranumnya. "Maa syaa Allah. Pinternya Anak bapak," ucap Bapaknya Fitri seraya merentangkan tangannya, memberikan kode bahwa ia pun ingin dipeluk juga oleh Fitri. "Anak Bapak? Anak Ibu juga!" sela Imelda yang tak terima mendengar sang suami mengklaim Fitri sebagai anaknya saja. Fitri dan sang Bapak pun terkekeh pelan mendengarnya. Fitri melangkahkan kakinya mendekati sang Bapak, kemudian mulai memeluknya erat. "Fitri sayang sama Bapak. Sama Ibu juga.." Melihat sang suami juga sang anak yang saling berpelukan itu, Imelda pun turut mendekat ke arah mereka berdua, mengusap lembut punggung Fitri yang sedang berpelukan, kemudian mengulas senyuman manis dan lebarnya. "Sudah, sudah. Nanti lagi peluk-pelukannya dilanjut di rumah. Sekarang kita masih di pasar, malu nanti diliatin para pengunjung dan pedagang lain." Mendengar itu, Fitri pun mulai menarik tubuhnya dari pelukan hangat sang Bapak, kemudian menatap sang Ibu dengan tatapan jahilnya. "Hmm, bilang aja kalau Ibu cemburu melihat Bapak aku peluk lama dari tadi. Hehe, cieee, cemburu nieee." "Ihhh, kamu kok gitu ngomongnya? Siapa yang cemburu, coba? Ibu nggak cemburu tuh. Udah sana, lebih baik kamu pulang ke rumah, kasih kabar bahagia ini sama kedua adik kesayangan kamu itu. Lagi pula di sini sedang sepi pengunjung, palingan nanti kamu bosen kalau kelamaan nganggur. Lebih baik pulang, kemudian packing baju-baju yang akan kamu bawa nanti, berikut semua kebutuhan kamu nantinya." Fitri senyum-senyum tak jelas mendengar perkataan panjang sang Ibu, kemudian menoel pelan dagu sang Ibu. Menggodanya. "Mmm, Ibu lagi pengen berduaan sama Bapak ya? Makanya nyuruh Fitri buat segera pulang? Cie cie.. Cie cie.." Imelda mengangkat tangannya, kemudian mencubit pelan pipi sang putri. "Gemesnya.. Anak Ibu ini. Ibu serius, Sayang. Mumpung pasar hari ini sedang sepi, Ibu izinkan kamu untuk pulang lebih awal. Terserah kamu, mau langsung pulang atau mau ketemu dulu sama, Vita? Sahabat kesayangan kamu itu. Kamu nggak mau ngasih kabar bahagia ini sama dia? Ibu dengar Vita akan kembali lusa lho ke kota tempat kuliahnya itu." "Ah iya, Fitri lupa. Ya sudah, Fitri pamit ketemuan sama Vita ya, Bu, Pak. Semoga anak itu lagi free deh saat ini. Dah, Ibu, Bapak. Assalamu’alaikum." "Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya, Nak," ucap Imelda setelah Fitri menyalami tangannya dengan penuh takzim. ********** Fitri mengucap syukur saat bunyi notifikasi pesan w******p terdengar. Satu pesan balasan dari Vita, sahabat dekatnya, muncul di layar gadget-nya. Oke, Fit. Kebetulan aku lagi nggak sibuk sekarang. Di tempat biasa bagaimana? Membaca pesan balasan yang dikirimkan Vita untuknya membuat Fitri merasa senang. Akhirnya ia bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Memberitahunya tentang keberangkatan dirinya ke Jakarta, untuk mengikuti casting. Dengan segera Fitri pun mengetik pesan balasan untuk Vita. Syukurlah. Oke, kita ketemu di sana yaa. See you.. Fitri jadi tak sabar untuk segera bertemu dengan Vita. Bagaimana ya? Ekspresi gadis cantik itu saat tahu dirinya telah terdaftar untuk mengikuti casting di Jakarta?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD