Jose POV
Amarahku mencapai ubun-ubun. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku hanya pergi beberapa saat meninggalkan pos penjagaanku yang tak jauh dari pintu kamar Vanilla. Begitu kembali, aku bisa mendengar suara menggelegar Wera. Dengan sekuat tenaga aku menerobos masuk.
Entah dari mana asal kekuatan dan keberanian itu. Tahu-tahu aku sudah menghentikan Wera dan merebut Vanilla. Wajah murka Wera semakin menyeramkan. Pengawal yang lain hanya menunggu di luar, seperti biasa mereka pura-pura tidak mendengar dan melihat.
Aku bisa melihat Letta yang bergetar tak jauh dari pengawal-pengawal itu. Aku tahu dia tak memiliki keberanian sebesar keberanian yang aku miliki.
“KEMBALIKAN!” Lagi-lagi suara teriakan Wera memekakkan telingaku nyaring. Tubuhku yang besar memeluk melindungi Vanilla yang diam tanpa perlawanan. Aku tidak ingin menurutinya sama sekali sehingga Wera semakin mengamuk dan melemparkan vas bunga kearah kami berdua.
Dengan ilmu bela diri dan refleks yang aku miliki, aku berhasil menghalau vas itu dan memukulnya kearah kiri menggunakan tangan kiriku. Vas itu terhantam ke dinding dan pecah berkeping-keping.
Letta dan dua pengawal lain histeris di luar sana. Mereka pasti mengira sesuatu gawat benar-benar terjadi. Wera menghampiri kami dan berusaha melukai tubuhku dengan kesepuluh jarinya namun aku lebih lihai dan gesit sehingga menghindarinya cepat.
“Cukup, Nyonya!” desisku menatapnya tajam. Mata Wera melotot dengan mata memburu.
“Apa katamu?”
“Cukup sudah. Anda keterlaluan.” Aku semakin mengeratkan rengkuhanku kepada Vanilla yang berada dipelukanku.
“Apa pedulimu manusia rendahan! Kamu harus tahu tempatmu! Kamu hanya pengawal miskin, berani sekali kamu membantahku!”
Aku terdiam mendengar ocehan pedasnya. “Anda 100% benar, saya miskin tetapi saya tidak rendah. Sikap anda terhadap puteri kandung anda sendiri justru memperlihatkan betapa rendahnya anda.”
Mendengar balasanku, wajah Wera semakin memanas. Tubuhnya oleng memegang belakang lehernya. Sepertinya tekanan darahnya naik. Aku berlalu pergi dengan cepat menghiraukan Wera yang masih histeris meminta aku mengembalikan Vanilla.
Aku mengambil jalan pintas dan menuju garasi. Mobil yang biasa digunakan untuk mengantar Vanilla segera kuhampiri. Aku mendudukan Vanilla di bangku penumpang sebelah pengemudi. Aku menjalankan mobil menuju apotek terdekat.
Beruntung aku bergerak cepat sebelum beberapa seniorku yang bekerja sebagai pengawal rumah mengejar kami. Dua mobil mengikuti kami dengan kecepatan tinggi.
“Aku akan meningkatkan kecepatan.” Kataku kearah Vanilla yang masih menatap jalanan dengan tatapan kosong. Aku mengeluarkan skill mengemudiku yang di atas rata-rata sehingga mobil yang memburu kami tertinggal jauh.
30 menit mengendarai, aku berhenti disebuah apotek. Aku membeli obat oles dan beberapa makanan serta minuman. Vanilla terduduk disebuah kursi yang tak jauh dari bangunan itu. Aku meraih wajahnya dan mengelus pelan.
“Kenapa?” lirihnya.
“Hm?”
“Kamu akan dapat masalah besar, Jose. Kembalikan aku.” Gumamnya.
Aku tersenyum kecil dan menyibakkan rambut yang berada dikeningnya. “Aku tidak takut.”
Vanilla menatapku syok. “Ini ibuku. Wera Wensey, kamu tidak takut?”
Aku menggeleng, “kenapa aku harus takut?”
“I mean…” gagapnya.
“Ibumu kaya raya begitu?”
“Sangat kaya.” Lanjutnya.
“Lalu?” jawabku tenang cenderung cuek. Vanilla sudah ingin melanjutkan kata-kata namun memilih diam. “Aku baik-baik saja. Kamu harus memikirkan dirimu sendiri. Lihat luka ini?” aku mengangkat lengan kirinya yang berdarah akibat cakaran. Aku mengoleskan obat dilukanya, darah yang mengering kubersihkan dengan alkohol. “Katakan jika luka ini perih.”
“Tidak perih.” Datarnya. Aku mengoleskan dengan telaten.
“Jose…” panggilnya kemudian saat kami terdiam menatap langit yang menguning tanda senja.
“Hm?”
“Kamu benar-benar akan mendapat masalah. Aku baik-baik saja. Ibuku mungkin terlihat kejam tapi dia tidak akan tega membunuhku. Semua perlakuannya karena penyakit yang dideritanya. Aku ingin menjadi kekuatan baginya.”
“Dengan dipukuli seperti ini?” tawaku sinis. “Van…” Aku meraih wajahnya. Mataku menatap wajahnya lembut. “Untuk menjadi kekuatan bagi orang lain, kamu harus mencintai dirimu sendiri dulu. Kamu bukan barang. Tubuhmu pun ada limitnya. Jika memang Nyonya memiliki penyakit, psikiater ada untuknya dan bukannya dirimu.”
“Aku sudah menjalani ini bertahun-tahun lamanya. Aku baik-baik saja.”
“Kamu tidak lelah?” Vanilla merenung dan memalingkan wajahnya. Terlihat dia enggan menjawab. “Aku suka kamu. Aku cinta kamu, Vanilla Wensey.” Kataku kemudian. Hatiku berdebar begitu cepat, aku merasa seperti ingin meledak. Tetapi aku tidak ingin menahannya lagi, aku mencintai wanita rapuh di hadapanku ini. Sekeras apapun rasionalku menyangkalnya, aku tetap menyukainya. Pikiranku selalu penuh dengan sosoknya tanpa henti.
“A… apa?” Vanilla menatapku cepat. Tanganku yang berada diwajahnya ditepis dengan kasar.
“Seperti yang kamu dengar… aku mencintaimu.”
“Ha!” Vanilla tertawa tidak percaya. Tubuhnya bangkit dengan gusar. “Kembalikan aku sekarang!” bentaknya.
“Hey!” Aku berusaha memeluknya.
“Kamu tahu betapa menyedihkannya hidupku dan sekarang kamu mengatakan mencintaiku?” Vanilla bergerak gesit menghindariku. Langkahnya cepat menuju mobil.
“Aku tidak peduli!” balasku sama tegasnya.
“Kamu gila!” Vanilla berbalik menatapku tajam, aku bisa melihat matanya yang memerah ingin menangis.
“Iya, aku memang gila! Puas?” Aku meraih kedua tangannya. “Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Aku…” Aku menyisir rambutku frustasi. “Aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Aku berusaha mengabaikanmu pada awalnya tetapi perasaanku semakin dalam. Mengertilah. Aku tidak mungkin bercanda di saat seperti ini.”
“Kamu hanya kasihan padaku. Itu bukan cinta.” Vanilla memalingkan mukanya.
“Lalu menurutmu, aku menentang ibumu dan mempertaruhkan karierku hari ini hanya karena aku iba begitu?” Vanilla terdiam menatapku. Air mata yang ditahannya akhirnya tiba-tiba mengalir. Tubuhnya luruh dan menangis meraung-raung.
Hatiku perih melihatnya. Aku tahu ini bukanlah saat yang tepat mengungkapkan isi hatiku tetapi aku tidak tahu kapan aku akan mendapatkan kesempatan itu lagi. Aku berjongkok di hadapannya dan meraih tubuh ringkihnya dalam pelukanku erat. “Aku cinta kamu, Vanilla. Aku ingin melindungimu. Aku tidak rela satu orangpun menyakitimu meskipun itu adalah ibu kandungmu sendiri. Kamu berharga dimataku. Kamu terluka, akupun terluka.” Kuraih wajahnya dan kuhusap air matanya yang sudah memenuhi keseluruhan wajahnya.
Vanilla menatapku pilu. “Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik. Aku… aku sudah rusak. Tubuhku seperti monster penuh dengan cacat. Hidupku menyedihkan. Aku tak ingin menarikmu dalam penderitaanku juga.”