Jose POV
Keningku semakin mengkerut bingung. “Milo?” Nama itu justru terdengar lucu dan manis, berbanding terbalik dengan penampilan bos yang sangar dan menakutkan.
“Dasar pria itu! Masih juga sok misterius.” Wajahnya tiba-tiba terlihat mendung. “Aku sudah memintanya untuk berhenti dari dunia mengerikan itu tetapi dia tak ingin meninggalkan seorang anak yang dirawatnya beberapa tahun belakangan itu.”
“Anak?”
“J.” Jawabnya kemudian. “Anak itu bernama J.” ungkapnya lagi. “Pengawalku menelusuri tentang backgroundmu dan kamu tercatat sudah mati.”
“Ceritanya panjang. Jadi anda adalah teman baik bos?”
“Ya, kami seperti saudara meski tidak memiliki hubungan darah.” Kenang Josiah haru. “Dan sekarang pria bodoh itu justru wafat sendirian dengan tragis.”
Aku memaksa duduk dengan susah payah. Seluruh tubuhku terasa ingin terbelah-belah namun aku harus kuat. “Maafkan kelancanganku sebelumnya.” Aku menunduk hormat.
Josiah tertawa renyah. “Kita impas. Tubuhmu terluka parah, butuh waktu untuk pulih. Aku tidak mengetahui jika kepala pengawalku terlalu keras terhadapmu. Setelah semuanya membaik, kita akan berbicara panjang lebar. Istirahatlah dulu.”
“Baik.” Jawabku hormat.
Sepeninggal Josiah dan Silas, aku dirawat secara intensif namun tidak dapat meninggalkan ruangan. Selama kurun waktu itu, aku hanya dapat beristirahat di dalam kamar dan berolahraga secara terbatas. Aku pernah mencoba keluar melalui pintu tetapi gagal karena dua pengawal menjaga di depan.
Pemulihan tubuhku cukup lama memakan dua minggu. Selama itupula aku tidak bisa mengakses informasi apapun. TV yang terdapat di dalam ruangan itu hanya menyiarkan film-film dan drama harian. Bagaimana dengan Karno? Aku mulai mengkhawatirkannya.
Tepat dihari ke 15, Silas menghampiriku dan mengundangku sarapan bersama Josiah. Aku menyusuri mansion mewah dengan hiasan dinding berupa lukisan dan patung yang terlihat mahal. Mataku melihat dengan waspada. Hingga tibalah aku pada sebuah ruang makan mewah, disetiap sisinya terdapat guci yang terlihat mahal dan berusia ribuan tahun.
“Duduklah. Aku harap makanan ini sesuai seleramu.” Jawabnya.
“Aku bisa makan apa saja.” Sambungku cepat.
Josiah tersenyum dan melambaikan tangannya. Seluruh pelayannya memasuki dapur dan meninggalkanku berdua dengannya. “Anda tak bisa seperti ini, kembalikan kertas itu.”
Josiah tertawa kecil. “Anak muda tidak sabaran.”
“Anda menahanku di sini tanpa alasan. Anda tidak tahu berapa lama waktu yang terbuang? Aku ingin membunuh b******n itu!”
Josiah mematung dan menatapku tajam. “Milo tidak mengharapkanmu balas dendam.”
“Bos terbunuh karena dia terlalu lembut!” imbuhku nyaris berteriak.
TAK!
“Akh!” aku memegang leherku seketika. Sebuah benda kecil mengenainya dan terasa sangat sakit. Aku meraih benda kecil itu. Uh? “Kacang?” mataku melotot melihat hidangan kacang yang tak berada jauh dari Josiah. “Anda mengenai leherku dengan ini? Dengan jarak jauh?” Josiah terlihat cuek dan memulai santapan paginya. Roti itu dilumuri selai nanas dan dinikmatinya bersama oatmeal, perpaduan yang aneh. “Anda yang mengenaiku bukan?”
“Ya. Lalu apa maumu?” Josiah kembali menatapku dingin, wajahnya terang tidak suka. Aku terdiam seketika. “Look… sahabat yang kuanggap saudara mati karena mendukungmu. Kamu pikir aku akan diam saja. Tidak semua perkara di dunia ini selesai jika musuh mati. Ada kalanya diam justru baik untuk semuanya.” Josiah menghela napas panjang. “Milo benar-benar ingin membuatmu menjadi sosok baru. Melalui suratnya, aku mendapatkan keseluruhan ceritanya. Kertas ini hanya kode.” Josiah mengangkat kertas itu. “Detailnya aku akan memberitahumu nanti. So, apa rencanamu kedepannya?”
Aku berpikir keras. Benar, apa rencanaku selanjutnya? Aku hanya berpikir membunuh Andra dan komplotannya. “Aku berpikir menjadi polisi.”
“Polisi?” Josiah terkejut.
“Aku ingin menangkap Andra dengan hukum yang adil.” Mataku berkilat semangat.
“Rupanya hanya dendam dalam otakmu.”
“Aku tidak bisa berpikir yang lain sebelum b******n itu mati.”
“Kamu bisa membalas dendam dengan cara yang lain, Nak.” Josiah akhirnya melunak, wajahnya kelihatan masih kesal. “Aku memiliki institusi yang melatih banyak anak muda untuk menjadi bodyguard. Mereka bekerja mengawal disegala bidang. Politik, kesehatan, bisnis, entertainment dan bahkan keamanan negara. Kamu tidak tertarik?”
Aku berpikir kemudian, “Aku tak bisa meninggalkan Karno.”
“Karno?”
“Pria tua yang menyelamatkanku dulu.”
“Aku bisa memberinya kompensasi.”
“Aku tetap tidak bisa.”
“Ah! Sifat kemanusiaanmu itu memang sulit berkompromi.”
“Aku butuh identitas baru. Setelah semua urusan ini selesai, aku akan kembali. Aku pun berpikir itu yang terbaik.” Kataku bersungguh-sungguh. Pada akhirnya Josiah setuju dengan keputusanku dan memberikan identitas baru untukku.
Setelah mendapatkannya, Josiah juga memberiku lengkap alat komunikasi namun aku menolaknya. Aku berusaha menghindari segala kecurigaan yang mungkin saja dipertanyakan Karno nanti. Namun Josiah memaksaku agar menyimpannya ditempat lain demi berjaga-jaga.
Sepanjang perjalanan kembali, aku hanya memegang beberapa lembar uang. Aku menolak apa yang diberikan Josiah saat ini meskipun aku mengetahui jika Milo memberikan seluruh kekayaannya kepada diriku. Aku berpikir menyimpannya untuk sementara.
Aku bisa memperoleh uang dengan bekerja di desa bersama Karno. Aku harus memulai semuanya dari awal. Identitas ini memberiku hidup yang baru. Aku pun berpikir tidak akan mengganti nama asliku yaitu Jose. Selama ini hanya beberapa orang yang mengetahuinya. Terlebih Josiah telah menambahkan nama yaitu Kyte yang merupakan nama keluarganya. Aku tidak bisa begitu saja melupakan kejahatan b***t Andra. Tetapi Josiah benar, aku tidak bisa bergerak tanpa perencanaan.
Karno menyambutku dengan senyum lebar. Sebuah pelukan hangat membuatku lupa akan kesedihan yang kualami selama ini. Karno menyiapkan makan siang untukku dan kami makan dalam diam. Karno juga tidak bertanya banyak ketika aku memilih diam.
Kehidupan baruku berlanjut dengan perlahan. Hari demi hari kulakukan dengan membantu Karno bekerja sebagai buruh. Jika aku memiliki waktu luang, aku akan ketoko buku hanya demi membeli buku test masuk kepolisian.
“Kamu berniat menjadi polisi?” tanya Karno dikala sore kami menikmati kopi panas di depan teras rumah.
“Aku tidak tahu, Paman. Aku hanya berpikir harus memulai apapun yang terlintas dalam pikiranku.”
“Tubuhmu tinggi dan besar. Kamu juga pekerja keras. Paman rasa kamu akan bisa menjadi polisi.” Simpulnya dan menyantap satu pisang goreng yang masih panas.
Aku berpikir sejenak. Polisi? Haruskah? Josiah melarangku menjadi polisi. “Haruskah?” tanyaku sambil bergumam tanpa sadar.
“Kamu sudah membeli buku mahal itu.” tutur Karno kemudian. “Jika kamu ingin, Paman akan membantu keuanganmu juga.”
Aku tertawa kecil, bahkan untuk dirinya sendiri Karno sudah kesusahan. Pria tua ini memiliki hati seperti seorang ayah. “Aku tidak benar-benar ingin menjadi polisi. Uang yang Paman punya bisa digunakan untuk hal lain.”
“Paman sudah tua begini, Nak. Mau apa lagi? Tinggal tunggu wafat saja.” Imbuhnya dengan menghela napas lelah. Kesedihan kehilangan belahan jiwanya terang membuat dunianya menjadi hancur berkeping-keping.
Aku bangkit berdiri, “Aku ingin keluar sebentar.”
“Pulanglah sebelum tengah malam.” Karno meraih gelasku dan gelasnya yang telah kosong untuk dicuci.