SEMBILAN -Dibalik Layar

1080 Words
Vanilla POV “Kamu ingin teh herbal?” “Lavender ya.” pintaku lirih. Letta mengangguk. Tak menunggu lama teh itu sudah terhidang di hadapanku. “Syukurlah makan malam berjalan lancar.” “Ya.” jawabku singkat dan menyecap teh tersebut. Aromanya seketika membuatku tenang. “Nyonya menyiapkanmu seorang pengawal pribadi. Dirinya akan datang dalam dua hari ini.” Aku tertawa kecil. “Buang-buang tenaga. Kamu lihat mansion ini? 20 pengawal di setiap sisi. Toh aku tidak akan lari kemana-kemana. Pengawalku yang sebelumnya bahkan tidak memiliki pekerjaan penting kecuali mengamatiku dari jauh saat Mami memukulku.” Sindirku tajam. Sejak Wera membawaku hidup bersamanya, dia selalu menempatkan satu pengawal disisiku. Alasannya demi keselamatanku, tetapi pada akhirnya aku terluka ditangan ibuku sendiri. “Kamu akan banyak mengikuti kegiatan di luar mulai sekarang. Papi barumu seorang terpandang.” “Itu hanya untuk pencitraan Mami.” “Meski hanya untuk pencitraan, kamu tetap harus memiliki pengawal pribadi, Vanie.” Letta meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. “Meski pengawalmu sebelumnya mengundurkan diri karena nyaris melukaimu, tetapi kali ini Diya mencari yang lebih baik.” Aku menghela napas panjang melihat wajah memelas Letta. “Oke. Baiklah.” “Ah! Bagaimana dengan script yang sedang kamu buat? Sudah mendapatkan jawaban?” tanyanya semangat. “Sssssttttt!” aku membungkam Letta cepat. “Ini sangat rahasia, jika Mami mengetahuinya, aku akan benar-benar mati.” “Maaf.” Letta menyentuh bibirnya cepat dengan jemarinya. “Tetapi jika dipikir-pikir… darah memang lebih kental daripada air. Kamu secantik Nyonya, talentamu dibidang menulis juga turun darinya. Beberapa script milikmu bahkan diangkat menjadi drama dan film. Sudah saatnya kamu butuh pengakuan darinya.” “Aku bukan siapa-siapa. Kemampuanku bukanlah sesuatu yang hebat.” “Kamu bahkan harus menggunakan nama samaran.” “Ini lebih baik. Aku tidak ingin diusik apalagi disituasi seperti ini, Mami masih melihatku sebagai pengganggu.” “Benar juga.” Letta menghela napas panjang, wajahnya menjadi sedih. “Aku berusaha tidak terlihat sebisa mungkin. Entah sampai kapan… aku harus bertahan.” “Jordyn dan Jocelyn akan menjadi saudari tirimu.” “Yep” “Sikembar iblis menyebalkan. Akting mereka buruk sekali tetapi karena pengaruh orangtuanya, mereka bisa setenar ini.” Gerutu Letta. “Begitulah.” Sambungku malas dan segera menghabiskan teh lavender itu sekali teguk. “Jika ada apa-apa, kamu harus segera melapor kepadaku.” Letta kembali meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Thanks, Letta.” Jawabku tersenyum kecil. Tantangan apa lagi yang harus kuhadapi dengan pernikahan ini, aku memilih tidak memikirkannya. Jika aku harus tersakiti lagi, aku sudah pasrah. Hari demi hari terlewati tanpa aku sadari. Pada akhirnya aku hanya perlu bertahan. Aku tidak bisa mendengarkan saran orang lain, bagiku inilah bentuk dari kebahagian semu yang masih bisa aku peroleh. Keputusanku masih tetap sama, aku tidak akan meninggalkan ibuku meski perlakuannya selalu membuatku berada diujung kematian. *** Jose POV  Masa sekarang… Makan pagi terhidang panas. Aku masih bergulat di dapur membuat bekal makan siangku. Karno memanggilku berulang kali untuk sarapan bersama terlebih dahulu. Tidak terasa, satu tahun berlalu begitu saja setelah pertemuanku dengan Josiah. Kami tidak pernah berkomunikasi namun aku tahu dia selalu mengawasiku. “Nak, cepatlah!” Karno memanggilku dengan frustasi. “Oke… Oke, Paman.” Aku segera menutup kotak makanan tersebut dan melepaskan celemekku. “Makanlah dulu.” jawabnya. Aku mengangguk dan mulai menyendok nasi dan meletakkannya di dalam piringku. “Aku akan lembur hari ini.” “Berhati-hatilah. Cuaca sedang tidak baik, jangan terlalu memaksakan dirimu.” “Iya, Paman.” Sudah dua bulan ini Karno tidak lagi menjadi buruh tukang. Kesehatannya menjadi alasan utamanya. Aku membawanya menuju puskesmas terdekat dan ditemukan ternyata Karno menderita jantung. Meski tidak mengancam nyawanya, Karno tak bisa terlalu lelah. Itulah mengapa aku menjadi tulang punggung kebutuhan kami sehari-hari. Keadaan itu harus kulalui beberapa waktu. Hari demi hari terlewati tanpa terjadi sesuatu yang berarti. Pada saat itulah aku mendapat berita buruk tentang kondisi Karno. Dirinya terjatuh di kamar mandi umum dan pingsan. Saat dilarikan ke puskesmas terdekat, nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Hantaman keras dikepalanya membuat serangan fatal. Aku yang sedang mengerjakan proyek meminta ijin menuju puskesmas. Perpisahan datang tanpa diduga. Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih atas perhatian Karno selama ini. Esok harinya, pemakaman itu dilaksanakan pagi hari. Aku terduduk di depan nisannya masih diliputi kesedihan. “Paman… Terima kasih. Berbahagialah bersama Ibu di sana. Kalian tidak akan merasa sakit lagi.” Air mataku mengalir tanpa bisa kuhentikan. Lagi-lagi aku kehilangan sebuah keluarga. Langkah kakiku berat menuju rumah dan berkemas. Aku harus terus melangkah maju. Aku siap menuju ketahap selanjutnya. Meski jalan kehidupan selanjutnya akan semakin terjal, aku tidak ingin menyerah. Aku menyusuri tiap ruang dalam rumah sederhana ini. Bisa saja aku tidak akan kembali karena rumah inipun hanya belas kasihan warga yang meminjamkan kami dulu. Aku menghela napas panjang dan meraih tas milikku yang tergeletak di depan pintu. Kunci pintu yang tergantung segera kucabut dan memberikannya kepada kepala desa. Gerimis mengikuti langkahku yang semakin menjauh dari pedesaan ini. Tubuhku yang basah kuyup memasuki mobil dan melanjutkan perjalanan menuju markas Josiah. 1 bulan kemudian, aku terbangun dengan selimut hangat menutupi tubuhku yang telanjang. Sinar matahari lembut memasuki kamar milikku dari sela tirai yang terkibas angin semilir. “Kamu sudah bangun?” sebuah suara mengangetkanku. Aku menoleh dan menemukan seorang wanita berambut lurus sebahu tersenyum tanpa mengenakan selembar pakaianpun. Dirinya masih dalam keadaan berbaring. F*ck! Makiku. Apa yang terjadi tadi malam? Aku bangkit tanpa ingin menghiraukannya. “Hey!” pekiknya berusaha menggapai tanganku namun gagal. Kakiku menjajaki marmer kamar mandi dan mulai menyalakan shower. Air dingin mengalir mengembalikan kesadaranku. Tak lama sebuah lengan kecil memeluk tubuhku dari belakang. Aku menghela napas panjang dan menguraikannya. “Kamu dingin sekali padahal tadi malam kita melewati malam yang bergelora.” Sahutnya manja. Aku tertawa kecil nyaris meremehkan. “Lalu?” “Kamu tidak ingin melanjutkannya?” Wanita itu meraih tangan kiriku dan meletakkannya didadanya yang berukuran 36D. Sangat sulit dipercaya ukuran itu asli dengan bentuk tubuh yang mungil ini. Oh wait… siapa nama wanita ini? Aku menarik tanganku cepat dan meraih shampoo membersihkan rambutku. “Aku tidak punya waktu meladeni basa basimu. Pergi dari sini sebelum aku benar-benar menarikmu keluar secara paksa.” Tegasku angkuh. Wanita itu menelan ludah keras dengan wajah masam. “Hmp!” hanya itu dengusan kesalnya sebelum dirinya benar-benar menghilang. Beberapa menit kemudian, handuk rendah sudah melilit dipinggulku dan melangkah menuju kamar ganti. Aku mengenakan celana training panjang berwarna abu dan kaos v-neck berwarna hitam. Jam menunjukkan pukul 7 pagi saat aku duduk menikmati sarapan pagi bersama Josiah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD