DUA PULUH - Kabur

1122 Words
Jose POV  “Jose!” Vanilla memukul lenganku. Aku terkikik geli melihat ekspresi salah tingkahnya. “Ha? Apa?” Josiah muncul dari balik pintu masih dengan posisi ponsel ditelinganya. “Oke… oke… ya… begitu saja… No… Jangan, lakukan sekarang. Oke.” Josiah masih sibuk menjawab telepon dan duduk di hadapan kami. “Ya? Apa katamu tadi?” “Papi… Hmph!” Vanilla membungkam mulutku cepat dan tersenyum kearah Josiah. “Halo, Paman.” Sapa Vanilla lirih. Josiah tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. “Pakai kartu ini untuk sementara.” “Apa ini?” aku meraihnya dan menatap kartu sebesar kartu identitas dalam genggamanku. “Kita akan berdiskusi setelah kalian selesai makan.” Josiah melirik kearah Vanilla. Aku menangkap maksudnya. Vanilla menyelesaikan makan malamnya dan aku menuntunnya memasuki kamar. “Ayahmu pasti marah, dia terlihat tidak menyukaiku.” Katanya lirih. Aku terkekeh pelan. “Wajah Papi memang selalu seperti itu tetapi dia tidak dalam keadaan marah.” “Beliau pasti memarahimu karena masalah pribadiku.” Vanilla menaiki tempat tidur dan aku membantu menyelimutinya. “Ya, beliau marah.” “Lalu kamu akan pergi?” tanyanya kuatir. Wajahnya begitu mendung dan terlihat ingin menangis. Kukecup keningnya lembut, “tentu saja tidak.” “Tetapi kamu akan mendapat masalah besar.” “Aku tahu. Aku sudah dewasa untuk menentukan apa yang kuinginkan.” Kuelus pipinya yang merona merah. Jemariku bersentuhan dengan kulitnya yang lembut. Dengan gerakan cepat, Vanilla mengecup bibirku singkat dan membalikkan tubuhnya membelakangiku. Aku tahu dia malu. “Se… selamat ma… malam.” lontarnya gugup. Aku tersenyum menatap punggungnya. Ciuman itu singkat namun cukup membuat jiwaku melayang bahagia. Kupeluk tubuhnya dari belakang dan kukecup lehernya yang terbuka. “Aku berharap kecupan itu bisa lebih lama. Hm?” Bisikku mesra dan menunggu reaksinya. Tak beberapa lama Vanilla memalingkan wajahnya yang masih merona dan menatapku malu-malu. Jemarinya kembali meraih wajahku dan mengelusnya. Secara naluriah bibirku mendekat dengan bibirnya yang merah menggiurkan. Bibirku mulai melumat bibirnya buas, awalnya Vanilla terkejut dengan balasan liarku tetapi perlahan dia mulai mengikuti alurnya. Aku semakin tergila-gila dengannya hanya dengan ciuman panjang ini. Lidahku menyusup memasuki rongga mulutnya dan mencecap lidahnya yang hangat. Vanilla mulai mengerang, tubuh kecilnya pasrah di bawah tubuhku yang jauh lebih besar. Aku berusaha keras tidak menindihnya mengingat tubuhku yang berat. Aku semakin terbuai, perlahan tangan kananku menyusup kedalam dress malam yang dikenakannya. Tanganku mulai mengelus pahanya yang mulus. Lidah kami masih saling memilin penuh birahi. “JOSEEE!” suara Josiah membuyarkan adegan mesra kami. Vanilla mendorong tubuhku panik sehingga aku nyaris jatuh dari tempat tidur berhubung tempat tidur ini tidak besar. “F*ck!” makiku. Aku melirik kearah Vanilla yang memperbaiki dress malamnya yang tersingkap. “A… ayahmu memanggilmu.” Dalihnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. “Aku akan kembali. Tidurlah duluan.” Jawabku berusaha tenang. Beruntung kamar ini remang-remang, jika tidak Vanilla akan melihat gundukan dibalik celanaku. Juniorku meronta ingin dibebaskan. Aku melangkah keluar kamar dengan wajah masam. Josiah menungguku di meja makan dengan wajah tak kalah masamnya. “Simpan birahimu untuk sementara, masalah ini benar-benar serius Jose!” omel Josiah. “Maaf, Pi.” Sesalku dengan wajah menunduk. “Kamu tahu ibunya sudah mengerahkan berbagai instansi untuk memburumu?” “Ya. Aku sungguh menyesal, Pi. Tetapi aku tidak ingin menyerahkan Vanilla. Agensi kita pasti terkena dampak.” “Untungnya tidak.” balas Josiah cepat. “Benarkah?” “Wensey tidak seberani itu terhadapku.” Josiah menyalakan sebatang rokok dan menghirup asapnya dalam. “Kenapa?” tanyaku penasaran. “Well… cerita lama. Aku pernah menyelamatkan nyawanya dulu.” “Papi mengenalnya dari dulu?” “Dia adik kelasku. Hanya sebatas itu. Yang pasti, Wensey tidak berani terhadap agensiku.” “Dia pasti tahu aku putera angkatmu.” “Itu lain cerita.” Josiah tersenyum kecut. “Lalu kartu ini?” “Itu kartu akses kekayaanmu.” “Uh? Maksudnya?” “Milo…” “Aku minta Papi menjaganya dulu. Aku tidak butuh sekarang.” Potongku. “Lalu apa rencanamu sekarang?” “Vanilla masih terlihat syok, aku akan menenangkannya dulu.” Josiah menghela napas, “dasar keras kepala.” “Restui Jose, Pi.” Aku memohon dengan keseluruhan hatiku. Aku tidak ingin Vanilla kembali ke tempat neraka itu. “Pikirkan lagi malam ini, lepaskan anak itu. Papi bisa mencarikanmu wanita yang lain. Kalau perlu mirip-mirip dengannya.” Josiah membuyarkan lamunanku. “Aku tidak ingin, Pi.” Kukuhku. “Ha…” Josiah kembali memijat kepalanya. “Ambilkan Papi kertas.” Aku bangkit dan mencari beberapa lembar kertas di dalam laci. Josiah menulis sesuatu dikertas itu dan menyerahkannya kepadaku. “Kalian tidak bisa menggunakan pesawat atau transportasi apapun itu karena Vanilla tidak memiliki kartu identitas. Tinggallah ditempat ini terlebih dahulu.” Aku melihat alamat itu dengan kening berkerut. “Jaraknya sangat jauh.” “Sangat dan ini adalah pedalaman. Kamu harus meninggalkan mobil itu di sini.” “Lalu aku harus memakai apa?” “Truck pengantar supply bahan makanan.” “Ha? Pi, Vanilla tidak bisa…” “Hanya itu satu-satunya cara aman untuk sementara. Gerak gerik Papi dan Silas dipantau dengan ketat. Kita tidak pernah tahu siapa yang menjadi musuh dalam selimut.” Mau tidak mau aku harus setuju dengan rencana ini. Bagaimanapun inilah resikonya. “Kapan kami bisa bergerak?” “Subuh. Kamu masih memiliki kesempatan untuk berisirahat. Silas akan mengirimkan alat komunikasi baru untukmu.” Aku mengangguk paham. “Terima kasih, Pi.” “Ingat Papi masih tidak menyetujui hubungan kalian.” Aku tersenyum kecil, Josiah memang keras kepala. “Papi harus pergi sekarang.” Josiah bangkit, aku memeluknya erat dan mengantarnya melalui pintu belakang. Dirinya menyelinap cepat hingga tubuhnya hilang dibalik gelapnya malam dari pandanganku. Meski dirinya tidak muda lagi, tetapi stamina dan tubuhnya masih sangat kuat. Aku kembali menuju kamar dan menemukan Vanilla yang terbaring dibalik selimut. Kupeluk tubuhnya dari belakang erat. “Ayahmu sudah pergi?” “Ya.” jawabku lirih. “Kita akan bergerak subuh ini.” “Kemana?” “Tempat persembunyian. Kita akan menggunakan truck. Apa kamu siap?” Vanilla mengangguk dan mengelus lenganku yang memeluk pinggangnya. “Aku siap.” “Perjalanannya mungkin tidak akan menyenangkan tetapi aku akan berada di sisimu.” “Terima kasih, Jose.” “Sepertinya kamu harus mulai memanggilku dengan panggilan romantis.” godaku. Entah mengapa di sisi Vanilla seperti ini aku menjadi sosok yang genit. Vanilla membalikkan tubuhnya berhadapan denganku dengan mata membulat. “Apa?” “Bukannya kini kita resmi sebagai sepasang kekasih?” “Uh?” “Jangan bilang kamu tidak serius.” Aku pura-pura merajuk. “Ahhh… tentu saja tidak.” panik Vanilla. “Sayang.” bisiknya pelan. Wajahku memerah malu seketika ketika mendengar kata itu. Suara merdu Vanilla seakan membangunkan sisi lain dalam diriku. “Sekali lagi.” Pintaku. “Sayang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD