Kinan menatap nanar ke arah Alvaro, yang baru saja berlalu pergi dari hadapannya. "Iya, aku selalu lupa, kalau kamu enggak pernah menganggap aku ada," ucap Kinan tersenyum miris. Kinan duduk di kursi bekas Alvaro, menatap masakannya yang siang tadi ia masak. Senyum sedikit terukir karena melihat ikan sepotong itu hampir habis. "Kau pintar sekali membuat alibi Tuan, bilang saja kamu lapar," monolog Kinan. Sedangkan Alvaro meremas rambutnya dengan kasar. Berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Entah apa yang ia rasakan setelah berkata ketus terhadap istrinya. "Kenapa mulutku tak bisa mengontrol untuk tidak berbicara kasar padanya?" Alvaro menjatuhkan bobotnya pada sofa di kamarnya. Kepalanya ia rebahkan pada bantalan sofa dengan mata terpejam. Ingin sekali ia tidak selalu berbuat di lua

