Alvaro melangkah ke dekat jendela, menatap keramaian luar sana dengan cuaca sedikit mendung. Bahkan suana hatinya ikut mendung seraya memikirkan ucapan asistennya. 'Tidak mungkin aku ada rasa dengan perempuan itu. Aku hanya simpati karena sebuah pertanggung jawaban, bukan cinta,' ucap Alvaro dalam hati. Hingga beberapa menit berlalu, Alvaro masih setia berdiri di depan jendela. Rasanya dia ingin sekali menelepon Kinan untuk segera pulang, tapi dia tidak punya alasan untuk itu. Hembusan nafas berat keluar dari bibir Alvaro. Pandangannya tertuju pada jam di dinding, jam tiga sore, "Apa yang akan aku lakukan di jam seperti ini?" Alvaro kembali masuk ke kamar, dia memakai pakaian dan hanya menggunakan celana Levis pendek sepanjang lutut. Mengambil barang pribadinya, kemudian ia melangkah k

