Part | Eight.

1416 Words
“Kau bodoh. Sungguh, Dude, jika Sean mendengarmu, ia akan membunuhmu,” ucap Kentzo pada Kenneth pagi itu ketika mereka berbincang di balkon kamar Kenneth. Kenneth mengisap kopi panasnya, seakan ucapan Kentzo hanyalan angin lalu. “Kenneth Wijaya, seriously!” Kentzo berseru karena tidak suka diabaikan oleh kembarannya. Menurutnya, semua hal yang berhubungan dengan Sean, semuanya akan terasa lebih sulit. Sean sangat keras kepala, keputusan yang dibuatnya selalu bulat—kau tidak bisa membantahnya, kecuali kau adalah Alesya Wijaya.  “Kentzo, they’re not loving each other.” Kenneth membela dirinya. Tidak ada yang salah jika ia menyukai—atau bahkan mencintai Alexandria. Toh, Alexandria juga tidak menyukai Sean. Sesaat setelah Sean membawanya ke mansion malam itu, sejak saat itu pula Kenneth merasa bahwa ia sudah terpesona oleh Alexandria. Wanita itu bisa memberikan kesan misterius dan menarik dalam waktu yang bersamaan. “Itu pemikiran bodohmu, i***t! Bagaimana jika mereka sungguhan mencintai? Apa yang akan kau lakukan, Kenneth?” Kentzo tidak habis pikir dengan pria yang lima belas menit lebih tua darinya—Kenneth memiliki harapan kematian jika berniat merebut Alexandria dari Sean. “Kau tidak lihat, Kentzo? Alexandria sungguh memikat. Tidak ada alasan untukku untuk tidak menyukainya.” Kenneth mulai memberi penjelasan pada Kentzo bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang wajar. “Aku juga menyukainya, Kenneth. Tapi, aku hanya sebatas menyukai, sementara kau bisa lebih dari itu,” ucap Kentzo seraya menatap Kenneth dengan kesal. “Kentzo, sepertinya kau benar, aku akan mencintainya.” “Kau gila!” *** Flashback... “Lyana, bayi siapa itu?” tanya Diandra saat adik kandungnya membawa seorang bayi mungil di gendongannya. Bayi itu meringkuk dengan hangat di bawah selimut hangatnya. “Aku menemukannya di depan rumah kosong saat aku pulang berkerja, Kak.” Lyana membaringkan bayi tersebut di kasur. Diandra mengerutkan dahinya ketika melihat Lyana memandang bayi itu dengan kasih sayang. “Jangan bilang, kau akan mengurusnya?” Diandra mengeryit pada Lyana. “Aku memang akan mengangkatnya menjadi anakku.” Lyana mengecup pelan dahi bayi tersebut. “Kau gila, Ly! Kau masih muda dan mau mengasuh seorang bayi yang berasal dari antah – berantah?!” Lyana tersenyum dan tidak menanggapi ucapan kakaknya. “Alexandria Neville. Aku akan menamainya Alexandria. Halo, Al.” *** “Ibu.” Diandra tersentak dari lamunan masa lalunya ketika Alexandria memanggilnya. Ia terlalu fokus pada lamunannya hingga tidak tahu bahwa Alexandria sedang duduk di sampingnya. “Kau ingin membicarakan apa? Bukankah kau yang menyuruhku kemari?” tanya Alexandria karena sejak ia sampai di rumah Diandra, ibu angkatnya itu belum berkata apapun. Bahkan Alexandria sampai harus berbohong pada Sean tadi, mengatakan bahwa ia harus mengambil tugas dari dosennya—padahal hari ini Alexandria libur, karena tidak ada kelas—dan akan kembali ke apartemen pria itu ketika malam tiba. Diandra menatapnya. “Kau berhasil menjual tubuhmu?”  Alexandria cukup terkejut jika itu memang apa yang ingin Diandra bicarakan dengannya. Jadi, Alexandria hanya terdiam dan menghela napas sebentar, seharusnya perlakuan sinis dari Diandra sudah terbiasa ia dapatkan. “Aku sudah membayar tagihan rumah sakit Ayah. Jadi, Ibu tahu apa yang sudah aku lakukan.” Alexandria menjawabnya dengan nada yang cukup sinis. Alexandria tahu ia kurang ajar jika membenci Diandra. Tapi, sikap Diandar yang terus – menerus seperti ini membuatnya muak. “Good. Teruslah seperti itu, Alexa. Kau bisa mendatangkan sedikit keuntungan untukku dan Aiden.” Diandra bangkit dari duduknya dan sebelum meninggalkan Alexandria, ia berkata, “asal kau tahu saja, aku tidak peduli kau tinggal dimana selama ini. Selama kau mendatangkan uang untukku, hal lain tentangmu tidak penting lagi bagiku.” Alexandria termenung di ruangan itu. Memikirkan apa yang akan ia lakukan ke depannya. Tinggal di rumah Diandra tentu saja sudah ia coret dari daftar hunian masa depannya. Apartemen Sean—mungkin lebih baik dibandingkan harus tinggal di neraka dunia. Well, surga milik Sean lebih baik. Jadi, Alexandria memutuskan untuk pergi dari kediaman Diandra dan bergegas pulang menuju tempat tinggal Sean. Perlu beberapa menit hingga akhirnya Alexandria mendapatkan taksi untuk pergi ke apartemen pria itu.  Meet me at my office. Right now. Sean Wijaya Alexandria mendapatkan pesan singkat dari pria itu ketika ia sudah setengah jalan menuju apartemen Sean. Alexandria mengumpat dalam hati. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah menyuruh sopir taksi itu untuk berbalik arah dan pergi menuju kantor Sean. Perusahaan besar dan ternama yang tentunya Alexandria tahu. Sesampainya disana, Alexandria tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia memang tahu ini adalah tempat dimana Sean berada. Tapi, ia tidak tahu dimana ruangan Sean. “Aku ingin bertemu dengan Sean Wijaya.” Alexandria memutuskan untuk bertanya pada resepsionis yang ada di lantai itu. Setelah diberi tahu dimana ruangan Sean berada dan setelah melewati beberapa menit yang menjengkelkan karena Alexandria kesulitan menemukannya. Akhirnya, Alexandria bertemu dengan Sean yang baru saja keluar dari suatu ruangan. “Al,” panggilnya dan langsung merengkuh pinggang rampiang Alexandria. Wanita itu tersentak karena perlakuan Sean dan tidak terima jika Sean melakukan hal itu. “Ada apa?” bisik Alexandria karena di sekitar mereka, banyak orang yang berlalu lalang. Sebagian dari mereka bahkan melirik ke arah dirinya dan Sean. “Lebih baik ke ruanganku.” Alexandria sepertinya mengerti dengan apa yang Sean maksudkan. Sean dan Alexandria memasuki ruang kerja Sean yang seketika membuat Alexandria terpesona. Alexandria tidak pernah melihat ruang kerja sebesar dan semewah ini. Alexandria menatap ke sekelilingnya yang tentunya tidak luput dari pandangan Sean. “Kau bisa melihat – lihat nanti,” ucap Sean yang membuat Alexandria berhenti meliat – lihat ruang kerja Sean. Alexandria tersenyum kecil. “Ada apa, Sean?” Entah untuk yang keberapa kalinya, Alexandria menanyakan hal tersebut pada pria itu. Sean tidak menjawabnya, pria itu memilih untuk mendekatinya. Satu langkah Sean mendekatkan diri pada Alexandria, satu langkah pula wanita itu berjalan mundur. Hingga akhirnya Alexandrua merasa bahwa ia sudah terpojokkan. “Sean—” Ciuman Sean membungkan Alexandria. Terlalu cepat dan mengebu. Kini, Alexandria tahu mengapa pria itu menginginkannya untuk datang ke kantornya. *** “Boleh aku bertanya, Sean?” tanya Alexandria pada Sean yang kini sedang memainkan rambut hitamnya. Alexandria bergerak untuk duduk dengan tegak di pangkuan Sean. Seketika harus menahan malu ketika sadar bahwa ia tidak memakai apapun—jas hitam Sean yang hanya menutupi tubuhnya, sementara pria itu bertelanjang d**a di hadapannya. “Sure.” Sean kembali menarik tubuh Alexandria untuk berada di pelukannya, tangannya sontak tergerak untuk memainkan rambut Alexandria. “Aku—Bolehkah, aku tinggal di apartemenmu? For good, actually. Setidaknya sampai kau menemukan wanita yang kau cintai dan tidak membutuhkanku lagi,” ucap Alexandria dengan pelan karena takut Sean akan menola keinginannya.  “Tentu saja, Al.” Jawaban Sean membuat Alexandria kembali duduk tegak dihadapan Sean hingga menimbulkan kursi kerja yang mereka duduki berdecit pelan. “Kau serius? Maksudku, mengapa kau tidak menolaknya?” tanya Alexandria dengan wajah yang terheran. Sean tersenyum miring, mengecup bibir Alexandria dan kembali menatap wanita itu. Karena aku ingin kau disana. “Karena itu lebih baik, bukan?” Alexandria mencoba untuk mencari jawaban bahwa pria itu tidak berbohong. Atau paling tidak, yakin bahwa Sean tidak bercanda dengan ucapannya karena Alexandria sudah berharap bahwa Sean mengijinkannya. Alexandria tersenyum lebar ketika pria itu menganguk dan kembali memeluk dirinya. “Thanks,” ucap Alexandria dengan tulus yang membuat Sean tersenyum kecil. Alexadria seketika terlonjak kaget ketika Sean mengambil jas miliknya yang digunakan untuk menutupi tubuh polos Alexandria dengan tangan ang merambat ke tubuh wanita cantik itu. “Sean!” seru Alexandria karena terkejut dengan perlakuan Sean. Terlebih ketika—entah untuk yang keberapa kalinya—Sean mencium bibirnya dengan panas dan menggebu. Rasa yang ditinggalkannya beberapa jam yang lalu kembali muncul pada mereka. Sean mengubah posisi duduk Alexandria untuk sepenuhnya menghadap padanya—membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak dengan hebat. “Se—Sean, kita sud—sudah melakukannya,” ucap Alexandria dengan tersenggal ketika Sean mengecupi dadanya. Bagian yang semakin memerah karena ulah pria itu. “Ya. Lalu?” Sean menjawabnya dengan kelewat santai. “Kursi ini akan roboh, Sean.” Alexandria mencoba supaya Sean berhenti untuk menikmatinya. Setengah berharap bahwa kursi kerja yang mereka duduki bisa menahan bobot tubuh mereka. Sean terkekeh kecil. “Tidak, Al.” Sean mengecup lehernya dengan gigitan kecil seraya mengangkat tubuh Alexandria dan memojokkannya ke tembok. Alexandria seketika memekik karena kaget, tubuh polosnya dan tangan Sean yang menahan bobot tubuhnya tepat di bokongnya membuat euforia semakin memanas. “Sean, ini di kantormu.” Alexandria menahan kepala Sean yang akan kembali menyerbunya. “Aku tidak peduli, tidak akan ada yang melihat.” Astaga. Alexandria tidak pecaya mereka aka melakukannya. Di kantor Sean Wijaya. Dan...berdiri. Alexandria kembali melenguh ketika Sean melakukan hal itu, berulang kali. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD