BAB 28. Tentang Kita

1801 Words
Keesokan harinya, Juda berangkat ke tempat kerja dengan setengah hati. Penampilannya tidak serapi biasanya, bahkan cenderung berantakan. Membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Lebih parah ketimbang saat hari Senin kemarin digoda habis-habisan oleh rekan-rekan kerjanya. Hari ini, Juda benar-benar tidak semangat menjalani hari karena masih teringat akan perseteruannya dengan Grita dan masalahnya dengan Danis semalam yang tak ada penyelesaian. “Lesu banget, Bu. Nggak dapet jatah dari laki lo, ya?” Juda mengerling. “Jatah apaan? Gue nggak pernah minta jatah ke pacar gue kali. Gue bisa cari duit sendiri.” “Maksud gue bukan jatah yang itu.” Seketika Juda mengerti ke mana arah pembicaraan yang dimaksud. Ia berdecak malas. “Gue juga nggak pernah minta atau ngasih jatah begituan. Dosa.” Rekan kerjanya tertawa. “Duh, Juju tuh luarnya aja yang galak, tapi dalemnya masih polos, selembut sutra.” “Apaan sih, nggak jelas lo,” gerutu Juda. “Kenapa sih, Ju? Sini cerita sama gue. Lo ada masalah apa?” Juda merebahkan kepala ke atas meja. Membiarkan rambutnya yang hari ini ia gerai karena masih agak basah setelah keramas subuh tadi, jatuh sebagian menutupi wajahnya. “Jangan bilang kalau sama si Danis juga gagal?” tebak rekan kerjanya salah sasaran. Juda menggeleng. Membuat rambutnya semakin banyak yang jatuh menutupi wajah. “Terus kenapa? Danis nolak lo waktu lo ajak enak-enak?” Pertanyaan yang lagi-lagi salah sasaran itu membuat Juda makin kesal. Jika mengecualikan ciuman di reuni yang dipaksakan Juda, skinship mereka yang paling jauh hanyalah pelukan yang Danis berikan tadi malam sebelum berpaling pergi meninggalkan kos Juda dan masuk ke dalam taksi. Boro-boro sampai menjurus ke arah seks, kecup-kecup ringan saja belum. “Danis atau elo yang terlalu konservatif, sih? Kalian ribut gara-gara nggak bisa saling memuaskan satu sama lain apa gimana?” Juda langsung beranjak dari kubikelnya untuk membungkam mulut rekan kerjanya yang seperti keran bocor. “Ngerumpinya nanti lagi, guys. Inget kerjaan kalian numpuk tuh,” tegur salah satu senior yang baru saja masuk ke ruangan. Dengan bersungut-sungut, Juda kembali ke kubikelnya. Kembali menatap layar komputer yang menampilkan laman Microsoft Excel dengan tabel berisi angka-angka yang membuat kepala pening. Meskipun begitu, setidaknya ini lebih baik ketimbang pusing memikirkan masalahnya dengan Grita dan juga kelanjutan hubungannya dengan Danis yang masih abu-abu. *** Tidak ada satu minggu dan kehidupan Juda berubah drastis. Juda masih benar-benar tidak yakin akan apa yang telah terjadi. Tentu saja. Tidak ada yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi dalam hidup. Kita bisa saja sangat sehat pagi ini dan siangnya ambruk karena Tuhan memutuskan memberikan kita rasa sakit. Kita bisa begitu sangat bahagia dan di detik selanjutnya merasakan kesedihan luar biasa. Hidup Juda juga begitu. Sebelum ini, Juda merasa hidupnya cukup normal meski sehari-harinya ia harus menahan kesal dan pusing karena desakan Mami agar segera menikah. Namun, hanya karena satu momen di reuni, melihat Guntur yang ternyata merupakan si suami yang tidak setia dan melihat Danis yang sudah sepuluh tahun tidak ia temui, hidup Juda berubah menjadi kacau. Tidak ada satu hari pun ia menjalaninya dalam ketenangan. Apa yang terjadi dalam hidupnya mungkin tidak akan berkembang sejauh ini jika ia bisa berpikir logis, tidak hanya mengedepankan perasaan. Tetapi Juda lebih suka menganggap ini sebagai kehendak semesta. Atau takdir. Sudah saatnya hidupnya berubah menjadi lebih menantang. Hanya saja Juda tidak mengira jalannya akan begini. Ini tidak lagi menantang dan menyenangkan, tetapi membuat kepalanya pening dan nyaris gila. Bagaimana tidak? Saat sedang makan siang dengan rekan-rekan kerjanya, Ema mengirimkan tautan yang berisi tentang video perseteruannya semalam dengan Grita. Memang tidak seviral video 'lamaran'-nya. Namun, tetap saja cukup menjadi perbincangan beberapa orang. Juda cukup yakin jika teman-temannya—khususnya teman SMA—akan segera tahu soal ini. "Sial," desis Juda geram. Juda pun cepat-cepat menghabiskan makan siangnya, kemudian pamit untuk kembali ke kantor lebih dulu dengan alasan mendadak sakit perut. Begitu sampai di kubikelnya, Juda langsung menghubungi sahabatnya itu, yang belum sempat ia beri tahu perkara semalam karena Juda terlalu kalut hingga tak terpikir untuk membuka ponsel. "Lo kenapa nggak cerita sama gue kalau abis ribut sama Grita?" tuntut Ema begitu panggilan telepon tersambung. "Astaga! Bisa-bisanya gue tahu dari sosmed. Lo beneran udah kayak artis aja." "Kejadiannya baru semalem. Gue terlalu stres, Em. Mana kepikirin buat ngasih tahu lo." Terdengar Ema mengumpat kasar beberapa kali sebelum bertanya, "Gimana kronologisnya?" Juda tidak repot-repot mengais-ngais ingatan semalam, karena ia masih ingat sangat jelas. Ia bercerita mulai dari rencana kencannya dengan Danis ke bioskop, kemudian makan di salah satu restoran di dekat mall, kemudian berujung bertemu dengan Guntur saat ia ingin pergo ke toilet hingga tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang dan sedetik kemudian sebuah tamparan keras melayang di pipi. "Lo ditampar Grita?" Suara Ema melengking. "Emang setan si Grita!" geram Juda. Kemudian Juda melanjutkan ceritanya. Tidak hanya selesai hingga ia keluar restoran, tetapi juga saat ia berdebat sengit dengan Danis di luar restoran. Bagaimana mereka berdua meledakkan isi hati mereka masing-masing hingga keadaan menjadi semakin pelik. Karena bom itu sudah terlanjur meledak. Dan sekarang hanya tersisa puing-puing yang entah masih bisa diselamatkan atau tidak. "Berarti lo belum ngobrol apa-apa lagi sama Danis?" "Semalem setelah Danis nganter gue, dia langsung balik. Abis itu dia cuma ngabarin kalau udah sampe di apartemen dan nggak ada nge-chat apa-apa lagi sampe siang ini," cerita Juda sambil mengetuk-ngetukkan jari di meja dengan gusar. "Gue nggak bisa ngebaca isi hati orang, Em. Gue nggak ngerti Danis lagi marah sama gue atau udah beneran muak sama gue." "Jangan mikir yang enggak-enggak dulu. Daripada nungguin dia ngehubungin lo, kenapa nggak lo duluan yang inisiatif? Di sini lo juga ada andil bikin masalah antara kalian berdua, kan." Ema berdeham dan langsung mengoreksi, "Grita emang salah karena nuduh-nuduh lo, di depan umum pula. Tapi cara lo nuduh Danis juga nggak bener. Dia cuma berusaha ngebantu lo keluar dari masalah sebelum jadi makin parah. Jadi, menurut gue, pertama-tama lo harus minta maaf. Gue yakin, Danis nunggu lo sadar dan introspeksi diri, makanya dia nggak ngehubungin lo sampe sekarang. Dia mau lo yang ngehubungin dia duluan." Ema benar. Kenapa ia tidak kepikiran menghubungi Danis lebih dulu? "Setelah itu, gue sarankan kalian bahas lagi tentang perasaan kalian lebih dalam," sambung Ema sebekum Juda menimpali. "Asli, gue nggak nyangka ternyata perasaan kalian buat satu sama lain sedalam itu." "Gue juga nggak sadar sampai semalam gue meledak di depan Danis. Begitu juga sebaliknya," balas Juda dengan tatapan menerawang jauh. *** Sepulang dari kerja, Juda menghubungi Martin, menanyakan tentang Danis dan keberadaan laki-laki itu. Untung saja, Martin bisa diajak bekerja sama. Martin malah langsung mengirimkan alamat apartemennya agar Juda bisa berkunjung ke sana untuk menemui Danis secara langsung. "Danis lagi agak masuk angin." Begitu kata Martin tadi. Dan di sinilah Juda berada sekarang. Di depan pintu unit apartemen Martin bernomor 702 yang berada di lantai tujuh. Juda baru menekan bel setelah berdiri di sana hampir dua menit. Harap-harap cemas menunggu dibukakan pintu. Juda sudah akan menekan bel sekali lagi saat pintu terdorong keluar dan Danis muncul dengan mengenakan pakaian santai. Tampak raut kebingungan di wajah Danis saat bertanya, "Juju, kok bisa sampai sini?" "Bisa. Aku naik gojek." Juda tahu bahwa sebenarnya maksud Danis bukan soal itu. "Martin bilang kamu masuk angin," sambungnya. Danis tidak berkata apa-apa untuk mengoreksi atau membenarkan cerita Martin dan mempersilahkan Juda masuk. "Kamu udah makan?" "Sarapan dan makan siang udah. Makan malam belum," jawab Danis. Sekarang waktu baru menunjukkan pukul setengah enam. Jadi, memang wajar saja Danis menjawab dengan sedemikian rupa. "Gimana kondisi kamu?" tanya Juda setelah dipersilakan duduk. Danis tersenyum tipis. "Aku cuma kebanyakan minum aja semalem." Danis merokok. Dan Danis juga berurusan dengan alkohol. Juda tahu, bahwa ia tidak memiliki hak untuk tidak senang perkara itu dan menghakimi laki-laki itu. Ia hanya merasa sedih karena semakin tertinggal dari kehidupan Danis yang telah jauh berbeda dengan yang dulu. Sebelum semakin berlarut-larut berpikir ke mana-mana, Juda cepat-cepat menyadarkan diri akan tujuannya kemari selain memeriksa keadaan Danis. "Aku ke sini mau minta maaf," tutur Juda. "Semalam, aku nggak seharusnya bertindak begitu. Apalagi sampe nuduh-nuduh kamu." Juda memandang Danis yang duduk di seberangnya, berjarak satu meter darinya, dengan serius. Aku minta maaf karena lagi-lagi melibatkan kamu di dalam drama hidupku." "Aku juga minta maaf karena semalem langsung pulang gitu aja. Aku terlalu kaget buat mencerna semuanya. Tentang kita." Juda langsung merasa luar biasa karena Danis tidak marah padanya. Namun, jantungnya juga bergemuruh riuh karena pernyataannya yang kedua. 'Tentang kita,' batin Juda. Entah mengapa, dua kata itu membuat jantung Juda berdegup kencang. Benar. Mereka harus membahas tentang perasaan mereka. "Sebelum semalam, aku nggak benar-benar yakin tentang perasaanku buat kamu. Aku pikir kita udah selesai." "Hubungan kita emang seharusya udah selesai, Ju," ucap Danis yang membuat Juda menegang. "Cuma kita aja yang nggak sadar kalau dari lubuk hati kita yang paling dalam, kalau kita masih berharap semua itu nggak nyata. Atau setidaknya itu yang aku rasakan. Aku nggak pernah sadar kalau aku masih mengharapkan buat bisa memperbaiki hubungan kita yang udah rusak, walaupun aku nyaris percaya kalau itu hal paling mustahil. Kita dulu masih terlalu muda untuk memiliki perasaan sedalam ini buat satu sama lain. Jadi, aku nggak bisa mengharapkan kamu memiliki perasaan yang sama." "Dan butuh sepuluh tahun buat kita menyadari itu," balas Juda. Menatap Danis dengan ekspresi campur aduk di wajah. "Kalau boleh jujur, aku nyaris nggak pernah memikirkan kamu lagi sejak beberapa tahun terakhir, Ju. Aku baru mulai ingat kamu lagi setelah Ema mendadak nanya nomor hapeku ke Martin buat kirim undangan nikahan," cerita Danis dengan geli. Seolah sedang ingin mencairkan suasana yang terlalu tegang di antara mereka. "Beberapa minggu setelah itu, aku nggak sengaja nemu foto kamu di dompetku." "Foto apa?" "Foto kamu waktu kita baru mulai pacaran." Juda melotot. "Masih kamu simpan?" Kemudian Juda menyadari satu hal lagi. "Kamu masih pake dompet yang aku kasih waktu ulang tahun kamu, ya? Astaga, Danis. Sepuluh tahun kamu nggak ganti dompet?" Kenyataan itu lebih mengagetkan ketimbang perihal fotonya yang belum dibuang Danis meski mereka sudah putus. "Yah, aku ngerasa kalau dompet itu masih cukup layak dipakai. Aku nggak kepikiran buat beli yang baru." Juda geleng-geleng kepala. "Kita harus beli baru." Danis mengerling geli. "Bukan itu yang penting sekarang, Ju." "Kenapa kamu masih nyimpen fotoku?" "Kamu nggak akan percaya kalau aku bilang aku udah lupa pernah punya foto itu. Fotonya nyelip di kartu-kartu yang udah nggak kepake." Sekali lagi, Juda geleng-geleng kepala. "So, kita baikan, kan?" "Ada syaratnya." Juda langsung mendengkus. "Aku sebenarnya udah nahan diri dari kemarin—" "Jangan aneh-aneh, Danis," potong Juda. "—aku pengen cium kamu." Shit! Muka Juda mendadak terasa panas. "Boleh?" Jangan-jangan Danis bisa membaca pikirannya yang sempat mengganggu Juda tadi siang saat rekan kerjanya menggodanya soal dirinya dengan Danis. "Kamu nggak nolak, aku artikan sebagai persetujuan," ucap Danis yang tahu-tahu sudah berdiri menjulang di depan Juda. Sedetik kemudian, Danis menunduk. Merangkum wajah Juda dengan menggunakan kedua tangannya. Kemudian menghapus jarak ysng tersisa. Menjatuhkan bibirnya tepat di atas bibir Juda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD