"Biar aku saja yang jatuh cinta, kamu cukup selalu ada."
- Raefal Cetta Early
°°°°
'Author Pov'
Hari ini Raefal tidak masuk kelas, dan Aksa baru mengetahuinya saat bel masuk jam pertama sudah berbunyi. Aksa tidak bisa meninggalkan kelas begitu saja, karena dirinya sudah menginjak kelas XII.
Saat bel istirahat berbunyi Aksa segera menuju rooftop. Tempat dimana biasanya Raefal pergi saat sedang banyak fikiran. Aksa dengan cepat berlari menaiki tangga untuk segera sampai di rooftop. Saat Aksa sampai, benar dugaannya. Saat ini Raefal sedang berbaring sembari menutup matanya.
"Lo kenapa bolos kelas?" tanya Aksa dengan berjalan menghampiri Raefal.
Raefal pun membuka matanya saat mendengar suara seseorang. Raefal bangkit dari tidurnya, lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk.
"Gak mood!"
"Masalah tadi?" tebak Aksa.
Raefal hanya menganggukkan kepalanya lemas. Aksa melihat wajah Raefal yang sangat kusut, seperti baju yang belum di setrika. Mungkin Raefal menangis tadi, karena matanya sedikit sembab. Tetapi Aksa tidak ingin menanyakan itu, supaya mood Raefal tidak semakin hancur.
"Tadi kenapa Alecia ninggalin lo gitu aja?"
Raefal hanya mengangkat bahunya, yang menandakan tidak tahu.
"Gara-gara fans lo? Yang gak terima lo sama Alecia?"
"Mungkin!"
Raefal terus menatap lurus dengan pandangan kosong. Mungkin Raefal benar-benar jatuh cinta pada Alecia. Aksa hanya menatap Raefal dengan tatapan prihatin. "Kenapa saat lo jatuh cinta beneran, cinta itu malah susah buat lo dapetin Fal."
Raefal masih dengan lamunannya. Menatap lurus dengan pandangan kosong. Sebelum akhirnya berbicara.
"Gue. Akan. Jauhin. Dia!"
Aksa yang mendengar itu pun langsung menatap tajam Raefal. Bukan Raefal kalau mudah putus asa seperti ini.
"Kenapa? Aileen bolehin gue buat bantuin lo deketin Alecia kok," ucap Aksa mencoba untuk mengembalikan semangat Raefal.
"Buat apa? Percuma lo bantuin gue, kalo emang Alecianya gak mau sama gue. Sampe gue jungkir balik juga dia gak akan mau."
"Tapi seenggaknya lo ada usaha Fal."
"Usaha gue cukup dengan merhatiin dan jagain dia diam-diam. Kalo dia nengok gue ya syukur alhamdulillah. Kalo engga yaudah." ucap Raefal dengan senyum miris di selanya.
Kalau Raefal sudah mengambil keputusan, Aksa sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam dan menurut. Karena Raefal tidak suka di bantah.
°°°°
Raefal berjalan keluar kelasnya saat bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Memang setelah menenangkan diri di rooftop, Raefal memutuskan untuk masuk kelas saat jam ke-5 dimulai. Saat ini Raefal tengah melangkahkan kakinya dengan malas untuk menuruni anak tangga, dan berjalan SENDIRI. Sedangkan Aksa rela meninggalkannya demi menjemput Aileen di kelasnya.
Saat Raefal sudah menginjakkan kakinya di koridor kelas XI, Raefal melihat seorang cewek yang meronta ingin dilepaskan dari genggaman tangan sang cowok. Raefal mencoba untuk melihat lebih jelas siapa cewek itu. Raefal membelalakkan matanya saat mengetahui siapa perempuan itu. Alecia. Raefal mengepalkan tangannya kuat, karena melihat Alecia yang meronta ketakutan.
Raefal berjalan dengan cepat menuju tempat Alecia dan cowok yang tengah memaksanya itu. "Ayo lah Al, lo ikut gue ya."
"Lepasin tangan gue. Gue gak mau ikut sama lo!"
"Gue gak akan lepasin tangan lo sebelum lo ikut gu--"
Bugh.
Raefal meninju kuat rahang cowok yang sudah berani membuat Alecia ketakutan. Alecia yang melihat itu hanya membelalakkan matanya tidak percaya. Dengan cepat Raefal melepaskan genggaman tangan cowok itu dari tangan Alecia. Lalu, menarik tangan Alecia untuk berdiri di belakangnya.
Raefal memberi tatapan tajam dan dingin pada cowok itu. "Kalo dia gak mau jangan di paksa."
Cowok yang bername tag Joshua Kaisaro mulai terpancing emosinya saat ada yang meninju rahangnya begitu saja. "Gak usah ikut campur, bisa gak? Emang lo bapaknya yang bisa larang Alecia gitu aja?"
"Gue gak akan ikut campur kalo Alecia gak ketakutan kayak orang mau diculik kayak tadi. Lagian lo b***k ya? Alecia udah nolak ajak lo bro." ucap Raefal setenang mungkin dengan menepuk pundak Joshua sok akrab.
Joshua mulai geram dengan ucapan dan sikap Raefal seperti tadi. Akhirnya Joshua memutuskan untuk Pergi dari hadapan Raefal. Membiarkan Alecia tenang hari ini. Raefal pun tersenyum kemenangan saat mengetahui Joshua pergi dari hadapannya, begitu pun dengan Alecia yang saat ini tersenyum lega. Raefal terus menatap punggung Joshua yang lama kelamaan menghilang. Saat di rasa Joshua sudah pergi dan tidak akan kembali lagi, Raefal memutuskan untuk pergi menuju parkiran. Raefal melangkahkan kakinya begitu saja, tidak melihat ke arah Alecia yang masih berdiri dengan terus memandangi punggungnya.
°°°°
'Alecia Pov'
Aku terus memandangi punggung tegap orang yang sudah membebaskanku dari Joshua. Rasanya aku ingin berteriak memanggil namanya untuk berterima kasih, tetapi mulutku enggan untuk melalukan itu. Rasanya malu sekali saat mengingat kejadian tadi pagi, aku memarahinya dan memintanya untuk menjauhiku. Tetapi apa yang di lakukannya tadi membuatku berhutang budi padanya.
Aku kembali membuka ponsel yang ku genggam. Menekan tombol hijau, dan men-search nama Mama. Aku berniat untuk mengabari mama kalau aku sudah pulang, dan meminta bantuan untuk menjemputku di sekolah. Untung saja saat dering ke-3 telfone ku sudah di jawab.
"Halo ma, Ara udah pulang nih. Minta tolong jemputin ya ma,"
"......."
"Tadi pak Ari udah Ara telfone tapi ponselnya ngga aktif. Yaudah Ara telfone mama,"
"........"
"Yah ma. Terus Ara pulang sama siapa? Aileen udah pulang sama pacarnya tadi. Mana uang cash Ara juga udah abis"
"........."
"Iya deh Ara naik taksi. Bye ma, muah."
Dengan kesal aku menutup telfone lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Semua sudah pulang, hanya ada beberapa murid yang mengikuti ekstra basket saja. Aku terus berjalan, tanpa memperdulikan siulan dari beberapa cowok yang menggoda ku. Saat aku berjalan ada tangan yang menarikku begitu saja. Aku mulai bercucuran keringat, "jangan jangan Joshua."
"Pulang gue anter ya."
"Kok suaranya beda ya." batin ku. Aku membalikkan badan ku untuk menatap wajah cowok yang sudah menganggu ku berjalan. Aku terkejut saat mendapati wajah Raefal di sana.
"Eng-enggak u-usah." tolak ku. Tapi kenapa aku jadi gagap ya.
"Gue tau kalo gak ada orang yang bisa jemput lo hari ini. Dan lo mau nunggu taksi di sini? Sampe malem juga gak bakalan ada taksi yang lewat sini."
"G-gue uda--,"
"Terserah sih kalo lo mau cowok tadi gangguin lo lagi. Lagian gue gak bisa pastiin kalo cowok itu seratus persen udah pulang. Siapa tau dia nungguin lo di ger--,"
"Iya oke gue mau."
°°°°
Vote dan Komentarnya di tunggu:)