BAB 8. Hai, My ex-husband

910 Words
Beberapa saat yang lalu, Jessica berjalan sambil menggandeng Xai menuju ke parkiran. “Kau tidak apa?” tanya Xai menepuk punggung tangan adiknya. “Aku baik-baik saja, aku sudah lama menantikannya. Sungguh, hatiku sangat puas,” desah Jessica lalu membuka pintu mobil porche milik Xairuz. “Puas? Kau sudah menahannya sekian lama?” tanya Xairuz menatap tajam Jessica yang selama ini berbohong padanya. “Bukankah kau bilang kalau ipar dan mertuamu selalu memperlakukanmu dengan baik, hem? Jadi, kau berbohong padaku?!” cecar Xairus belum menyalakan mobilnya. “Aku harus, Kak. Tapi, saat ini sudah tidak ada lagi alasan aku untuk menyembunyikannya,” desah Jessica lalu memasang sabuk pengaman dan menoleh pada Xai. “Sudahlah, nyalakan mesinnya. Malam ini aku akan menginap di apartemen lamaku. Lalu mengenai Perusahaan, bisakah Kakak membantuku sebentar lagi.” Xairuz mendengus dan segera menyalakan mesin mobilnya. “Untuk terus merangkap jabatan sebagai CEO dan komisaris perusahaanmu? Yang benar saja, aku juga memiliki urusan lain, Jessica.” “Jika kau seperti ini terus, Opa akan mengira jika kau tidak becus mengurus perusahaanmu. Dia akan kecewa, apa itu yang kau inginkan?” tanya Xairuz sambil menyetir dengan kecepatan sedang. Wajah Jessica berubah, ia merasa belum siap untuk mengelola perusahaannya itu. Bukan karena dia tidak mampu, tapi karena dia masih belum siap bersaing secara langsung dengan Juan. Dirinya masih belum mau membongkar identitasnya dalam waktu dekat. “Aku mohon, hanya sampai kau menikah saja, Kak,” pinta Jessica disambut gelak tawanya Xairuz. “Kau sedang bercanda. Aku bukan pria yang percaya akan pernikahan, Jess! Kau sedang mengerjai aku,” dengus Xairuz yang tidak ditanggapi oleh Jessica. Keduanya kembali menatap jalanan, hingga mereka sampai di depan apartemennya Jessica. “Kau yakin, mau di sini malam ini?” tanya Xairuz menatap prihatin pada adiknya. “Aku baik-baik saja, Kak,” balas Jessica lalu segera membuka pintu mobilnya dan Xairuz langsung memegang pergelangan tangannya. “Jessica, katakan kalau kau baik-baik saja,” tegas Xairuz. Jessica menatap kakaknya, satu-satunya orang yang tidak bisa dibohongi olehnya. “Please, Kak. Aku hanya butuh untuk sendiri, sementara waktu,” jawabnya sambil menghindari tatapan tajam wajah Xairus yang mulai mengeras. “Kau masih mencintainya, kan?” Jessica kembali memalingkan wajahnya dan tidak langsung memeluk Xairuz. “Aku pamit dulu,” hindarnya dan segera keluar sebelum Xairuz kembali mencecarnya. Langkah yang sebelumnya tampak sangat tegas, kini berubah. Ia terhuyung lemah menuju ke koridor menuju unit apartemennya. Suara helaan nafas yang sejak tadi ditahannya lolos begitu saja. Ia langsung masuk ke unitnya dan membuang tas serta jaketnya ke sembarang tempat. Rasa malas akibat hatinya tidak lagi tenang membuatnya uring-uringan. Jessica langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia memejamkan matanya sejenak. “Ck, menyebalkan sekali. Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di mana-mana,” desahnya. Jessica yang gelisah, lalu mengambil sebotol wine dari kulkas dan segera menyesapnya. Ia mengabaikan getaran pada ponselnya. Kembali diteguknya beberapa gelas yang membuatnya cukup lega, saat rasa kantuk telah datang menyapanya dengan sopan. Matanya perlahan pun meredup, hingga tanpa dia sadari tombol kode pintu unit apartemennya berbunyi dan pintunya terbuka. Langkah seorang pria terdengar teratur di alam bawah sadarnya Jessica. Telinganya yang sensitive kembali menangkap suara Sepatu yang semakin mendekatinya. Dipaksanya kedua mata lelahnya terbuka dengan perlahan. “Si-siapa di sana?” panggilnya saat ia melihat siluet pria bertubuh bidang. “Bisanya kau tidak mengganti kode akses unitmu, hem?” jawabnya justru membuat kedua sudut bibirnya Jessica melengkung ke atas. “Hem, rasanya aku terlalu bodoh! Bahkan di saat aku kesal pun, suaramu masih terdengar di sini. Halusinasi yang bodoh, pergilah bayangan Juan atau siapapun kau,” “Aku, ingin sendiri,” desahnya lalu membalikkan tubuhnya membelakangi pria jangkung tersebut. Benar, pria itu adalah Juan yang mengetatkan rahangnya. Menatap marah dengan d**a bergemuruh dan hati yang ngilu. “Sejak kapan kau mabuk-mabukkan seperti ini. Jadi, kau pergi dari Ocean Garden untuk bersenang-senang dan mabuk seperti ini?!” desisnya terdengar parau, tatapannya semakin menggelap. Walau, Jessica tidak tau. Tapi, Juan tetap saja mencecar dan mencela perbuatan mantan istrinya itu. “Sejak kapan kau perduli padaku, Hahaha! Kau ini, lucu sekali. Mimpi yang bodoh!” racau Jessica. Habis sudah kesabarannya Juan. Ia langsung menarik tubuh Jessica hingga kedua mata Jessi spontan terbuka dan menatapnya dengan sayu. Samar-samar dilihatnya wajah Juan yang tegas dan mengeras. “Hai, My ex-husband. Pulanglah, ibu dan kakakmu menunggumu,” racaunya lagi. “Oh, bukan hanya mereka, ada Amber yang juga menunggumu. Untuk apa kau datang ke sini, bukahkah selama ini kau selalu muak melihatku?” tawa Jessica memenuhi ruang tengahnya. “Aku sudah me-“ suara Jessica seketika menghilang saat Juan menempelkan bibirnya dan segera melumat kasar bibir ranum Jessica. “Humph! Le-lepaskan!” bentak Jessica sambil mendorong tubuhnya Juan. “Lepaskan?! Kau suruh aku melepaskanmu?” desis Juan menatap nyalang wajah Jessica yang memerah. Mantan istrinya itu tampak sangat marah dan sangat mabuk. Kembali Jessica menahan tubuh Juan yang hendak menempel di tubuhnya. “Aku, sedang tidak mau bertemu denganmu. Pergilah saja.” Lagi, Jessi mengusir Juan lalu ingin kembali merebahkan kembali tubuhnya di sofa. Sekali dorong, tenaga Juan langsung membuat Jessica berbaring di atas sofanya dengan tubuh Juan yang mendarat di atasnya. “Aku tidak akan melepaskanmu. Apa, kau tidak tau … betapa aku sangat merindukan tubuhmu,” bisik Juan frustasi. “Hah! Aku, tidak akan memberikan apa yang kau mau,” balas Jessi menatap sayu Juan sambil tersenyum. “Benarkah? Memangnya saat ini, kau memiliki tenaga untuk melawanku. Aku akan melucuti seluruh apa yang ada padamu. Aku akan-“
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD