Provider

822 Words
Malam mulai turun sempurna menyelimuti Kota Yogyakarta. Lampu-lampu jalan di sepanjang Malioboro menyala berderet, memancarkan cahaya hangat yang membuat suasana makin hidup dan berwarna. Suara alunan musik dari para pengamen terdengar bersahutan, sesekali terdengar bunyi lonceng delman yang melintas pelan, sementara trotoar dipenuhi wisatawan yang berjalan santai menikmati udara malam yang sejuk. Aurel turun dari mobil sambil menarik napas panjang, membiarkan udara malam itu memenuhi dadanya. Matanya berbinar lebar melihat keramaian di hadapannya. "Wah..." Aditya yang berdiri di sampingnya memasukkan kedua tangan ke saku celana, menatap sekeliling dengan tenang. "Hm?" "Gue kangen banget suasana begini," ucap Aurel antusias. Aditya menoleh sekilas. "Sering ke sini dulu?" "Waktu kuliah pernah beberapa kali," jawab Aurel sambil memutar tubuhnya menikmati pemandangan. "Tapi nggak pernah sempat lama-lama begini." "Malamnya cantik banget ya." Aditya kembali memandang ke arah jalan yang ramai. "Iya. Nggak heran kalau banyak orang suka datang ke sini." Tanpa banyak bicara, Aurel langsung menarik lengan jas Aditya pelan. "Ayo kita jalan." Aditya hanya mengangguk menuruti langkahnya. Baru berjalan beberapa langkah, Aurel sudah berhenti di depan seorang pedagang gantungan kunci. Ia mengambil satu berbentuk becak kecil yang warnanya cerah. "Dit, lihat deh." Aditya melirik sekilas. "Bagus." Aurel mendengus kecil. "Gitu doang?" "Emang memang bagus." "Ih... lo kalau muji orang pelit banget." "Bukan pelit. Emang segitu penilaian gue." "Ih nggak asik." Mereka kembali berjalan menyusuri trotoar. Beberapa orang yang lewat sempat melirik ke arah mereka, lalu berbisik-bisik pelan. "Itu Aurel kan? Model yang sering muncul di majalah itu?" "Kayaknya iya. Temannya yang tampan itu siapa ya?" Aurel hanya tersenyum ramah saat ada yang meminta izin berfoto sebentar. "Satu-satu ya, pelan-pelan." Aditya berdiri tenang di sampingnya, sesekali tersenyum sopan. Setelah selesai, mereka kembali melangkah beriringan. Aditya menoleh ke arah Aurel. "Rel." "Hm?" "Apapun yang lo mau malam ini... beli aja. Gue yang bayar." Aurel seketika berhenti melangkah, menatap Aditya tak percaya. "Hah? Serius lo bilang begitu?" "Iya. Serius." Aurel menyipitkan mata sedikit. "Jangan-jangan lo lagi ngerjain gue ya?" "Nggak. Gue nggak bercanda soal ini." Wajah Aurel seketika berseri-seri. "Kalau gitu... gue pengen beli batik, Dit." Aditya mengangguk mantap. "Oke. Kita cari yang bagus." "Terus biar couple-an kita," lanjut Aurel dengan mata berbinar. "Kan kita suami istri, walaupun cuma atas perjanjian. Tapi lucu aja kalau kita pakai batik yang sama." Aditya terdiam sejenak, lalu senyum tipis mengembang di bibirnya. "Boleh juga." "Asyiiik!" seru Aurel pelan menahan kegembiraannya. "Selain batik..." tambah Aditya tiba-tiba. "Apapun yang lo mau, gue beliin. Sesuka hati lo." Aurel meletakkan telapak tangan di dadanya, berpura-pura terharu sekali. "Wah... makasih banyak ya, my provider." Aditya mengerutkan dahi bingung. "Provider?" "Iya dong. Penyedia kebahagiaan gue sekarang, penyedia makanan enak, penyedia jalan-jalan, dan sekarang penyedia batik juga." Aditya menggeleng pelan sambil tertawa kecil. "Kamu mulai aneh kalau lagi senang begitu." "Yang penting lucu kan?" "Terserah kamu saja." Aurel tertawa puas. "Mumpung Mas Provider lagi baik hati, jangan nyesel ya nanti." "Nggak akan nyesel." Beberapa meter ke depan, mereka memasuki salah satu toko batik besar yang sudah lama berdiri di sana. Begitu pintu terbuka, aroma kain dan warna-warna cantik langsung menyambut mereka. "Selamat malam Mas, selamat malam Mbak. Silakan dilihat dulu," sapa penjaga toko dengan ramah. Aurel langsung terpukau melihat deretan kain dan pakaian batik yang tertata rapi. Ia menyentuh ujung salah satu kemeja berwarna biru tua dengan motif halus. "Dit, coba deh lihat ini." Aditya mengambilnya sebentar, memandang sekilas. "Cocok sama kamu." "Nah, sekarang gantian cari buat aku." Aurel mengambil gaun batik dengan warna dan motif yang senada. "Gimana kalau ini?" Aditya memperhatikan cukup lama. "Bagus. Cocok sekali." "Serius?" "Iya." Aurel tersenyum puas. "Berarti jadi deh." Penjaga toko ikut tersenyum melihat mereka. "Kalau Mas dan Mbak berminat, kami juga punya koleksi khusus pasangan. Warnanya elegan, tidak terlalu mencolok." Ia membawa sepasang pakaian batik berwarna hijau zamrud yang dipadukan dengan cokelat klasik. Aurel langsung membelalakkan mata takjub. "Dit... lihat deh, ini bagus banget lho." Aditya melirik sekilas. "Lumayan." Aurel langsung memukul pelan lengan Aditya. "Apaan lumayan! Ini bagus banget lho!" Penjaga toko terkekeh melihat tingkah mereka. "Mas memang sangat hemat kata pujian ya." Aurel langsung mengangguk cepat sekali. "Banget, Mbak. Kalau dia bilang 'lumayan' itu artinya sudah bagus sekali. Kalau dia bilang 'bagus' berarti luar biasa bagusnya." Aditya hanya mengembuskan napas pelan sambil tersenyum tipis. "Sudah, ambil saja yang itu kalau kamu suka." Aurel langsung tersenyum lebar sekali. "Asyiiik! Makasih ya, my provider." Saat mereka keluar dari toko, tangan Aurel sudah penuh dengan beberapa kantong belanja. Ia berjalan sambil bersenandung kecil, sesekali menoleh ke kiri dan kanan menikmati keramaian. Aditya berjalan di sampingnya, sesekali membantu memegang sebagian beban kantong belanja itu. Melihat senyum yang tak pernah hilang dari wajah Aurel semenjak mereka tiba di sini, Aditya menyadari satu hal yang belum pernah ia sadari sebelumnya. Ternyata membuat perempuan itu bahagia tidak sesulit yang ia bayangkan selama ini. Dan entah mengapa, melihat Aurel tertawa lepas seperti itu justru membuat malam di Malioboro terasa jauh lebih indah dan berkesan daripada semua perjalanan bisnis penting yang pernah ia jalani ke kota mana pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD