14. SENIOR SELALU BENAR

1121 Words
Bulan Ramadan yang dinanti akhirnya tiba. Prisil sebagai ketua OSIS juga yang membuat ide agar tetap produktif belajar saat Ramadan, harus mempertanggungjawabkan, kegiatan rutin mengupas tentang agama Islam dari hari senin sampai jumat. Diisi penuh dengan kajian, mengaji bersama sampai beberapa hafalan surat dalam al-quran menghidupkan suasana SMK Hanum Perwita yang biasanya sepi di bulan Ramadan. Itulah yang membedakan kepemimpinan KETOS tahun lalu, mengundang pujian untuk Prisil yang mengubah drastis kekentalan Islam di bulan Ramadan. Semua siswi dengan bangga menutup auratnya, memakai gamis panjang dan menutup rambut dengan kerudung panjang, sedangkan untuk para lelaki memakai baju putih bersih atau kemeja. Prisil bersyukur, akhirnya kegiatan Ramadan yang ia buat lancar di hari pertama. Di mana ia sendiri sangat tidak percaya diri, apalagi kakak tingkatnya yang pasti merasa malas melakukan kegiatan yang diresmikan oleh Kepala Sekolah wajib diikuti sebagai nilai tambahan. Untuk penghuni SMK yang non-muslim kebetulan hanya sedikit, dapat dihitung oleh jari mereka diberikan tugas di rumah untuk mendengar kajian agamanya masing-masing. "Gila, lu cantik banget! Pangling pisan, kalo kata orang Bandung, mah!" seru Diana semangat, padahal penampilan Prisil masih sama seperti kemarin hari pertama bulan Ramadan. "Gak usah lebay gitu, deh," gerutunya, Prisil terus berjalan cepat ia telat lima menit datang. Karena bagi tadi Prisil bangun jam empat dini hari adalah hal baru baginya, tetapi untuk bulan Ramadan ini ia harus terbiasa. Mengingat jadwal selain kajian Islam yang dimulai pukul delapan pagi, sebelum subuh tiba ia juga harus membuka mata menatap laptop yang menyala. Menyiarkan wajah penghuni SMK Hanum Perwita yang terpaksa mengikuti kegiatan kuliah subuh, masih sama kajian Islam tapi dilakukan di rumah masing-masing. Selesai kuliah subuh yang menghabiskan waktu satu jam, Prisil dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah. Dilarang berleha-leha, menahan kantuk yang membuatnya bergerak cepat. Sayang sekali, untuk hari kedua di bulan Ramadan Prisil akhirnya tumbang! Ia tertidur selama sepuluh menit padahal siap berangkat ke sekolah. Sekaranglah, Prisil harus berpapasan dengan Diana yang mengomentari penampilan barunya. Tidak terlewatkan, sosok Albrian yang diam-diam mengintai. Namun, tak berani mendekati Prisil untuk memuji penampilannya juga. Wajah tegas, tak banyak dipolesi make up nampak berbeda terbingkai kerudung panjang yang menutupi d**a. Kemeja kotak-kotak hitam putih, dipadukan tok rempel hitam mengembang menambah kesan anggun dalam dirinya. "BTW, lo lagi halangan? Kok, gak ngikut baca al-quran?" Pertanyaan Diana di sampingnta, sontak membuat Prisil terpaksa menghentikan langkah kakinya. "Enggak, gua emang suka jadi pendengar aja. Lagian, gua punya anak buah yang pintar di bidang masing-masing buat ngebimbing yang lain," jelasnya, lalu melangkah pergi menjauhi. Diana ditinggal pergi sendiri, ia juga diam-diam menunggu reaksi Prisil tentang hubungannya dengan Kevin. Namun, sama sekali teman sebangkunya itu tidak membahas apalagi bertanya! Sok sibuk dengan kegiatan Ramadan yang baru di lingkungan SMK Hanum Perwita. Jadi, Diana mencoba berpikir positif, nanti juga Prisil pasti akan bertanya, lihat saja. Yuni dan Wina sudah menunggu Diana di tempat biasa. Tidak jauh dari tempat para guru duduk, mendengar ceramah seorang ustaz yang setiap hari memberikan kajian Islam. Sampai tatapan Diana menangkap sosok Kevin bersama rombongan cowok sekelasnya, Albrian dan Afrizal ada di sana juga. Diana sudah melupakan kejadian Albrian yang menumpahkan kopi ke buku jurnalnya. "Sampai detik ini, gua masih gak percaya lu pacarnya Kevin, Din!" Diana melirik Yuni. "Gak usah dipikirin kali, lo juga udah punya cowok! Ngapain ngurusin hubungan gua?" Wina menyela, "Bukan cuma Yuni, Din, gua juga masih penasaran gimana ceritanya kalian resmi pacaran! PDKT-nya juga kapan, ya, gak Yun?" Diana mendelik sebal. "Sorry, ya, lagi gak mood cerita momen bahagia ama kalian! Jadi, nikmatin aja fakta gua pacarnya Kevin! Ok?" Selanjutnya acara kajian dimulai. Semua siswa membuka kitab suci yang diminta untuk dibawa setiap hari, Kevin yang duduk tak jauh dari Albrian mulai membuka al-quran miliknya. "Seperti biasa, kita baca asmaul husna terlebih dahulu," terang Ustaz Usman. Kevin mulai mengatur napasnya, lalu matanya menangkap senyum kecil Diana di seberang sana, ia pun membalas senyuman cewek yang sudah semua orang tahu bahwa dia pacarnya! Cewek beruntung yang ia pilih dari sekian banyaknya cewek yang mendekati. Diana, mengapa Kevin memilihnya? Apa kelebihan cewek manja dan cerewet itu? "Mereka beneran pacaran?" Albrian menggeleng lemah. "Kayaknya settingan," balasnya. Afrizal semakin menajamkan tatapannya. "Gak, Si Diana keliatan seneng banget! Serius, anjir, mereka pacaran!" Sekali lagi, Albrian tidak yakin dengan tebakan Afrizal. Perasaan lain mengatakan, Kevin hanya memainkan perasaan Diana agar ia bisa dekat dengan Prisil juga. Padahal Prisil tidak terlalu dekat dengan Diana, selain teman sebangkunya. Albrian juga masih ingat, bahwa Prisil tidak menginginkan Diana menjadi teman sebangkunya. Selesai membaca beberapa surat dalam al-quran, ada sesi hafalan yang mengharuskan semua siswa menghafal cepat. Siapa yang bisa menghafal, bisa langsung setoran ke pengurus OSIS yang bertanggungjawab mencatat hafalan di bulan Ramadan. Termasuk Prisil, ia sudah membawa buku catatan khusus, langsung duduk di antara kelas sepuluh MM 1. Sialnya, tepat di samping kiri adalah jajaran kelas Albrian yang berisik. Kebiasaan laki-laki yang malas menghafal, pasti selalu ada kerjaan yang tidak bermanfaat mereka lakukan saat di jam pelajaran. Padahal mereka semua disatukan di tengah lapangan, ada saja yang tiduran di paha temannya ada juga yang melempar kerikil ke teman lain. Termasuk para cewek yang heboh karena terik matahari, siap melenyapkan bedak tebal di wajah. "Parah, gua paling gak suka belajar di luar ruangan!" "Kalo di kelas, bosen juga, tapi enakan di kelas, ah!" "Ahhh! Penampilan gua jadi gak rapi pasti, siapa sih yang punya ide murahan kek gini? Kegiatan di tengah lapangan, mana panas, gerah, anjir!" Prisil mendengar omelan para senior ceweknya, dengan terang-terangan tentunya mereka berkata. Mereka juga tahu Prisil adalah ketua OSIS yang membuat ide belajar di tengah lapangan, di luar terbuka agar tidak bosan karena selalu berada di kelas. Namun, tidak semua orang menyukai pilihannya. Sampai, pendengarannya menangkap jelas suara seseorang tak asing baginya. "Enak, ya, kalo disatuin gini. Pada ngumpul semua, jadi bisa bandingin mana cewek cantik sama cantik luar dalem!" Seketika omelan dan makian di belakang Prisil berhenti, menjadi hening. "Lu ngomongin gua!" sentak seorang senior bernama Sandra yang terkenal dengan penampilan hebohnya, gincu merah merona dan semua baju yang dipakainya selalu ketat. Albrian menoleh. "Cewek cantik?" tanyanya balik. "Apa, sih, GJ banget asli, San!" "Dia siapa, sih? Ikut campur mulu!" "Dih, anak MM bukan, si? Kayak kenal gua." Afrizal mencoba menghentikan Albrian yang akan memancing emosi seniornya itu. Mendengar bisik-bisik yang ramai menjadi heboh, sontak Kevin menoleh. Mendapati Prisil sebagai KETOS pasti kewalahan saat mengahadapi kakak kelas sendiri, dengan cepat Kevin berdiri menghentikan ocehan Sandra yang tidak terima akan sindiran Albrian kepadanya. "Sopan dong sama senior! Lu siapa? Kenal sama gua, gak!" "Denger, ya, lu masih bau kencur!" "Maaf, Kak, ada apa, ya?" tanya Kevin. Sandra berbalik. "Urus, tuh, anak buah, lu! Gak punya sopan santun ngatain gua!" Albrian yang merasa dipojokkan segera membalas, "Oi, ngaca, dong! Jadi senior hargain ide seseorang! Ngomel mulu bisanya!" "MAKSUD LO APA, HA!" sentak Sandra semakin emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD