Nafas Sonne memburu. Jika saja kondisi memungkinkan, Sonne mungkin dapat saja langsung menangkap gadis itu, memiting, atau sekalian patahkan tulangnya. Tidak ada kesulitan karena gadis itu begitu kurus, mungil, pucat, dan tinggal menunggu waktu dia pingsan tanpa perlu diancam apalagi dihajar. Pucat?
Gadis itu membeku di tempatnya. Tidak hanya tubuhnya yang gemetaran, bibirnya bahkan ikut gemetar. Matanya menatap Sonne penuh rasa takut. Tubuh kurusnya kaku membeku kehilangan daya melakukan apa pun, meski juga tidak ambruk. Nafasnya memburu dipicu aliran adrenalin dobel dosis. Takut atas respons dosen killer, sekaligus takut terkait presentasi karya dan proposalnya. Sementara, ia tidak punya waktu lagi menunda sempro. Harus semester ini, sehingga semester depan ia bisa lulus lebih cepat. Beasiswa yang tidak terpakai satu semester bisa dialokasikan untuk hal lain, pengobatan ibu, misalnya. Dengan lulus lebih cepat, ia juga bisa segera sepenuhnya hadir sebagai tim Pak Rekha. Sebagai pekerja penuh waktu, gajinya bakal mencukupi kebutuhan diri, ibu, dan adiknya. Tidak seperti saat ini. Gadis itu merasa hidupnya serba separo.
“Ayana Avisha. Sejak tugas pertamamu sampai sekarang, seperti tidak ada perkembangan. Kamu sudah pernah menumpahkan kopi saya, mematahkan pensil, sekarang cangkir saya sasaran kamu. Berikutnya apa?”
Ayana terpaku di tempatnya. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Helai demi helai rambut lurus sepunggungnya jatuh mirip tirai bagi wajah tirus dan pucat.
“Ini bukan kali pertama kamu terlambat mengumpulkan sesuatu. Kali ini kenapa? Tugas sebelumnya kamu kumpulkan dalam kondisi basah setelah kamu tercebur got karena memaksa diri berangkat saat hujan deras dan banjir.”
“Iya, Bapak. Saya sangat menghargai kedisiplinan Pak Sonne.”
“Kamu punya HP berisi nomor saya, kan?”
“Eh. Iya, Bapak. Itu sudah pernah kita bahas.”
“Sebelumnya lagi kamu terlambat mengumpulkan karena gambarmu tidak sengaja terlindas motor. Pernah lagi kamu harus mengumpulkan ulang karena gambar yang selesai tepat waktu ketumpahan kopi temanmu dalam perjalanan ke kantor ini. Jika tidak salah ingat, karena kamu menabrak temanmu itu? Benar?”
“Iya, Bapak.”
“Lalu, hari ini apa alasan kamu?”
“Sebenarnya, saya WA Pak Sonne sekitar jam setelah 3 sore, setengah jam sebelum janji saya dengan Bapak.”
Sonne ingat telah mematikan data sejak memulai bimbingan jam setengah dua. Break salat tidak membuatnya ingat memeriksa aliran informasi. Sonne mengeluarkan HP dari tas dan menghidupkan data. Ia menghela nafas melihat pesan personal yang dikirim Ayana tepat jam 14.30.
Assalamu’alaikum, Bapak.
Mohon izin terlambat hadir presentasi, karena saya mengantar putri tetangga saya yang karena mengalami tabrak lari. Hanya saya yang saat ini bisa dimintai pertolongan. Insya Allah saya usahakan segera ke kampus setelah korban mendapat penanganan medis di Rumah Sakit Insan Medika.
Ayana Avisha
Sebuah foto menyertai pesan itu, dengan keterangan waktu yang hanya berbeda satu menit dari pesan sebelumnya. Terlihat di sana seorang gadis kecil dalam pelukan ibunya. Pelipis gadis itu berdarah. Sepertinya ia pingsan.
Sonne meletakkan HP di atas meja. Ia menghela nafas. Ia baru menyadari beberapa noda merah di baju hijau muda yang dikenakan Ayana.
“Bagaimana kondisi gadis kecil itu sekarang?”
“Syukurlah ada donatur yang bersedia membantu dari segi keuangan dan administrasi. Ia langsung dianalisa lab. Saat ini sedang dalam ruang operasi, ditunggui ibunya dan ibu saya. Maafkan saya baru bisa ke kampus setelah memastikan operasi berlangsung, serta ibu gadis kecil itu ada yang menemani setelah ibu saya tiba di rumah sakit.”
Sonne menghela nafas.
“Ini sudah jam 7 malam, Ayana. Bagaimana menurutmu?”
“Mohon beri saya waktu lima menit saja untuk menjelaskan gambar.”
Sonne menghela nafas. Noda darah di baju Ayana merupakan pertimbangan berat.
“Baik. Saya masih bisa menunda lapar. Tetapi harap selesaikan dalam lima menit.”
Ayana mengangguk sambil menghela nafas lega. Sorot matanya terlihat sedikit kosong. Sonne tahu itu karena Ayana sedang menyusun taktis lima menitnya akan digunakan untuk menyampaikan apa saja. Sonne mengenal mahasiswi penerima beasiswa penuh dari kampus yang satu ini. Sonne mengamatinya sejak seleksi masuk, seleksi beasiswa, serta berbagai proyek dan perlombaan yang diikuti Ayana. Dia bukan mahasiswi biasa.
Lima menit berikutnya, Sonne menyimak penjelasan Ayana yang singkat, padat, namun tuntas. Ayana hanya butuh empat setengah menit menyampaikan idenya hingga selesai. Dalam hati, Sonne bersyukur jurusan memberikan Ayana padanya. Bagi dosen lain, bahkan yang senior, kapasitas Ayana sangat tinggi. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak dosen yang takut terlihat bodoh di depan mahasiswa. Anak dengan ide kreatif tak terbatas, kritis, dan kapasitas memori tinggi seperti Ayana menakutkan bagi sebagian dosen. Bagi Sonne, ini justru menarik.
“Tinggalkan proposal kamu. Saya periksa besok pagi. Ambil sebelum jam dua belas siang. Gambarmu saya acc saat ini juga.”
Ayana merasa hendak menangis saat melihat Sonne mengeluarkan pena keramat dan membubuhkan tanda tangan sempurna di lembar kertas gambar Ayana.
“Tidak ada yang perlu kamu ubah pada gambar ini. Jadi, masukkan saja ke tabung gambar hitam bergaris merah di atas meja itu. Lalu tinggalkan. Saya tidak ingin ada penundaan lagi gara-gara kecerobohan kamu yang lain.”
Pipi dan telinga Ayana memerah. Ayana melangkah ke meja di sudut ruangan, menemukan tabung seperti yang disebutkan Sonne. Ayana membuka penutup tabung dan mendapati tabung itu memang kosong. Kali ini dengan hati-hati Ayana menggulung gambar, lalu memasukkannya ke tabung milik Sonne. Ayana tahu ini milik dosennya. Ayana melihat dosen favorit berbagai angkatan itu sering membawa sang tabung. Mungkin ini juga tabung keramat.
Ayana membereskan proposal dan meletakkannya di sudut meja Sonne. Ia berjongkok membereskan cangkir yang kini terdiri dari dua bagian. Satu bagian masih bersama pegangannya. Satu bagian lain berbentuk segitiga, memuat sebagian gambar bunga krisan. Ayana menunjukkan kedua bagian di telapak tangannya.
“Maafkan saya atas kecerobohan ini. Cangkir ini sering saya lihat di meja Pak Sonne. Pasti barang penting. Maafkan saya.”
Sonne menghela nafas.
“Kembalikan kepada saya dalam bentuk terarium mini sebagai kompensasi memecahkannya,” ucap Sonne.
Ayana menatap pecahan cangkir di tangannya, lalu wajah Sonne. Ini aneh. Wajah Sonne datar. Biasanya wajah dosennya itu dingin dan kaku. Ekspresi itu tidak berubah baik untuk keberhasilan proyek maupun kegagalan. Mahasiswa yang tepat waktu mengumpulkan tugas maupun yang terlambat. Bedanya mungkin hanya yang terlambat mendapatkan bentakan atau kemarahan. Terkadang, Ayana khawatir dosen satu ini bakal stroke di usia muda karena terus-menerus memasang diri sebagai sosok antagonis. Kelak kalau Ayana berkesempatan sebagai dosen, ia akan mewujudkan sosok dosen yang ramah. Tidak kalah pintar dari Sonne, tidak kalah pengalaman dan prestasi, namun ramah.
“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Sonne. Kali ini wajah dinginnya kembali. Wajah datar itu mungkin hanya ilusi dalam pikiran Ayana.
“Baik, Pak. Akan saya jadikan terarium mini. Semoga saya bisa.”
Sonne mengangguk.
“Ada yang mau kamu jelaskan lagi?” Tanya Sonne.
Ayana menggeleng dan baru sadar kalau seharusnya ia segera meninggalkan ruang horor ini. Teman-temannya mungkin pingsan kalau tahu Ayana mendapat tanda tangan dalam waktu lima menit saja, setelah keterlambatan berjam-jam lamanya.
“Kalau begitu saya pamit kembali ke rumah sakit, Pak.”
Sonne mengangguk.
Ayana segera berbalik dan melangkah, saat suara Sonne memanggilnya.