2. Payung Jingga

1242 Words
"Saya nggak tahu kamu punya masalah apa. Tapi hujan-hujanan seperti ini tidak membuat masalah kamu selesai. Namun, bisa membuat kamu sakit, setidaknya influenza. Saya jamin, bahwa itu akan merepotkan keluarga dan diri kamu sendiri." Ucap Lelaki dengan wajah paling dingin namun dengan perkataan yang paling hangat itu kepadanya. Dia menggunakan Snelli, Jas Dokter. Sudah pasti dia seorang Dokter, di sana tertulis Nama Syafiq Faiz Haitsam. "Sekarang, payung ini untuk kamu. Saya harap kalau kita bertemu kamu tidak akan hujan-hujanan seperti ini lagi." Setelah memastikan payung berwarna jingga miliknya berada ditangan Lail, lelaki itu berbalik arah meninggalkannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Begitu sampai di rumah sakit, sembari mengeringkan rambutnya, dia sungguh bertanya-tanya, apakah dia tampak sefrustasi itu, atau bahkan seperti orang gila yang hujan-hujanan di tengah jalan. "Dari penampilannya dia sepertinya seorang Dokter. Dia pasti salah satu Dokter di rumah sakit ini." Lail menggigit bibirnya "Semoga aku nggak ketemu lagi deh sama dia. Hfft malu-maluin banget sih Lail pakai nangis di tengah jalan segala." ucapnya menenggelamkan wajahnya dikedua tangannya. Sementara di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Syafiq memandang ke arah luar, di jendela rumahnya itu dia menatap hujan yang tidak ada tanda-tanda bahwa akan segera berhenti. Syafiq tidak hentinya berpikir, apa beban dari perempuan itu, sampai dia harus menangis di bawah hujan. Apakah seberat itu? Dari matanya dia bisa melihat jelas, tatapannya, juga banyak memar yang baru muncul dan sudah hampir hilang dari wajah perempuan itu. Dia adalah seorang dokter, dengan mudah dia akan mengetahui luka-luka seseorang, bahkan tanpa pasiennya mengatakan bahwa luka tersebut karena penganiayaanpun dia sudah lebih dahulu mengetahuinya. "Di mana dia sekarang? Apakah sudah sampai di tempat tujuannya?" "Apakah dia masih menangis?" Syafiq mengusap kedua wajahnya. Bingung, mengapa hatinya tidak tenang. "Astagfirullah al-adzim" ucapnya,entah sudah keberapa kalinya dia mengucap istigfar. Wajahnya tidak asing. Dia seperti pernah bertemu dengannya. "Maaaaas" Yasmin datang membuka pintu Syafiq dan membawa sebuah kotak kecil ditangannya "Kalau masuk, ketuk pintu dulu Yasmin." Ucap Syafiq menjaga jarak, lima langkah dari Yasmin. "Buat Mas" tidak mengindahkan ucapan kakaknya, dia malah menyodorkan kotak berbalut pita berwarna merah muda. Dia pikir abangnya ini seorang wanita? "Nih" Syafiq menerima hadiah dari Yasmin dan membukanya. "Jam tangan?" Yasmin mengangguk semangat. "Jam tangan Mas kan rusak, jadi Yasmin beliin yang baru. Biar selalu ingat sholat, makan, istirahat dan " Yasmin menggantungkan ucapannya. "Dan apa? Jangan membuat kalimat fragmentaris. Kalimat kamu belum selesai." "Kalau Mas lihat jamnya, Mas ingat kalau Mas punya adik secantik dan sepintar Yasmin." Syafiq tertawa melihat tingkat kepercayaan diri adiknya yang begitu tinggi. "Yeayyy, bentar lagi desember" ucap Yasmin memandang keluar ke arah jendela. "Kenapa memangnya dengan desember?" "Nggak. Yasmin cuma suka. Soalnya hujan akan turun seenggaknya setiap lima kali dalam sepekan." Syafiq geleng-geleng kepala mendengar ucapan adiknya yang begitu menyukai hujan. Dulu, sewaktu mereka masih kecil, Yasmin akan kegirangan saat musim hujan tiba. Berenang di bawah guyuran hujan, menari, atau mereka akan berkejar-kejaran di bawahnya sampai bibir mereka pucat dan akhirnya Ummi mereka harus siaga mengompres kepala mereka berdua. "Mas" "Hmm" "Semoga nanti Yasmin dapat lelaki yang baik kayak Mas, yang lembut, ganteng, penyayang. Pokoknya kayak Mas deh." Kalau bisa, Mas yang jadi jodoh Yasmin Batin perempuan itu. "Kamu pasti akan dapat yang lebih baik dari Mas." "Benar?" "Insyaa Allah" Tapi, mengapa dia ingin sekali lelaki yang persis seperti kakaknya itu, ingin sekali. *** Berlari dengan kecepatan di atas rata-rata adalah keahlian Lail, dia yakin bosnya akan mengomel dan tentunya mengancam bahwa gajinya akan di potong. Hijab segitiga berwarna cream yang menutupi dadanya sudah tak terbentuk saking kencangnya larinya. Pada pagi hari Lail bekerja sebagai penjaga toko buku, siangnya dia membantu menjaga Restoran padang dan malamnya dia menjadi salah satu pelayan di Cafe. Tiga pekerjaan dalam sehari. Pekerjaan yang menguras tenaga perempuan berbadan mungil itu. Lelah? Pasti, dia bahkan lupa kapan terakhir dia merasakan liburan dan tidur lebih dari lima jam. Sepulangnya dari tiga pekerjaan itu, dia bahkan masih sempat menerima pesanan kue, cucian para tetangga atau sekadar melipat amplop undangan ditemani oleh adiknya. Baginya, tidak ada waktu untuk beristirahat "Kemarin lima belas menit, hari ini dua puluh menit, besok setengah jam, kenapa sekalian kamu nggak masuk aja?" Ucap Pak Karim, pria paruh baya yang tegas dan seringkali menaikkan suaranya namun sebenarnya beliau adalah orang yang baik. Bahkan, dia meminjamkan uang untuk biaya rumah sakit dan operasi Fajar untuknya. "Sekarang, alasan kamu apa? Selain, macet dan telat bangun." "Saya ketiduran di halte pak, nggak sadar busnya udah pergi. Jadi, saya kejar" menggeleng-gelengkan kepala, Karim benar-benar pusing dibuatnya. "Sekarang, kamu jaga toko. Saya mau keluar" Lail mengangguk paham dan menggantikan posisi bosnya. Toko Buku Kenangan Nama yang aneh untuk sebuah toko yang menjual berbagai jenis buku dan alat tulis, dan karena mengikut zaman, di sini juga menyediakan minuman seperti kopi, teh atau s**u yang cocok dinikmati di salah satu meja dan membaca buku dengan tenang. Terletak di tengah kota yang menjadikannya salah satu toko buku legendaris dan cukup lengkap, sepertinya sangat cukup untuk menjadi alasan mengapa toko buku ini begitu laris manis. Terutama, saat sabtu malam, para pemuda dan pemudi akan berdatangan kemari. Entah, apakah sekarang selain Cafe, toko buku adalah sebuah tempat kencan yang bagus? Dulu, waktu pertama kali dia bekerja di sini, dia sempat bertanya "Pak, kenapa namanya Toko Kenangan" Dengan wajah tegang seperti biasa, Pak Karim menjawab "Karena tidak sedikit orang yang menciptakan kenangan di Toko Buku ini, entah kali pertama mereka bertemu, tempat mereka mencari jawaban atau sekadar saling menatap satu sama lain di samping meja-meja dibalik rak buku di sini." Tentu saja Lail takjub dengan jawaban dari pak Karim, terdengar Klise tapi sebenarnya memang itu kenyataannya. "Total 437.500 pak" ucap Lail kepada lelaki paruh baya yang membeli berbagai macam buku cerita anak. Lail tebak, itu pasti hadiah untuk anaknya. Toko hari ini lumayan ramai, sungguh dia sangat ingin duduk lima menit saja, tapi baru saja ingin duduk, ada-ada saja yang datang. "Lail?" Lail yang sedang menunduk tentu saja mengangkat kepalanya. Mata cokelat miliknya menangkap wajah lelaki yang rupawan, hidungnya yang mancung dengan kulit putih terawat, jauh berbeda dengan kulit Lail yang bahkan tidak pernah memakai lotion sama sekali, rahangnya tegas dengan senyuman yang hangat. "Haidar?" Ucapnya "Apa kabar, Lail?" Bertanya kabar memang salah satu hal wajib yang ditanyakan ketika sudah lama tak bertemu, lebih baik daripada bertanya Kapan Nikah? Atau Sudah punya anak? "Alhamdulillah, aku baik" ucap Lail "Kamu kerja di sini." Lail mengangguk "Kamu sendiri?" Lail bertanya balik, sudah lama mereka tidak berjumpa. "Aku jadi pengacara sekarang di salah satu Firma hukum dekat sini." "Selamat ya, maaf aku nggak sempat datang saat acara pernikahan kamu waktu itu."Lail hanya tersenyum tipis "Kami sudah bercerai malah" ucap Haidar, nada suaranya menurun "Hah? Maaf, aku nggak tahu" ucap Lail "Lantas,Buku itu?" "Untuk anakku, usianya lima tahun" jawab Haidar tersenyum lembut "Kalau gitu aku pamit ya Lail, aku mau bertemu klien, Insyaa Allah lain waktu kita ngobrol lebih lama, semoga kita bisa bertemu lagi." Lail mengangguk, sedetik kemudian dia sudah mulai menghitung belanjaan dari seorang perempuan berjilbab army, Yasmin. "Pacarnya ya mbak?" "Hah?" Ucap Lail sedikit terkejut dengan pertanyaan Yasmin "Maaf mbak, bukan. Dia teman saya" sambungnya "Lebih dari teman juga nggak apa mbak. Mbak sama Mas serasi soalnya. Mbak cantik, mas tadi juga lumayan." "Mbak bisa saja. Total 268 ribu mbak" Yasmin memberikan atmnya kepada Lail dengan senyum manis di bibirnya. "Makasih mbak" ucap Yasmin ramah dan tak lupa tersenyum kepada Lail. "Boleh nggak aku ajak mbak minum, terserah kopi, teh, s**u atau apapun yang mbak suka?" "Maksudnya mbak?" "Minum bareng sambil ngobrol" ucap Yasmin "Sepertinya mbak adalah teman ngobrol yang baik" ucap Yasmin mantap. "Mungkin lain kali mbak, kalau saya ada waktu luang" Yasmin mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Lail seperti teman akrab, padahal itu pertemuan pertama mereka. Jujur saja, melihat wajah Lail seperti ada rasa tenang tersendiri, wajah Lail memang dianugerahi keteduhan seperti malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD