5. Halalkan atau Tinggalkan?

1355 Words
Hal yang membuat hati Evan keras adalah didikan ayahnya. Dari dulu, dia selalu dibawa untuk menagih utang. Dia akan melihat bagaimana barang-barang mereka diporak-porandakan, disita, bahkan dihajar jika terlambat membayar utang. Hingga, tiba saat dia tahu orang tua Lail mengutang karena biaya rumah sakit kakeknya. Di sanalah Evan, berusaha untuk melindungi perempuan mungil itu. Meski, dia harus dihantam dengan balok-balok, bekas luka dipunggungnya menjadi saksi bagaimana dia rela terluka demi Lail. Kata bapaknya "Jangan pernah kau lemah karena perempuan. Dulu bapak juga melakukan hal yang sama sepertimu, tapi ibumu malah selingkuh. Kalau sampai kau lemah dan bergaul dengan anak itu lagi, bukan hanya balok ini yang kupakai memukulmu." Saat itu, Evan kecil tertatih-tatih. "Evan." Panggil Lail kecil mensejajarkan langkah kakinya. "Kamu dari mana? Aku cariin di sekolah tapi katanya kamu nggak masuk." Evan diam, lalu mereka duduk di sebuah lorong yang jarang dilewati orang. Lail membelalakkan matanya ketika melihat darah segar mengalir ditangan Evan "Da....darah, kamu berdarah." Ucap Lail panik, sementara Evan meringis karena punggungnya pedih. Lebih sakit dibanding luka ditangannya. Dengan gemetar, Lail mengambil plaster yang selalu berada disaku tasnya, sapu tangan berwarna merah muda yang selalu dia bawa penuh dengan darah "Kamu dipukul bapakmu lagi ya?" Tanya Lail kecil "Pasti karena bergaul sama aku." Ucapnya bergetar membuat Evan menghela napas berat. "Jadi cewek itu nggak boleh cengeng. Masa lihat luka begini aja nangis" ucap Evan menghapus air mata teman kecilnya. "Maaf ya aku selalu nyusahin kamu." Evan menggeleng, lalu memeluk tubuh mungil Lail. Namun, semenjak cintanya ditolak, ingatan mengenai ibunya yang mengkhianati bapaknya membuat dia berubah, dia menjadi sosok dingin yang kejam. Dia baru puas setelah menyakiti Lail. Tapi setelah menyakiti perempuan itu dia menyesal. Untuk kemudian dia ulangi lagi, siklus yang entah sampai kapan akan terus berulang. Jika saja waktu bisa diulang mereka sangat ingin kembali pada masa-masa itu. Sekarang tembok yang dibangun Evan begitu kokoh. Tapi ketika, mendengar bahwa Fajar masuk ke rumah sakit dan Lail harus membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit, dia berlari seperti orang kesetanan. Tidak peduli jika anak buahnya kebingungan karenanya. "Lail, itu ada si Evan di luar" ucap Fira membuat Lail yang sedang membersihkan meja kaget. Ada perlu apa lagi dia ke sini? "Makasih ya Fir" ucapnya lalu berjalan menemui lelaki yang sudah mengenakan jaket hitam khasnya bersama dua anak buahnya itu. Evan menarik tangan Lail, dia bahkan baru tahu bahwa Fajar akan dioperasi. Namun, dengan bodohnya dia menambah beban perempuan itu. Dia tahu dia egois, tetapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak tega melihat Lail tersiksa. "Kenapa lo nggak bilang Fajar masuk rumah sakit?" Lail menghempas tangan Evan. "Ngapain? Biar lo bisa bikin gue tambah susah?" Tanya Lail. "Please, Van. Mending sekarang lo pergi. Kalau manajer gue lihat, gue bisa dipecat. Siksa gue kalau nanti, kalau lo siksa gue di sini, gue bisa dipecat." Mohon Lail, membuat lelaki di depannya menatap frustasi. Lelaki dengan keegoisannya itu memberikan sebuah amplop yang berisi uang kepada Lail. "Ambil ini." Lail menolak, memberikan kembali uang yang Evan berikan. "Nggak usah, makasih" tolaknya "Ambil gue bilang" tegas Evan "Gue nggak mau" teriak Lail, dia memijit keningnya "Mending sekarang kalian bertiga pergi deh dari sini." Lail meninggalkan Evan. "Oke, gue minta maaf atas semua perlakuan gue selama ini sama lo. Gue terlalu egois dan nggak bisa menerima tolakan lo." Teriak Evan pada Lail yang sudah berada diambang pintu. "Lo nggak perlu minta maaf. Gue tahu, selama ini lo selalu ngelindungi gue dari jauh. Gue cuma berharap lo bisa kembali jadi Evan yang dulu, sekalipun gue tahu bahwa itu mustahil." Ucap Lail perih meninggalkan lelaki bodoh itu. *** Sepulang dari Cafe, meskipun dia lelah. Dia sudah berada di kamar Fajar, Lail begadang semalaman menjaga Fajar yang sesekali hanya bangun dan tersenyum ke arahnya. "Kakak mau salat tahajjud dulu ya sebentar" ucap Lail, Fajar menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lail mungkin bukanlah perempuan dengan agama yang mumpuni, dia hanya wanita akhir zaman yang mencoba menjadi lebih baik, dia masih sering keluar rumah tanpa menggunakan kaos kaki, memakai celana jeans meski hanya sesekali. Begitu masuk di dalam Mushalla, matanya tak sengaja tertuju pada lelaki dengan kemeja berwarna abu-abu muda yang tengah melaksanakan salat. Lelaki yang tak lain adalah Syafiq, dia pasti sedang dinas malam. Tak ingin berlama-lama Lail menuju shaf wanita yang tertutup oleh pembatas yang tidak memberikan akses bagi lelaki dan perempuan untuk saling melihat. Disetiap rakaat salatnya dia hanya berharap bahwa dia dan adiknya akan menjalani hidup yang lebih baik, dia punya seseorang sebagai rumah, hari berat yang dia jalani segera usai. "Ya Allah, Rabb semesta alam, yang Maha mengabulkan do'a hambaNya, yang Maha Pendengar, hamba mohon berikanlah kesembuhan untuk adik hamba, angkatlah penyakitnya agar dia bisa kembali bersekolah, agar dia bisa menjalani hidupnya lebih baik lagi, agar dia bisa sedikit lebih lama bersama hamba. Di masa hidupnya dia hanya mengalami kesedihan dan penderitaan, jika engkau panjangkan umurnya hamba akan berusaha lebih keras untuk membahagiakannya. Hamba mohon angkat penyakitnya Ya Rabb, di dunia ini hanya dia satu-satunya keluarga hamba yang tersisa. Jika engkau mengabulkannya hamba berjanji akan menjaganya sebaik mungkin." Ucapnya penuh derai air mata. Di tempat yang sama, di shaf terdepan ikhwah lelaki berbaju abu-abu ketetapan hati, bahwa jika perempuan bermata cokelat itu jodohnya maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju ikatan yang halal namun jika tidak Allah hapuskan dia dari hati dan pikirannya. Jatuh hati pada seseorang yang tidak halal baginya adalah sebuah ujian yang berat, yang jika tidak segera ditindaki hanya akan menjadi sebuah dosa. "Jika dia jodoh hamba, maka engkau akan mendekatkannya dengan cara apapun meski dia ada di ujung dunia yang mana bukan tempat hamba berada. Namun, jika dia bukan jodoh hamba, hamba yakin bahwa itulah yang terbaik." Lail melipat sajadah dan mukenanya dan menyimpan di tempat penyimpanan mukenah. Namun, pandangannya beralih pada seorang perempuan remaja yang mungkin berusia tujuh belas tahun yangsedang menangis terisak-isak. Lail memegang bahunya "Kamu kenapa dek?" Perempuan itu menatapnya kosong. "Ibuku besok dioperasi tumor, aku takut. Soalnya, bapakku sudah meninggal. Aku takut terjadi apa-apa sama ibu." Isaknya "Kamu percaya kan sama Allah?" Perempuan itu mengangguk "Allah akan malu jika tidak menjawab do'a dari hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meminta kepadaNya." "Apalagi jika kamu bersungguh-sungguh memintanya, kunci dari dikabulkannya do'a adalah ketika kamu percaya, percaya bahwa Allah akan mengabulkan do'a kamu." Ucap Lail memeluk perempuan itu "Kamu yang kuat ya, kakak yakin kamu kuat. Setelah kamu melalui ini, kakak yakin kamu makin kuat lagi." "Makasih ya kak" Lail mengangguk Terkadang, jika seseorang merasakan sedih dia hanya membutuhkan sebuah pelukan, pelukan yang akan menguatkan. *** Setelah salat subuh, rambut dari Fajar dicukur habis karena operasi yang akan dilakukan di kepala hal itu guna memudahkan Dokter. "Kamu bisa, kamu kuat, ingat Allah kuasa" ucap Lail menggenggam tangan Fajar, Fajar hanya mengangguk dan tersenyum seolah menandakan bahwa dia akan baik-baik saja. Pukul enam pagi, Fajar sudah dibawa menuju ruang operasi dan Lail menunggu adiknya di ruang tunggu, dia merapalkan do'a dan menunggu operasi dengan jantung yang berdetak sangat kencang, lututnya lemas seperti mati rasa. Operasi berlangsung selama enam jam lamanya. Begitu mendengar suara pintu ruang operasi terbuka, dia sedikit terkejut karena dokter yang mengoperasi Fajar adalah Dokter Syafiq , Lail mencoba menyembunyikan keterkejutannya "Bagaimana operasi adik saya?" Ucapnya "Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, setelah obat biusnya hilang, dia akan segera sadar." Ucap Syafiq menunduk "Alhamdulillah, terima kasih Dokter, terima kasih" ucap Lail "Berterima kasihlah pada Allah, saya hanya perantara dariNya" setelahnya Syafiq pamit. "Alhamdulillah Ya Allah terima kasih" ucap Lail setelah Syafiq pergi. Syafiq bersandar pada kursi ruangannya, sungguh dia sudah benar-benar berdosa sekarang karena zina hati, perempuan itu tidak bisa hilang dari pikirannya. Perasaan macam apa ini? Apa dia sudah melabuhkan hatinya pada wanita yang bahkan belum dikenalinya dengan baik? "Oi, ngapa tuh muka?" Ucap Leo memberi Syafiq secangkir kopi, seperti biasa langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Gue mau nanya sama lo, menurut lo, kalau kita mencoba menghilangkan orang lain dari pikiran kita tapi dia nggak mau hilang itu kenapa?" Ucap Syafiq frustasi. "Terus apalagi?" Tanya Leo memastikan "Mendadak cemas, jantung berpacu lebih cepat, dan badan serasa kaku" jawab Syafiq serius. "Virus, itu berarti lo lagi kena virus" Leo menyunggingkan senyuman "Hah?" "Iya, dari hasil diagnosa gue lo kena virus, virus cinta" Leo menyeruput kopi miliknya "Ajak dia ta'arruf, sebelum dia diembat orang" ucap Leo tanpa basa basi. "Ta'arruf?" Leo mengangguk "Bukankah obat satu-satunya dari virus itu adalah menikah? Kalau nggak sanggup nikahin, tinggalin dia. Jangan ngajak main-main" ucap Leo bijak. Halalkan atau Tinggalkan? Jangan lupa like dan komen, gimana ceritanya sejauh ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD