Kedua kaki Asma terasa lemas. Lelaki yang sudah menghilang hampir satu bulan itu kini kembali muncul di hadapannya. Namun gemuruh di dalamnya, seperti ingin meledak saat itu juga. Bisa-bisanya Wisnu membiarkan sendiri melewati masa tersulit di dalam hidupnya. "Neng!" lirih Wisnu menurunkan tas yang berada di atas punggungnya di luar pintu rumah. Lelaki itu berjalan gontai menghampiri Asma yang mematung di dalam pintu rumah menatap datar kepadanya. "Neng, maafkan Abang jika ...!" Wisnu meletakkan kedua tangannya pada bahu Asma. Dengan cepat wanita itupun menepis kasar tangan Wisnu yang berada di atas bahunya. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Bang!" cetus Asma dengan netra berkaca-kaca. Gerimis yang sedari tertahan kini berjatuhan membahasi pipinya. Asma terisak, meluapkan semua

