“Terima kasih,” ujar Mahavir kepada Maxime.
Maxime mengangguk sebagai jawaban. Tatapan matanya melihat ke depan. Tiga orang lainnya belum juga bisa keluar dari labirin lubang. Tampaknya mereka kesulitan menemukan jalan. Padahal Maxime sudah memandu mereka barusan.
“Oh, ya, berhati-hatilah pada Nori. Gadis itu sangat berbahaya.”
“Nori Merekon? Apa dia melakukan sesuatu padamu?” Mahavir tampaknya sudah dapat menebak.
Maxime menghela napas sebelum menjelaskan pada Mahavir. “Dia mendorongku sampai jatuh ke lubang lava. Aku sudah berpesan kepada Allura agar lebih berhati-hati. Semoga saja gadis itu tidak melakukan hal berbahaya lagi.”
Allura berhasil keluar dari labirin. Menampakkan dirinya sendiri mobil terbang. Lantas mengelilingi Maxime dan Mahavir, hingga membuat rambut mereka berantakan.
“Huhuuu! Aku sangat senang.”
Mereka bisa melihat betapa bahagianya Allura menaiki mobil tersebut.
***
Nori dan Arzan masih berada dalam labirin. Senantiasa gadis itu mengikuti di belakang Arzan. Semburan lava senantiasa menghadang jalan mereka. Juga, Arzan harus menyeimbangkan kecepatannya dengan Nori. Meskipun gadis itu memiliki karakter yang buruk, tapi tidak ada yang boleh gugur lagi. Bisa dikatakan kalau Arzan melindungi Nori.
“Mengapa sejak tadi tak menemukan jalan keluar?”
“Sebentar lagi kita akan keluar. Perhatikan saja petanya. Kita terlalu lambat, sehingga tak bisa menyamai kecepatan dengan Maxime dan yang lainnya.”
“Kau menyalahkan aku?” Nori tampak marah lantaran merasa tersindir. Padahal Arzan tidak memiliki maksud seperti itu.
Namun Arzan tak memiliki waktu untuk menjelaskan pada Nori. Membiarkan gadis itu salah paham terhadapnya. Pada saat langkahnya terhenti lantaran air menyembur, Arzan dapat melihat jauh ke depan. Maxime dan Allura sudah berkumpul. Sedikit lagi mereka akan keluar dari lubang memuakkan itu. Beberapa menit melalui lubang dan rintangan yang sama membuat Arzan muak.
“Beberapa lubang lagi dan kita bisa keluar.”
Arzan kembali berlari, tetapi lubang terakhir kembali menghalangi dengan semburan lava. Kali ini setiap dua detik lava menyembur. Menyebabkan mereka terjebak di dalam sana.
Maxime sudah dapat melihat kedua orang itu. Dalam hati cemas karena memikirkan Nori yang bisa berbuat curang. Maxime mengambil keputusan untuk menjemput mereka.
Dengan keinginannya itu, sayapnya kembali muncul. Maxime terbang menuju labirin tanpa memberitahu Allura dan Mahavir. Mereka berdua pun kaget dengan aksi Maxime.
“Berhati-hatilah!” teriak Mahavir.
Semburan lava berhenti dalam dua detik. Akan tetapi, dua detik kemudian, kembali menyembur. Sangat susah bagi kedua orang itu untuk keluar. Apa lagi Nori tidak secepat Arzan.
“Nori,” Arzan melirik pada Nori. “Kita tidak bisa keluar bersama. Oleh karena itu, kau bisa keluar lebih dulu,” ujarnya.
“Tidak, kau saja yang keluar duluan. Maxime sudah menunggu di depan,” dengan cepat Nori menjawab. Ia tidak ingin Maxime balas dendam padanya.
“Kau yakin?”
“Aku sangat yakin.”
Semburan lava semakin kuat. Saat ini lubang-lubang itu hanya berisi lava. Badan mereka gerah karena rasa panas akibat lava. Arzan memutuskan untuk keluar lebih dulu karena Nori sangat yakin. Ia hanya memiliki waktu selama dua detik untuk melewati lubang lava.
Pada saat Arzan akan keluar, Nori melihat lava akan tumpah di atasnya. Jika ia berdiam diri, maka ia akan hangus terkena lava. Tanpa pikir panjang, Nori berlari ke depan dan mendorong Arzan, hingga jatuh ke lubang lava. Setelah Nori keluar dari labirin, lava di belakangnya menyembur. Arzan—pria itu telah dibakar oleh lava.
Maxime yang baru saja tiba di sana menyaksikan dengan mata kepalanya.
***
“Gadis itu sangat kejam. Belum tentu dia bisa bertahan pada gerbang selanjutnya.” Kepala pengembangan cukup kaget melihat aksi Nori. Semua orang pun ikut menajamkan mata mereka. Kalau ini permainan biasa, mereka tidak akan terlalu terkejut dan mungkin akan terkesima melihat betapa inginnya Nori Merekon hidup dalam permainan tersebut.
Sekarang mata mereka tertuju pada Arzan yang tak bergerak di kursinya. Sama seperti Gabino. Kedua pria itu kemungkinan mati otak untuk sementara waktu. Jenius mana yang berhasil membuat orang mati otak dalam sebuah game? Berapa lama riset yang dibutuhkan oleh b******n itu?
“Kepala pengembangan, Dokter Rio sudah tiba.”
“Biarkan dia masuk secepatnya. Dan bagaimana dengan wartawan?”
“Mereka masih menunggu di lobi,” jawab karyawan tersebut.
Sang dokter masuk dan tidak mengatakan apa pun. Ia langsung menuju pada pasien. Pertama melihat keadaan Gabino. Dokter Rio mengangkat kelopak mata Gabino. Tidak ada yang aneh menurutnya. Lantas ia mengeluarkan stetoskop guna mendengarkan detak jantung Gabino. Detak jantung normal dan tidak ada suara aneh dalam tubuh pria itu.
Lantas Dokter Rio beralih pada Arzan. Sama saja seperti Gabino. Sang dokter tidak merasakan adanya keanehan. Kemudian ia mengeluarkan termometer. Setelah menunggu beberapa saat, suhu mereka normal. Tensimeter juga ia keluarkan guna mengetahui tekanan darah kedua profesional game tersebut.
Tekanan darah normal. Dokter Rio tak dapat memberikan penjelasan pada hal ini. “Kepala pengembangan, sepertinya kita harus membawa mereka ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh. Pemeriksaan umum tidak menjangkau saat ini.”
“Tidak bisa! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Biarkan mereka di sini. Periksa mereka di sini.”
“Kalau begitu kita butuh petugas medis.”
***
“Satu lagi Gamer telah gugur.” Sang sistem kembali mengeluarkan suaranya. “Selamat telah berhasil lolos dari labirin.”
Setelah itu mereka tak lagi mendengar suara sistem. Bahkan semburan dari ketiga benda itu pun menghilang begitu saja. Padang pasir berubah menjadi tanah lembab.
Maxime masih memiliki amarah pada Nori. Mendelik pada gadis itu, tetapi Nori tak menghiraukan.
Allura kemudian bertanya, “Bukankah kau harus menjelaskan sesuatu pada kami, Nori?”
Nori dengan tenang menjawab, “Dalam setiap game, semua orang bisa menjadi kejam untuk bertahan hidup. Kau tidak bisa menyalahkanku ketika aku ingin bertahan dalam permainan ini.”
“Jadi maksudmu, kau akan berlaku kejam di setiap gerbang?” Mahavir tak kuasa bertanya.
Nori tak menjawab, ekspresinya datar.
“Kalau begitu, jangan salahkan aku yang akan lebih kejam darimu,” tandas Maxime membuat Nori agak gemetar.
Maxime tak memiliki hati lembut untuk gadis ini setelah mengetahui bagaimana buruknya perangai Nori. Mengorbankan teman demi kepentingan sendiri adalah hal yang dibenci oleh Maxime. Ia sangat ingin menyelamatkan Arzan, tetapi sayang sekali dengan sekali dorong, Arzan terjatuh seperti dirinya ketika didorong oleh Nori Merekon.
“Maxime, jangan buang-buang waktu dengan berdebat. Kita sudah menghabiskan 7 menit di sini.”
“Itu artinya kita menghemat satu menit daripada di gerbang kedua,” tambah Allura. Tak ia sangka mereka hanya butuh tujuh menit untuk keluar. Padahal ia merasa mereka berada di dalam sana selama berjam-jam.
“35 menit apakah waktunya cukup sampai di gerbang keenam?”
“Maka dari itu, kita harus menemukan gerbang keempat.”