Soekarno Hatta Airport
Hari berlalu. Hari ini Nala pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan segala urusannya tentang perkuliahannya di London. Ayah, ibu dan adiknya sudah pulang terlebih dahulu minggu lalu.
Sebenarnya ayahnya menyuruhnya untuk langsung melanjutkan ke S2 lalu pulang dan bekerja sebagai dosen seperti cita-citanya. Namun Nala memilih untuk mengundurnya. Ia ingin bekerja dulu sampai memiliki uang sendiri untuk biaya kuliahnya di jenjang S2. Ia tahu perekonomian keluarganya sedang sangat pas-pasan kini, apalagi Puspa sudah mulai sekolah. Jika ia kuliah lagi, sudah pasti ayahnya akan cukup kesulitan membiayai. Inilah yang orang-orang tidak tahu. Orang-orang disekelilingnya termasuk teman-temannya selalu mengira hidupnya enak dan terjamin tanpa kekurangan apa pun hanya karena ia cucu dari keluarga konglomerat. Namun yang mereka tidak tahu, tidak semua yang mempunyai nenek moyang kaya raya maka anak cucunya akan kaya raya juga. Ya, orang lain hanya bisa melihat dari sudut pandang dirinya saja dan berasumsi sesuai apa yang dipikirkannya.
Nala melambaikan tangannya saat sebuah mobil berwarna putih melaju ke arahnya. Mobil itu berhenti tepat di depannya. Seseorang dari mobil itu keluar dan tersenyum hangat padanya.
"Sudah lama menunggu?"
Nala menggeleng seraya tersenyum "tidak, makasih sudah menjemput" ucapnya pada Kevin yang kini tengah memasukkan kopernya ke bagasi mobil.
Ya, orang menjemputnya adalah Kevin. Sebenarnya ia tidak meminta pria itu menjemputnya. Hanya saja, tadi Kevin mengirimnya pesan menanyakan kapan dirinya pulang. Lalu saat ia mengatakan ia sudah di bandara, Kevin langsung menyuruh untuk menunggunya. Ia sudah menolak karena merasa tidak enak terus merepotkan pria itu, tapi tentu saja Kevin memaksa.
Satu jam kemudian Nala tiba di depan gedung tinggi. Apartemen yang akan ditinggalinya. Nala memang tidak pulang ke rumah orang tuanya dulu dan memilih langsung ke sana. Lagipun ayah dan ibunya sudah memperbolehkan. Sebenarnya apartemen ini bukanlah miliknya ataupun ayah ibunya, tapi milik neneknya. Beberapa hari lalu neneknya menghubungi dan menyuruhnya untuk menempati apartemen itu. Neneknya mengatakan daripada kosong lebih baik dia tempati, lagipula jaraknya cukup dekat dengan tempat kerja Nala. Saat di resepsi pernikahan Rayn, Nala memang sempat mengobrol dengan neneknya termasuk membicarakan akan di mana Nala bekerja setelah lulus kuliah.
"Ayo aku antar ke dalam" ucap Kevin membuyarkan lamunan Nala.
Nala menoleh "tidak perlu, sampai sini saja"
"Tidak-tidak, aku tidak akan membiarkan seorang gadis membawa koper ke lantai 8 sendiri. Jadi ayo, sekalian aku bantu kamu beres-beres"
Nala tersenyum "baiklah kalau kamu memaksa" ucapnya membuat Kevin terkekeh.
Pun Kevin membawakan koper Nala. Lalu bersama-sama mereka membereskan apartemen baru Nala yang– sudah rapi sebenernya. Seperti baru saja dibersihkan. Padahal neneknya bilang bahwa apartemen ini sudah sangat lama sekali tidak ditinggali.
"Apartemen baru kami ternyata sudah rapi" gumam Kevin sembari mengedarkan matanya melihat-lihat.
Nala ikut mengedarkan pandangannya "iya, sepertinya nenek sudah meminta orang membersihkan tempat ini sebelumnya".
"Baiklah kalau begitu, aku langsung pulang. Semoga kamu betah di tempat baru ya" ucap Kevin kemudian, tersenyum hangat.
"Tentu, makasih sudah menjemput dan mengantar ke sini juga"
"Santai saja, baik-baik di sini, aku pulang" pamit Kevin tersenyum seraya mengacak rambut Nala gemas.
Mendapat perlakuan itu membuat Nala tersipu. "Hati-hati" ucapnya.
Setelah menutup pintu, Nala berkeliling memperhatikan detail apartemen yang akan ditinggalinya itu. Sangat elegan, sungguh. Dan lagi, perabotannya sangat lengkap. Interiornya terkesan sangat manly. Ia jadi bertanya-tanya, apakah memang seperti ini selera neneknya.
Yasudah, terserah bagaimana keadaan apartemen ini. Ia sudah cukup senang mendapati sedikit bentuk perhatian dari neneknya yang jarang sekali ia dapatkan. Kalau dipikir-pikir pun, diantara keluarga lain, neneknya yang memang paling bersikap hangat padanya. Tak ingin memikirkan apapun lagi, Nala memilih memasuki kamar, membereskan baju-bajunya lalu mandi setelahnya.
Tiga puluh menit menghabiskan waktunya untuk mandi dan berendam, Nala lalu keluar dengan masih memakai kimono dan handuk di kepalanya. Berjalan ke arah dapur berniat untuk mengambil air minum dingin. Namun alangkah terkejutnya ia saat mendapati seseorang tengah berkutat di dapurnya dengan posisi membelakanginya hingga Nala dapat melihat bahu lebar dan kekar orang itu. Bahu lebar dan kekar? Tunggu– dia pria?. Mata Nala terbelalak. Itu tidak penting. Yang jelas, siapa orang itu? Apa orang jahat?.
Dengan jantung berdebar cepat, Nala berjalan mengendap-endap lalu mengambil spatula kayu di meja bar. Perlahan ia berjalan mendekat, lalu ketika sudah berada tepat di belakangnya, dengan sekuat tenaga Nala memukul belakang kepala orang itu dengan spatula kayu tadi.
"Oh s**t!" Rutuknya seraya mengaduh sakit memeganginya kepalanya.
Sontak orang itu membalikkan badannya menatap Nala. Dan demi apapun di dunia ini, mata orang itu sungguh merah menyorotnya tajam. "Sial Nala apa yang kamu lakukan!"
Nala mengerjakan matanya saat sudah melihat dengan jelas siapa orang itu. Lalu ia mengerutkan keningnya "Rayn? Kenapa kamu ada di sini?"
"Ini apartemen ku, tentu saja aku ada di sini. Harusnya aku yang bertanya, kamu ngapain di sini? Argh" timpalnya dengan masih mengaduh sakit.
"Apa maksudnya dengan apartemen ini punya kamu? Nenek memberikannya padaku jadi tentu saja apartemen ini punya aku" sentak Nala kesal.
"Bisakah kita bahas itu nanti? Kepalaku sepertinya bocor sial" Rayn memperlihatkan telapak tangannya yang terdapat darah yang– cukup banyak.
Nala menutup mulutnya "astaga, apa separah itu?"
Selain itu, Nala melihat kepala Rayn berasap. Yaampun, apa sungguh separah itu?. "Rayn, kepala berasap" lanjut Nala dengan mata sedikit melotot.
Rayn mengerutkan kening "hah? Berasap?" Lalu ia nembelakan matanya "oh s**t" rutuknya kembali seraya buru-buru membalikkan badan dan mematikan kompornya. Tadi dia memang memang sudah menyalakan kompor hendak membuat sesuatu sebelum Nala datang dan memukul kepalanya dengan kejam.
Saat membalikkan badannya kembali Rayn sudah tidak mendapati Nala di sana. "Apa gadis itu jelmaan hantu? Muncul dan perginya tak terdengar" gumamnya dengan tangan kembali memegangi kepalanya yang semakin sakit rasanya.
"Nala" panggilnya seraya berjalan ke arah ruang tengah "Nala di mana kamu–" panggilannya terhenti saat melihat Nala keluar dari kamar dengan membawa kotak P3K.
"Aku pikir kamu tidak mau mengobatiku"
"Aku tidak sekejam itu, sekalipun kucing yang terluka pasti aku tolong. Sekarang duduk" ucapnya.
Rayn pun duduk di sofa diikuti Nala yang duduk di belakangnya. Namun saat Rayn merasakan sesuatu yang aneh, ia buru-buru membalikkan badannya dan matanya melihat Nala tengah memegang gunting. "Kenapa kamu pegang gunting?"
Nala memutar bola matanya "kepala kamu luka Rayn, rambut kamu harus dipotong sedikit bagian yang terluka aja agar aku bisa mengobati lukanya"
"Tidak, tidak boleh. Rambut itu mahkota Nala, penampilanku akan rusak kalau rambutku dipotong sebenarnya"
"Yasudah terserah. Sekarang balik badan lagi, biar cepat selesai dan kamu juga cepat pergi" ucapnya yang dituruti Rayn.
Dengan telaten Nala mengobati luka Rayn. Sementara Rayn, kini tengah tersenyum-senyum. Ia sungguh senang bisa sedekat ini dengan Nala. Ternyata ada untungnya juga kelapanya terluka meskipun sakit. Tapi jika bayarannya bisa dekat dengan Nala, ia rela.
"Sudah, sekarang pergi" ucap Nala seraya menutup kotak P3Knya.
Kemudian Rayn kembali membalikkan badannya. "Nala" panggilnya, matanya menatap Nala begitu lekat.
Nala menoleh dan mata mereka langsung bertubrukan di udara. "Kenapa selalu ada kata pergi? Saat di club dua tahun lalu kamu pergi begitu saja setelah mencuri perhatianku, saat resepsi pernikahanku juga kamu tiba-tiba pergi tanpa berkata apapun lagi. Bahkan sekarang pun kamu menyuruhku pergi".
Nala menghela nafas menatapnya jengah "Lalu apa? Aku harus memintamu menginap begitu?"
"Apa boleh?"