HARI PERTAMA

1167 Words
02 [ HARI PERTAMA ] Ani membuang jauh-jauh pak Rezel dari pikirannya, Berjalan sambil menatap ujung sepatunya sendiri. Tidak pegal apa itu ya kepalanya dipakai menunduk dari masuk gerbang sampai keluar gerbang lagi? Asal kalian tau yah, kalau Alesha adalah gadis yang paling tidak tau malu di sekolah ini maka Ani adalah kebalikannya. Dia adalah gadis paling pemalu yang saking pemalunya sampai jalan saja tidak mau melihat orang lain begitu. Dan parahnya mereka berdua ini sekelas dan duduk sebangku lagi waktu kelas 10, kalau sekarang belum tau. Karena ini hari pertama mereka sekolah setelah libur panjang semester kemarin. "Ah, hahaha. kamu tau aja kalau aku lagi mikirin Rezel, dua Minggu nggak ketemu rasanya kangen banget sama calon imam ku itu. Mana akun sosmed nya nggak pernah aktif lagi, nggak pernah upload foto. Ah kangen ku udah segunung tau, mana dia ya?", Alesha celingukan melihat lapangan parkir, sebuah mobil putih sudah terparkir rapi disana yang artinya pak Rezel sudah ada di sekolah. Membuat Alesha jadi semangat saat upacara nanti. Ani manggut-manggut saja, gadis ini kalau sudah membahas pak Rezel nggak akan ada matinya obrolan mereka. Nah kan, lihat kan. Alesha sudah bicara panjang lebar kemana-mana cerita tentang betapa tersiksanya dia selama dua Minggu ini tidak bisa melihat pak rezel kesayangannya. Cih lebay sekali, padahal dia hanya rindu pada orang yang entah tau atau tidak kalau Alesha adalah salah satu penduduk sekolah ini. "Ale kecilin suara kamu, lihat itu pacar-pacarnya pak Rezel udah mencak-mencak gak jelas sambil lihat kamu", Ani menunjuk beberapa siswi senior kelas 12 yang memperhatikan mereka dari jauh. Mereka adalah barisan gadis-gadis yang berhalu kalau mereka adalah pacarnya pak rezel, cih tidak tau malu sekali. Tapi bahkan ada gadis yang lebih tidak malu dari mereka, siapa lagi kalau bukan Alesha, dia mengklaim dirinya adalh calon istrinya rezel. Alesha menatap malas, saingan-saingan nya itu sepertinya sudah menabuh gendrang perang padahal masih sepagi ini. "Biarin aja mereka mencak-mencak begitu normal kok. mereka pasti sakit hati dan marah pada ku, Aku kan calon istrinya Rezel", dengan tidak tau malunya mengatakan kalimat penuh kehaluan itu dengan lantang. Jangan pikir orang-orang akan kaget, karena satu sekolah ini bahkan sudah tau kalau Alesha itu tingkat halunya paling parah di antara puluhan siswi lain yang mengejar pak Rezel. Kalau yang lain mengeklaim mereka pacarnya Rezel, Maka alesha adalah satu tingkat diatasnya, dia tidak tau malu memproklamasikan diri sebagai calon istri pak Rezel. "Allahuakbar, ternyata rasa malu kamu itu belum juga ketemu yah? Memang pak rezel aja yang bisa bikin kamu punya sedikit rasa malu". Semua murid sudah terkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara pertama mereka setelah libur panjang. Yang tadinya kelas 10 sekarang jadi kelas 11, begitu juga dengan kelas 11 yang hari ini resmi menjadi senior. Di barisan paling kiri ada siswa-siswi baru yang masih dalam tahap MOS. Semua sudah berbaris rapi sesuai dengan angkatan masing-masing. Petugas upacara pagi ini adalah anggota OSIS, para dewan guru juga berbaris rapi. Termasuk guru tampan yang berhasil meluluhkan hati puluhan muridnya itu, dia berdiri di antara guru penjas dan sosiologi. Pak Soni yang tidak kalah tampannya, namun tidak bisa dijadikan gebetan karena dia sudah tunangan dan dalam waktu dekat akan menikah. Hari ini pun pak Rezel terlihat rapi seperti biasanya, guru itu menggenakan kemeja panjang berwarna putih dengan kerah yang terkancing rapi walau tidak menggenakan dasi. Ah semakin membuat para gadis meleleh saja. Alesha sudah berdiri semangat di barisan paling depan, tentu saja motivasi mulia untuk melihat ketampanan sang guru matematika yang paling tampan di sekolah ini. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat Alesha untuk melihat calon suaminya itu. Hahay lagaknya calon suami, padahal kalau sekali berpas-pasan saja tidak pernah menegur saking malunya. Sekali lagi dimana rasa tidak tau malunya Alesha kalau menyangkut tentang pak Rezel. 'ekhem ekhem!', Alesha berdehem menghilangkan rasa malu yang sialnya selalu saja muncul bahkan karena memikirkan pak Rezel yang tidak pernah dia panggil dengan embel-embel pak itu. Upacara berjalan hikmad, bahkan saat menyayikan lagu Indonesia raya dan lagu wajib nasional suara Alesha terdengar paling keras saking bersemangatnya, sesekali dia melirik pak Rezel dari kejauhan sana walau guru itu tidak pernah menoleh ke arahnya. Setelah upacara selesai, maka saatnya pembagian kelas dan juga wali kelas. Semua murid sudah duduk mengelilingi lapangan, menunggu giliran nama mereka disebut dengan kelas baru dan juga wali kelas yang baru. Pemilihan kelas dilakukan secara random berdasarkan hasil ujian semester kemarin, yang nilainya besar tentu saja masuk di kelas yang unggul. Alesha sudah duduk dengan gelisah, sejak tadi namanya belum disebut juga. Apa dia tidak kebagian kelas ya saking bodohnya. Gadis itu bahkan sudah berdiri gugup, namanya masih belum disebut juga padahal dijurusannya hanya tinggal beberapa yang belum terpanggil. Alesha menoleh, melihat teman-temannya yang juga bernasib sama seperti dirinya, mereka terdiri dari siswa-siswi nakal tukang bolos dan membolongi tembok belakang dan beberapa siswa-siswi yang planga-plongo tidak jelas. Bisa ditebak, mereka pasti sama bodohnya seperti dirinya. Hanya saja dia masih sedikit beruntung dikaruniai wajah yang lumayan cantik, yang menurut dirinya sendiri ya, tapi memang tidak sedikit yang mengatakan dia cantik. Bahkan saat masih kelas 10 saja banyak kok kakak kelas yang minta nomornya dan juga yang menyatakan perasaannya, walau tidak ada yang dia terima, hahaha. "Baik, sisanya yang saya tidak sebut namanya kalian tergabung menjadi kelas IPA 6. Silakan maju dan membentuk barisan di sisi kiri", suara ibu rosmala selaku Waka kesiswaan yang bertugas mengumumkan pembagian kelas pagi ini. Dan dengan bangganya Alesha maju kedepan, tidak memperdulikan beberapa mantan teman sekelasnya yang mengejeknya itu. Beruntungnya Alesha masih sekelas dengan Ani karena seingatnya gadis itu juga namanya tidak disebut. Ah mereka kan memang sama-sama bodoh. Sia-sia saja dia sudah cemas tidak jelas begitu. Si Ani juga kabur ke toilet karena tidak mau disuruh berbaris di depan lapangan, gila ya segitu pemalunya Ani, Sampai lebih memilih mengurung diri di toilet yang baunya tidak hilang sampai tujuh turunan itu ketimbang berbaris di lapangan. Setelah pembagian kelas selesai, semua murid kembali ke kelas dengan teman-teman mereka yang baru. Ini salah satu hal yang alesha tidak suka sejak SMP, kalau begini kan kita harus beradaptasi dengan teman baru, harus mengenal lagi karakter mereka, belum lagi kalau harus pendekatan supaya akrab. Dan yang paling parahnya kenapa juga dia selalu sial kebagian kelas yang isinya murid-murid buangan dan sisa yang digabung jadi satu. Mau jadi apa coba kelas ini nanti, yang pintar tidak ada, yang ganteng juga tidak ada. Kalau begini kan jadi tidak betah di dalam kelas. Alesha memilih kursi di pojokan dekat jendela, sengaja supaya bisa melihat pemandangan di lapangan. Kalau-kalau dia lagi beruntung kan bisa melihat pak Rezel nanti. Ah memikirkan pak Rezel jadi membuatnya kangen lagi, tadi setelah upacara selesai dia masuk keruang guru. Kan Alesha jadi kesal sendiri, padahal rindunya belum terobati. Lebih sialnya lagi sekarang kelasnya tidak pernah kebagian di ajar pak Rezel, karena beliau guru baru dan belum cukup berpengalaman Maka jam mengajarnya masih terbatas. Dia hanya mengajarkan anak kelas 11 dan 12 itupun tidak semua jurusan. Alesha kesal sendiri kalau mengingat dia sudah susah-susah mencari jadwal mengajar guru sampai harus mencari alasan masuk TU. Tapi hasilnya mengecewakan saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD