Alana terdiam beberapa saat, ragu-ragu mengangguk. Dia mengingat peristiwa suatu malam ketika sentuhan tangan David singgah ke miliknya, memainkannya sampai dirinya meraih kepuasan. Alana sepertinya menginginkannya lagi malam ini, dia membiarkan David membimbing tubuhnya untuk naik ke atas tempat tidur yang besar dan mewah, lalu merebahkannya secara perlahan. “David….” Alana medesah ketika wajah David tenggelam di lehernya, mencium dan menghisap kulit putih mulusnya. Seketika rasa nikmat menjalar ke sekujur rubuhnya. David berhenti setelah puas mencium leher putih itu, menatap wajah Alana yang tersenyum ke arahnya. “Aku ingin malam ini beda, Lana,” ujar David pelan. “Agar aku bisa mengenangnya selama-lamanya.” “Maksudnya?” tanya Alana yang tentu saja tidak mengerti. Dia baru saja menika

