Sudah hampir setengah jam Bu Ida berjalan bolak balik di depan pintu gudang di mana Wenny disekap di dalamnya. Dia ragu ingin mendobrak, karena kunci gudang yang dibawa Agung. “Non! Non Wenny! Non baik-baik saja?” Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, akhirnya Bu Ida berteriak memanggil Wenny sambil menggedor-gedor pintu gudang. Dia sudah tidak peduli ada kamera pengintai juga tidak peduli Agung yang pasti akan memecatnya. Tidak terdengar suara dari dalam, ini justru membuat Bu Ida semakin mengkhawatirkan keadaan Wenny. “Duh, bagaimana ini.” Bu Ida menggigil memikirkan nasib Wenny di dalam, apalagi dia melihat cuaca sangat panas di luar gudang, pasti Wenny lebih merasa panas dan sesak di dalam. Bu Ida akhirnya pergi ke luar, menemui penjaga kompleks perumahan yang sedang bertu

