Bagian 5 (Catatan Erika)

1975 Words
. . Itu menjadi momen yang selalu kutunggu. Momen favoritku. Saat aku berbalik dan dia selalu ada di sana. Rasanya hangat. . . *** Berita aku dan Yoga jadian menyebar dengan cepat di sekolah. Sungguh aku mengerti kenapa acara gosip di pertelevisian Indonesia begitu laku. Pertama kalinya Yoga menjemputku di luar pintu kelas, teman-teman sekelasku masih menatap kami dengan heran (kecuali Ratih, karena dia sudah tahu). Tapi lama kelamaan mereka tidak segan-segan menggoda kami. Beberapa hari berlalu sejak Yoga jadi pacarku, tapi aku tetap sulit untuk terbiasa. Mungkin itu karena, Yoga bukan orang biasa. Sama sekali bukan. Bel pulang sekolah berbunyi. Aku melihat Yoga berdiri di luar pintu kelasku. "Erika! Pangerannya udah jemput tuh!" Mukaku langsung merah padam. Siapa itu yang mulai? Biasanya kalau sudah ada satu orang yang mulai, anak-anak yang lain kena efeknya. Benar saja, mereka menggodaku dengan komentar yang paling umum pada masa itu. 'cieeee', 'prikitiw', dan apa lagilah itu. Aku malu. Tanganku buru-buru merapikan buku-buku ke dalam tas. Tiba-tiba Yoga berteriak, "HEY!! KALIAN NGAPAIN SIH?? Muka Erika sampai merah gitu! Aku nggak rela kalian kayak gitu sama dia!" Seketika kelas hening. Oh Tuhan! Aku malu sekali! Kulihat Ratih tertawa tertahan. Secepat kilat aku berlari keluar kelas dan menyeret Yoga pergi. Saat kami sudah ada di dekat gerbang, barulah aku bisa bicara dengannya. "Yoga, kamu gak perlu begitu. Mereka 'kan cuma bercanda. Kamu gak perlu menanggapi dengan serius," kataku menasehatinya. Alis Yoga berkerut. "Gimana sih, kamu? Aku ini belain kamu, tau!" kilah Yoga memperhatikan mukaku dengan saksama. "Kok bisa, ya? Tadi mukamu merah banget lho," komentarnya. Aku merasa wajah Yoga terlalu dekat. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tentu saja aku malu. Ini pertama kalinya aku pacaran. Kupikir, Yoga mungkin entah sudah berapa kali, aku tidak mau tanya. Kami sudah di depan parkiran mobil Yoga. Mobil yang mewah mentereng. Uh ... ini dia. Satu lagi yang aku sulit untuk terbiasa. Yoga membukakan pintu mobil untukku, seolah aku tuan putri. Beberapa anak-anak perempuan menatapku dengan tatapan maut yang menusuk. Aku buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Begitu sudah duduk di dalam, aku segera menutup wajahku. Terdengar suara pintu mobil ditutup. Yoga yang sudah duduk di sampingku, mengamati tingkahku dengan heran. "Kamu ngapain, sih?" tanya Yoga. "Aku malu!" jawabku singkat. "Malu?" "Aku malu diliatin orang!" "Malu karena naik mobilku? Aneh kamu. Harusnya kamu tuh bangga!" kata Yoga berdecak. Aku memukul lengannya. "UDAH CEPETAN! NYALAIN MOBILNYA DAN PERGI DARI SINI!" Yoga tertawa geli. Beberapa saat kemudian, kami sudah di jalan raya. Aku menghembuskan napas lega. "Kenapa sih kamu gak pakai mobil yang biasa aja?" protesku. Yoga tertawa. "Di rumahku gak ada satu pun yang biasa." *** Mobil Yoga berhenti tak jauh dari belokan tempat lesku. "Di sini aja?" tanya Yoga. "Iya di sini aja. Aku gak mau turun dari mobil ini di depan tempat lesku. Nanti mereka pada ngeliatin aku. Malu!" jawabku tegas. Yoga mendengkus. "Iya deh. Terserah kamu aja." "Ya udah. Aku duluan ya. Bye," ucapku pamit melambaikan tangan. "Erika!" Aku menoleh mendengar Yoga memanggilku. "Ya?" sahutku. "Kamu emang lesnya tiap hari, ya?" tanya Yoga memastikan. "Iya. Kenapa?" Aku balik bertanya. Yoga menunduk dan terlihat seperti setengah merajuk. "Trus ... kapan kita --" Walaupun kalimatnya belum selesai, aku mengerti maksud pertanyaan Yoga. "Hari Sabtu ini 'kan tanggal merah. Lagian, les Sabtu 'kan cuma pagi. Kamu mau kita jalan Sabtu ini?" Wajah Yoga langsung cerah seketika. "Mau!" jawabnya riang. Nada suara yang turut mengangkat mood-ku saat itu. "Ya udah aku les dulu ya. Bye!" "Nanti selesai les kujemput di sini kayak biasa!" kata Yoga. Aku mengangguk dan berjalan menyusuri tepi jalan. Saat mendekati belokan, aku berhenti dan menengok ke belakang. Yoga masih di sana. Bersandar di mobilnya. Melihatku menoleh, dia melambaikan tangannya, dan aku membalasnya. Awalnya aku tidak mengerti, kenapa dia tidak langsung saja pergi setelah menurunkanku di tepi jalan itu. Tapi setelah beberapa kali, aku mengerti. Dia hanya ingin memastikan aku aman sampai di belokan jalan. Itu menjadi momen yang selalu kutunggu. Momen favoritku. Saat aku berbalik dan dia selalu ada di sana. Rasanya hangat. Aku tersenyum. Rasanya tidak sabar menunggu hari Sabtu. Kencan pertama dalam hidupku. Tapi ternyata, hari yang kutunggu-tunggu itu kelak kutandai, sebagai hari pertama aku menemukan sisi gelap dari seorang Yoga. *** Malam itu aku berdiri lama di depan lemari pakaian. Aku tidak percaya kealayan ini akan terjadi padaku. Selama ini aku selalu meledek Ratih dan Esti yang setiap kali akan berangkat kencan atau pesta, selalu mengeluh 'tidak punya baju' di hadapan sederetan baju di lemari. Dan sekarang aku. Mataku menjelajahi satu persatu baju yang tergantung. Ah. Nyebelin! Aku merasa tidak ada yang pantas kupakai untuk acara besok. Ah sudahlah. Aku segera mencomot tiga set pakaian yang kurasa terbaik di antara yang lain. Kujejerkan ketiganya. 1. Atasan kaus garis-garis putih abu - Bawahan rok megar peach dengan pita di pinggang 2. Atasan blouse satin putih polos - Bawahan rok hijau pastel 3. Atasan kemeja se-lengan - Bawahan rok megar motif sakura Kutulis angka 1, 2 dan 3 di secarik kertas dan kulinting. Tiga nomer itu kumasukkan ke dalam botol kecil kosong yang ditutup dengan kertas berlubang. KOCOK-KOCOK! HYAAAHHH!!!! Satu lintingan kertas keluar menggelinding di lantai. *** TING! TONG! Suara bel membuatku berlari membuka pintu depan dan menutupnya kembali. Yoga menatapku tidak berkedip sejak aku membuka pintu sampai aku membuka gerbang. Ini pertama kali aku melihatnya tanpa baju seragam sekolah. Dia kelihatan lebih dewasa dengan sweater abu tua dan dalaman kemeja motif kotak-kotak. Celana panjang bahan yang dipakainya berwarna abu muda. Rambut lurusnya seperti biasa dibiarkan terurai. Aku merasa gugup. Kenapa dia kelihatan sangat berbeda dengan di sekolah? Dan kenapa aku begitu lemot karena baru sadar kalau dia sangat ganteng? Oh my God. Level kegantengannya keterlaluan! Sampai-sampai kalau sedandainya dia pakai baju compang-camping, kurasa dia tetap akan terlihat ganteng dan laki-laki lain akan menirunya, karena dikira itu gaya fashion terbaru. Dia meperhatikanku yang memakai hasil undian semalam. Kemeja selengan putih dan rok megar motif bunga sakura. Rambutku dikuncir ke samping, dan karena aku tidak begitu hobi pakai make up, aku cuma pakai bedak dan lip balm pink. Yoga tersenyum. "Kamu cantik," ucap Yoga. Oh there goes the most favourite line of (almost) every woman in the world. Aku selalu bingung kalau ada orang yang mengomentari kecantikan seseorang. Karena kita sebenarnya tak ada yang bisa request dilahirkan seperti apa. Sementara kalau dijawab dengan 'yah gimana ya. Dari sana nya udah kayak gini sih', kok kedengarannya songong banget ya. Tapi kalau dijawab 'terima kasih' juga rasanya aneh. Karena sudah dari 'pabrik'nya seperti ini. Terima kasih sama siapa sebenarnya? Tapi kurasa, komentar 'kamu cantik' bisa diterjemahkan sama seperti 'terima kasih kamu sudah berusaha tampil cantik di hadapanku'. Mungkin. Akhirnya aku cuma membalas kata-kata Yoga dengan senyum. Yoga membukakan pintu mobil untukku, dan kami pun berangkat. Dadaku berdebar. Kencan pertama seorang Erika. *** Kami masih di perjalanan menuju sebuah mall. "Kita mau nonton hari ini," begitu titah Raja Yoga. Aku tersenyum geli. Mulai terbiasa dengan kegemarannya mengatur apapun yang dia mau. Ngomong apa kek, "Gimana kalo kita pergi nonton hari ini?" yang terdengar lebih normal. Dari tadi di mobil kami mengobrol dengan lancar. Aku lega. Kelihatannya kami tidak punya masalah komunikasi. "Erika, kamu nanti ikut Ujian Negeri?" tanya Yoga. "Iya. Swasta terlalu mahal. Kasian Ibu Bapakku," jawabku. "Oh. Terus, IPS-nya ambil jurusan apa?" tanya Yoga lagi. "Akuntansi," jawabku yakin. Yoga mengangguk. "Di kantor ayahku banyak, tuh. Staf akuntan. Kamu mau kerja di kantor ayahku?" Aku manyun mendengar pertanyaan Yoga, dan dia tertawa. "Ujian masuknya aja belum, masa udah ditawarin kerja?" gumamku heran. Aku melirik Yoga. Yoga anak IPA, tapi dia sepertinya santai sekali. Tidak terlalu terbebani dengan ujian dan segala macam. "Kamu bakal nerusin bisnis ayahmu?" tanyaku. "Iya. Aku anak tunggal. Kalau bukan aku, siapa yang bakal nerusin? Bagaimanapun juga, dia ayahku." Aku tertegun mendengar kata yang dia pilih. Bagaimanapun? "Berarti kamu gak kuliah? Langsung kerja?" tanyaku lagi. "Oh bukan. Aku tetap kuliah. Namaku sudah terdaftar di satu Universitas Bisnis Internasional di daerah Jakarta Pusat," ucap Yoga mengejutkanku. "HEH?? Kok bisa??" pekikku spontan. Yoga mengeluarkan senyuman sombongnya. "Bisa, dong. Apa sih yang aku gak bisa?" katanya, lalu tertawa melihatku mendengkus kesal. *** Kami sudah memasuki gerbang mall. Rupanya tempat parkir penuh. Di masa itu, masih jarang jasa valet parking. Suasana hati Yoga yang tadinya cerah saat kami berangkat, dengan cepat memburuk. "AH RESE! Pada kemana sih tukang parkirnya?? Pas diperluin malah gak ada!" omel Yoga. Aku agak terkejut melihat perubahan mood Yoga yang drastis. Mataku celingukan mencari tukang parkir. "Itu di sana ada tukang parkir!" kataku dengan jari menunjuk ke arah depan kanan. Kupikir Yoga akan menghampiri tukang parkir itu, tapi rupanya dia malah menekan klakson mobil. DIIN!!! DIIINNNN!!! Mataku melotot. Apa tidak salah? Penekanan bunyi klakson itu rasanya terlalu nyaring, apalagi cuma untuk memanggil satu orang di depan yang jaraknya tidak seberapa. Lagipula, kenapa bukan mobilnya yang jalan sedikit menghampiri tukang parkir itu? Dengan suara klakson sekeras itu, tukang parkir itu menoleh kaget. Yoga membuka kaca mobilnya. "HEY! SINI KAMU!" teriak Yoga. Aku masih menatap Yoga dengan rasa tak percaya. Kenapa dia harus memanggil orang itu dengan cara yang tidak sopan? Laki-laki berseragam petugas parkir itu menghampiri kami. "Ya, Pak?" sahutnya. Yoga memang anak SMA, tapi aku akui dia memang punya karisma kedewasaan, seolah dia anak kuliahan atau mahasiswa baru lulus. "Carikan aku tempat parkir," perintah Yoga, membuat petugas itu melihat sekelilingnya. "Maaf, Pak. Tempat parkirnya penuh. Mungkin Bapak bisa coba muter sekali lagi. Biasanya selalu ada mobil yang baru keluar," kata pria itu. "CKK!!!" gumam Yoga kesal. Matanya kembali menyusuri sekeliling area parkir. Dia menemukan sebuah area di ujung dengan papan tulisan 'VIP'. "Yang itu! Saya mau parkir di VIP!" tunjuk Yoga ke arah yang dimaksud. Wajah petugas itu kelihatan bingung. "Maaf, Pak. VIP juga penuh," jawabnya. Yoga terlihat semakin kesal. "GIMANA SIH? TRUS SAYA PARKIR DI MANA??" ujar Yoga nyaris menjerit. Aku berusaha menenangkannya. "Yoga, kita coba muter sekali lagi yuk. Siapa tau nanti ada mobil yang keluar," bujukku. "ENGGAK! Aku gak mau lama-lama cuma buat parkir!" Aku terkejut. Dia membentakku di kencan pertama kami? Yoga mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribuan. "NIH! Terima ini! Urus supaya mobil saya bisa parkir di VIP!" kata Yoga memaksa tukang parkir itu. Aku menyentuh pundak Yoga dengan hati-hati. "Yoga, sudahlah. Kita gak bisa begini," kataku lembut. "BISA!!! Biar aku yang urus!" Dia membentakku. Lagi. Aku tidak akan lupa perasaanku saat itu. Angin dingin terasa seperti berputar di dalam perutku. Rasanya sangat tidak nyaman. Petugas itu terlihat bingung. "Maaf, Pak. Saya gak berani," jawab pria itu dengan wajah pucat. Yoga mengeluarkan selembar uang lagi. "NIH! Jangan pura-pura nggak butuh duit. Pengelola mall ini kenalan saya. Kamu mau saya aduin kalo kerjamu nggak bener?" Aku tidak percaya Yoga menggunakan kekuasaannya untuk mengancam petugas itu. Lelaki malang itu akhirnya menurut. Merasa tak punya pilihan lain. Setelah kejadian itu, aku merasa mood-ku berantakan. Sementara dengan ajaibnya, mood Yoga membaik, seolah kejadian barusan sama sekali tidak terjadi. Kami sudah selesai menonton film. Sepanjang film aku sama sekali tidak bisa menikmati. Setelah keluar dari ruangan bioskop, Yoga mengajakku makan. Dia mengamati wajahku. "Kamu sakit? Kok mukamu pucat?" tanya Yoga lembut. Aku tersenyum kaku. "Enggak," jawabku. Aku akhirnya bertanya padanya, "Yoga, apa tadi pagi sebelum berangkat ke rumahku, kamu sedang ada masalah?" "Hah? Masalah? Enggak ada," sahut Yoga enteng. "Oh --," gumamku. "Kenapa?" "Enggak, soalnya tadi kamu marah-marah sama tukang parkir itu. Aku pikir, kamu mungkin lagi ada masalah di rumah," jelasku tanpa menatap matanya. Yoga menanggapi pertanyaanku dengan santai. "Jangan terlalu dipikirkan. Orang-orang itu sering begitu. Kerjanya malas-malasan. Mereka pantas dimarahi kalau kerja mereka gak bener." Aku diam mendengar penjelasannya, yang sama sekali tidak membuat perasaanku membaik. "Habis ini kamu mau apa, Erika? Kamu mau belanja? Aku akan belikan kamu apapun yang kamu mau," ujar Yoga dengan senyum mengembang. Aku menunduk melihat meja makan. "Enggak. Aku gak mau apa-apa. Habis makan, kita pulang aja yuk," kataku. Dan berakhirlah kencan pertamaku. Kacau balau. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD