Bagian Kedelapan

550 Words
Tangisku pecah sejadi-jadinya ketika dokter menyatakan bahwa Ibu sudah tiada. Setelah kejadian kecelakaan kemarin, Ibu sempat dirawat tiga hari, tetapi disetiap harinya kondisi Ibu mengalami penurunan. Aku menoleh ke arah Bang Kenan, kedua mata pria itu seketika kosong. Dia juga merasakan duka yang aku rasakan, bedanya dia masih bisa untuk menahan Isak tangisnya. Bang Kenan masuk ke dalam ruangan lalu disusul olehku dan Mas Faresta yang masih setia menemani kami. Saat melihat Ibu yang sudah terbujur kaku, Bang Kenan langsung terisak. Dia memeluk Ibu dengan erat, aku mengikutinya. Kami menangis bersama sambil memeluk jenazah Ibu. Mas Faresta tidak melakukan apa-apa selain terdiam. Mungkin dia masih kaget dengan keadaan ini. Dua Minggu setelahnya, kehidupan aku dan Bang Kenan terasa begitu hampa. Tidak ada lagi kehangatan dan canda tawa di rumah ini. Kami masih sama-sama dirundung duka. Hal tersebut dirasakan oleh Tante Linda dan juga Mas Faresta, mereka berdua sering sekali berkunjung ke rumahku untuk memberikan semangat. Bukan hanya itu, mereka juga memberikan kami makanan. Tante Linda yang memasak lalu Mas Faresta yang mengantarkan. Rutinitas yang mereka lakukan setiap pagi. Siang ini, Bang Kenan sudah kembali mengajar. Dia merasa tidak enak karena meninggalkan mahasiswanya terlalu lama. Beberapa saat kemudian setelah dia pergi, Mas Faresta datang menemuiku. Dia membawa es krim vanila kesukaanku. "Sudah makan?" tanyanya sambil meletakkan es krim yang dia bawa. Aku melirik ke arah es krim itu, tampaknya begitu menggiurkan. "Mau makan es krim aja," ucapku cepat. Aku ingin mengambil es krim itu, tetapi Mas Faresta sudah mengambilnya lebih dahulu, "katanya es krimnya buatku." "Makan dulu," jawabnya dengan ekspresi datar. "Iya. Makan es krim aja." "Makan makanan berat." Aku menatapnya dengan tatapan datar. Aku kan sedang tidak nafsu makan. Lagi pula, tadi pagi aku sudah makan dan aku belum merasa lapar. Dia bangun dari duduknya, menaruh es krim di kulkas lalu menyendokkan makanan untukku. "Makan," perintahnya sambil memberikan seporsi makanan di piring. "Ga mau." Dia memberikan tatapan tajam. Benar-benar tajam. Kalau susah seperti ini aku tidak bisa apa-apa selain menurutinya. Setelah selesai makan, Mas Faresta membawa piring bekasku ke belakang dan kembali dengan membawa es krim lengkap dengan sendoknya. Dia memberikan kepadaku, dengan mata yang berbinar-binar aku menerimanya. Kalau ditawari es krim, pasti tidak nolak. Dia duduk di sebelahku, dia hanya terdiam sambil terus mengamatiku. Aku memasukkan satu sendok es krim ke mulutku, "Mas," panggilku pelan. Matanya beralih menatap kedua mataku, "aku udah pikir-pikir tentang lamaran Mas waktu itu," ucapku tanpa menoleh ke arahnya. "Untuk saat ini, saya enggak memaksa kamu jawab cepat. Saya masih paham kondisimu," ucapnya terburu-buru. Aku terdiam sebentar, meletakkan es krim di meja lalu duduk berhadapan dengannya. "Tapi aku udah tahu jawabannya," ucapku dengan penuh keyakinan. Selama ini, disamping aku berusaha melepaskan dan merelakan kepergian Ibu, aku juga terus memikirkan lamaran dari Mas Faresta. Aku menyambungkan antara keinginan Ibu dan juga lamaran pria itu. Ibu bilang Mas Faresta baik dan dia berharap Mas Faresta menjadi suamiku. Dan juga, saat ini aku butuh seseorang untuk menjagaku selain Bang Kenan. Aku hanya ingin Ibu tenang di sana tanpa mengkhawatirkanku. Aku pikir keputusanku, keputusan terbaik untuk kami semua. Perihal cinta yang belum tumbuh diantara aku dan Mas Faresta, aku yakin cinta akan datang dengan sendirinya. Cinta datang karena terbiasa, begitu kata orang. "Jadi apa jawabanmu?" tanyanya dengan nada begitu tenang. "Iya." "Iya apa?" "Jadi istri Mas Faresta." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD