"Kak ...." Panggilan lirih kudengar dari bibir mungil Aruna. Aku yang sedang memejamkan mata sambil menggenggam tangannya pun mendongak. "Istirahatlah lagi, kamu baru saja sadar." Kulihat dia tersenyum, seperti orang yang sedang sangat bahagia. "Ada apa?" Aku bertanya padanya. "Aku bahagia, akhirnya Kak Adrian selamat." Rasanya ingin kucubit saja hidungnya. Mengingat hal yang terjadi kemarin, sungguh membuatku kesal. Untuk apa dia menyusulku? Untuk apa dia mencoba menyelamatkanku? Dia menghalangi peluru yang hendak ke arahku dengan tubuhnya? Memangnya dia pahlawan? "Lain kali jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi. Kau tak perlu mengambil resiko hanya untuk menyelamatkan orang lain!" tegasku padanya. "Tidak boleh ada lain kali." Dia mengucapkan dengan nada lemah. Aku menganggu

