Bagian 5. Pangeran tak Berkuda

1368 Words
Lulu meneguk habis minuman sodanya sampai tandas. Haus juga cerita panjang lebar kepada kedua sohibnya tentang kejadian semalam. Sekarang mereka sedang nongkrong di gerai ayam goreng yang logonya bapak-bapak tua jenggotan. Mereka bertiga baru aja kena usir pak Frengki gara-gara bikin keributan di kelas. Sebagai hukumannya, mereka harus membuat makalah yang harus dikumpul minggu depan. Kalau enggak mereka bakal gak boleh masuk kelas Pak Frengki sampai sisa semester, dan bisa dipastikan nilai E bakal nangkring dengan manis di LHS mereka semester ini. Kanya dan Dinda geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan perangai sohib cantiknya itu. Udah tau lagi panas sama pacar, malah iseng stalkingin mantan! Iya kalau mantan yang waras. Ini malah mantan paling gelo! Semua cewek normal dan baik-baik pasti gak bakal mau lagi berurusan dengan makhluk yang bernama Devandra itu! Ini Lulu malah cari perkara baru sama dia. Seember ayam goreng dan minuman soda cup jumbo telah tandas dikeroyok ketiga gadis bar-bar tersebut. Entah karena lapar atau esmosi habis diusirin dosen. Dinda melirik jam tangannya, " Masih siang nih, malas juga pulang cepat. Nonton yuk! Tadi gw liatin ada poster film baru yang lagi viral itu, KKN di Desa Penyanyi!" Entar setannya gak nari, tapi nyanyi lagu Lingsir Wengi, habis tu keluar deh kuntilanak. Ngasal. Lulu dan Kanya mengangguk setuju. Lulu berpikir ia harus rehat sejenak dari pikiran cinta-cintaan. Saatnya Healing! Akhirnya ketiga makhluk cantik itu sampai juga di bioskop dengan seeember besar popcorn dan satu cup lagi-lagi minuman soda ukuran jumbo di tangan masing-masing. Padahal bisa dipastikan, nanti sehabis nonton film horor gak satupun yang berani pergi pipis sendirian. *** "Aaarggh.. SIAAAL!" Lulu mengumpat sambil menendang-nendang ban mobilnya belakangnya yang kempes. "Kenapa pake acara kempes segala! Ya Tuhan, saya baru bisa bawa mobilnya, belum bisa ganti bannnya." Lulu mengeluh sambil menengadah ke langit seolah-olah berdoa. Sudah hampir setengah jam Lulu berdiri di pinggir jalan, menyetop kendaraan yang lewat. Berharap ada pangeran berkuda putih yang rela memberinya pertolongan. Tapi tak satupun yang lewat mau berhenti. Dinda pun di telponin minta pertolongan gak bisa. Dia lagi kuliah MKU bareng mahasiswa baru, ngulangin nilai D yang ia dapat di semester 1. Lulu berdecak kesal. Ternyata cantik aja gak cukup! Ia juga harus seksi kaya cewek yang di film-film. Pake rok mini, terus ngobral betis mulus di pinggir jalan, and the end berhentilah sebuah Ferrari merah dengan cowok tampan di atasnya. Lulu menunduk menelisik penampilannya sendiri. Sepatu kets putih yang udah belel, legging hitam 3/4, plus hoddie kedodoran hasil nyomot lemari Kak Jojo. Diliriknya pantulan wajahnya dari kaca mobil, ternyata sama menggenaskan dengan outfitnya. Rambut panjangnya dicepol asal, bahkan ikatan rambut Faisal aja lebih rapi. Muka nyaris tanpa dandanan. Sama sekali tidak menarik untuk ditolong! Lulu hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Ia hanya bisa mengharapkan pertolongan dari kak Jojo yang dari tadi udah dikirimin pesan tapi belum dibaca. Atau nungguin Papa dan Bang Didi pulang kerja dulu. Disekitaran gak ada warga yang bisa dimintain tolong. Gak ada rumah warga ataupun warung. Satu-satunya kehidupan hanyalah gerobak pop ice di sudut jalan sana, dan itupun yang nunggin ibu-ibu. Lulu bersidekap di kap mobil sambil cemberut. Gak lagi berusaha menyetop kendaraan yang lewat. Sia-sia aja! Sebuah motor sport warna merah melintas. Lulu acuhkan, pasti disetop gak bakal berenti juga! Lulu bengong. Bentar lagi kesambet jin dah tuh. Tring! Sebuah pesan masuk. Dengan semangat Lulu membukanya. Siapa tau dari kak Jojo yang udah kelar bimbingan skripsi kan. Mata Lulu langsung terbelalak ketika membaca nama pengirimnya! Devan: Hai mantan, butuh pertolongan? Apaan sih si kampr3t? Kek punya indra keenam aja. Lulu bergidik jijik. "Ih, apaan sih. Gw mending ngegembel sampai malam daripada ditolongin elu!" geram Lulu. "Yakin?" sebuah suara mengagetkan Lulu dari belakang. Lulu menoleh dan terperanjat. Ia langsung ternganga kaget. "Devan?! Ngapain lu di sini?" sembur Lulu. Yang punya nama tersenyum dan mendekat ikutan duduk di kap, "Ya lewatlah. Ini kan jalanan umum." "Lu sih segitu bengongnya sampe gak perhatiin gw lewat barusan." 'Idih! Ngapain gw perhatiin lu.' batin Lulu kesal. "Long time no see ya Lu. Kangen gw sama Lu!" ujar Devan sambil memandang Lulu penuh rindu, tak lupa ia memamerkan senyum kotaknya yang menawan. Lulu menelan ludah, gugup juga diperhatiin begitu. "Kabar lu gimana Lu?" "Seperti yang lu lihat, baik." balas Lulu acuh. Bertemu Devan kembali hanya mengingatkan Lulu pada masa pacaran mereka yang menyedihkan. "Kenapa dah Lu? Mobil lu mogok?" tanya Devan lagi. Lulu gak menjawab, ia hanya menggeleng. "Trus gak mungkin dong lu brenti di jalanan sepi nongkrong di kap karena nungguin seseorang? Di sini banyak begal tau Lu!" celoteh Devan. "Untung gak ada begal yang lewat trus ngerampok elu Lu. Kadang kalau korbannya cantik diperkosa juga lo Lu." karang Devan. Lulu meringis ngeri, "Jangan ngarang deh lu! Kalau begalnya elu mungkin deh tuh lu perkosain korbannya!" Devan mendelik tidak terima. Ia bangkit, mengitari mobil Lulu. Tertawa kecil ketika menemukan sumber masalahnya. " Ban lu gembos?" Lulu melirik sebal," Bawel! Keliatannya gimana?" Devan tertawa lagi, "Siniin kunci mobilnya." Lulu diam tak merespon. "Udah jangan gengsian. Di sini jalanan sepi, gak banyak kendaraan yang lewat. Lu nungguin begal datang dulu? Atau nungguin kolong wewe penunggu pohon itu turun?" iseng Devan sambil menunjuk pohon gede yang gak jauh dari mobil Lulu di parkir. Lulu langsung ketakutan. Ia segera berlari mendekati Devan. "Lu jangan nakutin!" sebal Lulu dan menghujami lengan Devan dengan pukulan. Devan terkikik, ia tahu betul mantannya itu walaupun suka nonton film horor tapi paling parno sama yang gaib-gaib. Lulu segera memberikan kunci mobilnya ke Devan. Devan bergerak cepat, membuka pintu belakang, mengeluarkan ban serap dan kotak yang berisi berbagai macam kunci dan dongkrak. "Duduk di sana dulu Lu." Devan menunjuk trotoar. "Mepet amat ke gw, ntar kena gaplok kunci-kunci lo. Atau lagi kangen ya sama gw?" goda Devan sambil memainkan alisnya. Lulu langsung melotot sebal, " Gw takut dicaplok kolong wewe!" Devan terkikik lagi, "Ya ampun Lu, ini masih sore. Belum magrib!" " Sejak kapan lu bisa nyetir Lu? Perasaan kemaren masih motoran." Devan bertanya tanpa menoleh. Ia sibuk melepas ban. Lulu sebenarnya males meladeni. Tapi karena hari ini si gelo ini udah jadi pangeran tak berkuda nya, terpaksa dijawab juga. "Kemaren kapan? Sok tau lu!" "Ya bukan kemaren juga. Maksud gw beberapa waktu yang lalu. Gw pernah liat lu di lampu merah dekat klinik bersalin. Motor gw di arah berlawanan." "Hmm, udah lumayan lama lah, 3 bulanan." balas Lulu sedikit melunak. "Ngomong-ngomong motor, lu ke sini naik apaan?" Lulu balik bertanya. "Tuuuh..." Devan menunjuk dengan mulutnya. Sebuah motor sport merah terparkir di samping gerobak pop ice di ujung jalan. " Jadi yang lewat barusan itu elu?" tanya Lulu lagi. Devan tersenyum mengangguk. Lulu ikut tersenyum. 'Ternyata lu gak begitu buruk Van.' "Oke, siap!" Devan bangkit, membereskan kunci roda dan dongkrak, dan memasukkan kembali ke dalam mobil. Lulu yang dari tadi nongkrong tak jauh dari Devan tertawa. Ia mengambil kotak tissu dan sebotol air mineral dari pintu mobil. "Nih minum dulu!" Lulu menyerahkan air itu ke tangan Devan. "Sekalian lap muka lu tuh. Cemong." "Bantuin bersihin dong Yang.. Lihat nih tangan gw!" Devan menyodorkan telapak tangannya yang lebih cemong dari mukanya. Lulu menjitak kening Devan, "Yang Yang pala lu peyang!" " Aduh... Lulu maksudnya." koreksi Devan sambil tersenyum manis. Entah kenapa Lulu gak bisa menolak, tersihir senyum Devan. Akhirnya ia bersihkan juga muka Devan yang cemong dengan sedikit menjinjit karena Devan lebih tinggi darinya. Dari jarak sedekat ini, Lulu menelan ludah gugup. Tiba-tiba ia merasa deg-degan. Bagaimanapun Devan pernah mengisi hatinya. Apalagi Devan sedang menatapnya tak berkedip. "Lu gak berubah Lu. Masih cantik walaupun gak dandan." lirih Devan tulus. Gerakan Lulu langsung terhenti. Mukanya memerah, " Lu juga gak berubah Van, tetap.. playboy. Nih, lu lap sendiri!" Lulu langsung menyerahkan setumpuk tissu ke tangan Devan. Ia menjauh, takut detak jantungnya yang berkhianat terdengar Devan. Devan tersenyum melihat muka Lulu yang merona. "Makasih ya Van. Lain waktu gw bakal traktir lu sebagai ungkapan terima kasih gw. Hari ini gw harus pulang cepat karena ada janji sama mama." Lulu bersiap masuk ke mobil. Pintu mobil yang hampir terbuka tertahan. Devan sudah meletakkan tangannya di sana. Lulu menoleh, jaraknya dengan Devan sangat dekat. Kini ia berada dalam kungkungan Devan. Bahkan ia bisa merasakan hembusan napas Devan di kening nya. "Apa ini boleh gw artikan ini sebagai ajakan kencan Lu?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD