10. Juu

1108 Words
Tubuh Iona meringkuk dan merasa sangat malu. Ingin sekali ia mengelupas wajahnya agar tidak ada yang mengenali dirinya saat ini. Tetapi, pria yang menyelamatkan Iona menutup tubuhnya dengan jubah yang dikenakan. Perlahan, pria itu menggendong tubuh Iona dan membawanya pergi lalu masuk ke dalam mobil. Pria itu masih diam, dan tidak mengatakan apapun. Begitu juga dengan Iona yang merasa malu. Beberapa menit lalu, ia sudah mengusir orang itu. Akan tetapi, Haru kembali untuk menyelamatkan Iona. “Terima kasih,” ucap Iona lirih. Haru tidak menjawab, ia mengemudikan mobil itu hingga sampai di sebuah apartemen. Haru memasukkan mobil itu ke dalam pintu masuk yang menuju ke atas. Tepat di lantai ia tinggal, Haru turun dari mobil dan kembali menggendong Iona. Sampai di depan pintu, Haru membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan membawa Iona ke dalam sana. Hingga di dalam kamar, haru merebahkan tubuh Iona dan mengambil handuk juga pakaian santai miliknya sebagai ganti jubah. “Mandilah, dan kenakan ini. Aku ada di dapur jika kau sudah selesai,” ujar Haru memberitahu. Iona hanya mengangguk, dan saat Haru sudah ke luar dari sana. Iona perlahan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara itu, di dapur. Haru sedang membuat soup hangat dan protein untuk Iona. Chef itu sangat cekatan dan pandai dalam memainkan pisau. Satu persatu bahan ia potong dengan sangat rapi, bahkan ukuran potongan itu juga sama rata. Setelah itu, satu persatu bahan yang sudah ia siapkan masuk ke dalam panci yang berisi air kaldu. Sembari menunggu makanan itu selesai, Haru meminum segelas wine untuk menenangkan dirinya. Entah kenapa, pria itu seperti terlihat menyembunyikan sesuatu dalam dirinya. “Apa yang sedang kau buat?” tanya Iona yang baru saja keluar dari kamar. “Makan malam.” “Aku harus kembali ke hotel.” “Tidak masalah, kau bisa tidur di sini, dan esok pagi aku akan mengantarkanmu kembali ke sana.” “Tidak perlu, aku … aku tidak ingin mereka berpikir jika –“ “Jika kau sedang menggodaku?” sahut Haru. “Ya, seperti itu.” “Tenang saja, aku tahu batasan.” “Tuan, kenapa kau sangat baik padaku? Kenapa kau kembali untuk membantu saat aku sudah mengusir dirimu?” tanya Iona. “Aku tidak memerlukan alasan untuk baik pada orang. Sebaiknya kau duduk dan tunggu hingga makanan ini selesai,” ujar Haru. Akhirnya Iona menurut dan duduk di kursi meja makan. Tidak lama kemudian, Haru datang dengan membawa dua porsi soup dan juga makanan pendampingnya. “Ini untukmu, habiskan. Kau memerlukan banyak tenaga,” ujar Haru. “Terima kasih.” Perlahan, Iona menyendok soup itu dan merasakannya. Sangat lezat dan memanjakan lidah Iona. Protein yang dihidangkan Haru juga membuatnya tidak ingin menelan makanan itu dengan cepat. “Chef, ini sangat lezat,” ujar Iona. Haru tidak menjawab. Pria itu masih terus melanjutkan kegiatan mengunyahnya. Sampai satu porsi soup itu habis, dan Haru membawa piring dan mangkuk kotor ke dapur untuk dibersihkan. “Kau bisa tidur di sana, aku ada di ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaan. Jika kau memerlukan sesuatu, aku ada di sana,” pamit Haru. “I-iya.” Baru saja Haru akan melangkah pergi, Iona menahannya dengan pertanyaan,”apa aku bisa menghubungi Kudo dengan telepon di sini? Karena ponsel dan uangku hilang.” “Gunakan saja.” Iona mengangguk dan segera menyelesaikan kegiatan makan itu. Sampai selesai, Iona segera membersihkan meja makan. Pakaian yang dikenakan terlihat sangat besar di tubuh Iona. Bahkan Iona tidak mengenakan celana yang diberikan Haru. Ya, itu karena satu kemeja milik Haru sudah cukup untuk menutup tubuh Iona. Haru terlihat sangat serius di depan computer miliknya, ia bahkan tidak menghiraukan Iona yang sedang menghubungi Kudo menggunakan telepon rumahnya. Meski terkadang suara Iona terdengar keras hingga ia bisa mendengarkan percakapan mereka. Pada akhirnya, Haru keluar dari ruang kerjanya. Ia melihat Iona masih duduk di ruang santai dengan membaca beberapa buku resep milik Haru. Haru berjalan menuju ke dapur untuk mengambil segelas air, lalu meminumnya di sana. “Tuan, apa kau sudah selesai?” tanya Iona dengan polos. “Belum. Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak tidur?” tanya Haru. “Ya, aku ingin tidur … tetapi, bagaimana dengan dirimu?” “Aku bisa tidur di manapun aku mau.” “Baiklah, aku akan masuk ke dalam kamar. Selamat malam, Tuan.” Iona melangkah masuk ke dalam kamar milik Haru. Ia menutup pintu itu dan berbaring di atas ranjang. Iona menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Dan beberapa menit kemudian, ia mulai mengantuk hingga akhirnya terlelap. *** Keesokan harinya, Iona terbangun dengan tubuh yang terasa berat pada bagian perutnya. Saat ia menghadap ke samping, ternyata Haru terlelap tepat di sampingnya. Tentu hal itu membuat Iona terkejut dan mendorong tubuh Haru hingga terjatuh. “Akh! Apa kau gila!” seru Haru. “Tu-tuan! Apa yang kau lakukan?” “Aku sedang tidur.” “Kenapa kau tidur di sini?” “Sudah aku katakan, aku akan tidur di manapun aku mau!” “Apa!” “Kau sungguh membuat pagiku menjadi suram.” Haru berdiri dan melepaskan kaos yang dikenakan. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Iona masih berada di atas ranjang dengan menutup tubuhnya menggunakan selimut. “Astaga! Apa yang terjadi semalam?” gumam Iona. Selesai dengan kegiatan di dalam kamar mandi, Haru melihat Iona masih setia di atas ranjang miliknya. Haru kembali mengacuhkan Iona dan berjalan masuk ke dalam walk in closet. Ia mengenakan pakaian rapi di sana, lalu melihat ada pakaian yang pas di tubuh Iona. “Kenakan ini, sepertinya ini muat untukmu. Cepat mandi, dan kita berangkat ke hotel!” ujar Haru. “Baiklah.” Iona pun akhirnya membersihkan dirinya di dalam kamar mandi milik Haru. Dan selesai dengan cepat karena perawatan tubuhnya ada di hotel. Iona berjalan menghampiri Haru di meja makan. Ia duduk dan menikmati hidangan pagi itu bersama Haru. “Aku akan turun di dekat kedai, jika kau tidak keberatan.” “Baiklah.” Selesai dengan acara makan itu, mereka berangkat ke hotel bersama. Selama perjalanan, tidak ada yang mengeluarkan suara, bahkan audio box di dalam mobil itu juga tidak terdengar mengeluarkan suara. “Maaf karena sudah merepotkan.” “Semua itu tidak gratis,” jawab Haru. “Apa?” “Kau harus membayarnya dengan kemenangan.” “Baiklah!” Wajah Iona terlihat sangat bersemangat dengan ucapan Haru. Tujuan Iona mengikuti pertandingan memasak itu adalah untuk sebuah pengakuan dan juga menunjukkan siapa dia selama ini. karena terlalu sering di remehkan, sehingga Iona merasa semua orang memandang dirinya sebelah mata. “Aku turun di sini. Terima kasih, Tuan.” Iona berjalan menuju ke tempat pertandingan, ia lupa untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sehingga banyak yang bertanya di mana keberadaannya semalam.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD