BAB 03

1168 Words
Esok harinya, Veronica bangun terlebih dahulu. Dia meninggalkan Will yang masih terlelap di balik gulungan selimut. Hari ini adalah hari dimana salah satu dari empat kemungkinan pelaku akan melakukan pernikahan. Sesuai permintaan Will, dia harus bersiap-siap agar tidak terlambat menjadi tamu gereja. Kalau saja bisa memilih, dia lebih ingin membunuh kedua pengantin itu sebelum bisa masuk ke gereja. Akan tetapi jika dia melakukannya saat itu, maka balas dendamnya akan sia-sia. Dia ingin melampiaskan dendam dengan cara perlahan nan menyakitkan. George Greene, teman tertua, orang yang paling dicurigai Veronica sebagai pelaku p*********n. Sayangnya hingga sekarang pun dia tidak tahu buktinya. Tapi, dia tak lagi membutuhkan bukti. Sekarang, dia hanya perlu langsung menghancurkan keempatnya. Dia duduk di kursi dan mempercantik diri di depan cermin meja rias. Gaun putih formal sudah melekat di tubuh indahnya. Ia menyisir rambutnya perlahan, lalu memakai japitan bunga berwarna senada dengan gaun. Will bangun dan langsung bahagia melihat sang kekasih sudah siap. Dia melihat ke jam dinding yang masih menunjuk ke pukul delapan, masih dua jam lagi sebelum janji pernikahan dimulai. “Sayang kau terlalu awal.” Veronica menoleh. “Tidak masalah, aku ingin keluar dan makan.” “Akan kubuatkan sesuatu,” kata Will sembari turun dari ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Tubuh berototnya tampak menggoda. Kesan seksi semakin kentara ketika wajah dan rambutnya tampak masih kusut. Veronica juga paham sangat beruntung mendapatkan Will, yang seksi, yang tampan, yang baik, yang tulus, yang sangat memanjakannya. Namun kebencian yang sudah memupuk sejak kecil tidak bisa dihilangkan hanya karena hal semacam ini. Will mendekat dan berdiri di belakang Veronica. Dia mengalungkan tangan di lehernya. Perasaannya sangat bangga memiliki wanita secantik ini. “Aku sangat mencintaimu.” Veronica malah marah karena tatanan rambutnya kusut sedikit. “Will, lepaskan aku, kau membuat rambutku berantakan lagi.” “Dari kemarin kau sangat sensitif, padahal kau tidak sedang datang bulan, aneh sekali,” goda Will sambil melepaskannya. Dia malah menganggap kalau Veronica sedang ingin sesuatu. Ia mencolek pipi wanita itu, lalu bertanya, “kau ingin sesuatu? Katakan saja.” “Apa kau menganggap setiap aku marah artinya aku ingin sesuatu?” Veronica menepis tangan itu. “Jauhkan tanganmu.” “Aku hanya tanya, Sayang.” “Aku tidak mau apapun.” Bukannya menyerah, Will semakin ingin menggodanya. Dia kembali merendahkan kepalanya sampai bersandar di lekukan bahu kanan wanita itu, menciumi kulit lehernya yang wangi. “Kau segalanya bagiku.” Tangannya menjelajahi perut Veronica, lalu menggoda lagi, “kalau kau sulit sekali kuajak menikah, maka kuharap agar kau mengandung anakku agar kau tidak bisa menolak lamaranku.” Mendengar kata anak membuat emosi Veronica makin tidak terkendali lagi. Dia memang sudah tidak tahan dengan kedekatannya dengan Will. Jika keromantisan ini terus terjadi, ia takut jatuh cinta dan melupakan tujuan utamanya. “Tidak ... sudi,” katanya dengan kasar, lalu menyingkirkan tangan Will. Dia berdiri dan menjauh dari tangan jahil pria ini. “Sudah kubilang jangan menyentuhku, kenapa kau ini sangat menyebalkan!” Dahi Will mengerut, dia tidak tahu kesalahannya apa. Dalam seminggu belakangan, dia merasa Veronica cenderung sangat sensitif dan mudah marah. “Ada apa denganmu? Apa kau ada masalah?” “Iya, aku punya masalah.” Veronica muak dengan wajah Will. Dia menahan diri selama dua bulan dan sepertinya tidak sanggup lagi. “Dan masalahnya adalah dirimu.” “Kenapa denganku?” “Kau pembunuh, dan aku tidak kuat lagi disentuh oleh tangan pembunuh.” Mata Veronica berkilatan penuh amarah, dia tidak bisa membedakan mana kekasih atau musuh sekarang. Rasa suka ataupun benci teraduk-aduk dalam benaknya. Will tersentak kaget. “Pembunuh? Kau ini bicara apa? Sayang, apa kau mabuk?” Dia tidak yakin karena tak mencium adanya alkohol. "Kenapa bicaramu melantur begini?" “Kau ingat kejadian lima belas tahun silam? Wanita penjaga toko roti? Dia meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan ... hingga sekarang pun kasusnya ditutup tidak jelas.” Wajah Will menegang, kaget karena Veronica mengetahui hal tersebut. “Dari mana kau dapatkan informasi itu?” Veronica terus membeberkan faktanya, “kasihan sekali, wanita itu bukan dari golongan orang kaya, jadi ketika tewas dan ternyata tersangkanya adalah golongan orang kaya ... maka semua bisa diatur berkat adanya uang.” “Sayang, kurasa kau salah paham,” kata Will yang mengira kalau seseorang sedang mengelabui Veronica untuk membencinya. “Siapapun yang mengatakan itu padamu, mungkin tak ingin kita bersama, aku bisa menjelaskan masalah itu, itu sudah lama dan lagipula namaku sudah bersih, namaku tidak pernah tercantum sebagai narapidana, kau jangan khawatir, aku bukan pembunuh, aku tidak bersalah.” “Tidak bersalah!” Otot pelipis Veronica mengencang, pertanda marah bukan main. Tadinya dia mengira orang sebaik Will akan langsung menangis dan mengakui perbuatannya. Namun sekarang dia tidak percaya mendengarkan Will yang berkata begitu. “Tidak bersalah kau bilang? Kau ada di lokasi kejadian! Saksi pun ada, dan kau menolak mengakuinya? Kau kira aku tidak tahu? Aku sudah mendengar langsung dari para saksi, kalian berempat, kau dan teman-teman dekatmu itu, kalian pembunuh dan pemerkosa.” Suara keras dan kasar Veronica menyakiti hati Will. Pria ini berusaha mendekat dan menjelaskan semua, tapi Veronica tetap menghindarinya. “Veronica, semua itu salah, itu tidak benar, percayalah padaku, aku bukan orang jahat. Jika memang karena masa laluku yang membuatmu berubah, biar kujelaskan sebentar, aku bukan pembunuh atau pemerkosa.” “DIAM!” bentak Veronica dengan suara yang sampai menggelegar di seisi kamar. Dia muak melihat wajah Will yang nyatanya belum juga menunjukkan penyesalan. “Aku benar-benar bodoh karena membiarkan diriku ditiduri pria sepertimu.” “Sayang, kau salah paham." “Kau pikir aku berubah menjadi begini karena tahu kau pembunuh? Kau salah, Will, dari awal aku tidak menyukaimu sama sekali, dan jika kau pikir aku hanya menyukai uangmu saja, itu pun juga salah.” Veronica tertawa miris, penyesalan akhirnya dia rasakan. Seharusnya dia tidak perlu menjadi kekasih Will untuk mendapatkan informasi pembunuhan itu. Pada akhirnya dia juga tidak tahu kebenarannya, dan sekarang niatnya untuk menghancurkan keempatnya sudah bulat. “Apa maksudmu?” “Aku adalah anak dari wanita itu, wanita yang kau bunuh dan perkosa bersama teman-temanmu.” Mata Will melotot, rasa terkejutnya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Mukutnya terkatup rapat, tidak ada kalimat yang bisa mewakili isi hatinya saat ini. Dari awal dia sudah tahu kalau Veronica mungkin tidak mencintainya, tapi ternyata juga tidak mencintai uangnya. Dari awal wanita ini hanya berniat mendekat agar bisa mendapatkan informasi. Tak heran tato di tubuhnya selalu disentuh. Veronica kembali berkata, “bayangkan bagaimana perasaanku ... saat ditiduri oleh pria yang sudah memperkosa ibuku. Kau pikir semua ucapan manis dan cintaku itu tulus? Walaupun dalam keadaan sedang b******a pun aku membencimu, William Pearson.” Air mata Veronica berjatuhan membasahi pipi. Dia sudah cukup mengeluarkan isi hatinya, dan sekarang waktunya untuk menghancurkan mereka semua. “Kenapa kau diam saja? Kau tidak ingin membunuhku? Kau harusnya membunuhku, Will, aku mungkin akan membuka kasus kalian lagi jika menemukan bukti,” tukasnya dengan sorot mata menantang. “Aku musuhmu sekarang.” “Aku mencintaimu, ayo kita bicara baik-baik dahulu,” pinta Will berusaha menenangkan emosi Veronica. “Kita tidak bisa lagi bicara baik-baik.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD