Pagi ini, Nirmala masuk ke dalam kelas barunya yang dibenci oleh banyak orang. Orang tuanya pun memarahinya, karena hal ini. Selama libur kemarin ia setiap hari dimarahi oleh kedua orang tuanya.
Nirmala harua berjalan sangat jauh dari gerbang depan sekolahnya menuju ke kelas barunya yang berada di belakang sekolah dekat dengan gudang.
Secara formal kelas itu disebut sebagai 2-E, yang sangat menakutkan. Setiap siswa yang ada di SMA Nusantara sangat menghindari kelas E di sekolah mereka.
Betapa terkejutnya Nirmala saat melihat ke dalam kelas barunya. Tidak hanya belum ada yang datang, tapi juga dengan suasana kelas yang sangat suram, dengan perlengkapan yang sudah usang.
Nirmala pun segera mencari kursinya dan mulai duduk di sana. Kursinya berada di nomor dua dari depan di ujung kiri kelas.
Melihat ruang kelasnya yang baru, Nirmala merasakan nuansa yang asing. Ia tidak bisa duduk dengan tenang di kursinya.
Dari jam enam tiga puluh hingga jam enam lima puluh lima, teman sekelas barunya belum ada yang datang.
Saat bel sekolah mulai berdenting, barulah Nirmala mendengar banyak langkah kaki yang berlari menuju kelasnya.
. . .
Semua penghuni lama kelas 2-E terkejut saat melihat ada seseorang, biasanya mereka akan bersama-sama hampir terlambat.
Arvin yang berjalan santai di deretan belakang, mengernyit saat melihat teman-temannya hanya bengong di depan pintu kelas.
“Apa yang kalian lihat, cepat masuk!” ucap Arvin menepuk belakang kepala salah seorang temannya dari belakang.
“Ada hantu!” bisik Steven – orang yang Arvin pukul kepalanya – menunjukkan bahwa lengannya merinding.
“t***l!” timpal Arvin mengabaikan Steven.
Tanpa memperdulikan adanya sebuah sosok baru di kelasnya, Arvin menuju tempat duduknya dan melemparkan tas yang dibawanya, lalu menidurkan kepalanya di atas tas tersebut.
Melihat Arvin yang tidak keberatan, teman-temannya yang lain pun mengikuti jejak Arvin dan segera duduk di bangku mereka masing-masing.
Saat melihat ada orang yang memasuki kelas, Nirmala seperti tidak asing dengan sosok yang masuk pertama ke dalam kelas.
“Sepertinya aku pernah melihat orang itu,” batin Nirmala memikirkan di mana ia melihat pemuda itu.
Kelas pun mulai ramai, tanpa terasa perlahan semua bangku yang ada di kelas ini telah terisi dengan yang punya.
Karena murid yang tidak terlalu banyak, mereka duduk sendiri-sendiri, tanpa ada teman sebangku seperti kelas yang lain.
Nirmala pun merasakan banyak mata yang meliriknya diam-diam. Tanpa memperdulikan tatapan itu, Nirmala hanya fokus di tempat duduknya dan menunggu guru masuk ke dalam kelas mereka.
Bel sekolah telah lama berlalu, namun tak kunjung guru datang untuk mengajar mereka. Nirmala bingung dibuatnya.
Untuk memastikan, Nirmala menoleh ke belakang kursinya untuk bertanya, “Bolehkah aku bertanya?” ucap Nirmala kepada seorang gadis yang sibuk dengan ponselnya.
Tanpa menoleh kepada Nirmala gadis itu menjawab, “Hmmm... Apa?”
“Kenapa belum ada guru yang masuk kemari?” tanya Nirmala.
Sejenak suasana kelas hening setelah Nirmala mengucapkan pertanyaannya. Lalu, sedetik kemudian semua murid yang ada di sana tertawa.
“Mengharapkan apa dari kelas buangan ini, cantik!” jawab gadis yang di tanyai oleh Nirmala.
“Bu Ketos, jangan samakan kelas ini dengan kelasmu yang dulu,” ucap Arvin dengan nada mengejeknya yang menyebalkan.
Lalu, Bryan pun menimpali, “Kau harus terbiasa dengan tidak adanya guru di sini.”
Nirmala yang mendengar jawaban mereka mengerutkan kening bingung, “Kenapa begitu?”
“Tak ada yang tahan mengajar di sini,” bisik gadis di belakang Nirmala. “Panggil saja aku, Lea,” lanjut gadis itu saat melihat wajah Nirmala yang kebingungan mau memanggilnya bagimana.
“Nirmala,” balas Nirmala memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya dengan senyum yang tersemat dibibir ranum gadis itu.
Lea pun menjabat uluran tangan Nirmala dan berkata, “Semua orang telah tau siapa kau.”
Menghempaskan uluran tangan Nirmala, Lea kembali dengan aktifitasnya bermain ponsel. Nirmala yang teracuhkan pun hanya menerima perlakuan itu dan kembali ke posisi awalnya – menghadap ke depan –
. . .
Jam pelajaran pertama mereka habiskan dengan bermain-main. Tak ada satupun guru yang masuk dan mengajar mereka.
Sebelum bel istirahat berbunyi, sudah banyak murid yang pergi meninggalkan kelas, Nirmala keluar dari kelas yang bising itu, ketika bel telah berbunyi.
Nirmala melangkahkan kakinya menuju ruang guru, ia ingin berbicara dengan wali kelasnya dahulu, ia ingin pindah dari kelas terkutuk itu, Nirmala ingin menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi.
Sesampainya di depan ruang guru, Nirmala menguatkan hatinya, perlahan mengetuk pintu dengan pelan.
Saat dipersilakan untuk masuk, barulah Nirmala memasuki ruangan itu. Tanpa menghabiskan waktunya, Nirmala segera melangkah menuju mantan wali kelasnya.
“Nirmala, ada apa?” ucap Bu Lena.
“Ibu, tidak bisakah aku pindah kelas. Aku benar-benar telah mengerjakan ujian itu!” ucap Nirmala langsung tanpa basa-basi.
“Kau tau bagaimana peraturan sekolah ini. Itu mustahil, kau harus memperbaiki nilaimu semester ini untuk pindah kelas,” jawab Bu Lena tanpa ampun pada Nirmala.
“Tapi, Bu. Aku tidak bisa belajar dengan baik jika ada di kelas itu,” mohon Nirmala dengan memelas.
“Setidaknya, kau masih menjadi Ketua Osis di sini,” balas Bu Lena tidak mengindahkan permintaan Nirmala.
Saat Nirmala terus memohon pada Bu Lena. Terlihat reaksi Bu Lena berubah, dari yang acuh menjadi tegang dengan memandang sesuatu yang berada di belakang punggung Nirmala.
Karena, penasaran Nirmala pun menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan sosok kepala sekolahnya di sana.
Dengan cepat Nirmala menundukkan kepalanya, asal kalian tau saja, kepala sekolah SMA Nusantara sangat menakutkan, apalagi tatapan tajamnya yang mematikan itu.
“Kau, ikuti aku.” Kepala Sekolah menunjuk Nirmala dan menyuruh gadis itu untuk mengikutinya.
Nirmala pun dengan gugup memandang Bu Lena takut. Bu Lena membuat gestur yang menyuruh Nirmala untuk segera mengikuti Kepala Sekolah.
Mau tidak mau, Nirmala dengan pasrah mengikuti Kepala Sekolah dari belakang, yang ternyata menuju ruangannya.
Detak jantung Nirmala pun berdetak tidak seperti biasanya, dengan gugup ia dapat merasakan begitu cepat detakan jantungnya.
Nirmala takut ia akan dikeluarkan dari Osis dan lebih parahnya dikeluarkan dari sekolah ini.
. . .
Nirmala pun saat ini telah berada di ruangan Kepala sekolah, yang saat ini ia berhadapan dengan beliau.
“Kau ingin keluar dari kelas itu kan?” tanya Kepala Sekolah dengan tatapan tajamnya.
Nirmala pun menggangguk, “Iya, Pak.”
“Aku mempunyai tawaran untukmu!” ucap sang Kepala Sekolah.
“Tawaran untukku?” Nirmala bertanya dengan bingung.
“Jika kau bisa membuat anak-anak di kelas 2-E menurut dan menaikkan nilai mereka, maka kau akan ku pindahkan ke kelas lamamu dan membersihkan namamu.” Kepala sekolah menyenderkan punggungnya sambil menunggu jawaban dari Nirmala.
Nirmala pun memikirkan tawaran yang diajukan oleh Kepala Sekolahnya itu, baginya tawaran ini sangat menguntungkan, tapi bagaimana caranya untuk membuat kelas 2-E maju?