BAB 20

1032 Words
Beberapa rekan Callista pun berdatangan, mulai dari Ajeng, Agita, Anggara, dan Dylan, diakhiri dengan Mahesa yang selalu datang terakhir. “Pagi hari sepertinya banyak orang yang sibuk hari ini,” kata Mahesa. Setelah beberapa saat Mahesa kehilangan bentuk dan bahkan merasa sedih untuk waktu yang lama karena kesedihan ditinggalkan oleh Bara selamanya, Mahesa yang bahagia akhirnya kembali. Timnya bersatu kembali untuk tujuan masing-masing setelah beberapa kali absen dari Callista dan Mahesa. "Selamat pagi, Mahesa," jawab Agita. Mahesa menatap Agita, bukannya menjawab, dia hanya tersenyum dan duduk di kursi kantornya. Terkadang Mahesa menatap Callista saat dia sedang mengerjakan pekerjaannya. "Mahasa?" Panggil Callista. "Benar?" "Jika Anda bisa berkonsentrasi, fokuslah pada pekerjaan Anda. Anda masih berhutang laporan penjualan bulan ini. Karena saya harus memberikannya kepada Bu Ayu.” "Baiklah, Bu. Saya akan segera melakukannya." Tim 2 kembali tenang. Tiba-tiba seseorang dari Tim 1 datang dan menggedor jendela sampai semua orang di ruangan itu saling memandang. "Bukankah itu Nona Stella?" kata Angara. Ajeng pun melambai pada Stella sebagai tanda bahwa wanita itu boleh masuk ke dalam. Bahkan, setelah Stella mendapat sinyal dari Ajeng, Stella masuk ke dalam. "Halo, Bu Callista. Maaf aku mengganggumu. Saya baru saja datang dari kamar Pak Mahawira dan dia meminta saya untuk mengundang Bu Callista ke kamarnya untuk bertemu dengannya, ”kata Stella kepada Callsita. Sontak semua orang memandangnya, terutama Agita, yang sepertinya mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama. "Oh ya terima kasih. Maaf mengganggu, saya mau ke kamar Pak Mahawira sekarang.” Setelah Stella menyampaikan pesan, dia bersiap untuk kembali ke kantornya. Tapi pertama-tama dia memandang Dylan dan berjalan keluar. Seolah-olah Ajeng memperhatikan hal ini, dia pun bertanya pada Dylan. "Pak Dylan berselingkuh dengan Bu Stella?" tanya Ajeng. Mata Dilan terbelalak seketika. "Tidak. Tidak ada,” jawab Dylan dan kembali bekerja. "MS. Stella tidak mungkin memiliki hubungan khusus dengan Pak Dylan. Ibu Stella sudah menikah dan punya anak,” kata Agita. Mahesa melirik Callista yang terlihat sangat sibuk dengan ponselnya. "Nona Callista tidak datang ke kamar Pak Mahawira?" tanya Mahesa. "Oh, aku mau. Aku balas pesan dulu," kata Callista sambil mengetik beberapa kata di ponselnya. Callista justru membalas SMS dari Yunita yang mengajaknya makan malam dan menginap bersama di Puncak, Bogor. Berdasarkan percakapannya dengan Yunita di pesan teks terakhir, Callista ingat meminta cuti. Jadi Callista mencetak izin liburan yang telah dikeluarkannya untuk diserahkan langsung ke Mahawira. Sepertinya hanya Callista yang bisa dengan mudah menabrak Mahawira. Selain itu, perusahaan Rasendriya Group bukanlah perusahaan kecil. Sebagai perusahaan besar, Callista dengan mudah bertemu dan berbincang dengan Mahawira, yang juga bos dan mantan suaminya. Seperti sebelumnya, Callista meninggalkan ruangan dengan map putih berisi izin liburan, yang akan ia serahkan secara pribadi kepada majikannya. Callista meninggalkan lantai tempat dia bekerja menuju lift setelah menerima telepon langsung dari Stella di Mahawira. Sesampainya di kamar Mahawira, Callista langsung masuk setelah mengetuk pintu. Saat berkunjung ke kamar Mahawira, Callista membayangkan seperti apa bekas tempat kerja Mahawira. Callista teringat cerita Mahawira bahwa Ayu seharusnya duduk di kepala kamarnya. Namun kini Ayu sudah memiliki kamar sendiri, meski berada di lantai yang sama. Mungkin karena itulah Callista beruntung tidak ada yang mengenalinya sebagai mantan istri Mahawira. "Maaf, Pak," kata Callista. Mata Callista tertuju pada Tanisha yang sepertinya lebih dulu berada di kamar Mahawira. "Kalista!" Tanisha segera menghampiri Callista dan memeluknya erat. terima! Tiba-tiba, Tanisha memeluk Callista dan mengusap punggungnya. "Ibu?" Callista bergumam. "Selamat ulang tahun sayang. Aku lupa ini hari ulang tahunmu. Hadiah apa yang kamu inginkan? Saku? Mobil? Sepatu? Atau apa? Mata Callista terbelalak mendengar hadiah Tanisha. “Tidak perlu, Bu. Kata-kata dan doamu sudah lebih dari cukup.” Tanisha marah dan kesal. “Saya bersedia datang ke sini karena saya ingin memberi Anda hadiah. Anda harus pergi berbelanja dengan saya, ”kata Mahawira, mata terkunci pada koran di tangan. di atas meja. "Ide bagus! Bagaimana kalau kita belanja hari ini?" "Tapi Ma, aku haru kerja." "Kamu lupa diajak belanja oleh siapa? Bukan sama karyawan, tapi sama pemilik perusahaan ini. Mama bisa memberikan izin kepada kamu." Memang benar, setelah Bara meninggal, status kepemilikan Rasendriya Group pun berpindah pada Tanisha. Hal itu Bara lakukan dalam bentuk wasiat karena ingin kedua anaknya keturunan dan bekerja sedikit lebih lama untuk mengeal perusahaan dengan baik. "tapi-" "Pergi saja. Aku akan memberikan cuti," potong Mahawira cepat. "Sebenarnya aku mau mengajukan cuti juga. Apa boleh?" Mahawira menoleh ke arah Callista. "Dalamrangka?" Tanya Mahawira. Callista pun melangkah mendekati Mahawira dan memberikan suratnya. Segera pria itu membukanya dan membaca isi dari surat izin cuti yang diberikan oleh Callista kepadanya. "Oh acara keluarga. Baiklah aku terima." Callista mengambilkan matanya. Semudah itu mendapatkan izin? Padahal izin liburan keluarga sewaktu di Pandawa Group, sangat sulit didapat. Anggara sampai memberikan perhitungan apakah dengan cuti perusahaan bisa untung atau tidak kepadanya. "Mahawira sudah memberi izin. Ayo kita pergi sekarang saja, Nak. Jika terlalu sakit, kamu harus bertemu anakmu kan?" "Ah i-iya," balas Callista. Akhirnya Callista pun mengambil cuti hari ini seperti yang diminta oleh Tanisha dan Mahawira. Callista segera kembali ke tempat kerjanya, merapikan meja serta barang bawaannya. "Bu Callista mau kemana?" tanya agita saat melihat callista yang tampak seperti barang bawaanya. Tak hanya Agita saja, Ajeng dan yang lain juga menunggu jawaban Callista. "Saya cuti setengah hari, hari ini. Besok saya masuk seperti biasa." "Ibu sakit?" Tanya Ajeng. "Tidak. Saya ada urusan. Saya pergi dulu ya." Callista segera pergi setelah berpamitan. Agita pun tampak bertanya pada rekan kerjanya tapi semuanya tak tahu kemana Callista pergi. Sedangkan Mahesa hanya tersenyum karena ia menjadi satu satunya pria yang tahu kemana Callista akan pergi. * * * * * Di sisi lain, Agita tampak mengetik sesuatu melalui komputer yang digunakan di laman diskusi karyawan perusahaan. Wanita itu tampak mengeik beberapa kata yang memuat tentang Callista. Lebih tepatnya menyebarkan sesuatu tentang Callista dan juga Mahawira. "Kedekatan mereka terasa sangat biasa. Apakah tidak ada yang mendekati kedekatan Bu Callista dan Pak Mahawira? Apa yang lebih baik dari akhir akhir ini Bu Callista sering kali keluar dan masuk dari ruangan itu," gumam Agita di dalam hati saat mengetik kalimat itu di laman diskusi tersebut. Setelah ucapan dalam hati tercurahkan, Agita pun mengirimkannya sebagai anonim dan tersenyum penuh kemenangan. "Seharusnya aku yang menjadi ketua tim. jangan main main denganku," ujar Agita dalam kemudian meminum segelas teh yang sudah ada di sampingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD