Bab 10

4992 Words
“Aron! Cukup!” teriak Alvaro dan berusaha memegang kedua tangan Aron yang kini menghancurkan seluruh isi rumahnya, Pecahan kaca dimana-mana, lebih tepatnya rumahnya kini seperti kapal pecah. Perbuatan Aron berhasil membuat semuanya hancur. “ARON!” kali ini Alvaro berteriak lebih kencang, namun tidak ada yang bisa menghentikan vampir yang sedang emosi itu, bagaimana tidak, Helena perempuan yang ia cintai mati karena ia bunuh sendiri, lalu mayatnya hilang diambil orang lain di hutan. Aron penuh kekesalan, amarah, kecewa, semua berkecamuk dalam hatinya, dia tak mampu lagi menahan amarah, semua hancur. Kebur. Rusak seperti tubuhnya yang bukan lagi manusia. Aron menatap Alvaro bengis, kalau saja dia dibiarkan mati oleh Alvaro dia tidak akan menjadi vampir seperti ini yang membunuh orang yang dia sayangi. Kalau saja dia dibiarkan mati, mungkin dia akan menjadi manusia yang hidup di akhirat menatap Helena yang masih bisa tersenyum. Aron marah dan mendorong Alvaro, hingga punggung Alvaro menatap ke dinding. “INI SEMUA KARENAMU!” teriak Aron, lalu meninju tembok disamping kepala Alvaro. Aron membanting vas bunga di meja lalu keluar dari rumah Alvaro, berlari menuju hutan tempat Helena hilang. Hening. Gelap dan sepi, sinar rembulan terhalang oleh daun yang tinggi, dia bahkan tidak sama sekali merasa ketakutan, dia adalah monster, yang jauh lebih menakutkan dari makhluk halus. Aron melewati beberapa pohon besar menjulang, menuju bunyi deras air terjun. Dia duduk di tepi air terjun itu. Perlahan dia mendengarkan senandung seorang wanita, dia mencari sumber suara itu, berharap wanita itu adalah Helena yang hidup. Namun itu hanyalah khayalan Aron, Helena tidak mungkin hidup kembali, darahnya telah habis terisap olehnya. Dia melihat sesuatu yang berkilau dibawah air terjun, tak lama, keluar seorang wanita separuh badannya bersirip, seperti ikan. Berulang kali Aron mengerjapkan matanya, memandang sesuatu yang mustahil baginya. Dia mencoba mendekat ke tengah air terjun. Dinginnya air malam hari tidak mengusik Aron sama sekali, vampir rupanya tidak merasa takut dengan apapun, bahkan bagi Aron jika saja maut memanggilnya, dia dengan senang hati menyerahkan segenap jiwanya kepada ajal. "Kau?" Aron mencoba bersuara saat dia melihat punggung wanita. Aline segera berbalik, begitu matanya menatap Aron, dia kembali kedalam air, bersembunyi di balik derasnya air terjun. "Pergi!" teriak Aline. Seharusnya di air terjun ini, tidak ada siapapun manusia yang bisa masuk, ini adalah dimensi yang hanya bisa ditembus oleh putri duyung sepertinya. "Kau siapa?" Aron kembali bertanya saat masih bisa melihat Aline dibalik derasnya air terjun. Aline terdiam sejenak berpikir, air terjun ini adalah air titisan dewa duyung untuk bisa mengubah duyung separuh manusia sepertinya kembali memiliki sirip, hanya di air suci inilah kakinya bisa berubah menjadi sirip ikan. Aline mengumpulkan segala keberaniannya dan menuju ke arah Aron, dia memunculkan dirinya. Aron menatapnya takjub, kulit Aline yang bersinar dibawah sinar rembulan dan siripnya yang tiba-tiba berubah menjadi kaki, lalu pakaiannya yang khas sekali pakaian duyung. Biru dengan hijau laut. Hanya satu kata yang menggambarkan penglihatan Aron saat ini, cantik. Aron mencoba berjalan mendekat kepada Aline, namun selangkah Aron maju, selangkah Aline mundur. Aron kini tau Aline ketakutan melihatnya. "Tunggu, aku hanya ingin tau, kau siapa?" Aron mengeluarkan suara memberanikan dirinya, sedangkan Aline masih terdiam tak mau menjawab. Dia masih heran bagaimana bisa Aron ke dimensi air terjun ini, sedangkan hanya titisan duyung yang bisa masuk. "Apa kau tersesat?" Aron mencoba mengeluarkan suara lagi. Tak ada jawaban dari Aline, dia masih terdiam. "Aku terus menyusuri hutan, lalu aku mendengarkab bunyi air terjun, dan aku mendengarkan senandungmu, apa kau? Mungkin? Makhluk Halus?" Aron mencoba sopan kepada perempuan cantik di hadapannya. 1 2 3 4 5 6 7.. Aline mencoba menghitung dalam pikirannya, memberanikan diri, kekuatan magis duyungnya tidak akan ada gunanya di dunia manusia seperti ini. "Bagaimana kau bisa disini?" Aline akhirnya bersuara, pasrah kepada kemungkinan yang mungkin terjadi. Jika saja nyawa Aline berbahaya, ayahnya dewa duyung pasti akan mengirim kekuatan untuknya. "Aku? Bukannya aku sudah bilang, aku tersesat disini, kau sendiri? Kenapa malam begini mandi?" Aron bertanya kepada Aline polos, memang Aline terlihat seperti 'mandi' bagi Aron. Tapi bagi duyung seperti Aline, mandi di bawah sinar rembulan adalah mengembalikan kekuatan tanpa harus memakan makanan manusia. "Aku mengembalikan kekuatan," ucap Aline. Aron menyerngitkan dahinya tidak memahami maksud Aline, dia bahkan masih menerka-nerka, apa maksud Aline dengan mengembalikan kekuatan. "Apa kau seekor duyung?" tanya Aron Aline seketika berubah wajahnya menjadi marah, saat Aron mengatakan Aline adalah 'seekor' duyung. Aline mengambil bebatuan dan melemparkannya ke Aron, namun dengan cepat Aron menerima lemparannya lalu meremukkannya dalam sekali genggaman. Tindakan Aron membuat Aline bergetar, ia baru menyadari Aron bukanlah manusia. "Kau siapa?" tanya Aline lalu mundur, dia sudah menggenggam gelang putri duyungnya, bersiap untuk melepas gelangnya untuk memanggil pasukan duyung. Gelang itu adalah pertanda bahaya, andai saja terlepas dari tangan Aline, pasukan duyung akam datang melindungi Sang Putri. "Namaku? Aron." "Bukan, lebih tepatnya, kau ini apa?" tanya Aline. "Aku?" Aron berpikir sejenak bingung ingin menjawab apa, kalau saja ia adalah Vampir apakah perempuan di depannya akan lari? "Ya, kamu, kamu apa? Tidak mungkin manusia bisa meremukkan batu dalam satu genggaman." "Vampir. Aku Vampir." jawab Aron Aline seketika bergetar ketakutan, dalam sejarah duyung, ada ras REID, duyung yang hanya meminum darah pada manusia dan duyung lainnya, namun semua hanya mempercayai bahwa itu hanyalah sejarah. Konon sejarah itu yang paling ditakuti oleh duyung. "Apa kau bangsa Reid?" tanya Aline langsung, rasanya tidak mungkin ada bangsa Reid hadi di depannya. "Reid? Apa itu?" Aron bingung dan memiringkan kepalanya, dia sama sekali tidak mengetahui maksud Aline. "Reid, bangsa duyung pemakan manusia." Aron makin tidak mengerti, dia menyerngitkan dahinya kembali "Ada duyung seperti itu?" tanya Aron tak memahami "Ada, sebangsa dengan para Kraken." "Tapi aku tidak tau maksudmu, dan lagi, aku bukan duyung," Aline memberanikan diri mendekat, membuka baju Aron dengan cepat, Aron malah berpikir yang tidak-tidak saat Aline dengan agresif membuka baju Aron. "Ah, ya kau bukan duyung." Aline menutup kembali tiga kancing kemeja Aron yang terbuka, duyung sudah pasti memiliki tanda kelahiran seperti dirinya. "Memang, aku kan sudah bilang." Aron menatap lekat Aline, dia menatapnya lama. "Aline, kau Aline kan?" tanya Aron Aline membelalakkan matanya, terkejut Aron mengetahui namanya "Darimana kau tau?" tanya Aline bingung. "Bukannya kau seorang mahasiwa? Akuntansi kelas siang kan? Dan kau juga atlet renang," ucap Aron Aline memperhatikan wajah Aron, Aline telah hidup ratusan lamanya, wajar saja jika dia tidak mudah mengenal wajah. *** "Ah iya benar, aku memang mahasiswa," ucap Aline membenarkan. Rasanya agak canggung berbicara dengan Aron, karena dia juga sesama mahasiswa. Aline memang mahasiswa abadi disana. "Oh, aku Aron, disini lumayan dingin, aku akan naik ke pinggir." Aron lalu berjalan ke pinggir air terjun, Aline sedikt tersenyum simpul, kalau Aron Vampir, kenapa merasa dingin? "Kenapa tersenyum?" Aron menatap bingung Aline. "Katamu kau vampir?" "Kau percaya?" Aron melepas jaketnya dan memerasnya karena basah. "Nenek buyut kami, vampir." Aron tertawa keras mendengar ucapan Aline yang tak masuk akal. Vampir menjadi duyung? "Coba ceritakan, aku mau dengar." "Kau tau kraken? Salah satu dari kraken jatuh cinta kepada manusia. Begitulah singkatnya." "Lalu?" "Anak pertama mereka adalah manusia, cantik seperti ibunya, namun sayangnya anak keduanya memiliki rupa yang buruk, namun hati yang baik. Karena itu, dia dipercaya menjaga lautan, dan dia menjadi duyung seutuhnya." Aron mengangguk mengerti. "Kau tau tidak? Vampir sepertimu akan lebih kuat jika meminum darah manusia." "Iya, benar. Aku merasa kekuatanku bertambah setiap hari ketika meminum darah manusia. Dan aku ternyata memiliki kemampuan khusus. Tubuhku rasanya seperti lebih kuat dari sebelumnya dan bisa mengeluarkan kekuatan menakjubkan." Kalau saja memang ada sejarah seperti itu, Aron lebih memilih tak peduli lagi, yang dia pikirkan adalah bagaimana menemukan mayat Helena. Siapa yang mengambilnya. Bukan hal yang mudah bagi Aron untuk menemukan mayat Helena, jejaknya tidak ada satupun yang tersisa. Anehnya tidak ada jejak kaki di hutan ini. Aron telah mengelilingi seluruh penjuru hutan, yang ia temukan malah putri duyung cantik yang sedang asik mandi. Tubuhnya sangat membentuk dan sangat menggoda, tapi Aron tidak teralihkan dengan kecantikannya yang hampir mirip dengan girlband korea blackpink yang akhir-akhir ini sedang booming. Aron memijat pelipisnya, dia sudah tidak sanggup lagi mencari Helena. Bukan karena lelah, tapi tak tau kemana lagi dia harus mencari, kemana lagi dia bisa menemukan sahabat plus gebetannya yang menghilang? Apa dia harus kembali ke markas Alvaro? Tapi rasanya sesak disana dan menjijikan. Dia harus melihat berbagai hewan mati yang di awetkan dalam tabung. Seandainya saja Helena tidak dia ajak membeli handphone baru, dia tidak akan kebingungan seperti saat ini harus mencari Helena. Aline melihat Aron sangat iba, dia kebingungan dan frustasi. Wajahnya terlihat murung. "Apa sebaiknya kau istirahat dulu? Kelihatannya kau sangat lelah." Aline mengambil tissue dan mengusap keringat Aron "Apa kau tau Lin? Helena itu sangat berarti di hidupku. Dia sahabatku sejak SMA. Parahnya lagi, Akulah yang membunuhnya!" teriak Aron frustasi. Aline sangat tahu Aron begitu terpukul karena Helena. Dia sangat kebingungan dan marah pada dirinya sendiri. "Iya, aku sangat tahu. Tapi bagaimana kalau kita lebih baik mencari tempat tinggal dahulu? Ada baiknya kamu beristirahat dengan tenang dan mencari Helena perlahan. Aku akan menggunakan instingku untuk mencari keberadaan Helena. Bawa aku ke tempat kau meletakkan dia." Aron menggendong Aline dan tersenyum simpul. "Sudah siap? Aku akan berjalan cepat dan bisa saja kau akan pusing." Aron meraih tangan Aline menggenggamnya erat. Aline yang baru saja mengenal Aron merasa sangat spesial karena diperlakukan sangat lembut seperti ini. Meski seorang vampir Aline mampu merasakan Aron aura yang positif, dia bahkan tidak takut digigit oleh Aron. Aline malah merasa sangat nyaman dan ingin mengenal Aron. Bahkan wajahnya yang kini sangat dekat dengan Aron, dia merasa Dejavu, mirip dengan seseorang. Aline memperhatikannya sangat lekat, wajahnya seperti mirip dengan seseorang. Seperti wajah seseorang yang dulu dia puja. Kara. Dia mengerjapkan matanya menatap Aron, benar. Wajahnya sangat mirip dengan Kara, hanya saja rambutnya yang agak berbeda. "Kara?" ucap Aline lirih. Namun rupanya Aron tak mendengarnya dan terus fokus berjalan. Kara, nama itu yang dulu menghiasi hidup Aline, bahkan dia datang ke pernikahannya. Dia juga melihat anaknya tumbuh. Sampai suatu saat Aline memutuskan untuk berhenti mengikuti keluarga Kara. Dia harus bisa mandiri dan move on dari Kara, karena Kara bukan ditakdirkan untuknya. Selama 86 tahun, Aline akhirnya menemukan sosok yang sama seperti Kara, tapi apakah memang ini yang ia inginkan? Bersama dengan orang yang sama dengan Kara? Atau hanya sebuah ambisi belaka karena tidak mendapatkan Kara yang sebenarnya. "Disini." Aron melepaskan gendongan Aline dengan lembut. Dia masih ingat menaruh Helena ke tempat ini. Saat tubuh Helena kaku dan pucat darahnya terserap habis oleh Aron. "Biar aku yang menerawangnya." Aline berjongkok, memejamkan mata, mengeluarkan energinya. Dia memegang tanah itu dan dia mencari selubung jiwa menemukan sosok Helena dalam penglihatannya. Lama, hampir lima belas menit Aline tetap pada posisinya, sedangkan Aron masih menunggu di belakangnya, dia melindungi Aline jika saja terjadi sesuatu. Kekuatan Aline lama tidak ia gunakan, tetapi dia masih bisa melatihnya. "Rambut dia hitam panjang bergelombang?" tanya Aline. Dia telah menemukan hasil penerawangannya. Sosok perempuan itu tidak mati, dia juga berubah menjadi vampir, bahkan kekuatannya melebihi kekuatan Aron. Yang Aline tau Helena pergi ke arah selatan menuju area kampus. "Iya! Apa sudah berhasil menemukannya?" Aron sangat antusias memperhatikan ucapan Aline. Dia memilih untuk diam menyimak Aline. Rasa penasarannya sudah sangat besar. Namun Aline malah pusing, tubuhnya bergetar dan limbung. Bruk. Pandangan Aline menjadi gelap dan dia merasa kelelahan, tubuhnya ambruk. Untung saja Aron ada di belakangnya menahan Aline. "Lin? Aline?" Aron mengguncang tubuh Aline, tapi rupanya Aline tak kunjung sadar. Aron membawa Aline ke dekat air terjun, barangkali dengan dekat air itu Aline akan sembuh, tapi hasilnya nihil. Sudah hampir satu jam, tapi Aline tak kunjung sadar. Dia terus menutup mata dan tenang layaknya orang mati. Aron menyelimuti Aline dengan jaketnya dan menggosok-gosokkan tangan Aline. Mencoba memberikan kehangatan pada Aline. "Ayo Aline, kumohon, bangunlah, bagaimana dengan Helena?" Aron mengusap dahi Aline, namun tak kunjung sadar. Dia mengambil air dari air terjun lalu mengusapkan ke wajah Aline, berharap sensasi dinginnya air bisa membuatnya sadar kembali. Aline mengerjapkan matanya menyerngitkan dahinya saat merasa aliran kekuatan dari air, dia membuka matanya, tepat wajah Aron di depannya. Dia gugup dan bersemu merah, malu ditatap Aron begitu dekat. Mata merah darahnya begitu pekat, dan membuat Aline kagum, ingin terus menatapnya. Tampan, mirip dengan Kara. Sifat lembutnya juga. "Aline, bagaimana? Kau tak apa? Apa duyung perlu makan? Ayo kita membeli makan terlebih dahulu Lin! Aku tak mau kau mati dengan cara mengenaskan atau kelaparan." "Aron, tak apa aku hanya sedikit kelelahan menggunakan kekuatanku." *** Sedari tadi yang dilihat Anya hanyalah foto berbingkai merah mudah berbunga, menatapnya sendu penuh pili, sudah sewindu dia belum juga kembali kerumahnya, menetap di Surabaya kota pahlawan memperjuangkan dunia perkuliahan demi gelar sarjana ekonomi dengan selempang cumlaude. Sayang, dia tahun ini belum bisa melaporkan secara langsung nilai semester empatnya, hanya bisa bertemu dengan telefon atau video call, adiknya Ranu selalu saja merengek meminta Anya pulang. Hanya satu kalimat yang membuatnya terus bersemangat mencari ilmu dikota ini, kalimat bapaknya yang selalu teriang didalam pikirannya ‘Jangan pulang kalau belum Sarjana ya nduk’ baginya bapak dan ibunya kekuatannya saat ini dalam lamunan dan sepi, semua teman satu kosnya telah pulang kecuali Inggrid, mahasiswi asal kota Kalimantan, harusnya dari awal Anya mendengar nasehat bapaknya bulan Desember lalu semenjak berita penyakit virus mematikan menyebar di negara tirai bambu ‘nduk, kamu segera pulang, bapak ini sudah kangen’ tapi dia malah bersikeras untuk menetap disini, memilih berkumpul dengan pacarnya, Farid dan teman satu kosnya belajar bersama untuk semester depan, kini keasikan itu memudar menjadi rindu, lengkap sudah ditambah dengan ketakutan diluar rumah terkena wabah. Belum lagi ketika membuka sosial media, berita, semua tentang corona virus yang satu ini membuat pandemi global, meski begitu Inggrid teman satu kosnya bersantai mendengar berita itu, baginya hidup dan mati di tangan Allah, kalau sudah waktunya ya biarlah, ambil nyawaku begitu kata Inggrid. Berbeda dengan Anya yang sangat takut dengan virus yang satu ini, dia jauh lebih waspada ketimbang Inggrid. “Kamu mau titip apa nya? Aku mau keluar nih cari paketan, besok ada kuliah online” teriak Inggrid tepat didepan kamar Anya, melamunkan pikiran Anya tentang keluarganya di Bali. Ada sedikit keresahan bila Inggrid keluar kos, selalu lupa memakai masker atau membawa handsanitizer. Anya segera beranjak membuka pintu untuk Inggrid “Hayo pake masker nggrid, bawa handsanitizer, ayo cepet ambil dulu dikamar, aku ikut kamu keluar, bosen dikamar” seru Anya mendorong punggung Inggrid memaksanya menggunakan masker, meski jarak toko pulsa hanya 2 rumah, tapi Anya tetap memaksa Inggrid. Inggrid yang hafal kelakuan Anya berjalan malas kembali kekamarnya, sepertinya dua benda itu menjadi senjata bagi mereka bertahan melawan virus. Mereka hanya berdua di kos yang besar ini, pemilik kosnya mbak Evi tidak tinggal disini, sesekali mbok Ira yang datang membersihkan rumah kos. “Ayo, aku udah siap ini” ucap Inggrid, menaruh handsanitizer kedalam saku celananya, Anya mengangguk dan mengikutinya dari belakang keluar kos. Baru saja kaki mereka melangkah beberapa kali, sudah sampai didepan toko pulsa pak Arif, sampai bapaknya hafal dua gadis ini langganan paket 6,5 GB dengan harga 30 ribu. “Pulsa nduk? 2 ta?” tanya pak Arif mengeluarkan dua paket itu, Inggrid mengangguk berterimakasih dan menyerahkan sejumlah uangnya, begitu juga dengan Anya. Uang kembalian dari pak Arif segera ia masukkan kedalam kantung plastik yang siap dicuci sampai rumah, Inggrid yang meilhat kelakuan teman satu kosnya itu tersenyum kecil, Anya sangat hati-hati dengan virus ini. Inggrid membalikkan badannya menuju kembali kos, namun Anya menarik bahu Inggrid membuatnya berhenti melangkahkan kaki, Anya segera membisikkan kepada Inggrid, matanya terus mengawasi laki-laki yang jaraknya sekitar 6 meter darinya, laki-laki tampan, tinggi, mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan, pemandangan menyejukkan mata Anya, lelaki itu sedang mengeluarkan motor vixionnya dan selang, seperti akan mencuci motornya. Inggrid mengikuti arah pandangan Anya, ternyata mas Ardian yang mampu membuatnya seperti ini, dari tadi Anya tak berkedip memperhatikan gerak-garik mas Ardian, kakak tingkat Anya, yang sudah hampir lulus, tahun ini dia masih sibuk mengerjakan skripsi. “Astagfirullah, tutup itu matamu, melotot keluar begitu, mau aku panggilkan mas Ardian? Atau pacarmu Farid?” goda Inggrid kepada Anya, yang membuat sukses Anya melotot “Awas aja sampe bilang Farid, tapi nggrid, mas Ardian itu idaman banget ya, bangunnya pagi, mandiri, rajin lagi” puji Anya, entah sudah berapa kali Anya memuji Ardian seperti itu, sampai Inggrid hafal kalimatnya ‘bangunnya pagi, mandiri, rajin lagi’ pernah sekali dalam hidup Anya mendekati Ardian dikampusnya, tapi ditolak mentah-mentah bahkan tidak ada kesempatan sedikitpun bagi Anya untuk bersama lelaki itu, hingga akhirnya Anya memilih Farid sebagai pacarnya, alasannya simpel, mesti tidak mencintai Farid, tapi Anya sangat membutuhkan status pacaran, baginya jaman modern ini membuatnya malu berstatus ‘jomblo’. Sedangkan Inggrid masih teguh menjaga prinsip jombol fisabillillahnya, artinya jomblo sampai halal. “Hati kamu itu cuma satu, kok bisa sih isinya dua orang begitu?” Inggrid melemparkan pertanyaan pada Anya yang membuatnya berpikir, kali ini Inggrid sudah sangat jera dengan temannya yang memikirkan dua cowok sekaligus “Ya, gimana ya.. Farid memang pacarku, tapi aku gak punya rasa sama dia, pas dia tembak yaudah aku terima aja daripada aku dicap cewek gak laku” ucap Anya santai, membuat Inggrid memutar bola matanya malas, ya begini yang dia tidak suka dari Anya, gak suka sama cowok itu kok diterima, batin Inggrid. “Yaudah lah terserah kamu, aku mau pulang” ucap Inggrid melangkah cepat masuk kekos. Sedang Anya hanya duduk diteras mengintip mas Ardian pujaan hatinya, dia ingat pertama kali jatuh cinta saat masa ospek, lelaki itu menjadi komisi disiplin, berperan memaki dan memarahi mahasiswa, tapi Anya tidak takut sama sekali dengannya malah terpesona dengan ketampanannya, bahkan selama tujuh hari dia sengaja membawa barang yang salah untuk ospek agar bisa menatap lama wajah Ardian. Saingan Anya mendapatkan hati Ardian ada ratusan perempuan, bahkan ribuan, semua perempuan dari Fakultas Ekonomi hingga Teknik, semua mengenal Ardian, tak jarang Anya menemukan banyak hadiah dimotornya, atau perempuan yang tiba-tiba membawakan kado dihari ulang tahunnya, begitu juga dengan Anya yang tak mau kalah dengan perempuan yang lain, dia juga mendekati Ardian, bedanya Anya langsung menyatakan cintanya didepan kos Ardian. Dia masih ingat betul bagaimana Ardian menolaknya ‘aku nggak minat sama pacaran dek, maaf ya aku mau fokus kuliah’ begitu jawaban singkatnya yang mampu membuatnya menangis seharian dikamar kos, dan sejak itu dia bertekad berusaha mendekati Ardian, masuk dalam komunitas yang sama, memilih kelas yang sama, dan parahnya lagi, ini sudah ke sembilan kalinya Ardian menolak Anya, hingga akhirnya memutuskan berpacaran dengan Farid, memang tidak setampan Ardian, tapi yang jelas Farid anak orang berada, seluruh fasilitasnya mewah, setiap pagi dia pasti menjemput Anya dengan Pajero putihnya, sedikitpun Anya tak memiliki rasa kepada Farid, bukannya dia perempuan yang matre, tapi dia tak tega jika Farid yang mengemis akan cintanya, berulang kali Anya meminta putus, Farid selalu menahannya, memberinya dengan berbagai barang mahal, entah itu sepatu, handphone, tas, dan banyak lainnya, dia tau ini hubungan yang tidak sehat, hanya cinta sepihak, tapi dia juga sudah terlanjur masuk kedalam kehidupan Farid dan tak bisa lepas darinya begitu saja. *** “Bawa aku ke Reitha, mungkin aku bisa sembuh disana.” Aron berdiri membawa tasnya dan bersiap menuju bangsa duyung yang bisa menyembuhkan segala hal. Aline sebenarnya ragu bisa menyembukan Aron. Tapi semua ini akan tetap mustahil jika tidak dicoba. Jika saja Aron bisa sembuh, itu adalah hal yang menguntungkan. Dengan begitu, Aline bisa melihat bahagia dalam senyuman Aron. “Kalau gitu, tunggulah sampai bulan purnama. Pintu menuju Reitha akan terbuka di bawah air terjun,” ucap Aline. Aron mengangguk mengerti lalu duduk lesu, Aline yang melihatnya agak bingung bagaimana cara menghibur Aron. “Memangnya, kenapa kau ingin kembali menjadi manusia lagi? Bukannya menjadi vampir sangat hebat? Kamu bisa berjalan cepat. Kamu juga bisa membaca pikiran orang lain, dan lagi kamu memiliki kekuatan besar yang tak tertandingi.” Aline mencoba memberi Aron semangat, berharap masih ada api semangat hidup dalam diri Aron. Sebagai vampir bukanlah masalah besar, bahkan menurut Aline setiap makhluk yang diciptakan memiliki kelebihan masing-masing. Meski Aron seorang vampir, justru kekuatannya bisa membantu orang lain. “Kau tau? Aku membunuh ibuku sendiri saat amarah datang. Bukannya itu hal mengerikan?” ucap Aron. Memang benar, semenjak kejadian Aron menghisap darah ibunya, dia tak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Label pembunuh telah menempel dalam lubuk hatinya. Aline mendekat dengan Aron, menepuk pundaknya. Dua orang mahasiswi datang duduk tak jauh di samping mereka, rupanya kantin mulai ramai pengunjung, sudah waktunya jam istirahat. “Apa kamu tau? Helena udah ilang sejak seminggu lo!” ucap salah satu mahasiswi. “Eh? Seminggu? Kok bisa ya? Jangan-jangan dia di mutilasi lagi, kamu hati-hati kalau pulang malam. Bisa jadi bahaya diluar sana.” Aron yang mendengarnya semakin merasa bersalah, entah bagaimana caranya mengontrol emosi dan nafsunya saat melihat darah. Rasanya sia-sia dia hidup jika hanya bisa membunuh orang lain. Yang pertama Helena, kedua ayah tirinya, dan yang ketiga, ibunya sendiri. Aron mengusap wajahnya kasar, dia frustasi atas apa yang terjadi. Kejadian begitu cepat dan terasa cukup aneh baginya. “Ron, kamu mau pindah tempat?” tanya Aline. Dia masih asik menikmati popsiclenya sambil menenangkan Aron. “Sepertinya begitu, aku butuh udara segar.” Aline mengangguk mengerti dan menggamit tangan Aron. Entah sejak kapan Aline merasa nyaman dengan genggaman tangan Aron. Aline mengajaknya menuju perpustakaan, sedari dulu, hidup ratusan tahun di dunia manusia, membuat Aline menyukai membaca buku, menurutnya satu-satunya hal yang menyenangkan. “Apa kamu pernah membunuh orang?” tanya Aron saat mengambil buku The Familiar “Ah, tidak. Kami duyung tidak diperbolehkan membunuh manusia, kecuali keadaan mendesak. Duyung juga memiliki peraturan. Jika saja membunuh manusia dengan kekuatannya, maka semua akan dihukum dalam penjara bawah laut. Bisa jadi penjara itu tempat paling mengerikan di dalam laut.” Aron mengangguk mengerti lalu membaca halaman pertama buku The Familiar, cerita fantasy tentang hewan yang memiliki kekuatan sihir untuk melindungi pemiliknya. Makin lama Aron makin tenggelam dalam cerita itu dan menyukai alurnya. Aline menuju rak lainnya, mengambil buku Twilight kisah kasih manusia dan vampir. Aline yang membaca buku itu membayangkan satu hal, dia yang telah menjadi manusia seutuhnya menjalani kisah cinta dengan Aron yang merupakan vampir. Perlahan Aline tersenyum sendiri membacanya, merasa terbawa dan hanyut dalam setiap untaian kata dalam ceritanya. “Kamu membaca apa?” tanya Aron. Aline segera menutup bukunya dan menyembunyikannya di belakang punggungnya. Aron tersenyum kecil, tingkah Aline seperti tertangkap basah mencuri. “EH? Eng-enggak, ini aku hanya baca cerita fantasy,” jelas Aline gugup. “Oh ya? Sama, aku juga membaca cerita tentang hewan yang bisa melindungi pemiliknya dengan sihir,” ucap Aron mengangkat bukunya tinggi dan menunjukkannnya pada Aline. “Buku apa yang kamu baca?” tanya Aron mencoba mengintip apa yang disembunyikan Aline. “Bukan apa-apa,” sahut Aline cepat. Tapi rasa ingin tahu Aron makin tinggi dan rasa curiganya semakin besar. Kenapa Aline harus menutupinya? “Coba, aku ingin melihatnya.” Aron mencoba meraih buku di belakang Aline, tapi Aline malah tersenyum menghindar, tapi Aron tidak menyerah, dia ikut mengejar Aline. Perpustakaan kini sepi, hanya mereka berdua, bahkan penjaganya sedang istirahat. Tidak ada satupun yang protes mengganggu mereka yang asik lari kesana kemari. Gerakan Aron rupanya lebih cepat karena ia seorang vampir, mampu menggunakan kekuatannya. “Hei,” bisik Aron, dia mengunci Aline dalam kedua tangannya. Membuat jarak mereka semakin dekat. Jantung Aline berdegup kencang dan semakin memburu, dia gugup di dekat Aron, bahkan tangannya mulai terasa dingin. Aron terus menatap Aline lurus. “Buku apa yang kamu baca Aline?” tanya Aron penasaran. Dia mengangkat dagu Aline agar bertatapan dengannya. “Haruskah aku mengatakannya?” tanya Aline mencoba untuk tetap menyembunyikan buku yang ia baca. Malu rasanya jika Aron tau buku yang ia baca, kisah kasih vampir dengan manusia. “Ya, cepat beritau aku bukunya, atau? Mau aku sentuh bibirmu dengan bibirku?” ancam Aron lalu mendekatkan wajahnya dengan Aline. Cantik dan mempesona, apalagi kulit Aline yang putih berkilau khas kulit seorang putri duyung. Aline merasakan deru napas Aron, dia memejamlan matanya. Bersiap akan apa yang dilakukan Aron. “Kau malah pasrah?” tanya Aron. Aline kembali membuka matanya menatap manik mata Aron yang berwarna merah darah, entah sejak kapan, Aline malah menyukai menatap manik mata Aron yang berwarna merah darah, menurutnya sangat menakjubkan. Aline tersenyum masih takjub menatap mata Aron, dia memuji wajah Aron yang tampan dalam hatinya, rahangnya yang tercetak jelas, dan dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis, lalu jambangnya yang tumbuh tipis. “Kau sedang lihat apa?” tanya Aron menggoda Aline “Sedang menikmati pemandangan yang memikat mataku,” ucap Aline tertawa. Sedetik kemudian Aron berhasil meraih buku yang dibaca oleh Aline, dia membaca buku itu. Rupanya tentang manusia yang menyukai vampir. Aron tersenyum geli membacanya, sedangkan Aline tersenyum malu. “Jadi ini yang kamu baca dari tadi? Jangan-jangan membayangkan ini aku dan itu kamu?” tanya Aron sambil tersenyum. “Ih, dasar ke PD an, enggak lah, aku kan titisan duyung.” “Tapi kamu kan sudah jadi manusia sekarang, jadi aku bisa menghisap darahmu Aline!” ancam Aron yang sebenarnya hanya menggoda Aline saja. “Aku enggak takut sama vampir kaya kamu, mana ada vampir enggak punya gigi taring?” Aline mengejek Aron. “Gigiku akan keluar ketika nafsuku memburu.” Aron lalu mencari tempat duduk dan dengan seksama dia membaca cerita itu, sesekali dia tertawa karena buku itu benar, dia memang bisa berjalan cepat. Tapi dia berbeda, dia tidak bisa mengontrol nafsunya, bahkan sampai sekarang Aron masih memikirkan cara, bagaimana dia bisa menahan nafsunya. Dia lelah menjadi seorang vampir yang hanya membunuh manusia. *** “Aron! Cukup!” teriak Alvaro dan berusaha memegang kedua tangan Aron yang kini menghancurkan seluruh isi rumahnya, Pecahan kaca dimana-mana, lebih tepatnya rumahnya kini seperti kapal pecah. Perbuatan Aron berhasil membuat semuanya hancur. “ARON!” kali ini Alvaro berteriak lebih kencang, namun tidak ada yang bisa menghentikan vampir yang sedang emosi itu, bagaimana tidak, Helena perempuan yang ia cintai mati karena ia bunuh sendiri, lalu mayatnya hilang diambil orang lain di hutan. Aron penuh kekesalan, amarah, kecewa, semua berkecamuk dalam hatinya, dia tak mampu lagi menahan amarah, semua hancur. Kebur. Rusak seperti tubuhnya yang bukan lagi manusia. Aron menatap Alvaro bengis, kalau saja dia dibiarkan mati oleh Alvaro dia tidak akan menjadi vampir seperti ini yang membunuh orang yang dia sayangi. Kalau saja dia dibiarkan mati, mungkin dia akan menjadi manusia yang hidup di akhirat menatap Helena yang masih bisa tersenyum. Aron marah dan mendorong Alvaro, hingga punggung Alvaro menatap ke dinding. “INI SEMUA KARENAMU!” teriak Aron, lalu meninju tembok disamping kepala Alvaro. Aron membanting vas bunga di meja lalu keluar dari rumah Alvaro, berlari menuju hutan tempat Helena hilang. Hening. Gelap dan sepi, sinar rembulan terhalang oleh daun yang tinggi, dia bahkan tidak sama sekali merasa ketakutan, dia adalah monster, yang jauh lebih menakutkan dari makhluk halus. Aron melewati beberapa pohon besar menjulang, menuju bunyi deras air terjun. Dia duduk di tepi air terjun itu. Perlahan dia mendengarkan senandung seorang wanita, dia mencari sumber suara itu, berharap wanita itu adalah Helena yang hidup. Namun itu hanyalah khayalan Aron, Helena tidak mungkin hidup kembali, darahnya telah habis terisap olehnya. Dia melihat sesuatu yang berkilau dibawah air terjun, tak lama, keluar seorang wanita separuh badannya bersirip, seperti ikan. Berulang kali Aron mengerjapkan matanya, memandang sesuatu yang mustahil baginya. Dia mencoba mendekat ke tengah air terjun. Dinginnya air malam hari tidak mengusik Aron sama sekali, vampir rupanya tidak merasa takut dengan apapun, bahkan bagi Aron jika saja maut memanggilnya, dia dengan senang hati menyerahkan segenap jiwanya kepada ajal. "Kau?" Aron mencoba bersuara saat dia melihat punggung wanita. Aline segera berbalik, begitu matanya menatap Aron, dia kembali kedalam air, bersembunyi di balik derasnya air terjun. "Pergi!" teriak Aline. Seharusnya di air terjun ini, tidak ada siapapun manusia yang bisa masuk, ini adalah dimensi yang hanya bisa ditembus oleh putri duyung sepertinya. "Kau siapa?" Aron kembali bertanya saat masih bisa melihat Aline dibalik derasnya air terjun. Aline terdiam sejenak berpikir, air terjun ini adalah air titisan dewa duyung untuk bisa mengubah duyung separuh manusia sepertinya kembali memiliki sirip, hanya di air suci inilah kakinya bisa berubah menjadi sirip ikan. Aline mengumpulkan segala keberaniannya dan menuju ke arah Aron, dia memunculkan dirinya. Aron menatapnya takjub, kulit Aline yang bersinar dibawah sinar rembulan dan siripnya yang tiba-tiba berubah menjadi kaki, lalu pakaiannya yang khas sekali pakaian duyung. Biru dengan hijau laut. Hanya satu kata yang menggambarkan penglihatan Aron saat ini, cantik. Aron mencoba berjalan mendekat kepada Aline, namun selangkah Aron maju, selangkah Aline mundur. Aron kini tau Aline ketakutan melihatnya. "Tunggu, aku hanya ingin tau, kau siapa?" Aron mengeluarkan suara memberanikan dirinya, sedangkan Aline masih terdiam tak mau menjawab. Dia masih heran bagaimana bisa Aron ke dimensi air terjun ini, sedangkan hanya titisan duyung yang bisa masuk. "Apa kau tersesat?" Aron mencoba mengeluarkan suara lagi. Tak ada jawaban dari Aline, dia masih terdiam. "Aku terus menyusuri hutan, lalu aku mendengarkab bunyi air terjun, dan aku mendengarkan senandungmu, apa kau? Mungkin? Makhluk Halus?" Aron mencoba sopan kepada perempuan cantik di hadapannya. 1 2 3 4 5 6 7.. Aline mencoba menghitung dalam pikirannya, memberanikan diri, kekuatan magis duyungnya tidak akan ada gunanya di dunia manusia seperti ini. "Bagaimana kau bisa disini?" Aline akhirnya bersuara, pasrah kepada kemungkinan yang mungkin terjadi. Jika saja nyawa Aline berbahaya, ayahnya dewa duyung pasti akan mengirim kekuatan untuknya. "Aku? Bukannya aku sudah bilang, aku tersesat disini, kau sendiri? Kenapa malam begini mandi?" Aron bertanya kepada Aline polos, memang Aline terlihat seperti 'mandi' bagi Aron. Tapi bagi duyung seperti Aline, mandi di bawah sinar rembulan adalah mengembalikan kekuatan tanpa harus memakan makanan manusia. "Aku mengembalikan kekuatan," ucap Aline. Aron menyerngitkan dahinya tidak memahami maksud Aline, dia bahkan masih menerka-nerka, apa maksud Aline dengan mengembalikan kekuatan. "Apa kau seekor duyung?" tanya Aron Aline seketika berubah wajahnya menjadi marah, saat Aron mengatakan Aline adalah 'seekor' duyung. Aline mengambil bebatuan dan melemparkannya ke Aron, namun dengan cepat Aron menerima lemparannya lalu meremukkannya dalam sekali genggaman. Tindakan Aron membuat Aline bergetar, ia baru menyadari Aron bukanlah manusia. "Kau siapa?" tanya Aline lalu mundur, dia sudah menggenggam gelang putri duyungnya, bersiap untuk melepas gelangnya untuk memanggil pasukan duyung. Gelang itu adalah pertanda bahaya, andai saja terlepas dari tangan Aline, pasukan duyung akam datang melindungi Sang Putri. "Namaku? Aron." "Bukan, lebih tepatnya, kau ini apa?" tanya Aline.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD