11. Keyla banyak minta, ya?

1302 Words
KEYLA POV *** Aku menatap tanganku yang sedang memegang amplop yang berisi surat panggilan untuk orang tua. Terukir senyum pahit di bibirku kala membayangkan ayah bisa datang. Namun, bolehkah kali ini aku berharap bahwa ayah akan datang? Dilihat dari beberapa kejadian beberapa akhir ini, ayah terlihat lebih santai terhadapku. Bagaimana jika aku berikan amplop ini? Apa kali ini ayah akan datang ke sekolah setelah 11 tahun aku menjejaki bangku sekolah? Aku berharap ayah datang. Kali ini aku sedang berdiri di depan pintu ruang kerja ayah. Tanganku tak sanggup untuk terangkat walau hanya sekadar mengetuk sejenak. Aku takut terhadap reaksi ayah. Apa ayah akan marah atau malah mengabaikanku seperti waktu lalu? Aku menghembuskan napas kasar. Kupejamkan mata sejenak untuk mengatur detak jantungku yang menggebu. Bagaimanapun reaksi ayah, aku harus berani mencobanya. Aku tidak akan tahu jika tidak pernah mencoba, bukan? Baiklah, ayo lakukan! Tok... Tok... A-aku melakukannya? Aku mengetuk pintu ruang kerja ayah. Oh tidak, jantungku semakin tidak aman. Kegugupan menelanku seutuhnya. “Ayah,” panggilku dengan suara tercekat. Oh ayolah Key, kau pasti bisa! Tok... Tok... “Ayah.” Cukup lama tak mendapati sahutan, akhirnya pintu itu terbuka menunjukkan tubuh ayah yang atletis di hadapanku. Lihatlah, dia ayahku. Dia sangat tampan dan gagah. “A-ayah, Key punya i-ini.” Aku merutuki diri sendiri yang berucap dengan terbata-bata seperti itu. Ayah terlihat hanya diam saja, tapi tampangnya terlihat menanyakan apa yang sedang kupegang ini. ”Ini surat panggilan ke sekolah, Yah.” Ekspresi ayah tetap sama sejak awal. Datar. Tidak ada kemarahan atau apapun itu, hanya ada tatapan linglung yang entah kenapa bisa. Aku sudah berharap ayah akan mengangguk mengiyakan. Tatapanku yang semula sayu karena gugup, tiba-tiba berubah melebar dengan binar bahagia. Ayah mengambil amplop itu dan kembali menutup pintunya. Apakah ini berarti ayah akan datang? Katakan padaku, apa ini bukan sebuah mimpi indah? Katakan padaku bahwa ayah mulai berubah jadi lebih baik! Aku merasakan euforia kebahagiaan meletup dalam hatiku. Membayangkan ayah akan datang dan menjadi pembicaraan teman-temanku, saat itulah aku akan memperkenalkan ayah dengan bangga. Aku sangat bahagia malam ini. Rasanya tidak sabar untuk menunggu esok tiba. Dengan cepat aku berlari menuju kamarku di lantai dua, aku ingin berteriak di bantal untuk menyalurkan letupan kebahagiaan ini. Oh ayolah, kapan bulan akan digantikan matahari? Kenapa lama sekali? Aku memilih tidur lebih cepat dari biasanya karena tidak sabar untuk menunggu hari esok. Ini adalah tidur pertamaku yang lelap setelah sekian lama. *** Aku bangun pagi dengan wajah ceria memenuhi suasana ruang makan yang hanya dihuni oleh ibu dan ayahku. Ada juga Bibi Inem, tapi dia ada di dapur. Aku memilih menaruhkan tasku ke kursi kosong di sampingku dan segera duduk walau belum disuruh. Saat suasana sedang hening karena sarapan, aku bertanya pada ayah, “Apa Ayah akan datang?” tanyaku dengan ceria. Tidak ada jawaban. “Yah,” panggilku. Senyumku yang sejak tadi terpatri cantik di bibirku seketika memudar perlahan. Apa ayah berubah pikiran? Apa ayah mengurungkan diri untuk berkenan hadir? Ya, aku tahu ini bukan panggilan kebanggaan seperti saat di mana aku memenangkan olimpiade, tapi kali ini aku ingin berharap lebih. Jika kepala sekolah menasehati ayah untuk menyuruhnya mengingatkanku lebih sering untuk tetap jadi anak baik. Aku yakin kepala sekolah tidak akan pernah marah padaku karena kepala sekolahku itu pasti sudah begitu mengenalku dan menganggapku sebagai putrinya sendiri. “Jangan bicara saat makan.” Aku terdiam. Sampailah ketika kami semua di meja makan itu selesai makan, aku hendak menanyakan ayah soal bersedia atau tidaknya untuk datang ke sekolah hari ini. Aku melihat cemas pada ayah. Apakah ayah berubah pikiran? Apa ayah tak jadi datang? “Keyla berangkat,” ucapku tetap menahan senyum agar ayahku tidak curiga bahwa aku menaruh rasa kecewa padanya. Aku mengecup punggung tangan bunda dan saat aku hendak melakukan hal yang sama pada ayah, seperti biasa ayah selalu mengabaikannya. Ayah tidak mau aku menyentuh apalagi mencium tangannya. “Yah, kali ini Keyla harap Ayah bisa datang.” Aku bergumam lirih agar hanya bisa didengar oleh ayah, tidak dengan bunda. Aku takut jika bunda tahu maka bunda akan sedih dan cemas padaku. Aku tahu betul bagaimana sikap bunda. “Assalamu'alaikum.” “Wa'alaikumsalam.” *** AUTHOR POV Gaby berlari menghampiri Keyla. Gadis itu terlihat amat senang saat melihat kehadiran Keyla pada pagi hari yang menyesakkan ini, menurutnya. Keyla tersenyum menyambut Gaby. Keduanya terlibat percakapan seputar tentang pelajaran apa setelah ini? Lalu dilanjut pertanyaan mau makan apa nanti di kantin? Hingga sampailah di mana Gaby menanyakan apakah ayah Keyla akan datang? “Ayah lo dateng, Key?” “Semoga aja dateng,” sahut Keyla seadanya. Keyla merasa gelisah. Ia takut ayahnya tidak datang. Namun bisakah kali ini ia berharap? “Papa gue dateng jam sepuluhan katanya, nyelesaiin rapat dulu baru ke sekolah.” “Papa kamu marah gak, By?” tanya Keyla penasaran. Ia takut ayah Gaby marah dan membencinya. “Marah? Papa gue enggak marah tuh. Dia malah bangga. Katanya kalo ada orang semena-mena kayak Giselle mak lampir itu, perlu ditindak. Bahkan Papa gue bilang kalo yang kita lakuin kemarin udah bener kok, dia bangga sama gue dan sama lo juga.” Keyla tersenyum. “Papa kamu baik ya, By.” “Ayah lo juga hebat kok, Key. Papa gue pernah cerita beberapa tentang ayah lo. Katanya ayah lo itu kompeten banget kalo soal kerja. Apa-apa pasti selalu siap. Walau kerjaannya tiga kali lipat lebih banyak dari kerjaan karyawan lain, tapi ayah lo yang paling bagus nyelesaiin semuanya,” jelas Gaby denganata menyorot senang dan takjub. Ah ya, sebelumnya memang ayah Keyla bekerja sebagai karyawan atau lebih tepatnya manager keuangan dari perusahaan milik ayah Gaby. Keduanya juga akrab karena ayah Gaby dan ayah Keyla merupakan teman baik sejak sekolah menengah atas. Saat jam pelajaran setelah jam istirahat selesai, tiba-tiba pintu kelas diketuk dari luar. Dapat Keyla lihat ada ayah Gaby yang sedang mencari sahabatnya ini. Pria setengah baya itu berpenampilan amat rapi dengan kemeja putih berlapis jas abu-abunya yang dipadukan dengan celana berwarna hitam. Terlihat tampan walau sudah berkepala empat. “Gaby, silakan keluar. Orang tua kamu lagi nyariin,” ucap guru yang sedang mengajar saat sebelumnya berbincang sejenak bersama ayah Gaby. “Baik, Bu.”, Gaby mengedipkan matanya pada Keyla yang sedikit melamun. “Ah iya, Keyla kamu juga. Orang tuamu juga datang.” Keyla langsung mendongak menatap gurunya dengan tatapan tak percaya. Apa benar ayahnya datang? Apa Keyla tidak salah dengar? Ia merasakan denyutan bahagia memenuhi rongga dadanya. Betapa bahagianya seorang Keyla Agatha Afsheen saat yang datang adalah ayahnya. Keyla permisi untuk keluar dan setibanya ia di luar kelas, Gaby sudah tersenyum lebar sembari mengedipkan matanya. Gadis itu memberikan kode untuk Keyla menatap ke arah yang ia tunjuk dengan matanya. Saat Keyla menoleh, Keyla amat bahagia saat ternyata benar yang datang adalah ayahnya. Ayah Keyla memakai kemeja putih berlapis jas hitam kantornya. “Kayaknya ayah lo emang udah berubah deh, Key. Selamat ya,” bisik Gaby dengan senang. Gaby menuju ke ayahnya dan merangkul lengan sang ayah dengan amat manja. Keduanya berjalan lebih dulu, barulah disusul Keyla dan ayahnya di belakang mereka. Keyla menatap pada tangan Gaby yang merangkul ayahnya tanpa perlu canggung. Apa ia juga bisa merangkul ayahnya seperti itu? Namun ketika Keyla menoleh menatap ayahnya dari samping, yang ia temukan hanya wajah datar seperti biasanya. Keyla menatap lengan ayahnya berharap juga bisa merangkul seperti Gaby. “Ayah,” panggil Keyla pelan. Tidak ada sahutan, hanya ada suara sepi diantara mereka. “Boleh Key rangkul kayak Ga–” “Jangan melewati batasmu.” Peringatan keras dari Gio sudah berhasil memukul keras harapan Keyla. Gadis itu seolah dipukul untuk sadar. Ia terlalu banyak berharap sampai lupa dengan kenyataan. Apa yang ia minta terlalu berlebihan untuk mereka yang baru sedikit lebih baik. Keyla banyak minta, ya? “Maaf, Ayah.” Keyla berjalan dengan menunduk dalam agar tak ada satupun yang melihat wajah kecewanya dan tatapan sendu miliknya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD