***
Sepulang sekolah hujan. Keyla tak bisa pulang. Sementara itu, Gaby sudah lebih dulu pulang sekitar sepuluh menit yang lalu. Keyla tadi sempat ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang sempat ia pinjam. Sebab itulah Gaby lebih dulu pulang daripada Keyla dan kini Keyla menyesal tidak menerima tawaran Gaby tentang pulang bersama.
Gadis itu duduk di pos satpam menatap hujan yang semakin lebat. Dirinya kedinginan di sana. Apakah ia harus terus menunggu hujan reda dulu? Uang Keyla hanya cukup untuk naik ojek motor, tidak cukup untuk naik mobil taksi. Sudah bisa dipastikan ojek motor juga pasti sedang berteduh dan tidak bisa untuk mengantarnya pulang.
Saat ia sedang sendiri di sana, Keyla melihat sosok laki-laki yang berlari menuju ke arahnya. Gadis itu mencoba bersikap acuh tapi sayangnya ia tidak bisa. Wajah tampan laki-laki berseragam sama dengannya itu terlalu memikat untuk dilewatkan begitu saja. Keyla terpesona lagi dan lagi oleh sosoknya.
“Sendirian?” tanya laki-laki itu yang membuat tubuh Keyla tersentak kaget dengan jantungnya yang berdebar-debar.
“Iya.” Hanya itu yang bisa Keyla ucapkan. Bukan karena dia malas bicara atau membatasi diri, dia gugup dan tidak tahu harus berkata apa. Terngiang kembali sorakan cie yang dilontarkan teman-teman lelaki itu padanya membuat wajah Keyla memerah malu.
“Muka lo merah gitu, lo demam atau kedinginan?” ucap laki-laki itu menatap pipi Keyla dengan sorot mata heran.
“Enggak, ini pipi aku emang gini kalo hujan,” alibi Keyla entah inspirasi dari mana.
“Oh. Btw, lo sendiri nunggu siapa?”
Keyla merutuki suara kakak kelasnya ini yang terdengar serak-serak basah membuat debaran jantungnya semakin menggila.
“Nunggu hujan, Kak.”
“Bukan gitu maksud gue, lo nunggu jemputan siapa?”
Keyla merutuki kakak kelasnya yang banyak tanya ini.
“Enggak nunggu siapa-siapa, Kak.”
“Loh, kenapa gitu?”
“Kakak kok banyak tanya?” kesal Keyla.
Laki-laki itu sedikit terkejut saat Keyla melempar nada kesal itu padanya. Ia tertawa dan meminta maaf setelahnya.
Hening menyelimuti mereka berdua sekitar sepuluh menit lamanya.
“Hujan kayaknya bakal lama, lo mau ikut gue?”
Keyla langsung menoleh dan menatap horor pada kakak kelasnya ini. Kalimat “Lo mau ikut gue?” itu terlalu menyeramkan untuk didengar. Keyla berasa akan diculik. Melihat ketakutan Keyla, laki-laki itu tertawa kembali.
“Gue punya otak, gak akan mungkin gue mau ngehancurin masa depan gue karena bunuh orang. Lagian hujannya bakal awet sampe malem. Gak mungkin kan lo mau di sini sampe malem? Sekolah udah sepi,” ucap laki-laki itu terlihat sangat peduli.
Keyla merasa ucapan laki-laki itu ada benarnya juga. Ia berpikir sejenak dan mengiyakan ajakan pulang bersama itu.
“Kita belum kenalan, kan? Nama gue Adnan Fikri Husein,” ucapnya sembari menjulurkan tangan pada Keyla.
“Aku Keyla Agatha Afsheen,” ucap Keyla dengan senyumnya.
“Lo emang gitu, ya?”
“Gitu gimana, Kak?”
“Itu panggil pake aku-kamu? Lo gak risih, ya?” ucap Adnan sembari menatap tepat pada manik cokelat terang milik Keyla.
“Enggak, udah biasa.”
“Oh, lo orang luar Jakarta?”
“Bukan. Aku sejak kecil memang udah ada di Jakarta, emang kenapa?”
Adnan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ada sedikit keanehan saat orang Jakarta asli memanggil pakai aku-kamu pada orang yang baru dikenal. Itu terdengar sedikit tidak sopan. Bukan! Maksudnya bukan tidak sopan! Hanya saja Adnan pikir itu terdengar sok akrab. Aku-kamu hanya diucapkan pada keluarga dan kekasih saja. Jika Keyla berucap seperti itu pada Adnan, ia merasa seolah gadis itu adalah kekasihnya. Kini giliran Adnan yang memerah malu. S*al.
“Kak?”
“Ah anu, enggak kok. Tapi gue saranin sih kalo bisa lo ganti cara lo ngomong pake lo-gue aja gitu.”
“Enggak bisa, itu kedengeran gak sopan.”
“Ya udah sih terserah lo aja mana baiknya.”
Hening kembali menyusup diantara mereka. Lima menit setelahnya, seorang gadis bertubuh mungil berlari menuju ke pos satpam yang mana telah diisi oleh Keyla dan Adnan.
“Kak, ayo pulang," ucap gadis itu.
“Udah kelar urusannya?” tanya Adnan sembari mengusap pelan rambut gadis mungil itu yang terkena air.
“Udah, Kak.”
“Tunggu, ya. Kakak ngeluarin mobil dulu,” ucap Adnan dan menerobos hujan untuk menuju ke arah mobilnya yang terparkir rapi.
“Eh,” gadis itu terkejut karena melihat ada sosok gadis lain di balik tubuh kakaknya. Ia kaget sebab tak melihat tubuh gadis itu, tubuh kekar kakaknya menutup tubuh gadis itu seutuhnya hingga ia tidak bisa melihat sosok Keyla.
“Lo siapa kakak gue?” selidik gadis itu dengan matanya yang memicing curiga.
“Aku? Adik kelas dia,” ucap Keyla dengan santai.
“Oh seangkatan sama gue, ya?”
“Aku kelas 11, kamu kelas berapa?” ucap Keyla.
Mata gadis itu melebar, ia sedikit menunduk hormat sembari meminta maaf pada Keyla. “Maaf, Kak. Gue gak tau kalo lo kakak kelas gue,” ucapnya meminta maaf.
“Iya gak apa, santai aja kalo sama aku mah.” Keyla mencoba ramah dengan gadis itu.
“Aku Amanda Husein, Kak. Nama kakak siapa?” ucap gadis yang diketahui bernama Amanda itu.
“Aku Keyla Agatha Afsheen, salam kenal.”
Mata Amanda kini semakin melebar dengan pelototan horor.
“Kak Keyla yang teladan itu? Bener Kak Keyla yang sering masuk topik ceramahnya Pak Zainal karena yang nyumbang piala banyak itu? Beneran nama kakak itu Keyla?” pekiknya heboh hingga sejenak membuat Keyla tersentak kaget.
“Iya," ucap Keyla malu. Ia tahu betul jika setiap hari Senin apalagi pembina upacara adalah kepala sekolah, maka amat sering sekali Keyla terbawa dalam pidatonya. Keyla yang dibangga-banggakan guru. Keyla yang menatap banyak pujian dari sekolah. Untung saja berkat dirinya yang jarang bersosialisasi di luar dari teman sekelasnya, ia sedikit tidak cukup populer di kalangan adik kelas. Namun tidak jika di kalangan lelaki. Keyla mendapat julukan primadona atau most wanted girl SMA ini.
“Bener ternyata kata Zaki kalo Kak Key itu cantik, gue pikir orang yang pinter sampe nyumbang banyak piala di sekolah itu orang cupu kutu buku, ternyata beda. Kak Key cantik banget, gak salah si Gerry bilang ada kakak kelas yang cantik namanya Keyla.”
Amanda terlalu banyak memuji hingga membuat Keyla merasa tidak nyaman. Ia tetap terus mendengarkan serentetan ocehan Amanda tentang Keyla. Keduanya terkejut saat klakson mobil berbunyi tak jauh dari mereka.
“Ayo Kak, bareng aja.”
Keyla pasrah, lagi pula ia juga butuh tumpangan untuk pulang.
Keyla duduk di belakang dan Amanda di samping kursi pengemudi. Mereka bertiga akhirnya meninggalkan area sekolah dengan Adnan yang mengendarai mobilnya. Dalam mobil, banyak percakapan yang terjadi. Namun itu lebih banyak di Amanda. Gadis itu berceloteh pada Keyla tiada henti.
“Nah liat dong, Kak. Kak Adnan harus cari pacar modelan Kak Keyla. Udah pinter, cantik lagi. Bukan kayak mantan Kak Adnan yang tukang selingkuh itu. Mending modelan kayak Kak Keyla, atau kalau bisa Kak Keyla aja.”
Rasanya ingin sekali Adnan sumpal mulut adik kesayangannya ini dengan kain. Bisa-bisanya dengan frontal ia bilang seperti itu di depan Keyla nya langsung. Ia merasa canggung sekarang. Saat melihat kaca mobil, wajah Keyla tertunduk dengan telinga yang memerah.
Adnan terpukau akan aura cantik yang Keyla umbar. Keyla cantik dengan aura yang berbeda dari gadis cantik yang pernah ia temui.
Keyla terlihat amat lugu dengan pipinya yang merona malu. Adnan tersenyum.
Dia memang cantik.
***