Di ruangan kerja Bagas. Suasana nampak sangat hening. Saat kedatangan Mikaila yang masuk ke dalam ruangan kerjanya beberapa menit lalu. Bagas belum juga bertanya atau bahkan menyambut kedatangan Mikaila. Dia hanya diam, mengamati wajah Mikaila. Tatapan mata Bagas berubah melihat wanita yang semula Dia kagumi karena kerja kerasnya. Tentunya wanita yang dikenalnya baik dan cantik itu. Ternyata semuanya salah. Semua hanya kedok belaka, untuk menyimpan kebusukan dalam dirinya. Saat Bagas melihat wajah Mikaila, kini mulai berubah menjadi tatapan jijik. Bahkan saat melihat setiap gerak geriknya dia sama sekali Merasa ingin sekali menampar wajahnya. Tapi, dia tahu batasan. Tidak mungkin menampar sahabatnya sendiri. Meski hatinya terasa hancur Saat keluarganya dihancurkan oleh wanita murahàn se

