"Do it."
Naura ternganga, menatap Arjuna yang melipat lengan di d**a, berdiri di sisi lain meja dan menggidikkan dagunya ke arah bahan-bahan lengkap untuk membuat bento.
"Kamu sudah membuat bento Keylan jadi berantakan dan sekarang kamu harus membuat yang baru." Arjuna melihat jam tangan mahalnya. "Waktumu sekitar satu jam sebelum Keylan istirahat."
Naura baru saja akan membuka mulut untuk protes karena di culik ke rumah besar yang Naura nggak tahu rumahnya siapa dan di bawa ke dapur lalu diperintah seenaknya untuk membuat bento saat Arjuna menyela.
"Kalau kamu menolak, maka aku akan meminta pertanggungjawabanmu di pengadilan. Jadi—" Naura mundur selangkah saat Arjuna dengan tatapan tajamnya maju dan menyandarkan kedua telapak tangannya di pinggiran meja. "Do it."
Glek! Naura menelan salivanya, sesaat tadi matanya salfok mengintip manjah ke balik kemeja Arjuna yang kancingnya terbuka satu karena lelaki itu berbicara agak merunduk ke depan.
"Jujur dulu padaku, bento yang dibawa Keylan itu bukan kamu yang buat kan?"
Naura menolak untuk terintimidasi. Seharusnya sih dia gak perlu takut dengan ancaman pengadilan yang dilayangkan Arjuna karena dia bisa menyewa pengacara handal sekelas Hotman Paris untuk membelanya tapi itu tidak akan dilakukannya karena secara tidak langsung, kejadian tadi pagi memang salahnya.
Arjuna berdiri tegak, menarik satu kursi tinggi dan duduk di sana seraya melipat lengannya di atas conter dapur.
"Ya, tapi kamu seharusnya cukup pintar untuk tidak mengatakannya di depan Keylan," desis Arjuna.
Naura tersenyum miring, maju perlahan dan mulai membuka plastik di wadah-wadah yang berisi bahan membuat bento. "Seharusnya kalau tidak bisa memasak tidak perlu membohongi anak kecil seperti itu."
"Itu urusanku!!" Desisnya.
Naura mengatupkan bibir mendengar nada tidak sukanya, melirik sepersekian detik dan kembali merunduk saat menemukan tatapan intens Arjuna yang memandangi kegiatannya membuatnya salah tingkah hingga menjatuhkan wadah plastik berisi tomat yang untungnya masih bersegel.
"Lakukan yang benar!" decak Arjuna.
"Terus ngapain kamu malah duduk di situ?" Naura balik nyolot setelah mengambil tomatnya.
Arjuna menggidikan bahu, menyandarkan punggung lebarnya di kursi. "Mengawasimu, tentu saja. Aku mau lihat apa kamu bisa masak atau keahlianmu cuma bisa nyolot dan memarahi anak kecil."
"Aku gak marahin mereka."
Arjuna menaikkan alisnya. "Oh ya? siapapun yang melihatmu berinteraksi dengan anak kecil juga akan beranggapan sama sepertiku."
Naura menarik napasnya dengan kesal, mulai mencuci semua bahan setelah itu mengambil pisau dan telenan untuk mulai memotong, mencoba mengabaikan keberadaan Arjuna.
"Aku benarkan?" Arjuna bertanya lagi. "Kamu membenci anak kecil."
"Ya."
TAK!!
Naura memotong paprika jadi dua dan menghunuskan tatapan tajamnya ke Arjuna.
"Kamu benar. Mereka menyusahkan! Jadi, apa sekarang kamu bisa diam dan tidak mengganggu sementara aku membuatnya supaya semua ini cepat selesai dan aku bisa kembali ke sekolah!"
"Selow. Gak perlu nyembur begitu." Arjuna tersenyum mengejek. "Aku akan menonton dan mengawasimu."
"Whatever!" balas Naura jutek.
Naura membuat bento dalam diam begitu juga Arjuna meski tahu laki-laki itu tidak sekalipun mengalihkan tatapannya. Di dalam kepalanya dia mensugesti dirinya sendiri kalau laki-laki yang duduk di depannya ini bukan orang tapi patung lilin. Dari pada dia jadi salah tingkah dan melukai jarinya sendiri saat memotong wortel. Untungnya laki-laki itu tidak bersuara lagi sampai Naura selesai memasak dan tinggal dihias di tempat makan. Namun, Naura malah terdiam dan menghela napas panjang.Ditinggalkannya kesibukan membuat bento dan berjalan mendekati Arjuna yang diam memperhatikan sikapnya.
"Kenapa berhenti?" decak Arjuna
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu terkait malam itu karena entah kenapa aku malah terus-terusan berurusan denganmu seperti ini.” Naura tidak bisa mengartikan tatapan diam Arjuna yang mendengarkannya. Pokoknya Naura merasa kalau dia selalu terlibat dengannya.
"Maaf," gumam Naura.
"Apa? Kamu ngomong?"
“MAAF!” teriak Naura, sedetik kemudian mengatupkan bibir dan berdeham. “Aku minta maaf karena pikiranku yang kalut malam itu, aku jadi terlihat seperti wanita jahat padahal kamu sudah menolongku dari kemungkinan mati muda karena tenggelam padahal aku sudah membuat anakmu menangis.” Naura memantapkan diri. “Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah menolongku juga saat aku pingsan kemarin.”
Keduanya diam, tidak ada yang berbicara hanya saling menatap. Naura merasakan jantungnya bertalu-talu di dalam dirinya.
"Ohh, ingat juga toh untuk berterima kasih." Naura ternganga mendengar respon Arjuna. "Yah, malam itu kebetulan aku ada di sana dan tidak mungkin aku biarkan karena nanti aku yang akan di jadikan pelaku kejahatan karena diam saja di tempat kejadian saat ada orang yang meminta tolong.” Naura hanya bisa memaki Arjuna dalam hati. “Lalu yang kemarin kasihan aja kalau kamu gagar otak karena kebentur lantai dan kebetulan juga aku ada di sana."
“Haaah—” Naura menghela napas panjang dan berdecak. “Kebetulan ya?”
Arjuna tersenyum smirk, mencurigakan.
"Ya terserahlah."
Naura nggak mau ambil pusing karena dia sudah menyampaikan permohonan maaf dan terima kasihnya. Naura kembali lagi ke depan bentonya untuk di selesaikan.
"Apa pemicunya?" Tanya Arjuna lagi.
"Apanya?"
"Kamu tidak menyukai anak-anak tapi malah mencoba bekerja di tempat yang harus berinteraksi dengan mereka."
"Aku rasa itu bukan urusanmu."
"Oh, itu secara tidak langsung juga urusanku karena anakku ada di dalam kelas yang diajar oleh guru tidak kompeten sepertimu. Sebagai orang tua yang sangat mencintai anak mereka, wajar saja kalau aku khawatir dengan keselamatannya. Bisa saja tiba-tiba di saat kamu sedang stress dan cenderung melakukan hal membahayakan—"
"Aku bukan psikopat!” Teriak Naura kesal, menghentikan serbuan kata-kata Arjuna yang langsung terdiam. "Kamu jadi laki cerewet banget ya ngalahin ibu-ibu kompleks. Wanita mana coba yang tahan sama kamu!!" Naura mengetukkan kepalanya dengan tangan. "Ah ya lupa, istrimu pastinya. Sepertinya dia wanita yang extra sabar ya. Apa wanita berdandanan menor malam itu?" Naura mengedarkan pandangan ke sekitar area rumah tapi keadaanya sepi sekali. Bahkan pembantu juga tidak ada nampak. "Wah, apa tanggapannya kalau dia tahu kamu membawa wanita ke dapur rumahmu."
Naura mencibir sementara Arjuna hanya diam, nampak tidak terpengaruh membuatnya malah kesal sendiri dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Membuat bento itu masalah kecil justru lelaki di depannya ini yang membuat emosinya naik turun.
"Kamu terus menanyakan tentang wanita itu. Apa kamu terlalu penasaran?"
"Absolutly not. Gak usah kepedean!"
Naura melanjutkan lagi pekerjaannya yang sudah setengah jalan dan berjanji untuk tidak meladeni apapun yang dilontarkan Arjuna supaya semua cepat selesai dan dia bisa pergi. Entah apa yang dikatakan laki-laki di depannya ini ke pihak sekolah sampai bisa membawanya seperti ini.
"Bikin bentonya yang lucu."
"Berisik!!" Sembur Naura lagi.
"Kamu emosian sekali. Aku yakin pasti belum menikah kan?" Naura memegang sendoknya erat-erat. "Ahh, tunggu sebentar. Maybe, kamu belum menikah sampai sekarang karena gak ada laki-laki yang mau memiliki istri yang gak suka sama anak-anak." Naura mencoba mati-matian menahan emosinya. "Ah, itu lebih masuk akal. Berapa kira-kira umurmu sekarang? 28, 30, 32 atau 35?" Naura masih mencoba untuk diam dan sedikit lagi menyelesaikan bentonya. "Sayang sekali wanita sepertimu masih betah sendiri padahal umur sudah mencukupi tapi tidak ada yang mau—"
Brukk!!
Naura menggebrak meja,menatap Arjuna penuh luapan emosi, kalau saja Naura punya kekuatan gaib, sudah dia sumpal mulut lelaki itu dengan kaos kaki sejak awal.
"Aku memutuskan laki-laki yang melamarku hanya karena dia tidak bisa menerima keputusanku untuk menunda memiliki anak sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Aku tidak sedesparate yang kamu kira. Camkan itu!!" Semburnya dengan napas naik turun karena emosi.
Arjuna hanya bergeming menatapnya dengan eskpresi tidak terbaca. Sialan!
Lalu Naura terdiam saat menyadari kesalahan fatal yang sudah dia lakukan yaitu berbohong karena pada kenyataannya dialah yang dicampakkan. Mana mau Naura mengatakan hal itu pada laki-laki yang bisa merendahkan seseorang seperti Arjuna Ivander.
"Owhh begitu rupanya." Arjuna tersenyum miring penuh kemenangan. "Menunda memiliki anak karena kamu tidak menyukai tingkah mereka. Wanita yang aneh."
Naura pikir Arjuna akan menanyakan tentang kejadian malam itu yang pasti terasa janggal baginya karena tempat di mana dia hampir tenggelam merupakan tempat lamarannya yang dihias selayaknya acara romantis. Bukannya bahagia bersama pasangan, malah ada insiden seperti itu. Namun laki-laki itu malah tidak menyinggung hal itu dan menerima kebohongannya.
"Terserah apa katamu!"
Naura memberikan sentuhan terakhir dan akhirnya selesai membuat bento lucu dengan gizi yang beragam. Naura menutup tempat makan Keylan lalu mendorongnya maju ke arah Arjuna yang mengambil alih tapi matanya menatapnya tanpa kedip.
"Urusan kita sudah selesai. Sekarang kembalikan aku ke sekolah." Naura tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh ya satu lagi, kembalikan kunci mobilku.”
Naura mengulurkan telapak tangannya yang tiba-tiba di cekal membuatnya kaget terlebih saat Arjuna memajukan kepalanya membuat Naura sontak melotot karena berada begitu dekat dengan laki-laki itu. Bayangan bibir mereka yang menempel hari itu jadi muncul kembali diingatannya.
"Seharusnya, kalau laki-laki itu sangat mencintaimu dan menganggapmu adalah dunianya maka dia tidak akan semudah itu membiarkanmu pergi apapun alasannya." Naura auto menahan napasnya dan tenggelam dalam mata hitam tajam itu. "Seandainya aku yang jadi laki-laki itu, aku tidak akan melepasmu begitu saja tapi aku akan membantumu pelan-pelan merubah penilaianmu tentang anak-anak bagaimanapun caranya."
Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang dalam diam sampai Arjuna beringsut mundur, melepas cekalan tangannya dan berdiri dari duduknya.
“Kunci mobilmu harus ditukar dengan sesuatu.” Naura mengeryit. “Kau ceroboh sekali meninggalkan mobil mahal seperti itu pada orang yang tidak dikenal.”
“Hmm, Aku yang akan balik menuntutmu kalau kamu mengambil mobilku.” Naura tersenyum smirk. “Jadi, harus ditukar dengan apa?”
“Pikirkan dengan kepalamu ini. Sesuatu yang bisa membuat Keylan senang.”
Arjuna mengetuk dahi Naura dengan telunjuknya meski hanya sepersekian detik kemudian dia menariknya lagi.
"Aku akan mengantarmu lagi. Cepat!"
Arjuna berbalik pergi meninggalkan Naura yang langsung menghembuskan napas yang selama beberapa detik tadi ditahannya.
"Ya Tuhan, gagal jantung!!"
Naura memegangi area d**a dan memandangi tempat di mana Arjuna menghilang sembari memikirkan kalimat laki-laki itu yang mengatakan seandainya.
"Sialan!!" Naura mengacak rambutnya, kesal dengan dirinya sendiri.
***