Ardi Praditya meneguk vodka secara perlahan hingga sebotol penuh minuman itu tandas. Akibatnya kini dia mabuk. Tanpa sadar ia merogoh ponselnya dari dalam saku lalu menghubungi Renata. Perempuan yang bernama Renata itu adalah perempuan yang ingin dinikahinya, namun sangat disayangkan perempuan itu tak menerima lamaran Ardi karena dia sudah memiliki kekasih dan mereka juga akan segera menikah.
Begitu panggilan teleponnya diangkat, Ardi langsung berkata. "Ren, aku ingin yang terbaik untuk kamu. Aku pikir akulah yang terbaik untukmu. Akulah yang pantas menjadi kekasih kamu dan bahkan menjadi suami kamu. Tapi ternyata kamu lebih memilih dia."
"Di, ini bukan soal siapa yang pantas dan yang nggak pantas. Ini masalah hati. Aku nggak bisa maksain hati aku untuk cinta lagi sama kamu. Hati aku ini sepenuhnya untuk Ryan. Tidak bisa untuk siapa - siapa lagi." ujar Renata.
Ardi menarik napas panjang. "Baiklah kalau begitu. Aku relakan kamu bersama dia asalkan kamu janji sama aku kamu akan bahagia dengannya. Kamu harus bahagia Ren."
Benarkah dia rela ? Ditinggal nikah oleh wanita yang disayanginya apakah sesederhana itu ? Omong kosong! Mulutnya saja yang berkata dia rela namun sebenarnya hati Ardi belum sepenuhnya ikhlas.
"Aku janji Di, aku akan bahagia. Aku pasti akan bahagia bersama Ryan. Aku berharap kamu juga dapat menemukan seseorang perempuan yang baik yang bisa membahagiakan kamu."
Ardi tersenyum kecut."Aku nggak yakin tapi thanks." Usai mengatakan sata katu itu, Ardi langsung menutup panggilan teleponnya. Rasanya dia tidak sanggup lagi berbicara dengan Renata. Keadaan ini benar - benar berat untuknya.
Ketika kepalanya terasa mulai berat, Ardi pun ingin pergi dari sana. Dia segera berdiri lalu berjalan sempoyongan. Dia nyaris berhasil keluar dari bar itu jika saja tidak ada wanita yang menabraknya. Karena mabuk, Ardi langsung kehilangan keseimbanganan tubuhnya sehingga dia ambruk, jatuh terduduk dilantai. Samar – samar dia mendengar wanita yang bertabrakan dengannya menggerutu.
“Jalan liat – liat dong! Untuk apa punya mata kalau nggak dipake? Cungkil aja tu mata biar buta beneran!”
Tersenyem kecut Ardi berkata, “Sorry.”
Wanita tampak masih ingin memarahi Ardi namun teman prianya datang dan mengajak wanita itu pergi.
Sementara itu, Nayla yang juga terlibat dalam peristiwa tabrakan itu memandangi Ardi dengan tatapan prihatin.
“Mas kamu nggak apa – apa?” tanya Nayla sambil berjongkok.
Ari mendongak lalu menatap heran ke arah Nayla. Pikirnya aneh sekali wanita ini. Baru beberapa menit yang lalu wanita itu marah – marah tapi sekarang dia bberbicara lembut dan penuh kepedulian. Aneh kan!
Tapi sebenarnya yang lebih aneh adalah dirinya sendiri. Tanpa ia sadari dia telah menganggap Nayla sebagai Renata. Karena itu mulutnya langsung saja berkata, “Maafkan aku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu Ren. Aku yakin akulah yang terbaik untuk kamu tapi mengapa, mengapa kamu lebih milih dia?” Ardi mulai meracau.
“Mas ngomong apa?” tanya Nayla lagi dengan nada penasaran. Pasalnya dia tidak paham apa yang dibicarakan Ardi.
“Aku bilang aku rela. Aku bilang aku baik – baik saja tapi sebenarnya semua itu bohong. Hatiku sedih, teluka dan hancur. Sakit Ren.”
Mendengar perkataan Ardi, Nayla langsung berasumsi bahwa pria itu sedang patah hati karena putus dengan wanita yang dicintainya. Kasihan!
Akses masuk bar mulai terhambat karena Ardi dan Nayla. Akhirnya Nayla berinisiatif menolong. “Mas, mas bisa berdiri nggak? Sini saya bantu.” Saat hendak membantu mengangkat Ardi, Nayla melihat sebuah kartu kunci tergeletak dilantai. Dia menduga kartu kunci itu milik si pria mabuk ini. Nayla pun memungut kartu kunci itu lalu menyimpannya dikantong jaket kulitnya.
Ardi tidak berkata apa- apa lagi. Hanya tubuhnya yang ia gerakan mengikuti gerakan Nayla. Tetapi beberapa detik kemudian Ardi langsung memeluk Nayla. “Aku mencintai kamu. Kamu tahu kan? Aku sangat – sangat mencintai kamu Ren.”
Nayla langsung kaku. Pria ini semabuk apa sih sampai – sampai tak menyadari apa yang dikatakannya? gumam Nayla dalam hati. Belum lagi orang – orang yang masuk dibar itu memandagi mereka dengan tatapan penuh selidik. Nayla semakin merasa canggung.
“Mas ayo jalan.” ucap Nayla cepat lalu memegangi lengan Ardi.. “Mas bisa jalan kan? Pelan – pelan aja nggak apa – apa.”
Sebenarnya Ardi tidak yakin tapi kepalanya mengangguk kecil.
Walau sedikit mengalami kesulitan namun karena niat yang baik pada akhirnya mereka berhasil tiba di depan kamar nomor 521. Nayla membawa Ardi kesana sesuai dengan nomor kartu kunci yang dipungutnya dilantai.
Mengambil kartu kunci yang disimpannya disaku jaket, Nayla segera membuka pintu. Begitu pintu terbuka, dia mendorongnya sekuat tenaga dengan satu kakinya.
Masuk ke dalam kamar, Nayla menuntun Ardi ke tempat tidur. Usai membaringkan pria mabuk itu Nayla segera pergi dari sana. Sebelum terjadi sesuatu yang buruk, ia harus segera keluar dari kamar itu.
Nayla pernah membaca sebuah novel dimana cerita novel itu mengisahkan tentang seorang perempuan yang menolong pria mabuk namun tak disangka perempuan itu justru menjadi korban pelampiasan hawa nafsu si pria. Ironis! Nayla bergidik ngeri kala mengingat kembali novel yang dibacanya itu. Jangan sampai hal itu menimpanya.
***
“Ini sudah ke sembilan kalinya kamu terlambat Nayla.” tegur Jevan, manager Rytz bar. “Dari pada kerja jadi pelayan tapi nggak becus, mending kamu jadi wanita penghibur saja. Pekerjaan itu bebas, nggak ada aturan jam kerjanya. Kamu pun bisa punya banyak uang.”
Nayla tak lantas menjawab kata – kata panjang lebar yang dilontarkan bosnya itu. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Kali ini apa lagi alasan kamu?”
Nayla masih tetap bungkam. Dia terlihat ragu untuk memberitahu alasan mengapa dia sampai terlambat. Mana mungkin dia mengatakan kalau dia baru saja membantu seorang pria asing pergi ke kamarnya dilantai 7 hotel ini. Dapat dipastikan manager nya ini akan segera mengesahkan dirinya sebagai wanita penghibur.
"Kalau saya tanya dijawab!" Nada suara Jevan semakin meninggi.
Nayla langsung terperanjat. Menurut Nayla, suara teriakan managernya itu mengerikan. Menarik napas panjang lalu ia mengeluarkan suaranya. "Maaf pak. Saya terlambat karena motor saya mogok tadi." Alasan ini adalah alasan yang selalu dipakainya. Tapi memang benar, selama ini masalah keterlambatannya selalu berasal dari motor matic buntut nya itu.
Jevan menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. "Sudah tahu motor itu banyak masalahnya kenapa masih aja kamu pake? Sebenarnya kamu masih pengen kerja atau enggak sih?”
Kepala Nayla tertunduk lagi. “Maaf pak.” ujarnya penuh rasa bersalah.
“Dengar ya Nayla. Ini kesempatan terakhir kamu. Jika kamu terlambat lagi, kamu langsung saya pecat!" kata Jevan tegas dan penuh penekanan.
Nayla menganggukan kepala. "Baik pak. Terima kasih."
"Sana pergi, kerjakan tugas kamu!"
***
"Kamu kenapa lagi Nay?" tanya Iffah sahabat Nayla yang juga bekerja di Rytz bar. Iffah menghampiri Nayla yang sementara menunggu bartender menyiapkan minuman untuk para pengunjung.
"Aku telat lagi." Nayla mendesah frustasi.
"Dan kamu dimarahi lagi sama bos Jevan."
Nayla mengangguk lemah.
"Sabar Nay. Jangan masukin dihati. Beginilah resiko bekerja disini. Kamu harus tabah menghadapi bos galak kayak singa."
Bibir Nayla langsung memunculkan senyum. Dia tahu ucapan sahabatnya itu bertujuan untuk menghibur hatinya. "Kamu bisa aja Fah. Kalau dia dengar entar kamu bakal dimarahi."
"Makanya jangan sampai dia dengar." bisik Iffah sambil tertawa.
Iffah adalah sahabat Nayla sejak SMA. Nasib mereka hampir sama. Jika Nayla berkerja untuk membantu kebutuhan hidup keluarga dan untuk pengobatan ayahnya, lain halnya dengan Iffah. Gadis itu harus bekerja banting tulang untuk membayar hutang - hutang ayahnya. Ayahnya seorang penjudi dan pemabuk. Karena hal itu ayahnya memiliki banyak hutang pada rentenir.
Sampai ayahnya meninggal hutang - hutangnya tak sempat ia bayar. Iffah adalah anak tunggal. Ibunya juga sudah lama meninggal. Karena itu pada akhirnya Iffah lah yang harus membayar hutang - hutang ayahnya sampai lunas. Dia pun harus bekerja disini.
Walaupun resiko pekerjaan disebuah bar cukup besar, tetapi Iffah mengesampingkan hal itu. Bagaimanapun disini juga adalah tempat memperoleh penghasilan yang lebih banyak, untuk ukuran profesi sebagai seorang pelayan. Iffah rela bekerja disini agar hutang – hutang yang diwariksan ayahnya itu dapat segera terbayar lunas.
Ketika Nayla bercerita padanya tentang penyakit yang di derita ayahnya dan dia membutuhkan tambahan uang, Iffah pun mengajak Nayla bekerja sebagai pelayan bersama dengannya.
"Kenapa sih kamu sampai terlambat?" tanya Iffah dengan raut wajah penasaran. Nayla memang beberapa kali terlambat, namun keterlambatannya hanya berkisar lima belas sampai tiga puluh menit. Tapi kali ini dia terlambatnya sampai dua jam. Jiwa penasaran Iffah langsung saja meronta – meronta. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Panjang ceritanya. Nanti aja aku ceritakan." jawab Nayla.
Iffah mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Tapi janji ya, nanti kamu harus cerita.”
Nayla mengangguk. Bertepatan saat itu sang bartender sudah selesai mengatur minuman diatas nampan. "Ini udah siap. Sana bawa!"
***
Karena begitu banyak hal yang dipikirkan Meifa, ia jadi mondar-mandir tidak jelas diruang tamu rumahnya. Kejadian tadi pagi benar - benar memberi dampak besar kepadanya. Dia ketakutan. Bagaimana caranya agar dia bisa membayar hutang nya pada tuan Bram ? Bagiamana jika ia tidak bisa membayar ? Apa yang akan terjadi padanya ? Apa yang harus dilakukannya ? Sederet pertanyaan itu berkelebat dalam pikiran Meifa.
"Mama kenapa sih Mondar-mandir kayak seterikaan ?" tanya Risya anak kandungnya. Gadis itu baru saja tiba, langsung duduk santai disofa.
"Syukurlah kamu udah pulang. Mama lagi pusing ini." jawab Meifa lalu duduk disamping Risya.
"Memang kenapa ?"
"Tadi pagi tuan Bram datang kesini nagih hutang. Terus karena mama nggak bayar, anak buahnya bikin keributan. Lalu tuan Bram mengancam kalau mama nggak bayar hutangnya sampai bulan depan, dia bakal buat yang lebih parah lagi." cerita Meifa.
Risya pun langsung berubah panik. "Hah? Apa anak buah tuan Bram bakal gebukin kita ? Apa kita bakal diusir dari rumah ini? Astaga. Mama... Apa yang harus kita lakukan ?" rengek Risya.
“Mama juga pusing ini. Mama masih mikir, apa yang harus kita lakukan ? Dimana kita bisa dapat uang seratus juta ? Kamu juga dong bantu mikir jangan hanya merengek.”
Risya pun menurut. Mereka berdua larut dalam pikiran masing – masing selama beberapa menit. Tiba – tiba sebuah ide muncul diotak Meifa. “Gimana kalau kita jual Nayla pada tuan Bram ? Dia kan penyuka daur muda. Biar saja Nayla jadi istri ke empatnya. Gimana menurut kamu?”
Senyum cemerlang langsung terbit dibibir Risya. “Ide bagus mama. Kalau kita jual Nayla, kita bakal terbebas dari hutang. Dan kita juga bisa dapet uang.” kata Risya bersemangat.
“Bener sayang. Kita bisa minta mas kawin uang sama perhiasan, terus semua itu bisa kita ambil.” timpal Meifa juga dibarengi dengan senyuman lebar.
Risya langsung memeluk Meifa. “Duh mama pinter banget sih.”
“Siapa dulu dong mama kamu.”
Dani yang sedang beristirahat dikamar tiba – tiba merasa haus. Dia kemudian keluar, berjalan secara perlahan – lahan menuju dapur. Namun langkah kakinya terhenti ketika dia mendengar percakapan Meifa dan Risya.
Mulut dan mata Dani langsung terbuka lebar karena terkejut. Ya Allah, bisa – bisanya istri dan anak tirinya itu merencanakan hal jahat pada Nayla, gumam Dani dalam hati. Ini tidak bisa dibiarkan! Sebelum hal buruk menimpa putrinya, Dani bertekad untuk melakukan sesuatu. Dia harus menolong Nayla.