Rheina menoleh ke arah datangnya suara. Rheina cukup terkejut, seseorang yang tak pernah ia harapkan ternyata datang bahkan menemuinya. Kebetulan atau hal yang disengaja? Rheina memaksakan senyumnya. Seolah baik-baik saja dan bahkan melupakan apa yang pernah orang itu perbuat padanya dulu. Luka yang dibuat oleh pria itu memang sudah mengering, sembuh, namun bekasnya tetap ada, tak menghilang. Rheina bukanlah malaikat. Sekuat apa pun Rheina mencoba melupakan, bayangan masal lalu itu tetap ada. Seolah enggan pergi meninggalkan Rheina. Memaafkan, sudah pasti. Melupakan? Entah kenapa terasa sulit sekali. “H-hai....” Rheina tampak gugup menjawab panggilan orang itu. Revan menangkap sesuatu yang tak baik di hadapannya. Dia bisa melihat tubuh Rheina tampak sedikit bergetar. Wanita itu tampak

