“Jangan harap kamu bisa membawa putraku, Letta!” Suara Keevan berseru dengan lantang dan sukses membuat langkah kaki Arletta terhenti. Tampak wajah Arletta memucat. Tenggorokan wanita itu tercekat. Lidahnya kelu. Otaknya seketika menjadi blank. Arletta merasakan darahnya seperti berhenti mengalir dan terhenti tepat di kepalanya. Seperti bumi yang berhenti pada porosnya tubuh Arletta nyaris terhuyung ke belakang. Namun, mati-matian Arletta memperkokoh kakinya agar tetap berdiri tegak. Perlahan, Arletta membalikan tubuhnya. Menatap Keevan dengan mata yang memiliki jutaan arti. Marah, benci, dendam semua telah melebur menjadi satu. Napas Arletta memburu. Emosi seakan ingin meledak kala mengingat apa yang dikatakan oleh pria itu. “Apa maksudmu, Keevan?” seru Arletta meninggikan suaranya.

