Pelupuk mata Arletta bergerak kala merasakan silau matahari menerpa wajahnya. Perlahan Arletta mulai mengerjap beberapa kali. Menggeliat dan menguap. Hingga ketika Arletta sudah membuka matanya; wanita itu tampak mengerutkan keningnya kala melihat dirinya berada di dalam kamarnya. Seketika Arletta terdiam. Ingatan Arletta mengingat dirinya menunggu Keevan pulang. Harusnya dia duduk di sofa ruang tamu. Tapi kenapa dirinya tidur di kamar? Raut wajah Arletta berubah. Wajahnya mulai pucat. Benak Arletta memikirkan siapa yang memindahkannya ke kamar. Napas Arletta memberat. Dadanya sesak seperti terganjal sesuatu. Ya, Arletta yakin yang memindahkannya ke kamar adalah Keevan. Tak mungkin pelayan atau penjaga berani memindahkannya ke kamar. “Ah, bodohh sekali!” gerutu Arletta yang merutuki keb

