“Oh, astaga. Jam berapa aku harus menunggunya? Kenapa Keevan belum juga muncul?” Arletta berdiri tak jauh dari ruang kelas Keevan. Gadis itu masih lengkap memakai atributnya. Kaus kaki berwarna merah. Sepatu warna yang tak sama. Serta tali rapia yang mengikat rambut panjangnya. Sungguh, penampilannya ini memang sangat memalukan. Tapi Arletta bisa apa? Daripada dia harus kembali berdebat dengan para senior, lebih baik Arletta masih memakai atributnya yang sangat memalukan itu. Saat ini yang Arletta fokuskan bukanlah masa-masa OSPEK. Dalam hati dan benak Arletta yang dia pikirkan hanya Keevan dan Keevan. Sejak pertemuan pertamanya dengan Keevan, laki-laki itu berhasil memorak-porandakan hatinya. Bahkan Arletta sampai tidur terlambat hanya karena membayangkan sosok Keevan. Ya, ini adalah ben

