“Sayang … kamu nggak apa-apa?” Suara wanita paruh baya itu mentap hangat dan lembut pada Keanu. Akan tetapi raut wajah wanita paruh baya itu terdiam dengan mata yang sedikit menyipit melihat wajah Keanu seperti wajah yang begitu sangat dia hafal dan kenali. Sesaat wanita paruh baya itu menatap dalam-dalam bocah laki-laki yang ada di depannya. Mata cokelat itu. Rambut cokelat gelap tebal. Bulu mata lentik. Hidung mancung nan mungil. Bibi ranum merah muda. Semua ciri yang dimilik bocah laki-laki yang ada di depannya mengingatkannya pada seseorang. “Astaga, Keanu hati-hati, Sayang.” Arletta buru-buru menghampiri Keanu bersama dengan seorang wanita paruh baya. Dia mempercepat langkahnya agar segera tiba. Keanu membenarkan posisi berdirinya, memiringkan kepala menatap sosok wanita paruh b

