Ketika ia menyebut Savero, Alarik bersemangat. Ternyata dalam diri bosnya masih tersisa hati walaupun sedikit. "Bosqu, nenekmu sudah ada di sana. Kalian bisa datang bareng ke acara pembukaan mall barunya."
Ghamaliel sedikit mengernyit. "Siapa yang bilang aku datang ke sana?"
Alarik benar-benar terdiam, "Jadi ke Savero?"
"Ada mahasiswi ku yang bimbingan skripsi."
"Hah?" Sekarang dia terkejut. Alarik melihat Ghamaliel dengan tidak percaya, "Jadi dosen pembimbing? Are you Serious, bosqu?" Tak ada tanggapan dari Ghamaliel. Alarik bertepuk tangan, "luar biasa!Pasti bayarannya gede, sampai orang yang sibuk sampai nggak punya waktu buat neneknya, menyempatkan diri jadi dosen pembimbing. Kali ini, saham yang mana? Berapa persen?"
"Tanya sendiri pada pria tua yang tinggal dirumahmu, yang kamu panggil ayah itu!" Ghamaliel menjawab dengan ekspresi datar.
Alarik mengangkat bahu. "Bosqu, jangan lupa kenyataan, kalau kamu juga salah satu hasil dari sel s****a pria tua itu. Yang pertama dan terbaik. Benarkan, bos? Atau aku panggil Abang? Kedengaran lebih akrab."
Ekspresi Ghamaliel menjadi suram, "jangan panggil aku abang selama otak dalam kepalamu masih dibawah standar!"
Alarik meringis.
Selain tak punya hati, pria ini juga bermulut jahat. Tiba-tiba dia merasa kasihan dengan mahasiswi yang mendapatkan orang semena-semena ini sebagai dosen pembimbing?
Siapa orang sial yang malang itu?
***
Jarak dari stasiun kereta depan kampusnya sampai ke stasiun Bogor hanya terpisah oleh 7 stasiun. Meskipun terlihat dekat, sekalipun Tera belum pernah menginjakkan kakinya ke sana.
Maklum saja, selain untuk bekerja dan kuliah, dia kebanyakan menghabiskan waktu luangnya buat main hp sambil rebahan, rebahan, dan rebahan.
Capek rebahan, barulah dia refreshing, pulang kerja keliling mall dengan teman-temannya atau pergi nonton dengan Arash kalau ada film terbaru yang link donload-nya susah didapat.
Meskipun baru pertama kali pergi ke Bogor, Tera tidak takut tersasar. Buat apa takut? Kan ada Google.
Sebelum berangkat tadi, dia sudah tanya ke Google bagaimana cara pergi ke Savero, Bogor.
Seperti biasa Google-- selama kuota juga sinyal mendukung selalu cepat tanggap. Ada 4 pilihan yang dikasih termasuk jarak tempuh dan biayanya.
Jalan kaki. Pilihan yang langsung dia coret. Ke Indomart depan gang-- yang butuh sekali lompat untuk sampai ke sana saja, dia naik motor. Ini ke Bogor disuruh jalan kaki selama 7 jam, biarpun gratis ogah!
Taksi online. Coret, Mahal!!!
Bus AKAP. Ongkos murah dan jarak tempuhnya hanya 40 menit, tapi Tera tak mau ambil resiko terjebak macet di jalan tol apalagi ini akhir pekan. Coret!!!
Tera merasa pilihannya untuk naik kereta sudah paling benar. Murah, cepat, aman dan bebas macet.
Nyatanya, bebas macet bukan berarti bebas hambatan. Kereta yang dia naiki berhenti di tengah perjalanan gara-gara pohon tumbang.
Butuh waktu untuk petugas menyingkirkan batang besar yang melintang di tengah-tengah rel. Kereta yang harusnya sampai jam 16.35 mulur jadi 17.20.
Tera setengah berlari keluar dari peron. Ekor kudanya agak berantakan, berayun kesana kemari kemudian berhenti saat pemiliknya terdiam untuk melihat sekeliling.
Tera sedikit linglung melihat tempat yang sama sekali tidak dia kenal.
Bogor adalah kota satelit yang ramai. Lapak-lapak pedagang berjejer depan stasiun, penumpang hilir mudik. Angkot, ojek ngetem sembarangan menambah semrawut dan macet. semakin parah.
Dia mengeluarkan ponsel, menurut Google dari stasiun ke Savero hanya butuh waktu lima menit naik kendaraan. Melihat bagaimana semrawut dan macetnya kota ini, Tera ragu.
Tera melihat jam, 15 menit jalan kaki sepertinya masih keburu.
"Cisarua, Neng. Langsung berangkat." Sopir angkot menawarkan jasa dengan antusias.
"Nggak, Mang." Dia memasang headset lalu berjalan cepat mengikuti perintah mbak-mbak Google map.
Lurus, sebelum lampu merah putar balik lalu belok kanan. Lurus lagi, belok lagi. Semua perintah sudah diikuti, tapi kok sudah jalan jauh belum juga sampai.
"Belok kiri ke arah jalan pajajaran." Suara yang kaku kembali terdengar.
Tera belok kiri, dari jauh dia melihat gedung tinggi yang megah. Pasti ini tempatnya, semangatnya kembali membara.
Begitu sampai Tera melongo. Ada tembok, tapi tak ada pintu.
Mbaknya bercanda ya? Masa dia disuruh melompat?
Tera menggulung headset melemparnya ke dalam tas. Dengan bersungut-sungut dia melihat sekeliling beberapa kali, tampaknya dia berada di samping hotel, berarti pintu masuknya tidak jauh dari sini.
Ketika meninggalkan tempat itu langit mulai gelap. Tas ranselnya ia peluk erat-erat seakan di dalamnya ada pusaka peninggalan leluhur.
Eh, memang ada sih. Lebih keramat daripada pusaka leluhur malah. Apalagi kalau bukan skripsi.
Selain itu, ada macbook, harganya tidak murah. Demi barang ini, dia rela hidup dibawah garis kemiskinan selama beberapa bulan kedepan. Gajinya hampir tak tersisa untuk membayar cicilannya.
Mata Tera berbinar menatap gedung tinggi di depannya. Memang ya abang gorengan lebih pintar dari mbak-mbak Google, sekali kasih petunjuk langsung ketemu tanpa ada drama lompat pagar.
Sekali pandang, Tera menebak di sini sedang ada acara besar.
Ketika masuk, lengkungan besar yang terbuat dari bunga menyambutnya. Papan bunga ucapan selamat memenuhi kiri dan kanan jalan. Sementara papan yang ada belum tersusun, papan bunga juga balon ucapan selamat terus berdatangan.
Ada satu yang paling mencolok dan menarik perhatian. Tulisannya terbuat dari styrofoam berbentuk paha ayam crispy berwarna keemasan, terlihat menggugah selera. Kelopak bunga berwarna merah di susun sedemikian rupa menyerupai semangkuk sambal.
Melihat logonya, Tera tahu itu dari Li'el. Pengusaha yang membuat Arash hampir gulung tikar.
Tera tak bisa menahan tangannya untuk melepas beberapa potong paha ayam dan mengubah tulisannya dari bersuka cita menjadi berduka cita. Biar saja bos sialan itu malu.
Pada saat ini, dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara pria. "Merusak barang milik orang lain bisa dikenakan denda sebesar lima juta atau 6 bulan kurungan, kecuali..."
Tera yang baru mencabut 1 paha ayam seketika membeku. Sedetik kemudian, dia berbalik kebelakang.
"...bayarin segelas kopi."
Ekspresi Tera langsung terpelintir melihat orang yang dia kenal menatapnya dengan tatapan jenaka.
"b******k Arik, aku kira beneran!"
"Kalau beneran kamu mau ngapain?"
"Ngapain lagi? Kabur!!"
"Udah lama nggak ketemu malah mau kabur. Nggak kangen apa?" Tanyanya dengan nada menggoda.
Tera membuang replika potongan paha ayam, lalu menjawab dengan santai. "Nggak."
"Berarti iya." Pria itu membuat kesimpulan, lalu dengan seenaknya melingkarkan tangannya ke bahu Tera dan menyeretnya, "chatime yuk, aku mau denger gimana kabarmu lima tahun ini."
Namun, langkahnya tertahan oleh suara yang dipenuhi kemurkaan yang muncul di belakang mereka.
"Alarik!! Bagus ya malah bawa perempuan ke sini. Kamu nggak lihat yang lain sibuk?!!"
"Biarin aja. Mereka karyawanmu, aku bukan." Alarik menekan bagian 'mereka karyawanmu' dengan sengaja.
"Jangan lupa, nenek tua ini juga punya andil buat bayar gajimu. Pindahkan karangan bunga di sana ke kamarku!!"