Keseharian Crystal masih sama.
Mengutak-atik barang-barang canggih yang ada di sekitarnya.
Bedanya sekarang Crystal lebih bersemangat dari biasanya.
Crystal melakukan penelitian kecil-kecilan terkait dengan 'Batu Merah Menyala'.
Crystal melakukan penelitian saat tidak ada informasi yang masuk ke komputernya alias di waktu senggangnya.
Walaupun tidak banyak informasi yang bisa dia lakukan dari penelitian kecil-kecilannya itu.
Tapi, Crystal cukup senang memandangi ukiran yang ada di batu tersebut.
Terlihat sangat indah walaupun sebenarnya motifnya cukup simpel.
Ya ... simpel namun unik.
***
Selain Crystal, orang-orang di laboratorium ternyata juga senang meneliti dan mencari asal-usul tentang 'Batu Merah Menyala' yang sangat langka itu.
Seharusnya batu itu sudah ada setelah dipakai percobaan untuk menghasilkan sihir pengendalian api, tapi entah kenapa tiba-tiba batu itu ditemukan dan sekarang berada di laboratorium utama kerajaan.
Setelah, ditemukan 'Batu Merah Menyala' para peniliti beranggapan bahwa pencarian akan lebih mudah dilakukan atau bahkan mendapatkan titik terang.
Ternyata tidak ada yang terjadi, malah semakin lama semakin tidak jelas arah pencariannya.
Informasi yang ada mulai tak karuan.
***
"Ada kiriman sumber energi," ucap salah satu peneliti sambil masuk ke ruangan penelitian.
Tidak ada yang menghiraukan ucapan peneliti yang baru masuk itu, semuanya sibuk meneliti 'Batu Merah Menyala'.
"Kamu periksa saja sendiri Renata, kami sibuk dengan batu ini," akhirnya salah satu orang menyahut.
"Baiklah," ucap Renata dengan senang.
Renata senang meneliti sesuatu yang baru apalagi yang tidak tertarik di teliti oleh teman-temannya.
Baginya, buat apa dia ikut meneliti 'Batu Merah Menyala' itu. Toh sudah banyak yang meneliti batu itu.
Jika ia mau info tentang 'Batu Merah Menyala', ada banyak info dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ratusan peneliti yang berlomba-lomba mendapat informasi terbanyak dari sebuah batu kecil.
Entahlah, Renata tidak mengerti sama sekali jalan pikiran mereka.
Dan para peneliti lain juga tidak mengerti jalan pikiran Renata.
Sayangnya, karena keasikan meneliti 'Batu Merah Menyala', pekerjaan para peneliti untuk meneliti sumber energi baru pun terbengkalai.
Akhirnya Renata seorang diri yang meneliti semua sumber energi yang dikirim ke laboratorium.
Renata pindah dari ruang penelitian utama ke ruang penelitian pribadi.
Ia tak suka diganggu saat bekerja apalagi diganggu oleh suara teriakan peneliti lain saat mereka mendapat info baru tentang 'Batu Merah Menyala'.
Keadaan ruang penelitian pribadi sepi.
Hanya ada suara mesin yang ada.
Renata mulai membersihkan sumber energi yang baru saja diterimanya.
Bagian sumber energi yang bisa dipakai untuk membuat alat baru itu hanyalah bagian intinya, jadi para peneliti harus membuka bagian luarnya.
Membukanya pun tidak sembarang membuka, mereka harus membukanya dengan hati-hati.
Jangan sampai inti dari sumber energi itu rusak.
Jika rusak sedikit saja, maka inti dari sumber energi itu sudah tidak dapat digunakan lagi.
Setelah sumber energinya bersih, Renata mulai membuka bagian luarnya dengan berbagai alat dan terkadang memakai ramuan untuk mempermudahnya.
Sebenarnya semua peneliti yang ada di laboratorium utama ini menguasai sihir alkemia tingkat tinggi.
Itu sebabnya mereka melakukan penelitian memakai ramuan juga.
Di tengah-tengah penelitian Renata merasa janggal dengan apa yang di telitinya.
Rasanya berbeda.
Renata terus melanjutkan penelitiannya.
"Ah!" teriak Renata dengan sangat kencang.
Semua peneliti yang berada di ruangan penelitian utama kaget dengan suara Renata dan segera berlari mencari Renata.
Cukup mudah untuk menemukan Renata dengan barang-barang canggih yang ada di laboratorium.
Tepat di depan ruangan penelitian pribadi tempat Renata para peneliti terdiam mematung setelah membuka pintu.
Renata terjatuh di lantai sambil melihat ke arah meja penelitian.
Ternyata benda yang selama ini Renata teliti bukanlah sebuah sumber energi, tapi sebuah batu langka yaitu 'Batu Hijau Alami'.
"Astaga Renata, kamu benar-benar beruntung. Dua kali kau menemukan batu langka," ucap salah satu peneliti yang juga masih kaget dengan apa yang dilihatnya.
Untuk kedua kalinya, benda yang seharusnya hanya bisa diliat di buku kuno, dapat mereka liat secara langsung.
Dan untuk kedua kalinya juga, orang yang menemukan itu adalah Renata.
Para peneliti langsung meneliti habis-habisan 'Batu Hijau Alami'.
Dan yang ingat untuk mengirimkan data pokok ke pusat informasi alias tempat Crystal hanyalah Renata.
Renata lagi-lagi tidak berminat untuk meneliti batu langka itu.
Dan berjalan untuk mengambil sumber energi yang baru saja dikirim untuk diteliti.
Para peneliti yang ada di laboratorium tidak ada yang mengira bahwa Renata lah yang akan menemukan batu-batu langka.
Karena Renata bukanlah peneliti unggul.
Renata termasuk peneliti yang jarang membuat alat baru.
Renata selalu kalah cepat dan kalah informasi dari para peneliti lainnya.
Ia sering sekali dibanding-bandingkan dan dimarahi.
Itulah yang membuat Renata malas ikut berlomba-lomba mencari informasi karna ia pasti akan kalah dalam hal itu.
***
'Sebuah pesan telah masuk'
Suara mesin penerima pesan khusus tiba-tiba bersuara.
Crystal sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan isi pesan yang masuk.
Tapi, karena itu tugasnya, Crystal mengunduh file yang masuk itu.
Beberapa jam kemudian Crystal menemukan corak yang aneh di 'Batu Merah Menyala'.
Crystal memperbesar dan memperkecil proyektor yang ada di depannya itu untuk memastikan.
"Sepertinya ada sambungan dari corak ini, tapi dimana sambungannya?" ucap Crystal dengan bingung.
"Ah daripada aku bingung sendiri, mending aku buka file yang tadi dikirim sebelum aku dimarahi karena tidak mengerjakan tugas dengan baik," ucap Crystal sambil mengambil minuman lalu duduk di dekat mesin penerima pesan khusus dan membuka file yang tadi di unduhnya.
Crystal membuka file tanpa berharap banyak.
Tapi tiba-tiba senyumannya mengembang saat melihat isi dari file yang baru dikirim itu.
Dengan cepat Crystal memindah file itu ke proyektor agar bisa melihat gambarnya dengan jelas.