Bab 2 - Pesan Mengejutkan

1241 Words
Sena membeku. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari Baskara kini bisa mendengar setiap kata yang diucapkan ibunya melalui speaker kecil itu. Ia tidak punya pilihan selain tetap menempelkan ponsel di dekat telinganya dengan tangan yang terus gemetar. "Enggak, Bu. Mas Baskara baik sekali sama Sena," bohongnya, sementara tangannya gemetar. "Sena, dengar Ibu, Nak," suara Bu Lastri terdengar lebih dalam dan serius. "Kamu harus kuat. Ibu tahu ini berat buatmu, tapi jangan biarkan Baskara menghubungi Sarah lagi. Sarah itu wanita ular, Sena. Dia nggak akan berhenti mendekati suamimu meskipun dia tahu kalian sudah menikah." Sena terkesiap, matanya membelalak menatap permukaan meja. Ia tidak berani menatap suaminya, namun ia bisa merasakan perubahan atmosfer di depannya. "Lagipula kamu itu sangat cantik, Sena. Sarah nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Percaya sama Ibu, suatu saat Baskara akan sadar siapa yang benar-benar berharga." Wajah Sena memerah karena tegang dan malu. Ia melirik Baskara yang kini rahangnya mengeras hebat, matanya berkilat antara marah dan tidak percaya mendengar kekasih pujaannya dihina sedemikian rupa. Menyadari suasana semakin berbahaya, Sena mencoba memotong pembicaraan dengan sopan. "I-iya, Bu. Baik, tapi maaf, Bu ... ini makanan kami baru saja datang. Mas Baskara sudah menunggu untuk sarapan bersama. Nanti Sena telepon lagi ya, Bu?" ucap Sena seperlunya, berusaha menekan getaran di suaranya. "Oh, iya, Sayang. Maaf Ibu mengganggu waktu kalian. Salam buat Baskara ya. Makan yang banyak, Sena." "Iya, Bu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Begitu sambungan terputus, Sena meletakkan ponsel itu di atas meja dengan gerakan sangat pelan, seolah benda itu adalah bom yang siap meledak. Keheningan yang jauh lebih mematikan dari semalam kini menyelimuti mereka di tengah keriuhan restoran hotel. Baskara masih pada posisinya, tubuhnya condong ke arah Sena. Ekspresi pria itu berubah drastis. Tatapan benci, murka, namun terselip rasa penasaran yang amat besar. Sarah wanita ular? Lalu, Sena, cantik? Secantik apa wanita ini sampai ibu bisa membandingkan Sarah, dan katanya Sarah tak ada apa-apanya? Batin Baskara. Baskara menatap Sena dengan tatapan menghunus, seolah ingin menembus kain cadar yang menutupi wajah istrinya. Ia tahu ibunya sangat mengenal Sarah, tapi ia tak pernah menyangka kebencian ibunya sedalam itu sampai tega menyebutnya sampah. "Apa yang kamu katakan pada Ibu sampai dia mencuci otaknya sendiri seperti itu?" desis Baskara. "Aku nggak bilang apa-apa, Mas." "Jangan bohong!" Baskara mencengkeram pinggiran meja hingga berderit. "Ibu bilang kamu cantik? Dia bahkan belum pernah lihat wajahmu tanpa kain sialan ini. Apa yang kalian rencanakan di belakangku sampai Ibu begitu memujamu dan menghina Sarah?" Sena perlahan mendongak. Untuk sesaat, mata jernihnya yang basah bersitatap dengan mata Baskara yang penuh kebencian. Ia menarik napas pendek yang terasa sangat berat di dadanya. "Ibu tahu wajahku, Mas," jawab Sena lirih, suaranya bergetar namun terdengar sangat jujur. Baskara tertegun, rahangnya masih mengeras. "Hanya kamu yang tidak mau tahu," lanjut Sena. Ia kembali menunduk, menyembunyikan kerapuhannya. "Bagi Mas, aku bukan manusia. Aku cuma patung yang menghalangi jalanmu." Baskara mendengus kasar, berusaha menutupi rasa terkejutnya. Jawaban tenang Sena justru membuatnya merasa semakin terpojok. Ia merasa seperti orang paling bodoh di meja itu, dikelilingi oleh rahasia yang disimpan rapat oleh ibu dan istrinya sendiri. "Kamu memang penghalang, Senandika," suara Baskara melunak namun tetap terasa tajam. "Aku nggak butuh tahu wajahmu untuk tahu kalau kamu itu cuma alat yang dipakai Ibu buat memisahkan aku dari Sarah." Pria itu menyambar gelas kopinya dan meneguk isinya dengan kasar, meskipun cairan itu masih panas. Pikirannya benar-benar kalut. Baskara menatap siluet Sena yang duduk meringkuk di hadapannya. Ada rasa penasaran yang mulai menyelinap di balik kebenciannya, sebuah keinginan terlarang untuk membuktikan kata-kata ibunya. Secantik apa, kurasa biasa saja, batinnya. "Makan," perintah Baskara dingin tanpa melihat ke arah Sena lagi. "Aku nggak peduli dengan perkataan ibu tadi, takkan mengubah apa pun." Sena tidak menjawab. Ia perlahan mengangkat sedikit bagian bawah cadarnya hanya agar bisa menyuap sesuap bubur yang terasa hambar. Ia makan dalam diam, sementara air mata yang sejak tadi ia tahan perlahan jatuh, menetes tepat ke dalam piringnya. Merepotkan sekali melihatnya begitu, batin Baskara. Baskara bangkit tiba-tiba, membuat kursi yang ia duduki berderit keras. "Sudah. Aku nggak nafsu lagi. Kembali ke kamar sekarang," ketusnya. Tanpa menunggu Sena, Baskara melangkah pergi dengan langkah lebar. Ia meninggalkan istrinya yang masih memegang sendok dengan tangan bergetar. Sena masih berusaha menyelesaikan suapan terakhirnya di tengah tatapan kasihan dari orang-orang di sekitar mereka. Sena terburu-buru meletakkan sendoknya, tidak sanggup lagi menelan suapan terakhir yang terasa seperti bongkahan kerikil di tenggorokan. Dengan kepala tertunduk, ia berjalan mengekor di belakang Baskara yang melangkah lebar tanpa sedikit pun menoleh. Jarak di antara mereka seperti jurang pemisah yang tak terlihat, satu melangkah dengan angkuh, sementara yang satu lagi terseok-seok mengumpulkan sisa martabat yang berserakan. Begitu sampai di depan pintu kamar hotel, Baskara menggesek kartu kunci dengan sentakan kasar. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan membiarkan pintu itu menutup sendiri—hampir saja mengenai wajah Sena jika wanita itu tidak segera menahannya. "Mas..." bisik Sena saat ia sudah berada di dalam kamar. Baskara berbalik, wajahnya memerah padam. "Diam! Kamu puas sekarang? Puas sudah membuat Ibu berpihak padamu." Ia melangkah mendekat, memojokkan Sena hingga punggung wanita itu membentur pintu yang tertutup rapat. Baskara mencengkeram sisi pintu di dekat kepala Sena, mengurung wanita itu dalam jarak yang menyesakkan. "Apa yang Ibu bilang tadi soal Sarah ... kamu pasti yang memengaruhi beliau, kan? Kamu ceritakan apa saja padanya?" "Aku saja tidak kenal siapa Sarah, Mas. Bagaimana bisa aku memengaruhi Ibu?" Suara Sena bergetar, namun ada nada keputusasaan yang nyata di sana. Ia mendongak, menatap mata Baskara yang berkilat penuh amarah dari balik cadarnya. "Kenapa Mas tidak tanya langsung ke Ibu? Kenapa Ibu sampai menyebut Sarah seperti itu? Mas putranya, Mas lebih punya hak untuk bertanya daripada menuduhku yang baru kemarin datang di hidup kalian." Baskara semakin merapatkan jarak, hingga ujung hidungnya nyaris bersentuhan dengan kain cadar Sena. Napasnya yang memburu terasa panas di kulit wajah Sena yang tak tertutup kain. "Jangan coba-coba mengalihkan kesalahan, Sena! Ibu itu tidak pernah membenci siapa pun tanpa alasan, dan sejak kamu ada, semuanya berubah." "Apa maksudnya, Mas? Aku tidak berbuat apa-apa selain menerima tawaran ibu." "Nah, itu dia, masalah ini bermula karna kamu menerima tawaran Ibu." "Mas, kenapa ini dibahas lagi, sih?" "Aku akan bahas terus! Kamu pasti sudah menjual drama menyedihkanmu sampai Ibu merasa harus melindungimu dan membuang Sarah!" Cengkeraman Baskara pada pintu semakin menguat, suaranya kini berubah menjadi bisikan tajam yang mengerikan. "Ibu bilang kamu cantik? Bagiku, kamu itu cuma wanita misterius yang nggak punya nyali buat menunjukkan jati diri. Kamu itu cuma topeng, Sena. Dan topeng ini..." Baskara menyentuh pinggiran kain cadar Sena dengan kasar, membuat jantung Sena seolah berhenti berdetak. "Kamu yang bilang nggak sudi lihat wajahku, aku nggak—" "Stop. Aku nggak peduli omong kosongmu, Sena." Baskara menghempaskan tangannya, melepaskan kurungannya pada tubuh Sena dengan gerakan menghina. Ia berbalik dan menyambar kunci mobil di atas meja dengan kasar. "Aku pergi. Jangan berani-berani menelepon Ibu untuk mengadu kalau kamu nggak mau hari-harimu di sini jadi lebih buruk dari ini." Pintu kamar hotel itu dibanting dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. Sena terperosok ke lantai, lututnya lemas tak lagi mampu menopang berat tubuhnya yang hancur. Ia menatap pergelangan tangannya yang memerah, lalu beralih ke pintu yang kini tertutup rapat. Air matanya kembali jatuh, membasahi kain cadar yang sejak tadi disebut suaminya sebagai topeng kemunafikan. Di tengah isak tangisnya yang tertahan, ponsel Sena yang berada di dalam tas kecilnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Sena meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Saat layar menyala, matanya membelalak. "Astaghfirullah, apa ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD