Baskara masih berdiri mematung di tengah kamar, matanya tidak lepas mengikuti gerak-gerik Senandika. Amarahnya masih di ubun-ubun, lidahnya sudah gatal ingin kembali menyemburkan makian dan interogasi tentang siapa sebenarnya pria bernama Zidan itu. Sena tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dengan wajah pucat dan mata sembap yang menatap kosong ke depan, ia mencoba berdiri. Ia meringis tertahan, tangannya mencengkeram pinggiran nakas dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kaki kanannya yang diperban tampak gemetar saat menyentuh lantai. Sena melangkah perlahan, menyeret kakinya yang sakit menuju kamar mandi. Setiap langkahnya terlihat sangat menyiksa, badannya limbung, dan napasnya terdengar berat menahan nyeri yang berdenyut-denyut di pergelangan kakinya. Baskara hanya dia

