Bab 8 - Bukan Karna Pengemis Cinta

1134 Words
Setelah Baskara memaksanya kembali ke kamar dan melempar tasnya dengan kasar, pria itu langsung pergi lagi tanpa pamit, mungkin mengejar Sarah, atau mungkin hanya ingin menghindari rasa bersalahnya. Ponselnya berdering, ibu mertuanya menelepon lagi. "Apa yang harus aku katakan," ucap Sena. Sena memejamkan mata, berusaha mengatur napas agar suaranya tidak terdengar seperti habis menangis. "Assalamu’alaikum, Ibu..." ucap Sena pelan. "Wa’alaikumussalam, Sena sayang. Suaramu kenapa nak? Kok lemas sekali? Apa kamu sakit?" Suara Bu Lastri terdengar penuh kekhawatiran. Sena menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan ibu mertuanya, tapi fisiknya memang sudah tidak sanggup menanggung beban mental ini. "Ibu ... maafkan Sena. Sena sepertinya kurang enak badan. Kepala Sena sangat pusing," jawab Sena jujur, meski ia tidak menyebutkan bahwa pusingnya karena terlalu banyak menangis. "Astaghfirullah! Baskara mana? Apa dia sudah tahu kamu sakit? Apa dia sudah belikan obat?" tanya Bu Lastri beruntun, nada suaranya berubah panik. Sena terdiam sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. "Mas Baskara... sedang keluar sebentar, Bu." Hening di seberang sana. Bu Lastri bukan wanita bodoh. Ia tahu tabiat putranya. Menantu yang baru dinikahi dua hari sakit, dan suaminya justru keluar entah ke mana? "Sena..." Suara Bu Lastri kini merendah, terdengar lebih serius dan penuh tekanan emosional. "Jujur pada Ibu. Apa ada sesuatu yang terjadi di sana? Jangan menutupi apa-apa dari Ibu, Nak. Perasaan Ibu nggak enak dari semalam." "Tidak ada apa-apa, Bu," "Sena, dengar," potong Bu Lastri lembut namun tegas. "Ibu memintamu menikahi Baskara karena Ibu ingin dia mendapatkan wanita yang baik dan shalehah. Ibu ingin kamu menjadi wasilah agar mata hatinya terbuka, agar dia sadar bahwa wanita yang selama ini dia puja itu tidak baik untuk dunianya, apalagi akhiratnya. Tapi..." Bu Lastri menghela napas panjang. "Ibu juga tidak mau kamu malah tersiksa. Ibu menyayangimu seperti anak kandung sendiri, bukan sebagai alat untuk merubah Baskara saja. Kalau sikap Baskara sudah keterlaluan, katakan pada Ibu, Nak. Jangan menanggungnya sendirian hanya karena utang budi. Kamu terlalu berharga untuk disakiti." Pertahanan Sena runtuh. Mendengar ketulusan mertuanya, air matanya kembali mengalir deras tanpa suara. Ia terjepit di antara keinginan untuk mematuhi pesan mertuanya dan kenyataan bahwa harga dirinya sebagai istri sedang diinjak-injak oleh wanita dari masa lalu Baskara. "Ibu ... Mas Baskara hanya butuh waktu," bisik Sena akhirnya, meski hatinya menjerit kesakitan. "Berapa lama lagi waktu yang dia butuhkan untuk menghargai permata seperti kamu?" suara Bu Lastri mulai bergetar karena marah pada putranya sendiri. "Tunggu di sana. Ibu akan menelepon anak kurang ajar itu sekarang juga!" Klik. Sambungan terputus. Sena panik. "Bu? Halo, Bu?" Sena lemas, Bu Lastri pasti benar-benar menghubungi Baskara. Sena terdiam sejenak, jemarinya bergetar saat kembali membuka pesan dari nomor asing yang masuk beberapa waktu lalu. Di sana, terpampang foto Baskara dan Sarah yang sedang berpelukan erat. Hanya seminggu sebelum akad nikah mereka. Saat semua persiapan sudah matang, saat janji suci tinggal menghitung hari, suaminya masih membagi pelukan dengan wanita lain. "Aku yakin nomor asing ini, nomor Sarah," ucap Sena gemetar. "Sarah sengaja," gumam Sena pelan. "Dia mengirimkan foto ini sekarang untuk membuatku panas. Dia ingin aku merasa menjadi orang ketiga di antara mereka, padahal akulah istri sahnya." Sena menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sesak yang kembali menghimpit. Jika dia pergi sekarang ke rumah Umi, bukankah itu yang diinginkan Sarah? Sarah ingin Sena menyerah, ingin Sena mundur agar posisi istri itu kembali kosong. Sena teringat peringatan Bu Lastri. Mertuanya itu tidak sembarangan menyebut Sarah sebagai wanita ular. Dan jika Sena membiarkan Baskara jatuh kembali ke pelukan wanita itu, bukankah dia sama saja membiarkan suaminya hancur? "Aku tidak sekuat itu, Ya Allah," isak Sena lirih di atas sajadahnya. "Tapi aku sudah sah menjadi istrinya. Niatku menebus utang budi pada Ibu Lastri tidak boleh berhenti hanya karena egoku terluka." Sena mulai menyadari sesuatu. Melarikan diri bukan sikap wanita yang kuat. Dia punya Umi dan Bu Lastri yang berdiri kokoh di belakangnya. Dan yang paling penting, dia punya Allah. Sarah mungkin punya cinta Mas Baskara sekarang, tapi aku punya takdir Allah yang menyatukan kami dalam ikatan suci, batinnya menguatkan diri. Sena menghapus sisa air matanya. Dia tidak akan membiarkan Sarah menang. Dia akan bertahan, bukan karena dia pengemis cinta, tapi karena dia harus menjaga kehormatan rumah tangganya. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dengan kasar. Baskara masuk dengan wajah memerah, ponselnya masih menempel di telinga. "Iya, Bu! Baskara tahu! Baskara sedang di kamar sekarang!" bentak Baskara ke arah ponselnya, sepertinya dia sedang diinterogasi habis-habisan oleh Bu Lastri. Baskara mematikan teleponnya dengan kasar dan melemparnya ke atas kasur. Napasnya memburu, matanya yang tajam langsung menghujam ke arah Sena yang masih terduduk di atas sajadah. "Puas kamu?" suara Baskara menggelegar, penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Baru ditinggal sebentar saja sudah bisa membuat drama. Kamu bilang apa pada Ibu, hah?" Sena hanya diam, namun tangannya meremas kuat kain mukena yang masih dikenakannya. "Ibu memaki-makiku habis-habisan! Beliau bilang aku tidak becus menjaga istri sendiri, bilang aku suami tidak berguna! Kamu maunya apa sih, Sena? Apa cuman bisa mengadu dan merengek pada Ibu supaya aku dihukum?" Baskara melangkah mendekat, auranya begitu mengancam. Sena perlahan berdiri. Meski tubuhnya masih lemas dan hatinya hancur, ia menatap balik suaminya dengan tatapan yang kini lebih berani. Rasa sakit yang bertubi-tubi sejak tadi pagi seolah memberinya kekuatan untuk bicara. "Mau Mas yang apa?" tanya Sena balik, suaranya bergetar namun tegas. "Lalu aku harus jawab apa kalau Ibu selalu menghubungiku? Ibu terus bertanya tentang keadaanku. Beliau tidak tenang sejak semalam karena merasa cemas." "Bisa kan kamu bohong sedikit? Bilang semuanya baik-baik saja!" sergah Baskara. "Aku sudah berusaha, Mas! Aku hanya menjawab kalau aku sedikit tidak enak badan karena pusing. Itu kejujuran yang paling halus yang bisa kuberikan," Sena melangkah selangkah ke depan, air matanya kembali menggenang namun ia tak membiarkannya jatuh. "Aku hanya bilang tidak enak badan! Bukan memberitahu Ibu kalau suamiku ... suamiku baru saja memeluk wanita lain di dalam kamar ini! Wanita yang bahkan dianggap 'ular' oleh ibunya sendiri!" Baskara tertegun. Kata-kata Sena barusan seperti tamparan keras di wajahnya. "Aku menutupi aibmu, Mas. Aku menjaga kehormatanmu di depan Ibu," lanjut Sena dengan suara yang kian lirih namun menusuk. "Tapi apa yang aku dapat? Mas datang ke sini hanya untuk menuduhku mengadu? Serendah itu aku di matamu? Padahal saat ini hatiku sedang berdarah karena pemandangan menjijikkan tadi pagi, tapi aku tetap berusaha membuat Mas terlihat baik di mata Ibu." Baskara bungkam. Amarah yang tadi meluap-luap mendadak surut, berganti dengan rasa sesak yang tak ia mengerti. Ia melihat mata Sena yang memerah karena tangis, dan untuk pertama kalinya, ia merasa seperti pengecut yang sesungguhnya. "Mas tidak perlu khawatir," ucap Sena lagi sembari menyeka air matanya dengan kasar. "Aku tidak akan mengadu tentang Sarah. Bukan karena aku takut padamu, tapi karena aku masih menghargai pernikahan ini, meski Mas tidak." Sena kemudian berjalan melewati Baskara menuju wastafel, meninggalkan Baskara yang berdiri mematung di tengah kamar, dilingkupi rasa bersalah yang mulai merayap naik ke dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD