Drestan Croft sebelumnya tak tahu jika dirinya adalah seorang Separuh-Iblis. Pada usianya yang mencapai delapan belas tahun, ia menemukan kenyataan tersebut baru-baru ini saja. Sehingga, kita bisa saja menyebut Drestan—yang lebih dikenal sebagai Drest di sini—bahwa ia memiliki nasib yang sama dengan Hel.
Bedanya, tidak ada satu pun ingatan Drest yang dihapus.
Justru, ia mengingat momen-momen kebenaran bahwa dirinya adalah putra seorang vehemos dengan begitu pekat, seolah-olah memori itu baru tercipta tadi pagi, atau satu jam yang lalu, atau bahkan beberapa detik yang lalu. Kegetiran dan kengerian, sekaligus rasa manis akan semangat, selalu bisa terasa di ujung lidahnya.
Dan sesaat, setelah ia mengenal jati dirinya yang disembunyikan oleh Tuan dan Nyonya Croft, Drest merasakan ekstasi kemenangan. Itu, tentu saja, sebelum ia bertemu kembali dengan Hel si pencuri, bersama seorang tabib muda yang kelihatan biasa-biasa saja. Ketika mereka bahkan tak terintimidasi oleh gelak tawa Drest yang mengerikan, bahkan keduanya berhasil mengalahkan pemuda itu, Drest begitu terpukul.
Sangat, sangat terpukul sampai-sampai ia tidak bergerak di dalam kungkungan kubah hijau. Drest bahkan tidak punya keinginan untuk memberontak. Ia membiarkan dirinya terperangkap bersama tumpukan mayat yang sudah membusuk. Hingga, setelah hampir satu bulan meresapi kekalahannya dan tercenung di dalamnya, Drest bermimpi akan masa lalunya.
Tetapi sebelumnya—apakah itu sungguhan mimpi, atau ini adalah kelebat berbagai potongan masa lalu sebelum seseorang mencapai gerbang ajal?
+ + +
Drestan Croft bukanlah pemuda biasa. Baiklah, dia agak jangkung dan badannya keceng, tidak spesial, tetapi justru itulah keistimewaan Drest—dia tidak mencolok.
Di tepi Vestrad, pemuda bangsawan selalu menarik perhatian, sehingga Drest bersyukur ia tidak berbadan gemuk, sehat, berpipi tomat, atau hanya pandai pakai pedang di pekarangan rumah saja.
Ini semua gara-gara Ayah mengabaikannya.
Lagipula Ayah berdusta sejak awal.
Ibu sudah tiada? Ha! Yang benar, Ibu tidak akan pernah muncul di hadapan Drest saat ia masih sadar!
Baiklah, mari kita mundur beberapa langkah ke dalam hidup Drest.
Untungnya, kisah hidupnya juga tidak semencolok itu. Tumbuh sebagai putra satu-satunya Count Sebastian Croft, seorang bangsawan dari Utara jauh, tidak membuat Drest menjadi calon pewaris kaya-raya. Mereka berdua memang tinggal di kastil kecil, tetapi ruang-ruang dipenuhi oleh rak-rak buku, rak-rak tabung, dan rak-rak berisi toples-toples misterius. Alih-alih lavender, rumahnya semerbak akan bau alkohol tajam, venome yang mencekik, dan seutas kulit jeruk. Mereka punya beberapa pelayan, tetapi seiring Drest tumbuh besar, ia menyadari bahwa sebagian besar pelayan mereka merangkap tugas sebagai pengawal kota atau agen mata-mata. Bahkan para wanita paruh baya di dapur ternyata mampu menyogok orang-orang di pasar untuk secuil informasi yang dibutuhkan Ayah ....
Ah, tunggu sebentar. Ini bukan kehidupan bangsawan biasa, ya? Benar. Kehidupan masa lalu Drest ternyata ... sedikit unik. Drest, pada usia kedua belas, akhirnya sadar seutuhnya bahwa Ayah adalah seorang agen mata-mata Raja Vestrad sebelum Lord Grimshaw. Ia dibawa jauh-jauh dari Utara Jauh untuk itu. Sayang, rencana Raja Vestrad untuk membawa negeri menjadi semaju negeri-negeri di Utara tidak membuahkan hasil. Kudeta terjadi di mana-mana, dan Lord Grimshaw berhasil mengalahkannya.
Mungkin, sejak itulah, Ayah berubah.
Dan, itu, masih permasalahan yang menimpa keluarga kecil bangsawan Croft secara umum. Drest muda mengalami masalah berbeda.
“Bagaimana denganmu, Drestan, di mana ibumu?”
Pertanyaan itu seringkali terlontar saat Drest menemui teman-teman baru di Akademi. Teman-teman lamanya pun juga kadang memberikan pertanyaan serupa.
“Kemarin ibuku memberiku kalung mutiara yang sangat indah—konon beliau mendapatkannya dari seorang pelayan ajaib. Apa ibumu pernah memberi sesuatu, Drest, atau kau tak pernah menemuinya sejak lahir?”
Drest tak mampu menjawab apa pun, dan Ayah juga melarangnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
“Tak usah memedulikan mereka—mereka hanya ingin mengejekmu.” Jika setiap jawaban Ayah bisa disimpulkan, maka itulah kesimpulannya.
Namun, Drest masih berusia dua belas saat itu. Ia lelah dengan berbagai pertanyaan dan upaya kawan-kawannya berkompetisi akan ibu siapa yang paling hebat, dan bukan sekadar wanita rumahan bersahaja. Sehingga, di penghujung tahun terakhirnya di Akademi Pertama, Drest sudah tidak tahan lagi. Ia bilang, ia sering diantar tidur oleh Ibu. Ia mengenali kecupan di kening Drest yang berbeda dari Ayah. Ia juga mengenali sentuhan lembut pada lengan dan pipi saat Drest separuh terlelap. Ia juga tahu bahwa santapan pagi yang kadang sudah tersedia di kamarnya bukanlah masakan para pelayan dapur—citarasanya berbeda, dan Drest tahu Ibu yang memasaknya.
Benar. Ibu Drest masih hidup, tetapi tak pernah sekali pun beliau menampakkan diri di hadapannya.
Jawaban Drest membuat kawan-kawannya heran. Salah seorang berkata, “Kalau begitu kenapa kau tidak pura-pura tidur dan melihatnya saat ia mengantarmu tidur?”
Sementara yang lain berkata, “Jadi selama ini ayahmu menyembunyikan ibumu?”
Pertanyaan terakhir itu tak mampu Drest jawab, dan, seolah menjadi respon paling buruk sepanjang hidupnya, sebuah gosip menyebar dengan cepat. Mula-mula di Akademi Pertama, kemudian meluas ke telinga para ibu dan pelayan, kemudian satu kota pun tahu.
Countess Croft ternyata tidak pernah tewas seperti yang diumumkan suaminya dahulu.
Apa yang terjadi selepas penyebaran gosip itu adalah kehidupan terburuk Drest—atau begitu, menurutnya saat itu. Bagusnya, ia sudah lulus dari Akademi Pertama. Keuntungannya hanya itu saja, sebab ia tak perlu menanggung cemoohan dan lirikan bodoh saat orang-orang menanyakan kebenaran. Drest bahkan tak tahu mana yang benar. Malam-malamnya pun tiba-tiba menjadi senyap. Tak ada lagi kecupan kening, atau sarapan spesial di kamarnya.
Di atas itu semua, Ayah juga menghilang. Beliau tak meninggalkan apa pun selain ruang kerjanya yang berantakan. Rak-rak berisi tabung-tabung cairan hitam ambruk, meninggalkan beberapa tabung kecil yang menggelinding ke sudut ruang. Perkamennya berhamburan. Saat menemukan ruangan itu kacau balau, Drest mendengar para pengawal berbisik di luar lorong.
“Kasihan Tuan Muda Drest,” kata seseorang. “Dia harus bertahan hidup sendirian sekarang.”
“Apa kau tahu ke mana Tuan Besar pergi?”
“Tidak ada yang pernah tahu.”
“Tapi,” sahut seseorang, “aku pernah melihat Tuan Besar pulang sebelum subuh dengan sepatu boots berlumpur dan bau busuk.”
“Bau apa itu?”
“Dia sering mengunjungi hutan di luar kota—mungkin dia pergi ke danau kecil di dalam sana.”
“Untuk apa ia melakukannya?”
“Mana kutahu?”
Insting Drest seketika menyarankan pemuda itu agar melakukan hal yang sama. Maka Drest pun membentuk rencana. Sembari berkutat menghindari pengawasan para pengawal yang berlipat ganda, Drest mengumpulkan tabung-tabung kecil berisi cairan hitam, meraup sisa perkamen Ayah dan mengambil miliknya sendiri, mencuri koleksi batuan mahal di dalam kendi pasir, belati dan mata tombak berlumur racun milik para pengawal, dan liontin misterius yang ditemukan di kamar Ayah. Berbekal pengalamannya berkuda bersama Ayah setiap minggu, Drest pun menyusuri jalan menuju hutan yang dimaksud.
Drest, di usia ketiga belas, lantas sadar bahwa Ayah sering membawanya berkuda dekat hutan, tetapi ia tak pernah menyadari detail itu. Drest selalu disibukkan dengan canda tawa bersama para pengawal, sementara Ayah akan memandang ke arah hutan dengan termenung. Drest kira, Ayah suka melamun. Kenyataannya, Ayah memikirkan sesuatu di dalam hutan itu.
Butuh waktu lama hingga Drest mencapai hutan. Bagusnya, para pengawal juga berkutat untuk mencarinya, semata-mata menghindari terjangan gosip yang lebih kuat akan kacaunya keluarga Croft.
Ketika Drest mencapai tepi hutan, ia mengendus sebuah aroma yang sangat aneh. Perpaduan antara ... aroma besi, sesuatu yang anyir, dan menyengat. Drest di usia itu masih belum mengenal aroma mayat. Tetapi Drest tahu, ini bukan bau yang menyenangkan. Ia lantas mengikuti sumber aroma yang semakin menguat itu.
Perjalanan mengarungi hutan bukanlah hal mudah bagi Drest muda sendirian. Tetapi, mengetahui bahwa Ayah sering bepergian kemari, bahkan sejauh membawa sang putra ke dekat hutan sekadar untuk merenung, membuat tekad Drest tak pernah padam. Kerja keras pemuda itu akhirnya tercapai. Pada hari ketiga ia berada jauh di dalam di hutan, dengan perut kelaparan dan tubuh lemas karena tidak membawa persediaan makanan cukup, ia mengendus aroma asap perapian. Drest mengendap-endap ke sana, dan begitulah—ia kembali menemukan sang ayah.
Tetapi Ayah tidak sendirian. Ia bersama seorang wanita.
Dan Drest tahu, wanita itu adalah ibunya.
Meski begitu Drest tidak buru-buru menghambur, menangis dan mengomeli mereka karena meninggalkannya sendirian. Drest justru terpukau. Di balik sesemakan, ia mengagumi betapa cantiknya sang ibu—beliau terlihat begitu muda! Dan, kalau dipikir-pikir, Ayah dan Ibu seolah tak pernah menua meski usianya mencapai kepala empat! Drest mengagumi bagaimana rambut sepinggang Ibu memiliki warna semanis cokelat panas yang diteguknya pada musim dingin. Atau, betapa pipi Ibu bagai tomat ranum saat tertawa akan cerita Ayah mengenai keseharian Drest. Atau, bagaimana binar di mata Ibu sejernih telaga di belakang mereka, acap kali mendengar nama Drest disebut.
Drest melupakan rasa laparnya begitu saja. Ia sudah kenyang dengan meneguk tangisan penuh harunya saat berhasil melihat Ibu. Tetapi Drest masih belum juga paham; kenapa Ibu ada di hutan? Dan mengapa Ayah sering menemuinya malam-malam di telaga tersembunyi ini, dan menyembunyikan keberadaan beliau di balik kabar kematian palsu?
Sebelum melanjutkan kilas balik yang panjang ini, mari kita renungkan—bagaimana sebagai anak, tak peduli seberapa besar cinta kita kepada orang tua, ada hal-hal yang tak bisa diterima akal begitu saja. Hal-hal yang, selama sesaat, membuat sang anak meragukan cintanya kepada orang tua.
Drest mengalaminya setelah seharian mengawasi Ayah dan Ibu, yang tampaknya sudah pasrah dengan kehidupan terpencil di tengah hutan.
Adalah pada suatu sore yang gelap, ketika Drest sempat terlelap karena kelelahan dan kelaparan, ia mendengar suara sesuatu diseret. Drest terbangun dan menyadari Ayah membawa sebuah karung besar kepada Ibu, sementara beliau ada di tepi telaga dengan rambut terikat. Ibu tidak terlihat akan mandi, tetapi beliau mencelupkan sebagian tubuh ke air.
Ayah pun membuka karung. Drest membeliak saat melihat dua penduduk—yang pernah diketahuinya menggosipi Ibu di pasar—terkulai lemas di dalamnya. Dan ... tunggu. Tidak. Mereka tidak sekadar pingsan. Jika mereka pingsan, harusnya mereka menjerit saat Ibu tahu-tahu menggerogoti lengan mereka. Dua penduduk itu juga harusnya mengaduh kesakitan saat Ibu mencabuti jari-jari mereka, dan menyesap darahnya bagai meneguk cokelat panas.
Dengan jantung bertalu-talu, Drest pun menyaksikan Ibu perlahan berubah. Tubuhnya meninggi, punggungnya membungkuk, kulitnya mengeras, tulang-tulangnya mencuat, dan kedua bola matanya lenyap ditelan kegelapan. Sedangkan Ayah menanti dengan sabar di sisinya, menyaksikan sang istri bersantap dengan lahap, menatapnya penuh cinta seolah-olah memiliki pasangan sesosok monster adalah hal yang lumrah baginya.
Seiring dengan mual yang menggelegak di tenggorokan, dan mulutnya yang banjir ludah dengan hasrat lapar, Drest melarikan diri dari hutan itu. Ia tak pernah berhenti hingga ia terkapar pingsan jauh di luar kota, dan terbangun dipungut oleh sekelompok kawanan pemburu.
+ + +
Sayang, kawanan pemburu yang sudah menjaganya sedemikian rupa itu berhasil dikalahkan oleh dua orang asing itu. Padahal Drest sudah menerima kenyataan dengan berbuat sejauh meresapi identitas aslinya sebagai peranakan monster dan manusia. Padahal, Drest juga sudah menggembleng para kawanan pemburu itu agar menjadi kaki tangannya. Padahal, Drest juga sudah menemukan keluarga barunya, kendati para pria kasar itu suka sekali merundungnya.
Tapi dua orang asing itu mengalahkan mereka semua dengan mudah!
Seindah awal dari mimpinya, dan sepahit akhir dari kisah hidupnya sebelum ini, Drest saat ini merasakan bagian dalam tubuhnya menggelegak kuat. Sekujur lengannya berkedut-kedut, dan tenggorokannya begitu kering, sampai-sampai menelan ludah tak ada gunanya lagi. Drest mengerang dan menggeram. Rasa haus yang tak terkira membuat benaknya kacau, dan tak ada yang Drest inginkan selain menghancurkan Desa Kors dan menyantap semua orang.
Tapi ia lebih ingin menyantap dua orang asing sialan itu.
Maka Drest, setelah tubuhnya berhenti berkedut-kedut dan rasa sakit di sekujur badannya meringan, ia berusaha menjebol kubah hijau. Jari-jarinya yang panjang dan berkulit keras berhasil mematahkan sulur-sulur yang rapat. Kulit kepalanya yang gundul, karena seluruh rambutnya rontok kesakitan, kini merasakan empasan angin tengah malam yang dingin. Drest merangkak keluar, dengan kedua kaki dan tangannya yang nyaris sama panjang.
Drest mendapati dirinya berada di alun-alun yang senyap. Tampaknya semua orang tidur, eh? Tidak seru. Namun, Drest menyadari sebuah cahaya hitam yang nampak membelah langit nun jauh di sana.
Drest mengangkat alis. Menarik, ya? Kalau begitu Drest akan mengejarnya. Dengan langkah kaki dan tangan berderap, Drest melompati atap-atap rumah dan mengendus aroma Hel dan Aeson yang tertinggal.
Sebelum mencapai cahaya hitam itu, pertama-tama, ia akan menyantap Hel dan Aeson duluan.