Setelah cekcok antara David dan Teo, akhirnya David tetap mengalah karena menurutnya percuma berdebat dengan Teo yang sedang ingin terus berdekatan dengan istri mudanya. Meskipun Teo tidak mengatakan hal itu, nyatanya David tetap paham akan kondisi ayah mertuanya saat ini.
"Jadi Om sudah menikah?" tanya Zhidan masih menatap tidak percaya pada gadis muda yang duduk di sebelah Teo dengan Teo yang terus menggenggam tangan gadis muda itu.
"Kamu pakai nanya lagi. Kan tadi Om Teo sudah bilang kalau dia sudah nikah, dan itu istrinya!" ketus Dede dengan sedikit berbisik karena ini adalah kali kesekian Zhidan bertanya hal itu pada Teo.
Teo mengangguk dengan tersenyum, sementara Galuh hanya diam tak begitu banyak berbicara, namun membiarkan Teo menggenggam tangannya meski dia tidak mengatakan secara blak-blakan jika dia adalah istrinya. Namun, sikap Teo seolah mengisyaratkan jika inilah istrinya.
"Berapa usiamu?" tanya Zhidan masih saja tidak percaya.
"Zhidan. Ayolah kita balik. Aku sudah ditelepon anakku ini!" Dede kembali menyela karena sepertinya Zhidan kesulitan memahami kenyataan hidup jika Teo menikahi wanita yang jauh lebih muda dari istrinya, juga lebih muda dari Luci, putri Teo sendiri.
"Berisik..." kali ini David yang menimpali karena ternyata David yang gedek dengan pertanyaan Zhidan yang seputar itu-itu lagi.
"Bukan gitu Dave, tapi..." ponsel Zhidan kembali berdering dan itu lagi-lagi panggilan dari putrinya.
"Nah, kan. Apa aku bilang." Dede kembali menghela napas saat Zhidan mengeluarkan ponselnya dan tertera nama Shafa di layar ponselnya, dan itu adalah putri kembarnya, dan itu adalah panggilan kesekian putrinya.
Setelah terheran-heran dengan kehadiran Galuh sebagai istri muda Teo, Zhidan dan Dede akhirnya mengatakan akan balik karena keduanya kompak ditelepon oleh anak mereka, dan sekarang hanya David dan Galuh yang mengurus Teo. David sudah meminta kurir untuk mengantar ayam goreng tepung pesanan putranya, sementara tadi David mengatakan sedang membantu Zhidan yang mobilnya bermasalah di jalan. Tadi, Zhidan juga sudah bicara langsung sama Luci jika David memang sedang membantunya, lebih tepatnya membantunya mengurus Teo Mervino yang dengan keras kepalanya malah ingin pulang dan tidak ingin dirawat di rumah sakit.
"Jadi ke mana aku harus membaringkannya? Aku akan membantumu sebelum aku pulang!" ucap David pada Galuh karena David pikir Galuh akan kerepotan membawa Teo ke kamar, secara Teo bukan laki-laki berbadan kecil yang akan bisa Galuh dan bibi angkat. Bahkan Zhidan dan Dede saja tidak sanggup mengangkat tubuh Teo berdua.
"Jangan berlebihan, Dave. Papa enggak mengalami patah tulang. Papa masih bisa berjalan ke kamar," tolak Teo saat David menawarkan bantuan pada Galuh, padahal dia tidak begitu parah, tidak sampai patah tulang atau lumpuh.
"Bukan begitu, Papa. Tapi David akan merasa tidak berguna jika sampai tidak menawarkan bantuan pada istri muda Papa," balas David saat Teo tetap gengsi mengaku sedang tidak baik-baik saja meskipun saat ini laki-laki itu sedang butuh pertolongan.
"Tidak apa-apa. Kamu pulanglah. Ini sudah malam. Papa enggak mau jika kamu malah dapat masalah dengan Luci atau sainganmu di rumah itu," balas Teo dan kali ini David langsung menghela napas dalam diam sembari mengembuskan nya dengan sangat kasar.
"Papa benar. Sekarang saja istri David lagi disandera sama si penguasa hanya gara-gara David lupa membawa pesanannya!" keluh David sembari meraih jasnya yang sebelumnya dia letakkan di punggung sofa, tapi Teo malah terkekeh dengan penuturan laki-laki ini.
"Sudahlah, kamu pulang saja. Besok jika kamu tidak begitu repot atau tidak punya kegiatan yang terlalu penting di kantormu, datanglah bersama Luci. Papa akan mengatakan tentang Galuh kepada dia agar dia tidak tahu dari orang lain. Kamu tahu sendiri dia suka norak kalau marah," balas Teo dan David langsung mengangguk setuju untuk pernyataan ayah mertuanya yang satu ini jika Luci memang sering norak kalau sudah marah.
"Ya iya. Papa benar. Jadi maaf jika David harus meninggalkan Papa sekarang, tapi besok David akan datang sama Luci," ucap David yang sudah langsung meraih tangan Teo untuk dia cium punggung tangannya, pamit pada Galuh dan bibi untuk pulang.
Sebelumnya, Teo sudah dibersihkan menggunakan air hangat dan handuk basah, berganti pakaian dan ternyata di sinilah peran seorang istri. Tidak akan ada orang lain yang paling peduli padamu, apalagi jika untuk urusan badanmu. Hanya seorang istri atau suami yang akan tahu bagaimana cara menyentuh tubuhmu. Hanya mereka yang boleh tahu baik dan buruk yang ada di tubuhmu karena dialah yang akan menemanimu menghabiskan sisa usiamu.
Jika ada pepatah mengatakan hubungan seorang istri atau suami bisa menjadi bekas, sementara anak dan orang tuanya tidak akan pernah menjadi bekas, namun nyatanya hanya pasanganmu yang akan menemanimu menanti senja. Maka dari itu, hargai dia selagi ada, jangan sekali-kali membuat hatinya terluka ataupun kecewa. Kata-kata itu yang terus dia katakan pada putri dan menantunya dan kali ini, jujur Teo juga berharap banyak pada Galuh meskipun dia juga tidak yakin bisa membuat Galuh benar-benar ikhlas menerima dia yang tua ini.
"Makan dulu, setelahnya minum obat!" ucap bibi saat menyerahkan nampan berisi makan malam Teo karena baik bibi ataupun Galuh yakin jika Teo belum makan malam. "Bibi buatkan bubur mendadak agar Tuan bisa lebih mudah menelannya," sambung bibi saat kembali meletakkan segelas air mineral lengkap dengan sedotannya.
Ada sup sayur yang sebelumnya bibi dan Galuh buat untuk makan malam mereka, dan kuah sup itulah yang Galuh gunakan sebagai kuah bubur tersebut. Sebenarnya ini bukan bubur sih menurut Teo, tapi nasi yang sengaja dibuat lembek, tapi namanya juga mendadak jadi Teo juga tidak banyak protes. Terlebih lagi kali ini Galuh sudah mengambil alih mangkuk bubur itu dan menawarkan satu sendok suapan di depan bibirnya, dan rasanya memang sangat berbeda saat dia disuapi oleh Luci atau Daniel, cucunya.
"Jangan seperti Daniel yang kudu dirayu dulu baru mau makan dan minum obat, malu sama istri!" sarkas bibi saat Teo enggan untuk membuka mulutnya di sendokan keempat dan kelima, padahal dari tadi bibi melihat jika Galuh hanya menyendok sedikit bubur itu untuk dia suapkan pada Teo. Teo langsung membuka mulutnya dan Galuh buru-buru memasukkan bubur yang sudah dicelupkan ke dalam kuah sup agar tidak terasa hambar.
Tersenyum. Nyatanya Galuh ikut tersenyum dengan keluhan bibi saat mengingatkan Teo untuk tidak manja, dan Galuh juga ingat jika dia juga seperti itu jika sedang sakit. Meskipun sudah cukup dewasa, nyatanya Galuh sering bermanja di punggung ayahnya saat malas bangun pagi atau sekadar makan atau minum obat. Galuh akan berusaha menolak semampunya, namun Evan, ayahnya, juga akan terus membujuknya dengan cara apa pun termasuk menggendong Galuh yang bahkan sudah bukan anak-anak lagi hanya untuk makan dan minum obat, dan tiba-tiba sekarang Galuh malah merindukan ayahnya, merindukan saat-saat bahagia bersama sang ayah.
"Manusia, lebih tepatnya orang dewasa, ada fasenya akan kembali seperti anak-anak, Bik. Dan mungkin Om Teo sedang ingin menjadi seperti itu!" balas Galuh kemudian kembali mengambil satu sendok bubur itu untuk dia sodorkan di depan bibir Teo.
"Sepertinya memang begitu!" balas bibi sambil mencibirkan bibirnya seolah ingin mengejek sikap Teo saat ini.
"Tidak, Galuh. Aku hanya sedang tidak ingin makan dan hanya butuh istirahat, dan bukan sedang berada di fase menjadi anak-anak kembali!" tolak Teo pada Galuh yang baru saja terang-terangan mengatakan jika dia sedang berada di fase labil seperti anak-anak yang butuh dirayu dan dimanja. Tidak. Sungguh nafsu makan Teo sedang menghilang karena rasa sakit di sekujur tubuhnya dan Teo rasa semua orang yang berada di situasi Teo pasti akan merasakan hal yang sama dengan Teo, tapi lihatlah dua wanita di depannya ini malah mengejeknya dengan cara yang halus.
"Kalau begitu minum obatmu dulu, baru setelah itu Tuan istirahat. Ingat, hanya istirahat ya," sarkas bibi menekan kata istirahat dalam penggalan kalimatnya karena takut jika Teo malah menggoda istrinya dan hal yang tidak baik justru terjadi dengan luka di bahu dan kepalanya.
"Oh, jangan traveling dulu, Galuh. Om Teo sedang dalam masa hibernasi, dan kamu akan aman untuk beberapa hari ke depan karena laki-laki tua ini tidak mungkin memintamu untuk melakukan hubungan itu saat tubuhnya sedang tidak baik-baik saja!" batin Galuh dan hanya dia ucapkan dalam hati.
Mengangguk. Teo hanya mengangguk, kemudian menerima beberapa pil yang baru saja Galuh keluarkan dari bungkusnya. Galuh juga langsung menancapkan satu sedotan di gelas air mineral Teo, menunggu Teo memasukkan pil-pil itu ke dalam mulutnya baru setelah itu Galuh menawarkan air mineral tersebut pada Teo untuk membantu menelan obat itu.
"Terima kasih," ucap Teo tulus, kemudian menyerahkan sisa minuman itu, lalu bangkit dari kursi roda tersebut karena dia benar-benar ingin istirahat sekarang.
Galuh menopang tubuh besar Teo untuk naik di tangga rumah itu karena Teo tetap ingin tidur di kamar barunya dan pastinya bersama istri mudanya, dan bibi hanya menatap punggung dua orang beda generasi itu yang menghilang di tangga teratas rumah itu. Ada perasaan lega yang turut bibi rasakan saat melihat bagaimana Galuh begitu tulus membantu Teo. Bibi tidak akan tahu bagaimana jadinya jika hari ini Teo masih belum menikah dan mendapatkan musibah ini. Tidak mungkin bibi yang akan melakukan semua itu untuk Teo. Bukan karena bibi tidak mau melakukan itu, bukan. Tapi karena memang ada batasan yang harus dia jaga.
Galuh melepas lengan Teo ketika sudah duduk di bibir ranjang, membantu mengangkat kedua kaki laki-laki itu lalu membenarkan posisi bantal agar Teo bisa istirahat dengan baik.
"Apa Om butuh tambahan bantal untuk menahan bahu Om?" tanya Galuh saat meletakkan bantal guling untuk menopang sebelah tubuh Teo.
"Tidak. Aku tidak butuh apa pun saat ini karena yang aku butuhkan hanya kamu, Galuh!" lirih Teo, tapi cukup untuk Galuh dengar dengan sangat jelas.
"Apa yang harus Galuh lakukan untuk membantu Om?" balas Galuh saat duduk di sebelah tubuh Teo seolah Galuh sedang berbicara dengan ayahnya, menarik selimut untuk menutup tubuh Teo sampai d**a, dan pastinya Galuh berbicara sambil menatap mata Teo seperti yang Teo inginkan.
"Tidak ada. Kamu tidak akan melakukan apa pun, Galuh. Cukup temani aku di sini," jawab Teo lembut dan Galuh langsung mengangguk, bangkit dari duduknya lalu bergegas naik ke ranjang sebelah Teo masuk ke bawah selimut yang sama dengan yang Teo gunakan. "Maaf sudah membuatmu repot," ucap Teo setelahnya, tapi Galuh langsung menggeleng karena dia tidak merasa direpotkan.
"Tidak apa-apa, Om. Bukankah ini juga kewajiban Galuh sebagai seorang istri pada suaminya? Tidak melulu menuntut untuk satu kebahagiaan, tapi Galuh juga harus bisa mengimbangi dan memahami Om sebagai suami Galuh!" jawab Galuh sambil menatap langit-langit kamar itu dan percayalah untuk yang kesekian kalinya hati Teo kembali menghangat dengan ucapan dewasa Galuh.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mau menjadi istriku!" balas Teo berusaha menoleh untuk melihat wanitanya dan Galuh langsung menarik tubuhnya untuk tidur dengan posisi miring menghadap Teo.
"Jangan terus-menerus mengucap terima kasih, Om. Karena jika dipikir-pikir seharusnya Galuhlah yang harus berterima kasih kepada Om karena Om sudah membantu Papa Galuh melewati masalahnya, juga sudah memberikan kesempatan pada Galuh untuk membalas segala kebaikan yang pernah Om lakukan pada keluarga kami!" ucap Galuh setelahnya, tapi kali ini Teo justru terdengar menghela napas dalam diamnya.
"Jadi sebab balas budi kamu menerima pernikahan ini?" kutip Teo mendefinisikan sepenggal ucapan Galuh tadi, tapi Galuh buru-buru menggeleng kemudian bangkit dari tidurnya, duduk bersila menghadap Teo Mervino yang bahkan masih berbaring.
"Jujur, itulah alasan Galuh menerima tawaran pernikahan dari Papa, selain Papa yang mengatakan jika Om adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab," jawab Galuh benar-benar jujur ketika ditanya alasan dia menerima tawaran pernikahan dari ayahnya kemarin. "Dan iya, di hati Galuh tak pernah sedikit pun terlintas untuk menikah dengan laki-laki seperti Om, tapi bagaimanapun inilah takdir Galuh dan Galuh tidak keberatan menerima takdir ini meskipun belum ada rasa cinta di hati Galuh saat ini untuk Om. Tapi percayalah Galuh akan berusaha untuk menumbuhkan rasa itu untuk Om, meskipun mungkin akan butuh waktu untuk menumbuhkan rasa itu, dan Galuh mohon, jangan..."
"Husst..." Teo memberi isyarat diam pada Galuh dan Galuh juga langsung diam setelah itu. "Kamu benar. Dan aku tidak akan memaksamu untuk apa pun itu, termasuk untuk urusan hati," potong Teo karena sejatinya dia juga mengerti posisi Galuh saat ini. "Tenanglah. Kita hanya akan menjalani semua ini apa adanya. Dari awal aku hanya butuh seorang anak. Jadi jika kamu tidak keberatan, berikan aku seorang anak, dan jika sampai saat itu kamu masih belum memiliki rasa itu untukku, aku akan melepasmu untuk menggapai cinta yang kamu inginkan," ucap Teo setelahnya, tapi Galuh tidak menanggapi. Dia tidak mengatakan ya ataupun tidak, tapi kali ini tangannya ikut naik untuk menyentuh pipi hangat Teo.
Bohong jika Teo akan menutup mata jika mungkin saja Galuh memiliki kekasih yang terpaksa dia tinggalkan saat memutuskan untuk menerima pernikahan ini. Galuh masih sangat muda dan cantik, mustahil jika dia tidak akan memiliki kekasih seumuran dia, dan mungkin inilah alasan utama Galuh terlihat murung pagi tadi.
"Tidurlah," bisik Galuh setelahnya karena Galuh masih merasa sangat lelah dengan perasaannya sendiri. "Bukankah tadi Om mengatakan butuh istirahat, jadi jangan membuatku menjadi alasan Om tidak bisa istirahat!" sambung Galuh dan Teo yang kali ini langsung mengangguk dengan senyum yang juga ikut terbit di bingkai wajah tuanya.
Galuh juga langsung ikut memejamkan mata dan terbangun saat hari sudah pagi.
Galuh langsung bergegas mandi tanpa membangunkan Teo lebih dulu karena bagaimanapun Teo butuh istirahat lebih untuk mengembalikan rasa kebas pada setiap luka di tubuhnya, dan saat Galuh keluar dari kamar mandi, ternyata Teo sudah bangun dan duduk di bibir ranjang mereka.
"Morning," sapa Teo lebih dulu dan Galuh hanya membalas dengan tersenyum.
"Apa Om mau ke kamar mandi? Ayo Galuh bantu!" tawar Galuh saat Teo hanya terlihat memijat bahu dan pahanya yang mungkin masih terasa kebas.
"Bantu aku melepas pakaianku saja, Galuh. Aku bisa melakukan yang lain sendiri!" ucap Teo yang sudah langsung berdiri dari duduknya dan menawarkan tubuhnya untuk Galuh lepaskan pakaiannya karena Teo kesulitan untuk menggerakkan sebelah lengannya. Galuh mengangguk, kemudian mendekat untuk melepas kancing baju piyama yang Teo gunakan, dan saat Galuh merapat, Teo menghirup aroma segar di tubuh Galuh, aroma segar yang tercipta dari sabun mandinya juga hawa dingin di tubuh Galuh.
Menunduk sedikit untuk mendaratkan satu kecupan di pipi gadis itu, dan seketika Galuh merasa malu saat Teo menciumnya secara tiba-tiba seperti tadi.
Meskipun semalam Teo sudah mengatakan jika dia akan melepas Galuh setelah Galuh memberinya seorang anak, tapi bukankah selalu ada kemungkinan lain yang akan terjadi jika tiba-tiba mereka memiliki perasaan yang sama dan iya, Teo akan tetap berusaha menumbuhkan rasa cinta di hatinya juga cinta di hati Galuh untuk bertemu dengan kata yang jauh lebih indah.
"Aku suka aroma sabun yang kamu gunakan. Lembut dan manis. Sama sepertimu," bisik Teo dengan sangat lembut dan seketika pipi Galuh langsung memerah, tapi dia hanya mendongak sembari tersenyum. "Bukan cuma aroma sabunmu sih yang aku suka, tapi semua yang ada padamu, aku suka!" sambung Teo benar-benar meniru gaya David saat menggoda istrinya saat mereka sedang di rumah ini.
Galuh semakin menunduk malu, tapi juga tidak keberatan saat Teo kembali menghirup aroma di pundaknya.
"Om, Galuh boleh nanya enggak?" ucap Galuh setelahnya karena tiba-tiba dia ingat percakapan ibu dan ayahnya dulu.
"Apa? Silahkan, " Teo menawarkan Galuh untuk bertanya.
"Om tahu enggak suara ayam jantan di pagi hari?" tanya Galuh dan Teo langsung menatap wanita muda itu.
"Kukuruyuk," jawab Teo dengan sangat cepat seperti anak TK saat ditanya gurunya.
"Kalau suara kucing?" kembali Galuh bertanya.
"Meong... meong!" jawab Teo ragu-ragu.
"Kalau suara burung?" Galuh kembali bertanya.
"Cuit... cuit!" jawab Teo setelah diam sejenak mencoba memahami suara burung dan sepertinya itu yang dominan dia dengar dan lagi-lagi Galuh mengangguk membenarkan.
"Kalau suara buaya kumat?" tanya Galuh saat melepas kancing terakhir dan menahan kerah baju Teo, menunggu jawaban laki-laki itu.
"Suara buaya kumat?" kutip Teo tidak mengerti, tapi dia benar-benar memikirkan bagaimana sosok buaya dan suara khas buaya, tapi dia tidak pernah mendengar buaya mengaum atau sejenisnya. "Bagaimana itu maksudnya? Apa iya ada buaya kumat?" bingung Teo, tapi Galuh yang terkekeh kali ini.
"Ada... Lah tadi Galuh dengar kok suara buaya kumat!" jawab Galuh saat Teo melepas sebelah lengannya yang tidak sakit dan Galuh membantu Teo melepas sisa bajunya dengan sangat pelan karena lengan satunya masih dibebat kain kasa.
"Tadi?" kutip Teo masih tidak mengerti, tapi Galuh malah semakin terkekeh.