Air tenang memang kadang lebih menghanyutkan. Sama seperti Teo yang terlihat tenang, tapi diam-diam ingin kembali menenggelamkan Galuh seperti badai yang bergulung indah.
"Tenang. Next aku akan melakukannya dengan sangat pelan hingga kamu terbiasa, atau kita bisa coba lagi setelah sarapan. Aku yakin pasti kamu..."
"Ih gak ya, Om." protes Galuh yang benar-benar kembali merasa nyeri saat sekadar mengingat kejadian tadi malam.
"Kenapa?" tanya Teo pura-pura tidak menyadari rasa sakit yang tengah Galuh rasakan setelah percintaan mereka semalam.
"Gak kenapa-kenapa," tolak Galuh.
"Bukankah semalam aku juga mengatakan jika kamu harus menatapku setiap kali berbicara atau ku ajak bicara?" sarkas Teo mengingatkan apa yang semalam dia ucapkan. Kemudian, Galuh langsung mengangkat wajahnya, menoleh menatap Teo yang sedang berbicara padanya.
"Iya." Galuh langsung mengangguk patuh, dan Teo hanya balas tersenyum. Setelahnya, mereka benar-benar menyelesaikan sarapan mereka dengan cukup tenang. Galuh sudah membereskan sisa sarapan mereka untuk dia bawa ke dapur saat tiba-tiba ponsel di saku celana Teo bergetar. Ada panggilan masuk dari salah satu nomor customer-nya yang kemarin benar-benar terus rewel meminta ini itu saat mobilnya tak kunjung selesai diperbaiki oleh para mekaniknya. Dua hari lalu, dia mengatakan akan menangani masalah ini secara langsung, tapi karena kemarin dia mendadak menikah, akhirnya dia tidak mampir ke bengkel dan menyelesaikan masalah tersebut, namun malah pergi untuk melangsungkan pernikahan secara mendadak.
"Ya. Halo!" sapa Teo lebih dulu.
"Bagaimana, Om? Apa mobil saya sudah selesai?" tanya orang di seberang telepon, to the point.
"Oh, maafkan kami, Bang. Kemarin aku ada acara mendadak, jadi belum sempat mampir ke bengkel. Tapi hari ini mobil itu pasti selesai kami kerjakan, dan untuk kompensasi keterlambatan kami, kami akan memberi Anda diskon dua puluh lima persen. Jadi, sekali lagi kami mohon maaf, Bang, untuk keterlambatan ini!" jawab Teo ramah seperti biasanya.
"Baiklah. Saya akan menunggunya sampai sore nanti, dan semoga kali ini Om gak kembali bikin alasan!" balas orang itu lagi, dan Teo langsung menghela napas dalam diam sembari melepasnya karena customer yang satu ini benar-benar sangat cerewet. Sebenarnya bisa saja mengatakan jika pengerjaan mobilnya masih lama karena mengerjakan atau memperbaiki mobil yang termasuk benda mati tidak semudah membuat secangkir kopi. Jika terlalu pahit tinggal tambah gula, atau jika terlalu manis tinggal tambah kopinya. Tapi ya, karena Teo punya motivasi bahwa customer selalu benar, maka dari itu membenarkan opini customer itu adalah hal yang sudah merupakan kewajiban bagi seluruh karyawan di beberapa bengkel milik Teo Mervino.
"Oke. Kami akan menghubungi Anda begitu mobilnya sudah siap, atau jika Anda butuh jasa antar, kami juga bisa mengantarnya langsung ke alamat Anda!" balas Teo, dan orang itu hanya menjawab iya sebelum akhirnya panggilan telepon itu terputus.
Galuh baru akan membuka pintu kamarnya dengan nampan berisi piring sisa sarapan mereka di tangannya, dan Teo lebih dulu membuka pintu itu saat melihat Galuh kerepotan untuk membuka pintu sembari memegang nampan.
"Sini, biar aku saja yang bawa itu turun. Kamu istirahat saja!" ucap Teo ingin mengambil alih nampan di tangan Galuh, tapi Galuh buru-buru menggeleng.
"Tidak apa-apa, Om. Biar Galuh saja, sekalian Galuh mau bantu bibi di dapur!" tolak Galuh, dan Teo langsung terdiam, memperhatikan langkah Galuh yang sudah terlihat normal seperti biasa, tidak seperti pagi tadi saat mereka baru bangun.
"Aku harus ke bengkel sekarang. Ada customer yang tidak bisa mereka tangani," ucap Teo setelahnya saat Galuh berbelok ke dapur dan bibi yang juga ternyata sedang mengelap meja makan dan meja dapur.
"Tuan akan pergi bekerja?" timpal bibi saat ikut mendengar ucapan Teo yang sebenarnya sedang bicara sama Galuh. "Oh, Tuan benar-benar tidak paham dengan apa yang tadi bibi ucapkan sebelumnya sama Tuan?" sarkas bibi meminta Teo mengingat apa yang sebelumnya mereka bicarakan.
"Aku paham, Bik. Sangat paham. Tapi ini juga sifatnya sangat mendesak!" tolak Teo setelahnya.
"Seharusnya Tuan bisa minta Dede atau Den Zhidan untuk mengurusnya, bukan malah meninggalkan pengantin Tuan."
"Justru karena itu aku harus ke bengkel," tolak Teo buru-buru. "Lagian aku nggak sampai setahun juga ke bengkel, paling nanti siang atau sore aku sudah balik. Dan untuk Galuh, bibi bisa mengajaknya untuk mengenal rumah barunya karena sepertinya yang dia tahu hanya kamar kami saja. Iya kan, Galuh?" sambung Teo, dan Galuh buru-buru mengangguk.
"Ya. Gak apa-apa, Om," jawab Galuh, tapi bibi benar-benar hanya terlihat menghela napas dalam diam saat Teo bersikukuh ingin pergi bekerja. Dan karena Galuh mengatakan tidak apa-apa, ya semua seperti keinginan Teo.
"Dasar laki-laki gak peka. Kupikir dia mengerti dengan yang aku bahas tadi pagi, eeeh ternyata cuma didengar pakai telinga tapi gak sampai ke hati!" batin bibi yang kembali menghela nafas.
Teo pergi ke tempat kerjanya setelah mendaratkan satu ciuman di kening Galuh, dan bibi hanya pura-pura tidak melihat hal yang akan menjadi pemandangan lain di rumah ini setelah nyaris enam belas tahun dia tidak pernah melihat air muka laki-laki itu tampak berseri seperti saat ini.
"Aku akan kembali setelah menyelesaikan masalah ini!" ucap Teo pada Galuh yang masih di dapur sebelum akhirnya dia benar-benar meninggalkan rumah itu. Bibi hanya menatap punggung laki-laki tua itu yang menjauh dan menghilang di balik pintu, dan selang beberapa menit terdengar suara deru mobil meninggalkan halaman rumah.
"Dia masih saja seperti itu, padahal pagi tadi bibi sudah memintanya untuk tidak bekerja pagi ini dan fokus ngurusin Non Galuh dulu!" ucap bibi saat mengambil alih nampan yang sebelumnya Galuh bawa untuk dia taruh ke wastafel dan dicuci.
"Kenapa, Bik? Galuh bukan anak kecil yang mesti dijaga selama dua puluh empat jam. Galuh juga bisa membantu bibi di dapur, meskipun sebelumnya Galuh tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, tapi tentu kali ini Galuh harus mulai belajar, bukan? Setidaknya Galuh bisa bikin kopi untuk Om Teo, seperti selera ngopi Om Teo," balas Galuh saat bibi mengatakan Teo harus fokus mengurus Galuh.
"Bukan gitu maksud bibi, Non," tolak bibi untuk satu pernyataan Galuh yang tadi. "Kalian kan baru menikah, masih anget-angetnya gitu! Seharusnya kan Tuan lebih banyak menghabiskan waktu sama Non Galuh sekarang. Bila perlu, Tuan tuh memberikan Non Galuh bulan madu dengan jalan-jalan ke Eropa, atau ke mana kek! Pokoknya dia tidak boleh terus sibuk bekerja!" sambung bibi, dan detik yang sama Galuh justru merasa ngeri saat membayangkan hal itu, pergi bulan madu, dan itu artinya dia akan lebih banyak melakukan adegan ranjang seperti semalam. Oh, ini benar-benar ide gila. Tidak. Galuh belum siap, dan jujur Galuh merasa lega saat Teo keluar rumah karena setiap kali Galuh berdekatan dengan laki-laki tua itu, rasanya d**a Galuh benar-benar sesak. Dia tidak pernah saling mengenal satu sama lain sebelumnya dengan Teo, tapi dipaksa keadaan untuk menerima laki-laki itu sebagai suami. Meski begitu, Galuh tetap tidak mau menunjukkan sikap tidak terimanya dengan takdirnya. Dia akan tetap menghormati Teo sebagai seorang suami. Dia akan tetap berusaha menjadi istri yang layak untuk laki-laki tua itu, meskipun dari semalam nuraninya memberontak. Namun, setelah apa yang dia, Teo Mervino, lakukan untuk ayahnya, rasanya akan sangat kejam jika Galuh tidak ingin membalas segala kebaikan Teo Mervino. Biar. Biarlah dia mengubur rasa tidak suka dan segala ketidakadilan yang dia rasakan, dan mencoba ikhlas menerima takdir yang telah digariskan untuknya.
Tersenyum. Galuh hanya membalas segala ucapan bibi dengan tersenyum karena sungguh dia malah takut jika dia salah menanggapi.
"Biarin aja, Bik. Mungkin Om Teo memang benar-benar lagi sibuk. Galuh gak apa-apa kok, Bik!" timpal Galuh sembari menarik satu kursi meja makan untuk dia duduki karena tiba-tiba rasa nyeri di pangkal pahanya kembali terasa.
"Om Teo?" bibi mengutip kata Om Teo di antara bait kalimat yang Galuh ucapkan. "Masa ke suami manggilnya Om, sih? Kesannya dah kayak om dan keponakan aja. Bukankah sekarang Galuh adalah istri sah Tuan? Jadi manggilnya yang lebih sopan dan manis, dong?" sambung bibi merasa aneh saat mendengar panggilan Om dari Galuh tadi, dan Galuh langsung bingung sekarang. "Om itu bukannya gak sopan, hanya saja kesannya lucu aja seorang istri manggil suaminya Om. Bibi tau umur kalian terpaut jauh, tapi tentu itu bukan alasan untuk pasangan itu tidak bersikap manis. Tuan itu laki-laki yang sangat baik, penyayang, dan yang paling penting, dia tau cara memuliakan seorang wanita. Percayalah, bukan karena bibi ingin membela atau memuji laki-laki itu, namun bibi ingin mengatakan jika kamu termasuk orang yang beruntung bisa mendapatkan dia," ucap bibi lagi saat berbalik setelah selesai mencuci piring dan mengelap tangannya.
"Iya. Galuh tau. Papa juga mengatakan hal yang sama, jika dia adalah laki-laki yang baik," balas Galuh mengutip ucapan bibi tadi. "Jadi, harusnya Galuh manggilnya apa, Bik?" tanya Galuh benar-benar bingung. Bukan hanya bingung, tapi sebenarnya Galuh masih sungkan dengan laki-laki tua itu.
"Kok nanyanya sama bibi sih? Harusnya Galuh nanya ini sama Tuan. Dia maunya dipanggil apa sama Non," balas bibi kembali mencoba mencairkan jarak antara Galuh dan suaminya.
Bibi tidak tau bagaimana kisah mereka sebelumnya, bagaimana pertemuan Teo dan Galuh hingga berakhir menikah. Tentu bibi tau semua tentang Teo karena Teo memang kerap kali bercerita ketika dia dekat dengan seorang wanita, tapi untuk Galuh, Teo benar-benar tidak pernah menceritakan satu nama ini.
Galuh lagi-lagi hanya mengangguk, dan ya, dia akan mencoba apa yang bibi sarankan padanya tadi.
Setelah pembicaraan di dapur tadi, bibi akhirnya mengajak Galuh untuk mengenali rumah itu, mulai dari kamar Teo di lantai bawah termasuk ruang kerja Teo di kamar itu, lalu ke dua kamar bercat putih yang merupakan kamar Luci dan Daniel yang sekarang sudah tidak lagi ditempati karena Luci sudah punya keluarga sendiri.
"Tuan hanya punya satu anak dari pernikahan dia sebelumnya, tapi Non Luci sudah menikah dan pastinya sudah punya keluarga sendiri. Jadi, ya Galuh bisa membayangkan bagaimana rasa kesepiannya Tuan selama ini, tinggal sendiri di rumah sebesar ini," jelas bibi menunjuk satu kamar yang sebelumnya ditempati Luci, dan Galuh benar-benar hanya mengangguk. "Dan sungguh, bibi berharap kalian akan punya keturunan juga nantinya agar rumah ini kembali ceria dengan tawa dan canda dari anak-anak kalian!" sambung bibi, dan kali ini Galuh justru merasa sangat aneh saat tiba-tiba bibi malah membahas perkara anak padanya. Bukan Galuh tidak pernah membayangkan untuk punya anak, pernah. Tapi tentu Galuh dulu membayangkan punya anak dan keluarga yang bahagia bersama laki-laki yang sangat dia cintai, laki-laki yang sama dengan laki-laki yang pernah membuatnya patah hati hingga berujung dia harus menerima tawaran pernikahan yang ayahnya minta padanya. Meski begitu, Galuh tetap mengangguk seolah hanya itu yang bisa Galuh lakukan.
"Apa anak bisa terlahir meskipun tidak ada cinta di hati orang tuanya? Aku tidak mencintai laki-laki tua ini, dan mungkin dia juga begitu. Dan untuk apa yang semalam mereka lakukan, entahlah, itu karena satu kewajiban atau sekadar cara menenangkan seorang Teo Mervino!" batin Galuh, dan dia hanya mengucap itu dalam hati.
Di tempat lain.
Setelah sampai di bengkel, Teo tidak banyak berbasa-basi. Dia langsung mengganti pakaiannya dengan baju khusus untuk mekanik, kemudian ikut turun tangan mengatasi satu masalah yang satu minggu ini belum selesai mekaniknya kerjakan. Ada Dede dan Zhidan juga di sana, namun ternyata tetap saja Teo yang harus turun tangan karena dua orang tadi sudah angkat tangan, dan tentunya pengalaman Teo jauh lebih luas dari kedua anak muda tadi.
Hari sudah beranjak sore saat Teo dan beberapa mekaniknya selesai mengatasi kendala dari mobil itu, dan Teo juga sudah beberapa kali menguji coba mobil tersebut, dan sepertinya semua sudah aman. Jadi, mereka tidak harus mengulur waktu lagi pada pemiliknya.
"Om benar-benar jenius. Kami benar-benar tidak menyangka jika hal itu bisa diakali dengan cara semudah itu!" seru Zhidan saat mobil itu dinyatakan selesai seratus persen dan siap untuk dijemput pemiliknya.
"Mana ada jenius, itu hanya perkara pengalaman saja. Dan ketahuilah, Om nyaris mempelajari itu sampai rambut Om memutih seperti ini!" balas Teo sambil terkekeh, dan detik yang sama ponsel Zhidan berbunyi. Ada panggilan telepon dari nomor kontak Shafa, dan itu adalah salah satu putrinya. Zhidan menggeser layar ponselnya lalu menerima panggilan telepon itu.
"Ya, Shafa!" sapa Zhidan lebih dulu. Setelahnya, Zhidan hanya diam menyimak apa yang gadis yang beranjak belia itu ucapkan di seberang telepon.
"Ya. Nanti Papa mampir," ucap Zhidan setelahnya sebelum akhirnya Zhidan menutup telepon itu, dan Teo baru ingat jika sekarang dia harus pulang karena sekarang ada istri yang menunggunya di rumah.
Senyum Teo seketika mekar saat mengingat istri mudanya, dan detik yang sama Teo meminta Tina mengeprint tagihan untuk biaya perbaikan mobil tadi, lalu meminta Tina menghubungi pemiliknya. Setelahnya, Teo bergegas mandi dan kembali berganti pakaian dengan pakaian dia sebelumnya.
"De, Om balik duluan ya. Dan kamu, Zhidan, lebih baik kamu juga bersiap pulang sebelum para gadismu kembali menelepon!" sarkas Teo karena hari ini sudah tujuh kali Zhidan ditelepon sama anak perempuannya.
"Iya, Om!" jawab Zhidan terkekeh.
Teo sudah di dalam mobil dan bersiap untuk pulang. Namun, baru saja Teo akan berbelok keluar dari gerbang utama bengkel itu, tiba-tiba satu mobil boks yang terlihat kehilangan kendali justru berbelok ke arahnya dan boom.
Prang...
Gelas di tangan Luci tiba-tiba jatuh tanpa sebab, meskipun dia yakin sudah memegangnya dengan sangat baik.